Agama Manusia: Pertarungan Internalnya

Pertarungan internal dalam Agama Manusia? Ya!

Dalam Agama Manusia, tak ada penolakan terhadap kesakralan Manusia dan kepentingannya, namun cara pandang terhadapnya bisa sangat berbeda. Dan sebagaimana yang terjadi pada Agama Tuhan, perbedaan cara pandang ini melahirkan sekte-sekte yang berbeda, yang saling bersaing memperebutkan penganut dan kekuasaan, yang pada gilirannya melahirkan pertikaian yang tak kalah mengerikan di antaranya.

Sekte-sekte Agama Manusia

Ada tiga sekte utama Agama Manusia.

Kemanusiaan Evolusionis

Ini adalah sekte yang menggunakan cara pandang paling mendasar dan menggunakan skala waktu yang terpanjang.

Bagaimana memandang manusia dan kepentingannya?

Manusia hanya satu di antara jutaan spesies binatang yang hidup di atas bumi ini, dan saat ini manusia menjadi spesies yang paling dominan, paling berbudaya dan paling cerdas di antara semua spesies-spesies lainnya.

Bagaimana manusia bisa menempati posisi paling unggul ini?Melalui persaingan dan pertarungan yang sangat sengit di antara spesies-spesies binatang di bumi ini.

Ini pertarungan brutal yang berlangsung dalam masa jutaan tahun, yang hanya menyisakan spesies-spesies pemenang saja, sedangkan yang kalah akan punah keberadaannya. Untuk bisa menjadi pemenang, setiap spesies harus menjadi yang paling mampu beradaptasi, paling cerdik dan bisa menyingkirkan spesies-spesies pesaingnya.

Manusia adalah spesies yang paling sukses beradaptasi dari kelompok Kera Besar dan berhasil menyingkirkan pesaing terdekatnya yaitu spesies Homo Neanderthal, Homo Habilis, Homo Heidelberg dan beberapa kerabat dekat manusia lainnya.

Manusia adalah hasil pertarungan berdarah antar spesies selama jutaan tahun.

Dalam skala yang lebih pendek, kita bisa melihat betapa peradaban barat memusnahkan peradaban Inca, Maya dan Indian di Benua Amerika, serta Aborigin di Benua Australia. Peradaban yang lemah akan hilang tertelan peradaban yang lebih kuat. Ini takdir sejarah yang tak perlu diratapi.

Apakah pertarungan ini sudah usai setelah kemenangan Homo Sapiens (Manusia sekarang)? tidak! Evolusi akan terus berlangsung, Manusia yang dominan saat ini belum tentu akan tetap dominan sejuta tahun lagi. Sebagaimana Dinosaurus yang setelah 400 juta tahun menguasai Bumi tiba-tiba punah digantikan oleh makhluk lain, tidak ada jaminan spesies manusia akan tetap menjadi spesies dominan selamanya. Bisa jadi kelak akan ada spesies yang sama sekali baru menggusurnya, atau muncul spesies turunan manusia yang lebih cerdas yang bakal menggantikan manusia lama.

Oleh karena itu bersikap lemah lembut dan menghindari persaingan yang keras bukanlah cara untuk menghadapi masa depan. Masa depan manusia dan bangsa-bangsa akan ditentukan oleh siapa yang terkuat, tercerdik dan tak segan-segan menghabisi pesaingnya.

Kemanusiaan Sosialis

Apa makna manusia? Manusia adalah makhluk sosial, yang tak sempurna hidupnya jika ia hidup tanpa berhubungan dengan manusia lainnya. Karena itu makna manusia tidak bisa dipandang melalui kacamata egois tiap individunya, melainkan maknanya dalam organisasi sosial.

Karena makna manusia tergantung pada organisasi sosial yang mengikatnya, maka selayaknya tiap manusia memperjuangkan kebaikan bagi organisasi sosial yang mengikatnya. Keuntungan bagi organisasi sosial ini pada gilirannya akan menguntungkan pula setiap anggota organisasi tersebut.

Belajar dari sejarah, secara umum ketidak-adilan yang terjadi selama ini berasal dari ketimpangan penguasaan sarana produksi dalam masyarakat. Ada sekelompok kecil kelas masyarakat yang menguasai sarana produksi dan menjadikannya mampu berkuasa dan menindas kelas masyarakat yang tidak memiliki penguasaan sarana tersebut. Dengan berjalannya waktu, terjadi akumulasi kekayaan pada kelas penguasa, sehingga menambah kemampuannya menguasai lebih banyak sarana produksi. Di sisi lain, kelas yang tak punya semakin terjerat dalam penindasan yang terjadi tanpa bisa keluar dari jerat tersebut.

Demi masa depan masyarakat, para sosialis menginginkan agar sarana produksi tidak lagi dikuasai oleh individu-individu yang cenderung akan menumpuknya bagi kepentingan diri sendiri. Sebagai gantinya sarana produksi idealnya dikuasai oleh masyarakat secara kolektif (negara) dan membatasi kepemilikan individu. Masyarakat akan bekerja dan diupah oleh negara. Dengan demikian tidak akan ada lagi jurang antara kelas penguasa sarana produksi (kaya) dan rakyat kebanyakan, tidak akan ada lagi penindasan dari kelompok kaya kepada kelompok miskin.

Jika kelompok manusia memperoleh keuntungan, maka keuntungan itu pada gilirannya didapatkan oleh individu manusia dalam kelompok itu. Untuk itu fokus sekte ini adalah kepentingan bersama, dan bila perlu membatasi kepentingan individu untuk kepentingan bersama.

Kemanusiaan Liberalis

Ini adalah sekte yang menggunakan kacamata paling sederhana.

Lupakan bicara tentang spesies, tentang negara, tentang masyarakat. Bila berbicara tentang kebahagiaan atau kesedihan, kecukupan atau kekurangan, keadilan atau kezaliman – itu berarti berbicara tentang pengalaman dan perasaan manusia. Dan itu berarti berbicara tentang manusia sebagai individu, bukan sebagai satu spesies atau satu bagian negara.

Karena alasan di atas, sekte ini memperjuangkan individu untuk mencari keuntungan, bebas dari penindasan, dan bebas mengekspresikan dirinya sendiri. Menjadi diri sendiri yang otentik dan mengejar kepentingan diri sendiri adalah ide inti sekte ini.

Bebas tanpa batas? tentu tidak, tidak ada kepentingan individu yang sama persis dengan kepentingan individu lainnya. Tentu beda, dan di satu titik mungkin akan berbenturan,di batas perbenturan kepentingan inilah, suatu batas harus diberikan. Satu batas yang ditentukan oleh kesepakatan bersama antara individu-individu dalam suatu kelompok sosial, bisa berupa aturan informal seperti standar kepantasan maupun aturan formal seperti undang-undang.

Setiap individu bebas selama tidak mengancam kebebasan individu yang lainnya

Tiap individu itu istimewa dan memiliki potensi keunggulannya masing-masing, dengan memberikan kebebasan pada tiap individu, diharapkan tiap individu bisa mengeluarkan potensi unggulan yang dimilikinya. Pada gilirannya kelompok sosial akan memperoleh keuntungan dari potensi unggulan yang terungkap dari individu-individu anggota kelompok tersebut.

Pertarungan Antar Sekte

Dalam perjalanannya, sekte-sekte Agama Manusia menjelma menjadi ideologi negara.

Kemanusiaan Evolusionis terwujud oleh pemerintahan NAZI di Jerman; Kemanusiaan Sosialis terwujud oleh pemerintahan negara-negara Komunis, Sosialis dan Totaliter; sedangkan Kemanusiaan Liberalis terwujud oleh negara-negara Demokratis.

Jika hanya sebatas konsep, maka persaingan antar sekte bisa menghasilkan ajang diskusi yang mengasyikkan, namun begitu menjelma menjadi sistem yang nyata, persaingan antar sekte berarti benturan kepentingan negara yang bisa menjelma menjadi konflik bersenjata.

Gebrakan Kemanusiaan Evolusionis

Ketika Adolf Hitler dengan partai NAZI berkuasa di Jerman pada tahun 1933, Kemanusiaan Evolusionis mendapatkan bentuk nyatanya dalam suatu pemerintahan.

Bagi Hitler, pertarungan antar ras manusia adalah fakta yang tak terelakkan, hadapi sekarang atau nanti.

Dan sebagai bangsa Arya yang memiliki keunggulan di bidang militer, membawa pertarungan saat ini akan lebih menguntungkan daripada menunggu nanti, saat bangsa-bangsa lain memiliki kemampuan militer seimbang atau bahkan lebih.

Lalu Jerman menggerakkan mesin perangnya menghabisi bangsa Yahudi yang dianggap ras penyakit di negaranya, kemudian bergerak ke segala penjuru untuk menaklukkan bangsa-bangsa lainnya.

Dibantu dengan beberapa negara yang menjadi sekutunya, Jerman terbukti dengan cepat menaklukkan front perang di banyak wilayah di Eropa.

Pasukan NAZI Jerman pada parade tahun 1939. Siap untuk memenangkan pertarungan antar Ras.

Sebagai respon baliknya, banyak negara bergabung untuk melakukan perlawanan terhadap ekspansi cepat Jerman. Lahirlah Perang Dunia II. Perang ini begitu dahsyat, ada 44 negara yang terlibat dalam perang ini dan sekitar 73 juta orang tewas di seluruh dunia selama masa perang ini.

Dalam kacamata ideologi, inilah perang agama, di mana Sekte Kemanusiaan Evolusionis berusaha mewujudkan dunia idealnya. Dunia di mana demi masa depan yang lebih baik, ras manusia harus berani menghadapi takdir evolusinya yaitu bertarung mencari yang terunggul.

Dengan kacamata yang sama, kita juga bisa melihat, bahwa lawan Jerman saat itu adalah negara-negara yang menganut Kemanusiaan Sosialis (kubu negara Komunis dan Sosialis) serta yang menganut Kemanusiaan Liberalis (kubu negara Demokrasi) — yang berusaha mempertahankan sekte agama mereka.

Perang Dunia II usai dengan terkuburnya NAZI Jerman dan Sekte Kemanusiaan Evolusionis yang dianutnya.

Pertarungan Sosialis lawan Liberalis

Setelah habisnya Sekte Kemanusiaan Evolusionis dalam Perang Dunia II, tinggal dua sekte tertinggal dalam Agama Manusia, yaitu sekte Kemanusiaan Sosialis dan sekte Kemanusiaan Liberalis.

Segera setelah kerjasama sekte ini dalam menghadapi NAZI dan membangun dunia dari reruntuhan Perang Dunia II, dua sekte ini mulai bersaing memperebutkan kedudukan sebagai penguasa dunia.

Sekte Kemanusiaan Sosialis berkumpul di bawah pengaruh negara Uni Sovyet, sedangkan Sekte Kemanusiaan Liberalis berkumpul di bawah pengaruh negara Amerika Serikat.

Dengan perlahan namun pasti, seluruh negara-negara di seluruh dunia mulai menempatkan diri dalam satu di antara dua kubu tersebut. Kedua kubu mulai terlibat persaingan habis-habisan untuk menjadi lebih unggul di bidang ekonomi, sosial dan teknologi.

Dalam suasana persaingan, kedua kubu berlomba mengembangkan satu jenis senjata yang sangat dahsyat, bom nuklir. Suatu jenis bom yang mampu membawa kehancuran dalam skala yang belum ada contohnya dalam sejarah.

Dalam kesiagaan penuh, kedua kubu sudah menumpuk sejumlah persediaan bom nuklir, yang bila digunakan bersama akan mampu menghapuskan setiap manusia yang ada di muka bumi ini.

Bom nuklir ini ancaman yang mengerikan bagi dunia, namun di sisi lain juga menjadi berkah tak terkira bagi dunia.

Kenapa? karena dengan kedahsyatan bom nuklir ini, kedua kubu tahu benar, jika mereka mulai berperang dan saling menggunakannya, maka tak akan ada lagi manusia yang selamat di bumi ini. Tak akan ada yang bisa keluar hidup-hidup dari perang tersebut.

Bom Atom yang diledakkan di kota Nagasaki Jepang. Puncak awannya mencapai ketinggian 18 kilometer. Bom Nuklir modern kemampuannya ribuan kali lebih dahsyat.

Karena ancaman (dan perlindungan) dari bom nuklir inilah, kedua kubu menahan diri untuk bertarung secara frontal, mereka mungkin berselisih secara kecil-kecilan namun menahan diri untuk melakukan pertarungan secara terbuka.

Oleh karena itu Perang Dunia III tidak pernah terjadi, sebagai gantinya terjadi Perang Dingin (1947-1991), yang mampu menyalurkan sedikit agresi di antara mereka, sambil menjaga perdamaian di antara mereka.

Siapa Sekte Pemenangnya?

Karena tidak terjadi perang terbuka antara sekte dalam Agama Manusia yang tersisa, maka pemenang pertarungan antara dua sekte tersebut ditentukan oleh cara lain.

Yaitu mana yang paling terbukti berhasil membawa kemajuan, kemakmuran dan memberi kepuasan bagi warganya.

Dalam 46 tahun masa Perang Dingin, akumulasi perbedaan ini menunjukkan hasil yang nyata. Secara umum, negara-negara Demokrasi terbukti berkembang lebih makmur, lebih maju dan memberi kepuasan kepada warganya lebih dari negara-negara Komunis, Sosialis dan Totaliter.

Perbedaan ini menimbulkan krisis ekonomi dan ketidakpuasan yang menyebar di antara warga para negara penganut Sekte Kemanusiaan Sosialis. Ketidakpuasan ini memuncak, dan pada tahun 1987 menimbulkan gerakan Perestroika di Uni Sovyet, yang kemudian menjalar menjadi revolusi yang menjatuhkan pemerintahan negara-negara Komunis dunia.

Berbagai negara Komunis dunia bergiliran tumbang berganti menjadi negara Demokrasi, sebagian lagi mempertahankan Komunisme hanya dalam bentuk luarnya, namun mengadopsi perekonomian kapitalis yang justru merupakan bagian dari Kemanusiaan Liberalis.

Perang Dingin berakhir, dan itu berarti kemenangan Sekte Kemanusiaan Liberalis atas Sekte Kemanusiaan Sosialis.

Masa Depan Agama Manusia

Setelah pertarungan internal ini, apakah berarti tidak ada lagi masalah dalam Agama Manusia, sehingga ini akan menjadi agama terakhir umat manusia?

Sepertinya tidak.
Ada problem besar yang dibawa Agama Manusia, yang bakal membawa masalah besar bagi manusia itu sendiri. Bersamaan dengan itu, juga sudah ada perkembangan baru di dunia ini yang akan mengantarkan munculnya satu jenis agama baru, yang akan menggantikan Agama Manusia.

Saya akan lanjutkan dalam tulisan berikutnya.


Bacaan:

Baca Juga:


3 komentar

  1. Pak Yudi Ysh,
    Mohon sharing pendapatnya,
    Manusia makluk yg kompleks.. apakah penggolongan sebagai evolusionis, sosialis maupun liberalis hanya kecenderungan atau dimungkinkan bisa melekat dalam setiap individu manusia yg bahkan bisa 2 atau 3 sekaligus menyatu dalam dirinya.?. Termasuk dikotomi konsep agama Tuhan dan Agama Manusia, mungkinkah setiap individu merepresentasikan 2 konsep tsb dalam dirinya. Sebagai contoh: masih memegang teguh konsep agama Tuhan tapi juga tdk menafikan adanya pengaruh agama manusia dalam dirinya. Kalau ini dialami kira kira apa yg terjadi.?. Tks

    1. @Sastro: sebagai individu, tentu hanya ada satu yang benar-benar sakral, satu agama.
      Namun sebagai makhluk pragmatis, untuk kompromi dengan berbagai kepentingan, bisa saja ia menampilkan yang lain.

      Pada situasi di mana harus memilih, agama utamanya yang bakal menang.

Perkaya Tulisan Ini Dengan Pendapat Anda