Ndukun

Lini Facebook

“Cak, sampeyan lak sekti, mbok aku diramal…”, ucap Zen suatu hari.

Waduh, dibilang sakti. Tapi lihat Zen beberapa hari ini gelisah, sepertinya ingin bantu juga. Sebagai sesama takmir unitas (mahasiswa mbambung yang tinggal di kantor unit aktivitas kampus), saling bantu itu wajib. Biasanya saya langganan minta tolong potong rambut pada Zen, atau saling hutang-menghutang.

Ini pasti tentang cewek. “Yowis, bayangkan sosok yang kamu pikirkan sekarang”. Selagi Zen berkonsentrasi, secara imajinasi saya tarik hawa di kepala Zen, saya tarik seolah sebuah bola, putar beberapa kali di otak saya sendiri.

Tiba-tiba di pikiran saya muncul gambar seorang gadis berambut sebahu, berkacamata. Saya kaget sendiri, saya belum pernah melihat gadis itu. Cukup.

Lalu saya beritahu yang saya lihat. “Lah kok pas?, lalu gimana?”. Lalu saya ngedabrus kasih tahu ini-itu, saran ini-itu.”Wis, itu saja ramalannya”, kata saya, sepertinya Zen puas .

Setelah Zen pergi, tinggal saya yang heran sendiri. Kok bisa?

Saat itu saya merasa, mungkin itu efek meditasi, olah nafas dan sebagainya yang sering saya lakukan saat latihan silat.

Lalu saya diam-diam coba baca pikiran orang-orang, tapi sepertinya kok gak bisa?

Beberapa hari kemudian, Zen datang lagi, minta diramal lagi. Kali ini dengan segala alasan saya menolak, juga beberapa kali kemudiannya. Lha wong saya merasa gak bisa. Selain gambaran gadis itu, yang lainnya cuma karangan saya saja kok.

Dulu saya merasa itu kemampuan ghaib yang kebetulan saat itu bisa saya lakukan. Dengan latihan rutin, mungkin saya bisa mengendalikan sepenuhnya.

Sekarang? saya gak percaya penjelasan ghaib atau kesaktian.

Saya lebih percaya penjelasan yang lain.

Mungkin karena sering berinteraksi, saya kenal betul dengan karakter Zen dan menduga sosok yang ditaksirnya, dan otak bawah sadar saya mampu memvisualisasikan gadis itu dari clue-clue yang diberikan Zen sendiri, yang saya sendiri tak perhatikan secara sadar.

Lebih rumit? ya memang.Saya lebih suka penjelasan kedua, walaupun kalau didesak, apakah yakin? saya katakan saya tidak tahu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *