Beragamnya Al-Qur’an Dalam Sejarah

Apakah Qur’an yang ditangan kita sekarang sama persis dengan Qur’an pada masa Nabi Muhammad?

Kebanyakan umat Islam akan menjawab: “Ya! sama persis”!.

Sayangnya jawaban tersebut salah.

Qur’an yang sampai ditangan kita sekarang adalah hasil beberapa ikhtiar standarisasi yang telah dilakukan umat Islam dalam sejarah. Berikut ini apa yang bisa kita dapatkan dari sejarah Qur’an.

Mengaji Al-Qur'an
Mengaji Al-Qur’an

Era Nabi: Beragam Mushaf Yang Terserak

Pada saat Nabi hidup, bentuk Qur’an yang utuh seperti yang kita kenal sekarang belum ada. Segera setiap kali wahyu turun, Nabi menyampaikannya pada para sahabat. Para sahabat menghafalkannya, dan beberapa mencatatnya.

Nabi sendiri menunjuk beberapa sahabat untuk mencatat wahyu-wahyu itu. Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Ubay bin Ka’ab,Zayd bin Tsabit, dan Abdullah bin Mas’ud adalah nama-nama yang biasa disebut sebagai pencatat wahyu. Tetapi disamping empat orang itu, banyak juga para sahabat yang mencatat wahyu-wahyu itu untuk keperluan pribadi mereka sendiri.

Koleksi catatan wahyu ini (mushaf), bervariasi antara para sahabat. Hal ini karena mereka mencatat apa yang mereka dengar dari Nabi, dan tidak semuanya para sahabat itu hadir ketika suatu wahyu diturunkan.

Apa yang disebut mushaf pada saat Nabi masih hidup, bukanlah Qur’an dalam versinya yang utuh. Mushaf saat itu merupakan fragmen-fragmen dari Qur’an.

Era Abu Bakar dan Umar: Pengumpulan Mushaf

Setelah Nabi wafat, usaha pengumpulan mushaf Qur’an dimulai oleh khalifah Abu Bakar atas usulan dari Umar bin Khattab.

Pada mulanya usul Umar ini ditolak oleh Abu Bakar karena alasan hal tersebut tidak pernah dilakukan Nabi. Itu Bid’ah. Tapi setelah diyakinkan Umar atas manfaatnya bagi umat Islam, Abu Bakar setuju.

Pengumpulan mushaf pada saat Abu Bakar dan dilanjutkan oleh Umar saat menjadi khalifah, belum merupakan usaha kodifikasi yang serius. Mereka hanya mengumpulkan fragmen-fragmen Qur’an yang berserakan dari para sahabat, tetapi belum menyusunnya ulang dalam satu bentuk mushaf Qur’an yang utuh.

Era Usman: Penyusunan Mushaf Yang Utuh

Kodifikasi Qur’an secara serius baru dilakukan saat khalifah ketiga, Usman bin Affan. Tim penyusun yang dibentuk Usman mengumpulkan semua fragmen-fragmen Qur’an yang ada serta memanggil semua penghafal Qur’an yang ada untuk menyusun suatu mushaf yang utuh.

Ayat-ayat dalam mushaf disusun tidak berdasarkan urutan kronologi ayat-ayat tersebut diturunkan, akan tetapi berdasarkan petunjuk penempatan dari Nabi yang diingat oleh para sahabat.

Mushaf Usmani di Musium Tashkent
Mushaf Usmani di Musium Tashkent

Dari proses ini, dihasilkan mushaf Qur’an dalam bentuk yang utuh. Mushaf ini dikenal sebagai “Mushaf Usmani”. Mushaf ini terdiri dari 114 surah yang dimulai dari Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas. Ini yang menjadi cikal bakal semua Qur’an yang beredar didunia.

Mushaf Qur’an Versi Lain

Apakah ada mushaf versi lainnya? Ada.

Sebelum pengumpulan mushaf ini dilakukan oleh negara, secara pribadi beberapa sahabat ada yang sudah melakukan pengumpulan ayat-ayat yang terserak dalam satu mushaf utuh.

Beberapa mushaf yang sempat terekam dalam sejarah adalah mushaf milik Ubay bin Ka’ab, Ibn Mas’ud, Ibn Abbas, Ali bin Abi Thalib, dan Hafsah istri Nabi.

Mushaf-mushaf itu memiliki jumlah dan susunan ayat yang berbeda. Sebagai misal Mushaf Ubay memiliki 115 surah, Mushaf Ibn Mas’ud memiliki 108 surah, Mushaf Ibn Abbas 116 surah.

Perbedaan ini terekam dari komplain Aisyah istri Nabi yang dikutip Jalaluddin Al-Suyuthi dalam kitab al-Itqan sebagai berikut: “pada masa Nabi, surah al-Ahzab berjumlah 200 ayat. Setelah Uthman melakukan kodifikasi, jumlahnya menjadi seperti sekarang [yakni 73 ayat].”

Pada Mushaf Ibn Abbas juga ada dua surah yang yang tidak disertakan dalam Mushaf Usmani yaitu al-Khal dan al-Hafd.

Nasib Mushaf Qur’an Versi Lain

Setelah khalifah Usman meresmikan Mushaf Usmani, dia memerintahkan membakar semua mushaf lain yang ada. Sebagian besar mushaf-mushaf itu berhasil dimusnahkan, akan tetapi ada beberapa mushaf yang selamat. Salah satunya adalah Mushaf Hafsah,  Mushaf ini baru dimusnahkan pada era Khalifah Marwan ibn Hakam (65 H)

Secara fisik mushaf-mushaf yang lain tersebut berhasil dimusnahkan, akan tetapi beberapa mushaf itu masih hidup dalam bentuk hafalan para sahabat. Karena sebenarnya pada masa itu Qur’an lebih banyak dihafal daripada dibaca.

Para penulis Islam pada masa belakangan, menyayangkan bila hafalan para sahabat itu musnah. Mereka berusaha mengumpulkan lagi hafalan para sahabat tersebut dalam tulisan mereka.

Sejarah penulisan Alqur’an mencatat nama-nama Ibn Amir (118 H), al-Kisai (189 H), al-Baghdadi (207 H); Ibn Hisyam (229H), Abi Hatim (248 H), al-Asfahani (253 H) dan Ibn Abi Daud (316 H) sebagai pengarang-pengarang yang menghidupkan mushaf-mushaf klasik dalam karya masahif mereka (umumnya diberi judul kitab al-masahif atau ikhtilaf almasahif).

Sebagai misal: Ibn Abi Daud berhasil mengumpulkan 10 mushaf sahabat Nabi dan 11 mushaf para pengikut (tabi’in) sahabat Nabi. Mushaf-mushaf yang lain ini saat ini hanya terdapat dalam beberapa perpustakaan Islam yang tua.

Variasi Mushaf Usmani

Mushaf Usmani dituliskan pada saat aksara arab masih dalam bentuk awal. Huruf arab belum mengenal tanda baca dan tanda titik.

Tulisan awal Qur'an yang tanpa tanda baca
Tulisan awal Qur’an di Mushaf Usmani yang tanpa tanda baca

Tanda baca dalam huruf arab baru ditemukan pada pertengahan abad 7. Sistem tanda baca huruf arab diperkenalkan oleh Abu al-Aswad al-Dua’ali, seorang sarjana pada masa Dinasti Umayyah.

Absennya tanda baca ini menyulitkan umat Islam yang bukan penutur bahasa arab asli. Hal ini juga dikarenakan Qur’an juga mulai disebarkan lewat tulisan bukan hanya hafalan.

Akibatnya banyak sekali variasi cara pembacaan Qur’an, walaupun mereka menggunakan mushaf yang sama. Para penyalin Qur’an menambahkan berbagai tanda baca untuk memudahkan mereka untuk membaca Qur’an. Akibatnya muncul berbagai versi bacaan Qur’an.

Pada era Dinasti Abbasiyah, khalifah pada tahun 324H memerintahkan Ibn Mujahid untuk menyeragamkan bacaan Qur’an yang ada. Dari puluhan versi bacaan Qur’an, dipilih tujuh versi bacaan yang direstui.

Ke tujuh versi bacaan Qur’an inilah yang kemudian digandakan dan disebarkan ke seluruh pelosok negara Islam.

Penyeragaman Qur’an Oleh Mesin Cetak

Pada abad ke 20 dari tujuh versi penulisan Qur’an, hanya tinggal tiga yang masih beredar yaitu versi Nafi, versi Abu Amr dan versi Asim.

Pada tahun 1924, Qur’an versi Asim pertama kali dicetak di Mesir, versi ini kemudian populer dengan sebutan “Edisi Mesir”. Kerajaan Arab Saudi kemudian menjadikan “Edisi Mesir” sebagai standar kerajaan dan mencetak secara besar-besaran.

Dalam rangka dakwah Islam, Kerajaan Arab Saudi kemudian mencetak dalam jutaan salinan dan menyebarkan keseluruh umat Islam di seluruh dunia.

Mesin cetak Gutenberg
Mesin cetak Gutenberg

Tindakan Kerajaan Arab Saudi, yang menyebarkan secara murah bahkan gratis salinan versi Asim menyebabkan tersisihnya dua varian Qur’an lain yang masih tersisa yaitu versi Nafi dan versi Abu Amr. Dua versi Qur’an ini masih bisa ditemui walau langka di wilayah Maroko dan sekitarnya.

Alhasil, versi Qur’an yang ada ditangan kita dan tersebar ke seluruh dunia adalah hasil standarisasi akhir dari Kerajaan Arab Saudi.


Bacaan:
* Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur”an, Yayasan Abad Demokrasi, 2011

Baca Juga:

284 komentar

  1. @ Judhianto : Tangga[an thd “Snowman Rich” Apa Buktinya Kalau Allah Itu Ada ?

    PL dan PB ditulis oleh orang berbeda dalam rentang waktu yang lama (15 abad) kok bisa paralel. Contoh dalam PL sudah diramalkan akan datangnya Juru Selamat. 15 abad kemudian dibuktikan berdasarkan yang anda sebut orang-orang yang menulis Biografi Yesus. Masih tidak percaya Tuhan atau apalah sebutannya….

    1. @Reynold: anda cuma gak bisa menjelaskan kenapa tulisan PL dan PB bisa paralel, lalu menarik kesimpulan bahwa Tuhan itu ada?.

      Jadi bagi anda, ketidak-tahuan anda itu bukti adanya Tuhan? lompatan kesimpulan macam apa ini?

      Ini semacam proklamasi bahwa “saya bodoh” maka “Tuhan itu ada!”

  2. @ Judhianto, mohon klarifikasi

    Ia (Yesus) pendakwah Yahudi yang mengajarkan Taurat ? (Tanggapan terhadap Felix Radit) Maksudnya ? Tolong buktikan ?
    Isi Injil terbuki salah (Tanggapan terhadap Felix Radit) ? Apanya yang salah ? Apakah lantas merubah DOGMA ?
    Apa buktinya kalau Allah itu ada ? (Tanggapan terhadap Snowman Rich)

    Pertama-tama tolong jangan dikacaukan antara Alkitab dan Injil. Injil adalah bagian Alkitab di Perjanjian Baru. Sekali lagi Injil (Matius, Markus, Lukas Yohanes) adalah bagian dari Alkitab. Bagaimana hubungan keduanya ? PL adalah RENCANA KESELAMATAN ALLAH dan PB yang didalamnya ada Injil adalah PENGGENAPAN RENCANA ALLAH. Ini penting untuk menjawab pertanyaan/klaim. Apakah Yesus (Isa) membawa Injil ? Tidak ! (sudah dijelaskan oleh Pak Judhianto) tetapi ada koreksi bahwa Yesus sama sekali bukan pendakwah Agama Yahudi, ahli-ahli kitab Yahudi saat itu disebut kaum Farisi. Apakah Yesus membawa ajaran baru ? Bisa dikatakan YA juga bisa TIDAK, mengapa ? YA Karena Yesus datang menggenapi rencana Tuhan di Perjanjian baru melalui hukum KASIH. Yesus memang meniadakan hukum2 yang sudah tidak relevan seperti hukum rajam, kewajiban berpuasa dsb. TIDAK karena dogma-dogma dalam perjanjian lama tidak diubah. Apa itu ? Perjanjian lama berbicara tentang rencana keselamatan Allah. Trus yang hukum yang masih relevan apa diubah juga ? TIDAK ! Mencuri yaa tetap ga boleh, zinah yaa ga boleh, fitnah yaa ga boleh.
    Kaitan antara PL dan PB inilah sesungguhnya yang membuktikan bahwa Allah itu ada. Bagaimana tidak Alkitab ditulis oleh sekitar 40 penulis yang berbeda pada rentang waktu 1500 tahun lebih tetapi tetap relevan (mempunyai keterkaitan dan kesinambungan).

    Oiya perlu saya tambahkan bahwa nabi-nabi di Perjanjian Lama berintekasi langsung dengan Allah. Jadi silahkan ditafsir sendiri apakah ini yang disebut wahyu atau bukan. Yang jelas mereka berinteraksi (bercakap), mengalami peristiwa-peristiwa dan menuliskannya.

    Sebagai contoh saya berikan dibawah ini :

    RENCANA PENYELAMATAN :
    Mikha 5:2, “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.”
    Kitab Mikha ditulis sekitar tahun 742 – 687 SM

    PENGGENAPAN PENYELAMATAN :
    Silahkan baca secara lengkap Lukas 2 : 1-20
    Kitab Lukas ditulis sekitar tahun 64 – 67 M, jadi ada tenggang waktu 700 an tahun ditulis oleh orang yang berbeda tapi kok nyambung yaa ?

    Saya kira kita sepakat bahwa sebuah buku atau kitab haruslah mempunyai benang merah dari depan ke belakang, kalau tidak itu bukan buku/kitab.

    @ Felix Radit :
    Injil Lukas :
    http://www.sarapanpagi.org/injil-lukas-luke-loukan-vt4207.html
    Injil Matius :
    http://www.sarapanpagi.org/matius-penulis-injil-vt4205.html
    Injil Markus :
    https://id.wikipedia.org/wiki/Injil_Markus
    Injil Yohanes :
    https://id.wikipedia.org/wiki/Injil_Yohanes

    1. @Reynold: Yesus bukan pendakwah agama Yahudi?

      Mungkin kalau Yesus sama sekali tak menggunakan Taurat atau membenarkan orang-orang suci agama Yahudi, kita bisa percaya dia bukan pendakwah agama Yahudi.

      Tapi kalau tak mau disebut mengajarkan Yahudi, kita bisa sebut sebagai pengajar “Yahudi Yang Telah diSempurnakan” alias YYTS atawa Kekristenan.

      1. “Orang-Orang Suci Agama Yahudi” ? Kristen maupun Yahudi tidak pernah menganggap nabi-nabi di Perjanjian Lama itu orang suci. Jadi jangan dikira bahwa Musa atau Daud itu orang suci lhoo yaa…

          1. Iya apa standar orang suci ? Tidak berbuat dosa sepanjang hidupnya ?. Kristen mengajui kedua tokoh itu sebagai Nabi, tapi sebagai manusia mereka tidak luput dari dosa. Bahwasanya Tuhan mengampuni dosa mereka, Iya tapi mereka bukan orang suci tapi Nabi.

        1. @Reynold: kalau anda ingin memberikan koreksi terhadap tulisan saya, tentu lebih bermanfaat jika pada hal-hal pokoknya dan dengan informasi pembanding yang anda anggap lebih tepat.

          Kalau anda tertarik membahas teknis istilah macam definisi “orang suci”, “menggenapi”, saya tidak tertarik untuk menanggapinya.

  3. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan tulisan Anda, tapi pembaca banyak yang gagal paham. Tolong bedakan Quran dan Mushaf Quran. Quran itu dihapal dan terpelihara dari dulu hingga sekarang sedangkan Mushaf Quran memang bisa beda2 dalam hal penomoran ayat, nomor surat, tata letak surat juga jenis hurufnya. Manuskrip Quran kuno yang ditemukan juga terbukti beda2 jenis hurufnya, ada huruf Hijazi, Kufic dan huruf modern seperti Quran sekarang. Usman melakukan standardisasi mushaf Quran yang bertahan sampai sekarang tapi bukan berarti mengubah isi Quran. Kalau anda bisa bahasa arab dan membaca huruf Hijazi atau Kufic, semua manuskrip Quran kuno akan sama pelafalannya maupun maknanya. Tidak ada satupun huruf yang berbeda maknanya. Selain Mushaf Quran Usmani juga ada Mushar lain yang terkenal yaitu Mushaf Ali bin Abi Thalib. Usman dan Ali adalah Khalifah dan orang terdekat dengan Nabi Muhammad semasa hidupnya. Kedua mushaf ini berbeda urutan ayat nya dan beda sedikit penomoran ayatnya. Tapi isinya 100% sama, setiap kata sama tanpa ada perbedaan makna.

  4. Yang menarik adalah penggalan surat yang ditemukan oleh Universitas Birmingham. Naskah ini sudah terbukti dari hasil Carbon dating umurnya paling tua, lebih tua dari Naskah Sana’a. Mencengangkan tapi hal wajar, walaupun jenis tulisannya berbeda (Huruf Hijazi) tapi kata dan maknanya 100 % sama dengan Quran yang beredar serakang. Penggalan naskah ini juga bagian dari naskah quran lain yang disimpan di Museum lain di Paris.

    1. Salah susun deh masa Maryam ibu Yesus masih keponakan Harun, padahal Maryam bunda Yesus dengan Maryam keponakan Harun selisih ratusan tahun jamannya.. #FAKTA SEPELE

  5. Salah satu fitnah kaum kafir adalah adanya ayat-ayat Alqur’an yang hilang.
    Berikut adalah fitnah beserta jawabannya:
    1. Al-Qur’an yang tercecer Menurut Abu Musa Al Asy’ari
    Suwaid ibn Saeed ia berkata bahwaAli ibn Mus’hir berkata kepada kami: Dawood dari Abu Harb ibn abu al-aswad bahwa ayahnya berkata bahwa Abu Musa’ Al-ashari berkata: Kami biasa membawakan satu surat, yang panjang dan kerasnya seperti surat Al Baraah, Saya telah lupa kecuali ayat yang saya ingat :“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah yang berisi harta ia pasti berharap ketiganya dan tidak ada yang dapat memenuhi kerongkongan anak Adam kecuali liang lahat” (HR. Muslim)
    Hadits inilah yang kemudian menjadi argumentasi musuh-musuh Islam yang membuktikan Al-Qur’an yang ada sekarang tidak sama dengan Al-Qur’an dizaman Rasulullah Saw. Hadits ini membuktikan bahwa Al-Qur’an yang ada sekarang tidak lengkap karena ada ayat yang tidak diakomodir didalamnya. Setelah mengemukakan Hadits ini kemudian mereka mencoba menguatkan argumentasi mereka dengan hadits lain
    Anas bin Malik berkata : “Seandainya anak Adam memiliki dua lembah yang berisi harta ia pasti berharap ketiganya dan tidak ada yang dapat memenuhi kerongkongan anak Adam kecuali liang lahat, dan kepada Allah kembali ia bertaubat” (HR. Muslim)
    Jawaban dari tuduhan ini adalah bahwa hadits yang pertama telah dikategorikan sebagai hadits dhoif dikarenakan sanadnya yang amat lemah, diantara kelemahannya adalah Suwaid ibn Sa
    eed ,`Ali ibn Mus’hir, Dawood, tiga orang yang menjadi mata rantai hadits ini dianggap sangat lemah.
    Kesaksian mengenai Suwaid Ibnu Sa’id:

    Bukhari mengatakan Dia hilang penglihatan dan kemudian biasa meriwayat sesuatu yang bukan dia dengar sendiri, dan kejujurannya dipertanyakan. Nasai mengatakan dia tidak dapat dipercaya . (Al-Zahabi , Tazkirah al-Huffaaz)
    Bukhari mengatakan Suwaid amat tidak bisa dipercaya dan perkataannya aneh dan munkar, Ibnu mu’in berkata Suwaid adalah seorang pembohong, imam Ahmad berkata, perkataan Suwaid tidak dapat diterima. (ibid)
    Kesaksian Mengenai Ali bin Mushir:

    Uqaili berkata Ali bin Munshir tidak dapat dipercaya (Uqaili, Dhuafaa al-`uqaili)
    Ibnu Hajar berkata Ali bin Munshir bisa dipercaya namun ia meriwayatkan hadits yang ganjil setelah ia kehilangan penglihatannya. (Ibn Hajar ,Tehzi’b al-tehzi’b)
    Kesaksian mengenai Dawud :
    Imam Ahmad mengatakan cerita Dawud amat membingungkan, dan saling kontradiktif satu dengan yang lainnya, Ibnu Hibban menambahkan cenderung mengalami kesalahan ketika bercerita berdasarkan ingatannya. (Ibid)
    Dari penjelasan mengenai kredibilitas tiga mata rantai sanad saja hadits ini mempunyai kelemahan yang amat besar belum lagi dari matan yang menyebutkan Abu Musa lupa beberapa ayat lainnya, hal ini amat membingungkan bagaimana mungkin hanya ia saja yang bersaksi bahwa riwayat mengenai anak adam ini adalah bagian dari surat didalam Al Quran?
    Betul memang ada riwayat dari Anas bin Malik yang mengatakan bahwa Rasul pernah menyampaikan kalimat tersebut akan tetapi ia tidak pernah menyebutkan bahwa itu merupakan bagian dari Al Quran.
    Anas bin Malik berkata : “Seandainya anak Adam memiliki dua lembah yang berisi harta ia pasti berharap ketiganya dan tidak ada yang dapat memenuhi kerongkongan anak Adam kecuali liang lahat, dan kepada Allah kembali ia bertaubat (HR. Muslim)

    Surat Al khal dan Al Hadf
    Mereka kemudian menambahkan bahwa Mushaf Abu Musa Al Asy’ari dan beberapa sahabat lainnya memiliki surat yang kemudian tidak tertulis didalam Mushaf Utsmani.Ubay bin Ka’ab memasukan dua surat tambahan yaitu, al Hafdh dan Al Khal yang tidak tertulis didalam mushaf Utsmani, surat ini juga tertulis pada teks Ibnu Abbas dan Abu Musa.
    Mengenai kesaksian mengenai dua surat yang tercecer di Mushaf Abu Musa, Ibnu Abbas, dan Ubay bin Ka’ab tidak pernah mereka sebut sebagai bagian dari Al Quran, dan tidak ada riwayat yang menyebutkan mereka menganggap itu bagian dari Al Qur’an. Mengenai keberadaan Surat tersebut didalam Mushaf mereka bukan menandakan bahwa hal itu merupakan bagian dari wahyu Allah, berikut terjemahan dari kedua surat tersebut:

    Surat Al Khal
    Allah kami meminta pertolonganmu dan meminta pengampunanmu, dan kami memujimu dan kami bukan termasuk orang yang kafir terhadapmu. Kami berpisah dan meninggalkan orang yang melakukan dosa terhadapmu

    Surat Al-Hadf
    Ya Allah Kami memujimu dan kepadamu kami berdoa dan berserah diri, dan kepadamu kami berlari dan bersegera untuk mengabdi. Kami berharap kepada pengampunanmu dan takut kepada hukumanmu. Hukumanmu akan segera sampai kepada orang-orang kafir.
    Ini adalah terjemahan dari kedua surat yang berada didalam Mushaf sahabat tersebut, yang menarik adalah kedua surat tersebut sama bunyinya dengan bunyi dua doa qunut yang biasa dibaca oleh kaum muslimin yang ada didunia, bahkan rasul sendiri pernah menganjurkan membacanya diakhir sholat witir (Ahmad von Denffer, “Ulum al Qur’an”) , persoalannya apakah segala sesuatu yang tertulis bisa dikatakan bagian dari Al-Qur’an, bukankah Rasul pernah berkata janganlah kalian menulis kecuali Al Quran?
    “Janganlah kalian menulis apa apa dariku, barangsiapa yang menulis dariku selain al-Quran maka hendaklah ia menghapusnya, dan berbicaralah tentang diriku dan itu diperbolehkan, dan barangsiapa dengan sengaja berbohong atas diriku maka bersiap siaplah untuk tinggal diatas neraka” (HR Muslim)
    Betul pesan ini memang disampaikan oleh Rasulullah Saw, akan tetapi bukan berarti hal ini kemudian tersampaikan kepada semua sahabat. Ada saja sahabat yang tidak mengetahui Hadits tersebut dan melakukan kekeliruan, bahkan hal ini mempertegas tindakan Zaid bin Tsabit yang tidak mau menerima catatan yang tidak tertulis langsung dihadapan Rasulullah yang didampingi dua orang saksi. Dia berpikir tidak ada satupun jaminan yang bisa diberikan bahwa sahabat tidak salah dalam prosedural penulisan maupun hapalan suatu ayat tertentu.
    Yang menarik adalah Ubay bin Ka’ab yang dikatakan mempunyai Mushaf yang lain dari Mushaf yang ada sekarang justru adalah orang yang ikut menyusun keberadaan Mushaf Utsmani
    Ata berkata : Ketika Utsman memutuskan untuk menyalin Al Quran kedalam naskah tertulis , ia mengirim mereka kepada Ubay bin Ka’ab. Ubay mendiktekan kepada Zaid yang kemudian menuliskannya, dan bersama mereka Sa’id bin Al ‘Ash, yang meneliti teks (berdasarkan Gramar Arab Quraisy). Teks ini berdasarkan bacaan Ubay dan Zayd (HR. Abu Dawud)
    Utsman memerintahkan Ubay bin Ka’ab untuk mendiktekan, Zayd bin Tsabit untuk menulis, Sa’id bin Al Ash dan Abdurahman bin Al Harith untuk meneliti teks kedalam aturan bahasa Arab (HR. Abu Dawud)
    Hadits ini adalah tamparan yang amat keras bagi orang-orang yang menuduh bahwa Ubay bin Ka’ab memiliki Mushaf yang berbeda dari Mushaf Utsmani, bagaimana mungkin ia bisa melewatkan kedua surat ini kedalam Mushaf Ustmani sedang ia sendiri yang membacakannya didepan Zaid?

    1. @Danang Boy: ruang komentar ini adalah untuk membahas tulisan saya, bukan area copas asal-asalan.

      Saya tahu anda tidak sependapat dengan tulisan saya, untuk itu tunjukkan di bagian mana tulisan saya yang menurut anda salah, dan tunjukkan bagaimana yang benarnya menurut anda. Dengan copas tanpa fokus, saya tidak yakin anda mampu memahami tulisan saya. Apalagi dengan menggunakan kata ‘fitnah’ atau penilaian subyektif macam-macam.

      Kalau anda sekedar copas tulisan orang lain, ya silakan tulis blog sendiri, bukan di blog saya. Itu nyampah di blog orang lain. Pahamkan?

  6. 7 carA bacaan quran itu bukan hasil rekayasa ulama. Cara baca ini diajarkan rasul kami dan disesuaikan dengan dialek bahasa para sahabat. Kan islam diturunkan utk semua umat manusia dengan berbagai bahasa dan dialek. Masalah ‘maryam saudara harun’ itu hanya ungkapan kebiasaan orang israel kalo ada kedekTan kekeluargaan. Bukan saudara beneran. Kalo gak ngerti jangan baca buku karangan kaum anda. Tanya ulama kami. Apakah kitab suci and Udah bener? Disana yesus mengatakan bahwa dia nabi, dia lebih kecil dari Tuhan ,selanjutnya baca di The Choice karya Ahmed Deedat

    1. @Irwan: 7 qiroat itu berkaitan dengan cara baca teks Qur’an, jadi Nabi yang buta huruf itu mengajarkan cara baca Qur’an? juga mengajarkan sendiri Qur’an tersebut dalam berbagai dialek?

      Tentunya bukan asbun, atau asal klaim ini-itu kan? Mohon ditunjukkan sumber teks klasik yang mengatakan itu.

Perkaya tulisan ini dengan pendapat Anda