Daftar Isi

Daftar isi www.NontonDunia.net – dikelompokkan berdasar tema artikel

Tuhan

Jiwa Dan Religiusitas

Manusia dan Sains

Kitab Suci Dan Beragama

Lain-Lain


28 komentar

  1. Mas coba ulas mengenai perkawinan beda agama atau seorang ayah merelakan anaknya masuk agama non muslim apa hukumnya. Mslnya masih simpang siur nich. Ada yang ngatakan boleh ada yg tidak. Kalau saya sih sah sah aja. Hehehe

    1. @Aninditya: waduh kalau bertanya dalil, banyak yang jago. Anda bisa pilih dalil yg mendukung atau dalil yang melarang, semuanya ada.

      Saya hanya akan sampaikan catatan sejarah berikut:
      Contoh Putri Nabi:
      * Zainab putri Nabi menikah dengan Abu al-Ash sebelum ada Islam. Setelah Muhammad jadi Nabi, Abu al-Ash berpihak pada kelompok kafir Mekah, dan bahkan pernah ikut 2 kali berperang melawan Nabi. Zainab tidak pernah diperintahkan untuk menceraikan suaminya, walaupun berpihak pada musuh, keduanya hidup terpisah. Abu al-Ash pernah tertangkap dan ditawan kelompok Islam, dan kemudian dibebaskan setelah Zainab mengirim tebusan kepada Nabi dengan harta paling berharganya yaitu kalung hadiah Khadijah pada perkawinan Zainab. Nabi mengembalikan tebusan itu pada Zainab dan membebaskan Abu al-Ash. Mereka bersatu kembali bertahun-tahun kemudian ketika Abu al-Ash masuk Islam. Tidak ada akad nikah lagi antara keduanya, yang berarti bahwa nabi, tetap menganggap sah perkawinan mereka yg dilangsungkan sebelum masa Islam.
      * Putri nabi lain adalah Ruqayyah dengan Utbah putra Abu Lahab. Setelah Islam datang, nabi tetap merestui pernikahan mereka. Mereka bercerai kemudian saat Abu Lahab yang tidak rela anaknya menikah dengan anak Nabi, dan memerintahkan Utbah menceraikannya.
      Contoh sahabat nabi:
      * Utsman bin Affan, khalifah ketiga, memiliki istri beragama Kristen Yakobus bernama Na’ilah.
      * Mu’awiyah, pendiri dinasti Umayyah, beristri Maysun, juga beragama Kristen Yakobus.
      * Thalhah bin Abdullah, Khudzaifah ibn Yaman, Sa’ad ibn Abi Waqash adalah beberapa sahabat nabi yang mempunyai istri yang bukan Muslim.

      Jadi apakah boleh?
      Label agama tidak menjamin seseorang jadi malaikat atau bajingan. Banyak pemeluk Islam yang berperilaku mulia dan juga banyak yang bajingan, sebaliknya yang non-Islam-pun banyak yang berperilaku mulia dan juga banyak yang bajingan.

      Untuk memperkecil friksi, memang pasangan seagama lebih baik, akan tetapi buat apa milih yang seagama kalau bajingan?

  2. Kalu ngacu pada dalil2 mumet pak, gak karuan penafsirannya do sak senenge dewe sesuai dengan mutnya penafsir. Kalau lagi seneng ya di perbolehkan tapi kalau lagi gak sreg sama tetangga sebelah gak memperbolehkan he…he…he..mungkim lho (ini penafsiranku pak)

  3. hehe..sudah beberapa bulan ini saya membaca tulisan anda, awalnya saya “galau” ..maklum..saya hanya pencari jawab amatir, tapi semakin membaca..saya semakin tau, walaupun ada beberapa dari tulisan anda yg saya kurang setuju, tapi saya rasa perbedaan itu makin membuat menarik. terima kasih, keep Posting bro

  4. Protes pak Judhi…..postingan anda bikin saya males ngapa2in….pengennya baca terus.Apalagi yg pada komen…seru bgt klo pada mendebat gitu…kadang bikin ngakak….

  5. Bro tolong ulas tentang ibadah haji secara filosofi,agar masyarakat awam mengerti.Saya prihatin,banyak orang miskin yang rela menabung demi untuk berangkat haji tetepi lupa untuk menyekolahkan anaknya sampai kejenjang perguruan tinggi.Kalau dibiarkan begini terus bangsa kita akan jadi bangsa yang bodoh dan gampang dijajah oleh bangsa asing dengan kedok agama.

    1. Saya sering mendengar sdr2 saya yang muslim mencemooh kepada lain agama, bahwa kegiatan keagamaan yg mereka lakukam musrik, kadang saya sebagai orang awam juga hersn mengapa kita harus haji, sedagka haji hanya melakukan kegiatan ritual agama yg pernah dilakukan nabi, mutar kabah, lempar jumroh dll, apa gak beda dengan rabu abu, minggu palem dll. Bahkan banyak masyarakat kita yang rela menjual tanah hanya untuk naik haji, habis itu miskin karena gak ada lahan yang dijadikan sumber pencaharian. Sedih juga. Harusnya para agamawan memberi pencerahan kepada mereka. Saya menilai gak ada manfaatnya haji itu hanya sebuah jalan2 dan memperkaya negara arab aja. Tapi gimana lagi masyarakat kita kalau dah haji yakin bakal masuk surga, naik status sosialnya walah2 kok pendek banget cara berpikirnya ya! Kalau saya nilai haji bukan sebuah keharusan itu konspirasi politik ekonomi arab yang didoktrinkan melalui bentuk agama.

  6. Mas judi saya juga menolak sosok Tuhan personal mas , saya lebih percaya cosmology berusia 14M dan Homo sapiens pertama sudah ad sjak 500k tahun lalu
    saya setahun lalu pernah muallaf mas , tapi anehnya komunitas pengajian ane hobinya ngefitnah fitnah Paulus mulu pdhal klo diriwayatkan saulus merupakan pembunuh jahat org kristen perdana , pengejar harta kemudian setelah bertobat menjadi pengikut Yesus , paulus tidak tega untuk membunuh ato mencari harta lagi. lgi pula ajaran paulus, petrus, yohanes, Yudas mengajarkan monogami semua, sama sperti Yesus sedangkan (MAAF) Muhhamad sebelum menjadi nabi mrupakan pedagang yg jujur dan monogami, stelah mnjadi Nabi malah jadi pembunuh , tukang rampok, Polygami ampe 15 Istri.
    lagi pula klo di komunitas tsb aneh kok benci bgt sih ama produk kafir (demokrasi) pgn nya semua serba islam, kok benci kafir sih heran gw pdhal Alexander G. bell, Frances bernouli, Isaac newton, Blaise pascal kafir semua lebih cerdas peraih noble juga mayoritas kafir , LAH Muslim 14 Abad cuma ada Al-Jabar heran gw.
    Alhasil nyesel gw masuk islam cuma diajarin ngebenci produk kafir, Balik lagi gw jadi Katolik Non-theis, saya ke gereja bukan krn saya percaya surga neraka , saya cuma hobi dgr paduan suaranya aja
    mas Judhinya sendiri Tuhannya personal ato spinoza???

    1. @Abdul Maji: wah sayang waktu muallaf ketemunya dengan pengajian Islam marah bukan Islam ramah, sehingga isinya cuma diajari benci kafir dan yang beda. Terus terang ini penyakit umat Islam yang secara pelan mengubah Islam ramah ala Gus Dur menjadi Islam bludrek ala FPI.
      Tuhan personal atau impersonal? ah tergantung kebutuhan saja.. 🙂

  7. Mas kadang kalau baca postinga2 teman2 sekarang kok menyedihkan, dikit dikit mengkafirkan, ada masyarakat melakukan kegiatan kebudayaan di bilang bid’ah. Njuk piye iki. Menurutku akidah yo akidah budaya ya budaya jangan di campur adukkan. Kalau orang mealukan kegiatan suroan yo jarno wae jangan menilai dengan prespektif agama, keliatan gobloke. Nak di balik KaMas kadang kalau baca postinga2 teman2 sekarang kok menyedihkan, dikit dikit mengkafirkan, ada masyarakat melakukan kegiatan kebudayaan di bilang bid’ah. Njuk piye iki. Menurutku akidah yo akidah budaya ya budaya jangan di campur adukkan. Kalau orang mealukan kegiatan suroan yo jarno wae jangan menilai dengan prespektif agama, keliatan gobloke. Nak mencoba merubah kebiasaan kita dengan kebiasaan mereka yo podo wae ketok kalau mereka pingin mengemba gkan atau menggantikan budaya setempat dengan bidaya mereka yang di bungkus dengan nama agama atau tuhan. hehehe kok jadi curhat yo. Sedih aja orang indonesia tapi idiologinya arab jian njalluk diusir seko nkri. Jadi menurut njenengan salah ora kalau masyarakat kita melakukan kegiatan semacam itu

    1. @Wisya: semoga ini hanya periode transisi dari masyarakat dogmatis ke masyarakat yang lebih terbuka menerima informasi.

      Dengan semakin mudahnya akses internet dan membanjirnya informasi, generasi tua yang hanya mengandalkan informasi (khususnya agama) dari sumber tunggal akan perlahan digantikan oleh generasi baru yang lincah memperoleh informasi dari mana saja.

      Saya yakin ajaran-ajaran dogmatis gak akan bisa bertahan dalam banjir informasi yang mungkin bakal lebih dahsyat di masa depan.

  8. Apakah yang membuat mas Judhianto mempunyai pemikiran yang luar biasa seperti ini, antimainstream, berani dengan lantang menggelar sesuatu yang jelas akan membuat gerah dan panas para pemeluk agama yang buta dan tuli?

  9. @judhianto. Sy ga tau harus memulai dari mana, tapi menarik, artikel yang anda post mungkin membuka beberapa pintu hakikat untuk yang mau memahami. Menurut pribadi saya, science dan relig berjalan sejajar yang mana relig mengungkapkan suatu kebenaran sebelum science melalui perumpamaan dan tanda2, kemudian science mungkin suatu pembuktian apa yang pernah di ungkapkan oleh relig, yang sebenarnya keduanya memang berkembang sesuai strata kecerdasan manusia dalam membaca (iqro’) ayat (semesta). Dalam agama yg sekarang saya anut, menjelaskan bahwa “laa (tiada) illah (tuhan) ila (hanya) allah”, yang mengajarkan manusia untuk meniadakan tuhan (baik jamak maupun tunggal)* kata ‘illah’ tidak menunjuk kepada sesuatu yang lebih dari satu, yang kemudian diteruskan ‘ila’ kecuali, hanya, yang berarti ‘tidak lain’ Allah, mengacu pada keabsolutan ‘Allah’, Allah dengan salah satu ‘asma’ yang lain Al Haq (kepastian, kebenaran, mutlak). Penciptaan semesta, berawal dari ‘blueprint’ yang di sebut ‘al lauh al mahfudz’ yang digambarkan sebagai sebuah kitab Allah yang berisikan ‘sunatulloh;hukum semesta’, suatu kepastian. Beberapa ‘sunatulloh’ berhasil dirumuskan manusia dalam ilmu2 reguler, disinilah perselisihan antara scientist dan religius, beberapa scientist menihilkan ‘allah’, dan beberapa religius mendewakan(memberhalakan*) ‘allah’. Baiknya diantara kita tidak saling claim hal yang sifatnya ‘relatif’ “kebenaran”, karena kebenaran adalah Al Haq. Maaf bila ada yang kurang berkenan.

    1. @Serpent: saya setuju bahwa sains dan agama harus berjalan sejajar.

      Namun saya tidak setuju kalau dikatakan agama mengungkapkan kebenaran yang lalu dibuktikan oleh sains. Itu hanya klaim para agamawan.

      Bagi saya, sains itu tentang realitas dan agama itu tentang imajinasi serta makna.

      Tanpa berpijak pada realitas, manusia akan mati. Akan tetapi tanpa memberi makna hidupnya dan mengejar imajinasinya, manusia tak akan mampu mengembangkan peradabannya.

    2. “Bagi saya, sains itu tentang realitas dan agama itu tentang imajinasi serta makna.”
      Mungkin ada benarnya, tapi tidak sepenuhnya. (Sebelum nengupas ini) baiknya untuk dimengerti akar kata a-gama, tidak-takteratur, mengatur ketidak teraturan. Jadi sama sekali bukan imajinasi lebih tepatnya agama adalah suatu aturan atau hukum yang berorientasi pada ketuhanan, bedakan agama dan tuhan meskipun agama mengajarkan bertuhan. Tapi kalau yang anda sebut imajinasi itu adalah “tuhan” kemungkinan benar, karena tidak ada pembuktian secara jelas tentang existensiNya.

    3. Sudah saya tulis sebelumnya tentang “syahadat”, keyakinan saya bahwa ajaran yang dibawa Muhammad adalah menihilkan ‘tuhan’ dan ‘tuhan-tuhan’ untuk menyibak(mengenal) “Allah” sebagai suatu yang Haq. Ingat bahwa Allah menunjuk eksistensinya dalam Al Qur’an dengan “kami” ini bukan berarti Dia jamak, tapi lebih untuk menunjukan penihilan “tuhan” dan mengeksiskan “Allah”(Al Haq, realitas, kenyataan, kebenaran) suwunn, buat penjelasan anda dan artikel2nya,

      1. @Serpent: mungkin kita hanya berselisih dalam definisi.

        Yang saya maksud realitas adalah yang mewujud tanpa perlu subyektivitas manusia, dan bahkan tanpa perlu manusia ada.

        Realitas dalam hal ini adalah realitas fisik dan hukum alam. Sedangkan konsep Tuhan, agama, akhirat, moral, keteraturan, konsep hukum semuanya hanya mewujud dalam pikiran manusia; tak ada existensi fisiknya yang mewujud. Jika manusia musnah – maka semuanya juga tak ada. Semuanya hasil proses otak di kepala manusia.

        Alam itu indah, hanya setelah kesadaran manusia menilainya. Jika semesta ini hanya terisi kucing dan tidak ada manusia yang berpikir di dalamnya, maka alam ini tidak bisa dikata indah atau buruk, karena kesadaran kucing belum mampu memberi kriteria indah-buruk.

        1. Y kurang lebihnya seperti itu, heheehehe, maaf kurang pandai mencerna dan berkata. Suwunn buat penjelasannya mas. Semoga saya dipertemukan dengan orang2 seperti sampean.

Perkaya Tulisan Ini Dengan Pendapat Anda