Standard Baik dan Buruk

Lini Facebook

Ketika musim menjarah tiba, kapal Viking akan mendarat di pantai wilayah-wilayah yang lemah.

Para pelaut Viking yang berpostur besar tegap itu memasuki rumah-rumah dan setiap bangunan untuk mengambil apa saja barang yang berharga.

Para penduduk pemilik barang? bagi orang-orang Viking, mereka dianggap tak lebih dari hama pengganggu. Pedang dan kapak tanpa ragu mereka gunakan untuk membelah atau menusuk tubuh-tubuh penduduk setempat. Tanpa banyak pertimbangan, tanpa rasa.

Beberapa penduduk mungkin tidak mereka bunuh, karena akan mereka giring sebagai budak. Bisa berguna untuk pekerjaan kasar, dijual atau untuk korban persembahan bagi Dewa mereka.

Jahatkah orang-orang Viking itu? Tergantung dari kacamata siapa memandangnya.

Bagi penduduk yang dijarah atau standard moral yang berlaku sekarang, mereka bangsa biadab, liar dan jahat.

Tetapi kalau anda mengikuti serial Viking di Netflix yang menceritakan kehidupan bangsa Viking, kita akan melihat, bahwa dalam kehidupan sehari-hari mereka juga ayah yang baik, petani dan pelaut yang menyayangi istri dan anaknya, berpartisipasi dalam tertib sosial dan memberikan waktunya untuk menyembah Odin, Thor atau dewa-dewa sesembahan mereka lainnya.

Dalam masyarakat Viking, mereka orang biasa saja — bisa baik, bisa buruk tapi bukan manusia biadab.


Lukisan tentang eksekusi Banu Qurayza setelah perang Khandaq. Sumber: Wikipedia

Ketika perang Khandaq selesai, ribuan orang dari suku Banu Qurayza digiring tentara Mukmin.

Para lelaki dewasanya, kurang lebih 800 orang digiring ke pasar Madinah, telah disiapkan lubang besar di sana. Satu persatu lelaki Banu Qurayza disembelih dan jasadnya dilemparkan ke lubang tersebut, setelah selesai lubang itu ditimbun tanah.

Para wanita dan anak-anak Banu Qurayza dibagikan merata ke tentara Mukmin sebagai budak.

Dalam sehari, mereka yang sebelumnya adalah manusia bebas, berubah statusnya menjadi manusia budak yang harus menurut diperintahkan apa saja oleh tuannya, bahkan kalau perlu melayani nafsu seksual tuannya.

Jahatkah orang-orang Muslim itu? Tergantung dari kacamata siapa memandangnya.

Bagi warga Banu Qurayza atau standard HAM yang berlaku sekarang, orang-orang Mukmin itu bangsa biadab dan jahat.

Tapi kalau anda mengikuti pengajian para ustad, kita akan akan diberitahu bahwa pimpinan mereka, Nabi Muhammad adalah pribadi yang sopan, lembut dan baik hati.

Nabi menyayangi istri dan anak-anaknya, dah bahkan ketika seekor kucing meniduri sorbannya, ia menggunting sorbannya agar bisa diambil tanpa mengusik tidur sang kucing, begitu so sweet.

Nabi juga orang yang nomor satu dalam berbakti dan menyembah Allah, Tuhannya. Dia orang baik, bahkan suri tauladan bagi orang Mukmin lainnya.


Lukisan Pasukan Salib saat memasuki Jerusalem di tahun 1099. Sumber: Wikipedia

Ketika pasukan Salib berhasil merebut Jerusalem, para tentara Salib memasuki kota melewati genangan darah setinggi mata kaki, darah pasukan Muslim yang dibantai oleh pasukan Salib.

Ribuan orang penduduk Jerusalem dibantai, sebagian sisanya dijadikan budak. Harta mereka dirampas para orang Kristen itu.

Jahatkah orang-orang Kristen itu? Tergantung dari kacamata siapa memandangnya.

Bagi penduduk Jerusalem atau standard HAM yang berlaku sekarang, orang-orang Kristen itu bangsa biadab dan jahat.

Tapi kalau kita melihat profil pasukan penakluk itu, mereka menyebarkan agama cinta-kasih, dan sebelumnya adalah warga biasa juga, yang punya anak dan istri serta kehidupan normal mereka.

Hanya karena menyambut seruan keagamaan dari Paus, mereka berubah menjadi orang-orang berdarah dingin tersebut.


Mengidolakan tokoh masa lalu? menirukan segala macam tindakan dan ucapannya? jangan! mereka juga tidak sempurna dan memang tidak ada yang bakal sempurna.

Ada sisi buruk mereka yang kebanyakan dipilih tidak diceritakan oleh para pemujanya.

Jadi?

Jadilah orang baik, buat standard perilakumu sendiri, terbaik dari apa yang kamu percaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *