Agama Manusia: Sebuah Senjakala

Salah satu sumbangan terbesar Agama Manusia adalah berhasil membawa semua energi peradaban pada pusatnya, yaitu manusia, bukan lagi kepada Tuhan atau mempersiapkan kehidupan setelah mati.

Proyek mercusuar manusia bukan lagi Piramida atau candi megah, melainkan perjalanan luar angkasa atau akselerator partikel yang luar biasa mahal.

Kemenangan sekte Humanisme Liberalis dalam Agama Manusia mengakibatkan terpusatnya energi peradaban manusia pada pusat yang lebih kecil lagi, yaitu pemenuhan keinginan diri. Ini yang bakal menjadi masalah baru dan mungkin awal bagi keruntuhan Agama Manusia.

Standar Hidup Yang Mendaki

Tahukah anda, berapa jarak jelajah manusia yang hidup seribu tahun yang lalu?

Rata-rata tak lebih dari sepuluh kilometer. Itu meliputi bepergian ke sawah, ladang, pasar atau keperluan lainnya. Untuk keperluan khusus, mungkin mereka menempuh jarak puluhan atau ratusan kilometer, tapi itu jarang sekali karena metode transportasi tercepat yang ada paling-paling adalah berkuda, naik kereta kuda atau perahu.

Ilustrasi kehidupan masyarakat sehari-hari pada masa Majapahit pada abad 14M. Sumber: KOMPAS

Bisakah standar jelajah ini dipertahankan di masa ini? Tentu tidak. Dengan standar itu, mungkin separuh karyawan di Jakarta tidak bisa bekerja, dan para eksekutifnya yang biasa terbang antar kota untuk bisnis, tak bakal kemana-mana. Bisnis akan mati.

Selain standar jelajah, ada banyak lagi standar hidup masa kini yang tidak mungkin dimundurkan. Ada standar kesehatan, makanan, pakaian dan juga standar baru yang tidak pernah dikenal di masa lalu, seperti listrik, komunikasi, internet, film, televisi dan banyak lagi.

Dan demi pemenuhan keinginan diri tersebut, berbagai kebutuhan baru diciptakan sedangkan standar kebutuhan yang lama ditingkatkan semakin tinggi. Dan itu tidak akan berhenti.

Kebutuhan Yang Meroket

Apa konsekwensi langsung dari mendakinya standar hidup manusia? konsumsi daya, pangan, barang dan jasa yang makin meroket dan tak bakal turun.

Salah satu yang bisa dilihat rekamannya adalah konsumsi energi dunia yang melonjak seiring dengan mendakinya standar hidup manusia. Lihat gambar berikut:

Pertumbuhan konsumsi energi dunia sejak tahun 1850. Sumber: IIASA, The Global Energy Assessment: Toward a Sustainable Energy Future, 2012

Apa lagi yang lebih luar biasa? pertumbuhan populasi manusia di bumi yang juga tak bakal turun.

Perkiraan jumlah penduduk dunia sejak tahun 10,000 SM. Sumber: Wikipedia

Apa hasil akhir kebutuhan yang meroket dikalikan pertumbuhan manusia yang juga meroket? ledakan kebutuhan manusia yang luar biasa di masa depan.

Masuknya Mesin dan Otomasi

Bagaimana manusia berusaha memenuhi ledakan kebutuhannya sendiri? Dengan mencari lebih banyak sumberdaya baru dan meningkatkan efisiensi dalam menghasilkan barang dan jasa.

Sumberdaya baru tidak bisa serta merta ditemukan karena butuh proses penemuan baru yang tak bisa dipastikan waktunya, namun yang bisa langsung dikejar adalah menggenjot efisiensi dalam proses produksi barang dan jasa.

Dalam mengejar efisiensi produksi inilah, ada makhluk baru yang diciptakan manusia untuk mengerjakannya, yaitu mesin dan proses otomasi.

Dalam ukuran kekuatan, akurasi dan durasi kerja; manusia tidak bisa menandingi mesin dan proses otomasinya. Demi produktivitas, secara pasti mesin dan otomasinya menggeser peran manusia dalam proses produksi barang dan jasa.

Saat ini mesin sudah melakukan 84% dari semua transaksi di bursa saham dunia, tinggal 16% transaksi yang dilakukan oleh manusia. Dalam setiap penerbangan rutin pesawat jet komersial, pilot manusia hanya mengendalikan pesawat di saat tinggal landas dan mendarat saja, 95% sisa waktu terbang pesawat sudah dilakukan oleh komputer. Dalam sebuah survey yang dilakukan oleh PwC, saat ini sudah 59% pekerjaan di industri manufakturing dilakukan oleh otomasi robot.

Mesin Yang Menyingkirkan Manusia

Apakah proses masuknya mesin dan otomasinya akan berhenti? tidak. Proses ini akan terus berlangsung. Perkembangan lebih lanjut Kecerdasan Buatan membuat mesin dan otomasinya menjadi semakin jauh terlibat dalam kehidupan sehari-hari manusia.

Armada truk dan kapal kontainer yang berjalan tanpa sopir sedang menunggu perijinannya, mobil tanpa sopir juga memasuki tahap akhir pengembangannya. Drone dan tank robot sudah akan mulai muncul di medan tempur.

Dengan kemampuan komputer yang semakin berkembang, mesin akan menjadi jauh lebih dapat diandalkan dibandingkan manusia.

Di satu titik, mungkin kelak demi produktivitas, efisiensi dan keselamatan; manusia justru akan disingkirkan dan diganti sepenuhnya oleh mesin yang lebih bisa diandalkan dan efisien.

Fungsi Manusia: Pemakai Produk

Dengan gambaran di atas, mungkin akan tiba saatnya ketika kompleksitas kebutuhan manusia dan tekanan populasinya yang luar biasa, manusia disingkirkan penuh dari proses produksi dan sebagian besar pengambilan keputusan.

Lalu di mana peran sebagian besar manusia?

Salah satu sumbangan yang bisa diharapkan dari manusia hanyalah dari sisi kreatifnya, misalkan seni, pertunjukan atau olah raga. Dan karena tidak semuanya bisa menyumbangkan di bidang itu, maka secara praktis hampir seluruh umat manusia menghabiskan hidupnya dengan bersenang-senang sebagai makhluk pengguna segala macam produk dan jasa yang diproduksi oleh mesin.

Salah satu bentuk kongkrit masa depan ini adalah ide Universal Basic Income yang sudah mulai gencar dibicarakan berbagai tokoh negara-negara maju dunia dan secara serius mulai dicoba di beberapa wilayah dunia.

Apa itu Universal Basic Income? yaitu gaji tetap bagi setiap penduduk agar bisa hidup layak tanpa perduli dengan umurnya, jenis kelaminnya, statusnya, pekerjaannya dan kekayaannya sekarang. Itu gaji buta.

Dengan gaji buta itu, tidak ada lagi kewajiban manusia untuk terlibat dalam proses penciptaan barang dan jasa, agar bisa hidup layak. Mereka digaji untuk hidup, bersenang-senang, berekreasi atau menikmati hidup sesuai seleranya.

Dalam proyeksi masa depan itu, mesin dan otomasinya akan mampu menghasilkan produk dan jasa yang dibutuhkan manusia tanpa bantuan tenaga manusia. Satu-satunya yang dibutuhkan mesin dari manusia adalah mengkonsumsi produk mereka.

Dalam film animasi yang memenangkan salah satu Oscar tahun 2008, Wall-E; 800 tahun mendatang manusia menjadi begitu gemuknya, karena satu-satunya yang dilakukan manusia adalah menikmati hidup. Semuanya sudah ditangani mesin.

Masih Sakralkah Manusia?

Di masa depan, ketika populasi manusia begitu besar sehingga permintaan barang dan jasa sudah mustahil dipenuhi sendiri oleh manusia, maka mesin menempati posisi sejajar dan bahkan lebih penting dari manusia.

Sebagian besar kontribusi manusia hanyalah sebagai pengguna barang dan jasa, kehilangan sebagian mereka tidak banyak mengganggu proses produksi barang dan jasa bagi keseluruhan manusia. Gejolak apapun di masyarakat manusia juga tidak akan banyak berpengaruh pada proses produksi barang dan jasa, karena proses tersebut bukan berada di wilayah manusia lagi.

Kehilangan manusia satu-dua atau bahkan ribuan orang hanya akan menimbulkan riak pada tingkat konsumsi barang dan jasa.

Lalu jika secara individu keberadaan manusia tidak lagi penting bagi keseluruhan sistem, masihkah bisa dianggap manusia itu sakral?

Butuh Jenis Agama Baru?

Jika manusia tidak lagi menjadi sakral di masa depan, lalu apa lagi yang dianggap sakral?

Adakah jenis agama baru yang memiliki sakralitasnya sendiri di masa depan?

Saya akan coba berandai-anda di tulisan berikutnya.


Bacaan:

Baca Juga:

11 komentar

  1. Sampai kapan pun manusia tetap sakral, karena ia memiliki akal dan ruh. Berbeda dengan robot-robot itu, mereka tidak akan berfungsi tanpa kehendak manusia. Begitu juga manusia, apa pun yang ia lakukan, semua atas pengetahuan/kehendak Allah. Allah tidak akan pernah terkubur.

    1. @M. Nur Hisyam: sampai kapanpun? berdasarkan proyeksi perkembangan teknologi di masa depan?, atau sekedar berdasarkan dogma yang pernah mengatakan manusia dibuat dari lempung itu?

  2. Sepertinya sains yang Anda gunakan sebagai kendaraan meneropong masa depan ketinggalan zaman. Tidak ada satu manusia pun yang mampu “menerawang” masa depan kecuali utusan/Rasul Allah SWT, Nabi Muhammad SAW.

    Apakah Anda pernah membaca atau mendengar hadits tentang kematian Dajjal di masanya itu? Apakah ia tamat oleh senjata berteknologi amat tinggi? Apakah ia tewas ditangan robot super canggih?

    Mengapa sains pada masa itu tak lagi menampakkan sinar cemerlangnya? Apa yang menyebabkan sains pada masa itu meredup dan bahkan kehilangan eksistensinya?

    Saya tidak bermaksud memaksa Anda masuk wilayah agama terlalu dalam dan mempercayainya. Karena agama perkara yang subyektif. Dan tidak juga meremehkan upaya orang-orang jenius yang telah bersusah payah mempopulerkan sains sehingga dikenal di seantero bumi.

    Namun, sebagai umat beragama –yang setiap detakan jantung menghirup oksigen-Nya– tidak sepantasnya mengesampingkan Allah dalam setiap pemikiran dan gerak-laku.

    Peristiwa apa pun yang telah, sedang, dan akan terjadi semuanya tak terlepas dari “campur tangan” Allah, sang Pencipta bumi dan langit dan beserta apa yang ada diantara keduanya.

    1. @M. Nur Hisyam: anda menulis:

      Tidak ada satu manusia pun yang mampu “menerawang” masa depan kecuali utusan/Rasul Allah SWT, Nabi Muhammad SAW

      peramal masa depan itu banyak sekali Ada yang berdasarkan bisikan ghaib atau terawangan mata batin seperti Nabi, Joyoboyo, Nostradamus, Paranormal, Dukun, cenayang dan sebagainya. Ada pula yang berdasarkan proyeksi perkembangan sains.

      Yang mana yang cocok? ada yang bisa dicek karena waktunya jelas, ada yang gak bisa dicek karena gak spesifik waktunya.

      Untuk nabi, salah satu yang bisa dicek adalah ramalan nabi adalah tentang kiamat. Ada 3 atau 4 hadis nabi yang mengabarkan kapan kiamat dalam jangka waktu spesifik.

      Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad dari Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam kapan terjadinya kiamat dan didekatnya ada anak kecil dari Anshar bernama Muhammad, beliau menjawab: “Bila anak ini masih hidup, mungkin ia tidak sampai tua hingga kiamat terjadi.” Hadits Shahih Muslim No. 5249

      https://www.hadits.id/hadits/muslim/5248
      https://www.hadits.id/hadits/muslim/5249
      https://www.hadits.id/hadits/muslim/5250
      https://www.hadits.id/hadits/muslim/5251

      Anak kecil di jaman Nabi tersebut apa masih hidup sampai sekarang? kalau sudah mati, kok kiamat belum datang? ngawur bukan ramalan nabi?

      Untungnya ramalan nabi lainnya tidak punya waktu spesifik yang bisa digunakan untuk mengecek, seperti dongengan Dajjal. Karena kalau ditanya mana dajjal, orang bisa ngeles dengan mengatakan: “kan waktunya kelak sebelum akhir jaman? bukan sekarang”

      Kalau ramalan sains?
      Televisi, radio, pesawat terbang, ekspedisi ke luar angkasa, bom atom, itu semua sudah diprediksikan para ilmuwan sebelum mereka bisa mewujudkannya.

  3. Ha ha … ternyata asyik juga berdialog dengan Pak Judhianto.

    Sebelumnya salam kenal pak.

    Rasul (utusan Allah) dalam persepektif agama islam tidaklah sama dengan manusia dalam beberapa hal. Tiap Rasul dibekali mukjizat oleh Allah SWT. Sementara peramal/dukun lebih memilih berkolega dengan iblis/setan.

    Kemukjizatan para Rasul tidak akan bisa diungkap akal/sains karena ia “melanggar” hukum alam dan diluar nalar.

    Tongkat/kayu menjelma menjadi ular. Raga yang tidak hangus oleh amukan api yang membara, tulang belulang yang tercerai berai terhimpun kembali menjadi satu kesatuan jasad, hidupnya kembali orang yang telah mati, adalah beberapa fakta kemukjizatan itu. Sayangnya kita tidak hidup dizaman itu untuk menyaksikannya dengan mata kepala.

    Hanya cahaya iman yang menerangi jiwa yang dapat mempercayai kemukjizatan para Rasul pilihan Allah itu.

    Saya tidak ingin berpanjang lebar tentang hadits yang Anda sebutkan, karena sudah banyak literatur yang memperbincangkannya. Itu hanyalah bentuk kegemasan para orientalis dengan kebenaran islam.

    Dan satu alasan lagi, titik temu tidak akan didapat karena Bapak lebih percaya dengan sesuatu yang bisa dibuktikan. Disini repotnya.

    1. @M. Nur Hisyam: jadi benar kan, bahwa ramalan nabi tentang saat kiamat salah?

      Sumber yang saya kutip itu kumpulan hadis riwayat Imam Muslim yang sudah ada sejak sebelum ada para orientalis. Jadi gak nyambung kalau anda menuduh itu ulah para orientalis.

      Tentang mukjizat, semua budaya punya kisah ajaib masing-masing. Ada Malin Kundang yang jadi batu, ada Sangkuriang dengan gunung Tangkuban Parahu, ada Bandung Bondowoso dan seribu candi, dan sebagainya. Gak ada bedanya dengan kisah-kisah kitab suci, dipercaya benar dan nyata hanya oleh yang percaya saja.

      Kalau mau dipercaya tiap orang dan diterima sebagai kebenaran, ya tunjukkan saja bahwa kisah dan klaim itu bisa diverifikasi. Sesederhana itu saja kok. 🙂

  4. Pada awalnya mereka berusaha sekuat daya menemukan kelemahan firman Allah dalam kitab suci-Nya. Namun sampai saat ini –dan sampai hari kiamat kelak– al-Qur’an tetap terjaga dari argumentasi akal-akal kotor.

    Tak cukup sampai disitu, sabda Rasul Allah (hadits) juga menjadi sasaran “kemurkaan” mereka.

    Sudah barang tentu para agamawan/ulama tak tinggal diam.

    Argumentasi ulama dalam meng-counter klaim-klaim jahat mereka (termasuk tentang masa depan dan hari kiamat) dapat dengan mudah kita baca dan akses dari sejumlah literatur.

    Intinya sederhana, Anda berada pada jalur yang mendewakan sains dan menafikan dalil/firman Tuhan.

    Jadi, sampai kapan pun dialog ini tidak akan pernah mencapai titik temu.

    1. @M. Nur Hisyam: kok bercerita tentang “mereka”?

      Yang saya bahas di komentar ini jelas kok, bahwa Nabi meramalkan waktu datangnya kiamat dalam 4 hadis riwayat Muslim. Dan ramalan Nabi terbukti salah.

      Kalau anda tahu bagaimana cara mengeles dari kesalahan ini, ya silakan tuliskan di sini, akan jadi masukan yang baik bagi pembaca yang lain. Kalau anda tahu argumentasi ulama dalam meng-counter masalah ini, mohon disampaikan di sini, lebih bagus lagi kalau ada link-nya yang bisa kita baca sendiri.

      Gak usah menyalahkan orang lain. Ngramal salah kok menyalahkan orang lain.

      Jadi, sampai kapan pun dialog ini tidak akan pernah mencapai titik temu.

      Ya jelas pasti begitu, wong saat ditunjukkan salahnya kok ngeles nglantur kemana-mana dan menuduh macam-macam.
      Belajarlah menghadapi masalah dengan jujur, kalau salah, ya akui saja salah.

      🙂

Perkaya tulisan ini dengan pendapat Anda