Idul Adha, Hari Ibrahim

Lini Facebook

Idul Adha mungkin bisa dinamakan Hari Ibrahim, karena hari ini merayakan fragmen dalam kehidupan Ibrahim.

Sebelum Idul Adha, pada masa normal, jutaan muslim berkumpul melaksanakan ritual Haji, yang salah satu ritualnya adalah menirukan kebingungan Hajar istri Ibrahim yang berlarian mengejar fatamorgana air setelah “dibuang” Ibrahim di tengah gurun bersama bayinya.

Ritual utama Idul Adha adalah menyembelih ternak, menirukan Ibrahim yang hendak menyembelih anaknya sendiri.

Apa pesan rangkaian ritual ini?

Manusia Adalah Budak

Allah adalah pemilik budak itu. Sebagai budak, apapun perintah tuannya, wajib dilaksanakan, tak ada opsi lain.

Bahkan lebih dari itu, apapun yang bisa ditafsirkan perintah dari tuannya, budak wajib melaksanakannya. Contohnya adalah Ibrahim yang menganggap mimpinya sebagai perintah Allah dan langsung menjalankannya, seaneh apapun mimpi itu.

Tak ada pertanyaan atau klarifikasi tentang kenapa harus melaksanakan perintah itu.

Tak ada kehendak bebas budak, yang ada kehendak bebas tuannya.
Budak tak bernalar, yang bernalar tuannya.

Mengorbankan Orang Lain

Atas kehendak tuannya, budak harus tega mengorbankan orang lain.

Atas kehendak Allah, Ibrahim membuang istri dan anaknya ke tengah gurun panas (sama dengan membunuhnya, mengorbankannya). Atas mimpi yang ditafsirkan sebagai kehendak Allah, Ibrahim menyembelih anaknya.

Manusia lain (bahkan istri dan anaknya sendiri) itu tidak penting, bahkan kalau perlu sebagai budak, dibunuhnya mereka demi menyenangkan tuannya.

Keimanan Sempurna

Ibrahim adalah teladan sebagai manusia yang imannya sempurna.

Kisahnya menyembelih anaknya sendiri diperingati sebagai hari raya, kesengsaraan kurbannya (istrinya di gurun) wajib direkonstruksi dalam ibadah haji, namanya wajib disebut dalam doa tahiyat di setiap sholat.

Agar imanmu sempurna, jadikan dirimu budak tanpa kehendak bebas, tanpa nalar dihadapan perintah (atau yang kau tafsirkan) dari Allah.

Jadikan dirimu raja tega seperti Ibrahim, yang jika perlu akan kau korbankan istri dan anakmu (atau siapa saja), jika kau pikir Allah menghendaki.

Kau ingin kesempurnaan iman?
Saya tidak.


Perkaya tulisan ini dengan pendapat Anda