Pingin Tahu

Intermezzo

Penyakit saya sejak kecil adalah, gak bisa ngerem rasa ingin tahu tentang bagaimana suatu barang bekerja, hampir semacam obsesi.

Jadinya semua barang atau mainan yang saya punya pasti melewati masa dibongkar, dilihat jeroannya dan kalau beruntung dipasang utuh kembali. Bahasa jawanya “nglithis”.

Obeng, tang, dan pencungkil adalah alat favorit saya. Selama bisa dibuka, saya akan buka. Sehingga saya tahu bagaimana motor listrik yang dipasang di mobil atau pesawat mainan saya, bagaimana hubungan kabel-kabelnya dan bagaimana dalamnya motor penggerak mainan itu jika dibuka.

Setelah agak besar, sasaran saya beralih ke semua peralatan di rumah. Radio, tape, televisi, jam dinding, jam tangan, mixer, kunci pintu, saklar listrik, sepeda motor dan hampir semua perabotan pernah saya buka, bongkar isinya untuk tahu komponennya apa saja dan bagaimana kerjanya, lalu dikembalikan lagi.

Beberapa barang memang mudah di bongkar pasang, namun beberapa cukup membuat keringetan. Seperti ketika pertama membongkar jam tangan mekanik, begitu penutup belakang dibuka, berhamburan semua roda gigi dan pegas-pegas yang tak tahu bagaimana posisi sebelumnya. Namun dengan pengalaman bongkar pasang berbagai barang, saya bisa mereka-reka cara merakit ulang jam itu, walau makan waktu cukup lama.

Kebanyakan yang saya bongkar, bisa saya pasang lagi dengan sempurna, namun beberapa barang, sepertinya tidak seratus persen balik. Beberapa kali proses bongkar-pasang itu menghasilkan SHU (Sisa Hasil Usaha) berupa sekrup yang tersisa karena tak tahu dimana sebelumnya itu berada.

Beberapa pengalaman itu saya ingat lagi sebagai pengalaman yang sembrono dan berbahaya, seperti membongkar saklar-saklar listrik yang berisiko kesetrum atau melihat belakang tabung TV saat dinyalakan, di mana ada bagian tabung yang tegangannya bisa mencapai ribuan volt. Sembrono memang.

Setelah tua, obsesi mbongkar barang-barang sepertinya sudah mereda, mungkin secara umum sudah gak banyak pengetahuan baru yang bisa diperoleh dari kegiatan nglithis tersebut. Walaupun kalau ada barang yang jenisnya benar-benar baru dan ada waktu, saya terpanggil untuk membongkarnya juga.

Sebagai gantinya, saya mbongkar barang-barang non fisik. Nglithis itu sepertinya penyakit ya .. 😀 😀

Terakhir yang saya bongkar adalah agama.

Saya buka bungkusnya, lihat apa saja komponennya dan bagaimana cara kerjanya. Saya sudah kembalikan lagi bungkusnya. Tapi sepertinya saya kesulitan mengembalikan lagi salah satu komponennya, yaitu sakralitasnya.

Saya kehilangan ide, dimana posisi seharusnya.

Mungkin itu jadi semacam SHU lagi.

2 komentar untuk “Pingin Tahu

  1. Selamat Sore Mas Judhi, tulisan anda menarik untuk dibaca dan mencerdaskan. Saya berpikir jika semua tulisan tersebut disusun menjadi sebuah buku dan dikutif orang lain sebagai referensi, atau paling tidak dapat memberikan wawasan kepada manusia yang dikekang pemikirannya dengan dogma-dogma tertentu sehingga dapat menggunakan akal dan pikirannya dengan merdeka. Maka sumbangan cara berpikir Mas Judhi, dalam mengekpresikan diri serta memposisikan diri sebagai manusia yang “Nonton Dunia” akan menjadi sumbang sih yang baik bagi peradaban manusia. Terimakasih, matur nuwun.

    1. @Heru Suprapto: terima kasih untuk idenya.

      Saya pernah mencoba mengirimkan ke penerbit, tapi tidak direspon.

      Mungkin dianggap belum cocok dengan pasar.

Perkaya tulisan ini dengan pendapat Anda