Beautifikasi Islam

Intermezzo

Dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim sewaktu didunia, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat
(HR. At-Tirmidzi)

Samakah sejarah yang dikisahkan oleh ulama tentang para pejuang Islam awal dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi pada para pejuang Islam tersebut?

Sepertinya tidak. Para ulama bukanlah guru sejarah, mereka adalah pendakwah. Tujuan mereka menyampaikan sejarah bukanlah semata-mata menyampaikan kejadian yang terjadi. Mereka melakukan promosi untuk Islam.

Hadis di atas lalu menjadi semacam tool beautifikasi pada potret sejarah Islam.

Setiap berkisah tentang Nabi, sahabat nabi, para Khalifah dan tokoh-tokoh Islam, para pendakwah melakukan sensor.

Yang buruk, tidak layak dan salah tidak akan diceritakan. Hanya yang yang baik yang diceritakan, bahkan kalau perlu ditambahkan dan didramatisir.

Itu berlangsung lebih dari seribuempatratus tahun. Hasilnya? Bagi kebanyakan muslim, sejarah Islam itu semua indah, tanpa cacat dan sempurna.

Citra sempurna itu begitu kuat, sehingga banyak yang tidak percaya dan bahkan naik pitam jika ada yang menunjukkan brutalnya saling bantai para Khalifah, perilaku menyimpang mereka, persaingan politik para sahabat, tindakan nabi yang tidak bisa diterima dalam norma sekarang dan berbagai cacat lain dalam sejarah Islam.

Mendapatkan citra sempurna itu memang menarik, sebagaimana banyak orang suka mengambil foto selfi dengan henpon Oppo ketimbang dengan henpon Samsung.

Tapi itu menipu. Tidak sehat.

Perkaya tulisan ini dengan pendapat Anda