Awal Islam 1: Teka-Teki Baru

Sebuah teka-teki? apa nggak salah? bukankah hanya Islam, agama yang kelahirannya dan perkembangannya terekam begitu rinci.

Bahkan Nabi Muhammad sebagai pengabar Islam, mungkin satu-satunya orang yang hampir semua rincian hidupnya ada catatannya. Mulai dari perjalanan hidupnya dari bayi hingga wafatnya, cara ia berpakaian, cara ia makan, cara ia berbicara dan berbagai rincian detil kesehariannya.

Suatu prestasi luar biasa untuk pencatatan detil kehidupan seseorang di masa yang jauh telah berlalu, di masa ketika sebagian besar manusia masih buta huruf. Catatan yang tak tertandingi bahkan oleh manusia yang hidup di era ketika baca-tulis adalah umum.

Jika dibandingkan dengan catatan tentang bekas presiden Indonesia Soekarno atau Soeharto, yang masa hidupnya tidak jauh dari masa kita, maka catatan tentang Nabi Muhammad jauh lebih rinci dan jauh lebih meliputi apa saja.

Tapi itu juga yang menjadikan bahan pertanyaan, apakah sejarah tentang Nabi Muhammad yang begitu rinci itu fakta?

Bersama berbagai temuan mutakhir belakangan, sejarah tentang Nabi Muhammad (dan tentunya tentang Islam) mulai mendapatkan sorotan. Apakah benar sejarah awal Islam seterang-benderang seperti yang kita tahu selama ini?

Sejarah Yang Ditulis Belakangan

Dari berbagai rincian detil kehidupan Nabi Muhammad, dari manakah sumbernya?

Ada berbagai buku biografi nabi Muhammad yang dipakai sebagai rujukan, salah satu yang tertua, terlengkap dan menjadi rujukan penulis Islam lainnya adalah Sirah Rasulullah karya Ibnu Ishaq.

Ibnu Ishaq lahir tahun 85H dan meninggal pada tahun 151H, yang berarti beliau lahir dan hidup di masa ketika Nabi Muhammad sendiri telah wafat.

Akan tetapi Sirah Rasulullah karya Ibnu Ishaq ini tidak ada wujudnya (dikatakan hilang).  Karya ini disebut-sebut kembali atas jasa Ibnu Hisyam mengumpulkan ulang karya Ibnu Ishaq tersebut dari beberapa kitab lain yang menyadurnya, Ibnu Hisyam menuliskannya kembali melalui kitab karyanya sendiri yaitu Sirah Nabawiyah.

Jadi secara teknis, kitab biografi tertua yang bisa kita rujuk adalah karya Ibn Hisyam.

Ibnu Hisyam sendiri semasa hidupnya tidak pernah bertemu sendiri dengan Ibnu Ishaq yang karyanya dipakai sebagai rujukan. Ibnu Hisyam wafat pada tahun 218H sedangkan tahun kelahirannya tak tercatat. Jika dihitung dari tahun wafatnya Nabi pada tahun 12H, maka jarak antara wafatnya Nabi dan Ibnu Ishaq ada jarak waktu 216 tahun.

Jika Nabi Muhammad wafat pada tahun 12H, maka boleh dikata bahwa buku biografi Nabi Muhammad tertua yang sampai kepada kita dan menjadi buku induk rujukan penulis muslim lainnya tentang sejarah Nabi, baru muncul kira-kira 150 tahun setelah Nabi Muhammad wafat.

Bagaimana Akurasi Biografi Nabi?

Jika biografi Nabi muncul setelah lebih dari 150 tahun nabi wafat, maka gambaran yang super detil tentang kehidupannya menjadi bahan pertanyaan. Sebagai gambaran, kita yang hidup di jaman modern saja masih berdebat tentang di mana tempat lahir Bung Karno, Surabaya atau Blitar? padahal belum 150 tahun wafatnya.

Kita tidak bisa mengukur seberapa besar akurasi sejarah Nabi, karena sumber sejarah nabi tunggal ini tidak pernah melalui proses verifikasi oleh ulama-ulama terdahulu.

Namun kebetulan kita mempunyai catatan bagaimana proses pengukuran akurasi catatan sejarah yang lain, yaitu catatan tentang pembukuan hadis nabi oleh Imam Bukhari.

Imam Bukhari lahir di tahun 196H dan wafat di tahun 256H, yang berarti berada pada masa yang tak jauh dari masa hidup Ibnu Hisyam yang wafat pada tahun 218H.

Nabi Muhammad menerima wahyu dari Jibril. Sebuah lukisan dari kitab Jami' al-tawarikh karya Rashid-al-Din Hamadani, 1307

Nabi Muhammad menerima wahyu dari Jibril. Sebuah lukisan dari kitab Jami’ al-tawarikh karya Rashid-al-Din Hamadani, 1307

Pada penyusunan kitab hadis Sahih Bukhari, Imam Bukhari telah menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk meneliti 1 juta hadis, 80 ribu perawi (penyampai hadis), serta wawancara dengan sekitar 1000 perawi yang masih hidup. Dari 1 juta hadis tersebut, ternyata hanya ada 7275 buah hadis yang bisa diverifikasi keabsahannya berdasarkan rantai perawinya.

Artinya dengan metodologi yang ketat itu sekitar 99,3% hadis yang beredar di era Bukhari hidup adalah hadis yang diragukan kebenarannya dan bahkan palsu.

Jika Bukhari menemukan bahwa 99,3% hadis yang disampaikan harus ditolak, maka tentunya buku biografi nabi yang baru muncul juga di seputar era ini tidak bisa kita percayai 100% akurasinya.

Latar Budaya Qur’an Yang Asing

Di masyarakat seperti apa Nabi Muhammad hidup? jawaban yang populer adalah Nabi Muhammad hidup di masyarakat jahiliyah. Masyarakat yang masih bodoh, penyembah berhala yang terbelakang, yang terbiasa menguburkan bayi perempuannya hidup-hidup, masyarakat yang jauh dari kehalusan budi, moral dan filsafat.

Jika melihat latar belakang masyarakat dimana Nabi Muhammad hidup, tentunya yang terekam dalam perjalanan hidupnya adalah interaksinya dengan para penyembah berhala itu, ajaran mereka serta segala macam mitologi yang berkaitan dengan masyarakat penyembah berhala tersebut.

Akan tetapi yang kita dapati di Qur’an tidaklah demikian.

Hampir semua kisah-kisah di Qur’an bercerita tentang Nabi-nabi yang dikisahkan di kitab Yahudi dan Kristen. Berbeda dengan Alkitab, Qur’an tidak memuat secara utuh semua kisah-kisah tersebut, melainkan hanya potongan-potongannya saja. Dengan hanya memuat potongan kisah-kisah tersebut, maka kisah tersebut akan nyaris  tak dipahami bila itu disajikan pada masyarakat yang tak familiar dengan kisah-kisah tersebut.

Dengan kandungan kisah-kisah tersebut, bisa dipastikan bahwa Qur’an turun pada masyarakat yang memiliki komunitas Kristen dan Yahudi cukup dominan, dan bukan masyarakat yang didominasi para penyembah berhala.

Dalam Qur’an juga terekam berbagai debat filosofis tentang kehidupan serta ketuhanan yang cukup canggih, yang rasanya tidak muncul di tengah masyarakat yang membuat sendiri berhalanya dan lalu menyembahnya. Perdebatan itu lebih sesuai muncul di tengah masyarakat tempat berbagai agama bertemu, berinteraksi serta bertukar gagasan.

Apakah masyarakat Mekah dan Madinah memiliki komunitas Yahudi dan Kristen yang cukup signifikan? atau apakah debat tentang filosofis ketuhanan itu lazim di  masyarakat Mekah dan Madinah yang masih menganut penyembahan berhala? sayangnya sumber-sumber sejarah tidak mendukung dugaan itu.

Dengan pertimbangan tersebut, maka beberapa ahli sejarah bertanya, apa benar Qur’an diturunkan di Mekah dan Madinah? di tengah masyarakat terbelakang penyembah berhala (jahiliah)?

Bukankah Qur’an lebih cocok dan lebih bisa dimengerti oleh masyarakat dimana berbagai agama bertemu dan berinteraksi dalam dialog filosofis? bukankah lebih cocok jika muncul di wilayah Suriah (Romawi) atau Iraq (Persia) yang lebih modern dan kosmopolitan pada masa itu?

Referensi Luar Yang Membingungkan

Jika ada keraguan dengan catatan sejarah dari kalangan Islam, tentunya ada petunjuk dari berbagai sumber lain yang bisa digunakan sebagai penguat berbagai peristiwa yang tercatat dalam sumber umat Islam.

Sebagai suatu gerakan revolusi besar di jazirah Arab, tentu gaung kelahiran Islam juga menjadi perhatian bangsa lain yang ada dalam lingkaran pengaruhnya. Dengan meneliti catatan-catatan sejarah dari pihak lain yang mungkin merekam apa yang terjadi di Arab, kita bisa memperkuat apa yang sudah ada dalam catatan sejarawan muslim.

Selain dari rekaman sejarah dari kalangan non-muslim, kita juga bisa menggunakan berbagai temuan arkeologi sebagai pendukung

Akan tetapi, dari catatan sejarah kalangan non-muslim dan berbagai temuan arkeologi, kita justru menemukan beberapa hal yang menambahkan kebingungan kita, beberapa catatan tersebut adalah:

Nama Muhammad yang baru muncul pada abad ke-8

Nabi Muhammad hidup di abad ke-7. Dengan hebatnya revolusi Islam yang dibangkitkannya dalam menyapu jazirah Arab, seharusnya paling tidak ada catatan yang menyebutkan namanya – baik sebagai ancaman baru atau sebagai harapan baru di wilayah-wilayah yang bersinggungan langsung dengan gerakannya.

Pada kenyataannya tidak. Nama Muhammad baru dapat ditemukan dalam tinggalan arkeologi pada abad ke-8 bukan pada abad ke-7 di mana seharusnya ia hidup.

Fakta ini menimbulkan pertanyaan baru: Apakah benar Muhammad sehebat yang dikisahkan dalam sejarah Islam? dan bahkan ada yang sampai pada pertanyaan ekstrim berikut: Apakah benar Muhammad itu tokoh yang nyata ada?

Islam tidak disebut-sebut dalam ekspansi bangsa Arab

Gemilangnya sejarah Islam awal selalu dikaitkan dengan penaklukan Muslim terhadap dua kekuasaan super power dunia di masa itu yaitu Imperium Romawi dan Imperium Persia.

Sumber-sumber sejarah di luar catatan sejarawan Muslim sendiri memang mencatat gelombang pertempuran dan penaklukan terhadap Romawi dan Persia, namun dalam berbagai catatan sejarah tersebut mereka tidak menyebutkan Islam sebagai agama yang menggerakkan ekspansi luar biasa bangsa Arab tersebut.

Dalam sebuah prasasti yang ditemukan di Negev (Suriah), ada catatan tentang gelombang penaklukan orang Arab ke wilayah Suriah. Di masa yang dicatatkan dalam sejarah Islam sebagai penaklukan Syam oleh Muawiyah, penduduk lokal mencatat bahwa orang-orang Arab itu mempunyai kepercayaan yang tidak berbeda jauh dengan penduduk Suriah yang menganut Paganisme dan Kristen Nestorian.

Masjid dengan kiblat Yerusalem

Di wilayah Mesir dan Suriah terdapat beberapa masjid yang arah kiblatnya menghadap Yerusalem bukan Makkah, sedangkan wilayah Mesir dan Suriah adalah wilayah-wilayah yang masuk ke Islam jauh setelah wafatnya Nabi, ketika kiblat shalat seharusnya sudah menghadap Makkah bukan Yerusalem. Nabi sendiri hanya shalat menghadap Yerusalem sekitar 17 atau 18 bulan sebelum turun perintah Allah untuk menghadapkan shalat ke Ka’bah di Makkah.

Salah satu contoh adalah masjid yang dibangun Amru bin Ash di Fustat (Mesir). Masjid ini kiblat aslinya menghadap Yerusalem, namun setelah melalui berbagai renovasi, saat ini arah kiblatnya sudah benar menghadap Makkah. Amru bin Ash menaklukkan Mesir pada periode khalifah Umar bin Khattab dan memimpin pembangunan masjid tersebut bersama dengan 80 sahabat Nabi. Jika Amru bi Ash bersama 80 sahabat membangun masjid di masa setelah wafatnya Nabi, seharusnya kiblatnya sudah menghadap ke Makkah, bukan ke Yerusalem.

Masjid Amru bin Ash di Mesir

Masjid Amru bin Ash di Mesir

Selain masjid dengan kiblat Yerusalem, di wilayah Be’er Orah di Negev (Suriah) juga ditemukan masjid yang mempunyai dua mihrab. Satu menghadap Yerusalem, sedangkan lainnya menghadap Makkah.

Dengan temuan ini, sejarah Islam yang menceritakan bahwa kiblat shalat umat Islam hanya ke Mekkah menjadi dipertanyakan.

Koin berlambang Muhammad dengan Salib

Temuan arkeologi yang membingungkan lagi adalah koin-koin berlambangkan salib yang digunakan pada periode khalifah Islam.

Koin-koin itu antara lain adalah:

  • Koin dengan lambang Muhammad serta sebuah salib yang berasal dari sekitar tahun 650M, di masa yang tercatat dalam sejarah Islam sebagai era pemerintahan Khulafaur Rasyidin.
  • Koin khalifah dengan salib yang berasal dari masa pemerintahan Muawiyah dan Yazid.
Koin dengan lambang Muhammad tapi disertai figur membawa salib yang berasal dari masa kekuasaan awal Islam

Mata uang dengan lambing Muhammad dan salib yang beredar di wilayah Islam pada sekitar tahun 650 M

Dengan temuan ini, sejarah Islam yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad sejak dari awal menyebarkan agama Islam juga terganggu oleh temuan ini.

Apa tidak mungkin sejarah Nabi Muhammad dengan Islamnya mirip dengan Yesus dengan Kristennya?

Jika Yesus sebenarnya adalah seorang pendakwah yang menyerukan pembaruan agama Yahudi, di tangan pengikutnya setelah wafatnya berubah menjadi seorang pembawa agama baru yaitu Kristen. Apa mungkin bahwa Nabi Muhammad juga semacam pembaharu agama yang sudah ada seperti itu?

Masihkah Terang Benderang?

Dengan berbagai kepingan informasi baru tentang Islam di periode kelahirannya, sejarah awal Islam sebagaimana yang telah banyak diyakini orang menjadi perlu dipertanyakan kembali.

Apakah sejarah awal Islam yang selama ini kita ketahui salah? perlu direvisi? lalu bagaimana alternatif penafsiran lain yang lebih cocok dengan kepingan informasi tersebut?

Saya akan coba tuliskan pada tulisan berikutnya.


Bacaan:

Judhianto

Pencari jawab amatir, bertanya apa saja...

Mungkin Anda juga menyukai

101 Respon

  1. munawar berkata:

    tulisannya terkesan ilmiah tapi dangkal tendesius. murahan….tanpa referensi yang jelas data dan sumber yang jelas….. tolong sebutkan dari sumber fererensi/buku mana anda berbicara tentan imam bukhori dan semua yang anda tulis

    • Judhianto berkata:

      @Munawar: silakan baca referensi yang saya tuliskan di bagian bawah tulisan (judulnya: Bacaan).
      Kalau ada yang salah, tolong tunjukkan yang mana dan bagaimana benarnya menurut anda. Silakan …

  2. Arya berkata:

    Simpel, siapa mau beriman silahkan beriman, siapa yg mau kafir silahkan kafir. Bagi yg ragu trhadap islam ya itu pilihanmu padahal Allah sudah mewanti-wanti, “tanda-tanda kebesaran Allah bagi yang berakal”. Mungkin yg ragu kutang pandai mengasah akalnya.
    Selain itu juga Allah sudah mengabarkan kebenaran lewat Al Quran bahwasanya Muhammad itu teladan yg baik. Mekanis me klasifikasi hadits itu sangat ketat (kalau d jalaskan pasti panjang) walaupun pembukuannya lebih dari seabad setelah wafatnya Rasulullah SAW. Tetapi bukan tidak menggunakan mekanisme verifikasi, dan tidak pula kita meragukannya karena verifikasi hadits itu salah satunya adalah di challenge dengan payung hukum di atasnya yaitu Al Quran, selain daripada menelusuri sanadnya.
    Silahkan saja challenge Al Quran dengan fakta ilmiah, maka tidak ada cacat. Penulis ini, mungkin harus banyak belajar yg lebih serius tentang islam. Jangan cuma menduga-duga, beropini dan menjadikan logika sebagai sandaran. Kalau logika sehat dan mengerti perkara hadits, ya tidak ragu.
    Mengapa? Karena logika manusia itu ada batas kemampuan. Pakai saja logika untuk memecahkan maslah dunia. Sekarang kalau memang logika penulis atau yg mendukung itu hebat, toong jelaskan kpd saya perkarah ruh. Apa itu ruh? Saya yakin logika tidak bs menjawab, akan tetapi hanya iman yg bisa menjawab. Silahkan jawab! Apa “ruh” itu? Coba senyawa kimia apa pembentuknya? Dan coba jelaskan aspek historis ruh itu dr mn munculnya.

    • Judhianto berkata:

      @Arya: memang simpel kok. Ada yang namanya iman (kepercayaan) dan ada yang namanya fakta.

      Problemnya adalah iman dan fakta itu tidak selalu sejalan. Di persimpangan iman dan fakta ini ada beberapa pilihan:

      1. Kita bertahan dengan iman dan mengabaikan fakta.
      2. Kita memilih fakta dan mengabaikan iman.
      3. Kita berakrobat pikiran, memelintir fakta agar seolah-olah sesuai dengan iman kita 🙂

      Anda percaya Al-Quran sesuai dengan fakta ilmiah? itu salah satu contoh akrobat pikiran.
      Silakan anda baca al-Quran di ayat-ayat berikut:

      1. An-Naml 18-22 –> Nabi Sulaiman yang berdialog dengan semut dan burung, apakah ini sesuai dengan fakta ilmiah? berbicara interaktif itu memerlukan otak yang sudah berkembang dengan maju, dan belum ada bukti ilmiah bahwa semut dan burung mampu berdialog dengan manusia
      2. Al-Ahzab 72 –> Langit, bumi dan gunung yang mempunyai kehendak, menolak amanat dari Allah. Ada bukti ilmiah bahwa Langit, bumi dan gunung itu berkepribadian dan mampu berdialog? seperti dalam kepercayaan animisme?
      3. Al-Mulk 5 –> Salah satu fungsi bintang adalah pelempar setan. Ada ilmuwan yang bisa verifikasi ini?

      Itu cuma 3 contoh saja isi Qur’an yang tak bisa diverifikasi dengan fakta ilmiah. Yang lain? banyak, cuma tertutup oleh akrobat pikiran yang mengatakan Al-Qur’an itu sesuai dengan fakta ilmiah. 🙂

Perkaya tulisan ini dengan pendapat Anda

error: Hargai hak cipta penulis !!
%d blogger menyukai ini: