Agama Manusia: Gajah Di Pelupuk Mata

Agama itu secara sederhana berarti mempercayai sesuatu yang sakral dan menggunakannya sebagai pusat makna dan aturan bagi hidupnya.

Jika menggunakan definisi ini dan mengamati apa yang terjadi pada manusia masa kini, maka bisa dikatakan bahwa manusia di dunia saat ini sedang memeluk sebuah Agama Manusia. Agama dengan Manusia sebagai pusat sakral, pusat makna dan pengendali hidupnya.

Agama Manusia? bagaimana sampai kepada kesimpulan ini?

Manusia, Pusat Segalanya

Apa sumber segalanya bagi Agama Manusia? kita dapat melacaknya dari bagaimana cara manusia sekarang menghadapi dunianya.

Apa yang disebut kenyataan?

Batu itu nyata karena bisa dipegang dan dilihat oleh siapa pun; sinar ultraviolet itu nyata karena dengan alat bantu yang tepat, kita juga bisa melihatnya; bakteri itu nyata, karena dengan mikroskop kita bisa melihatnya; bumi bulat itu nyata, karena kita bisa melihat bentuknya melalui foto-foto yang diambil dari satelit.

Yang disebut kenyataan adalah segala sesuatu yang bisa ditangkap indera manusia atau alat bantu perpanjangan indera manusia. Ada berbagai macam alat bantu, bisa teleskop, mikroskop, radar, timbangan, termometer, detektor radiasi dan banyak sekali alat-alat modern yang dibuat manusia. Di samping itu, manusia mengembangkan metodologi ilmiah yang digunakan sebagai kerangka berpikir untuk menemukan dan memastikan realitas yang diselidikinya.

Yang ilmiah itu adalah yang bisa dibuktikan. Semangat ini mendasari sistem pendidikan modern di semua tingkatnya.

Jika kenyataan adalah sesuatu yang bisa diindera dan dibuktikan, bagaimana dengan sesuatu yang tidak dapat diindera dan dibuktikan? ya maaf, itu tak masuk dalam kategori kenyataan. Terlepas dari seberapapun banyak orang yang meyakininya, atau seindah apapun teorinya, jIka tak dapat diindera atau dibuktikan, maka itu bukan kenyataan.

Anda boleh percaya kuntilanak, sundel bolong, siluman atau berbagai macam dedemit, namun bila tak ada yang bisa membuktikannya, ya itu dianggap hanya dongeng, bukan kenyataan.

Begitu juga dengan roh, jiwa, malaikat, surga, neraka dan bahkan Tuhan; karena sampai saat ini tidak bisa dibuktikan keberadaannya, ya itu bukan kenyataan, terlepas sebanyak apa pun yang mempercayainya.

Kenyataan itu sederhana, dapat diindera atau dibuktikan manusia. Pengacunya jelas: manusia.

Kebaikan dan Moral, Mana Sumbernya?

Peradaban manusia akan selalu berkembang dalam segala hal, yang namanya baik atau jahat, layak atau tidak layak, bermoral atau tidak bermoral; akan selalu berkembang sesuai dengan perkembangan peradaban manusia. Peradaban manusia tidak membeku, demikian juga nilai kebaikan dan moral yang digunakan peradaban manusia.

Poligami? dahulu itu adil bagi wanita, tapi saat ini kebanyakan manusia menganggapnya sebagai melukai perasaan wanita.
Diskriminasi hukum atas dasar agama, ras, jenis kelamin? dulu itu fakta yang memang harus diterima, namun saat ini itu dianggap ketidakadilan.
Memperbudak orang? dahulu itu baik-baik saja berdasarkan kitab suci, tapi sekarang menjadi pelanggaran moral dan hukum.
Berperang demi Tuhan? dahulu itu kewajiban tertinggi,  mungkin tanpa banyak tanya, orang langsung mau berangkat angkat pedangnya. Tapi saat ini kebanyakan orang tak lagi patuh pada seruan jihad dan semacamnya, itu cuma mempan bagi sekelompok kecil fundamentalis.

Lalu adakah nilai moral dan kebaikan yang berlaku di segala jaman, segala bangsa dan sempurna abadi? sebagaimana diajarkan kitab suci? tentu tidak ada.

Setiap generasi baru manusia memilih sendiri nilai kebaikan dan moralnya. Beberapa dipertahankan dari generasi sebelumnya, beberapa lagi baru sama sekali dan menggantikan nilai dari generasi sebelumnya.

Nilai kebaikan dan moral itu mereka tentukan sendiri berdasarkan kepentingan hidup manusia itu sendiri. Pengacunya jelas: apa yang dirasakan manusia.

Tertib Sosial, Bagaimana Mengaturnya?

Lalu dari mana manusia menetapkan hukum, undang-undang atau segala macam peraturan untuk menegakkan tertib sosial mereka?

Tiap negara punya cara berbeda, tapi yang jelas, sudah tidak ada lagi yang mengutip kitab suci atau legenda masa lalu untuk merumuskan aturannya.

Dalam praktiknya semua aturan negara disusun berdasarkan kepentingan negara itu sendiri. Di negara demokrasi, melalui parlemen yang mewakili suara warganya. Di negara Komunis, mungkin Partai Komunis menentukan aturan yang dianggap terbaik bagi negaranya. DI beberapa negara otoriter, kepentingan negara bisa ditafsirkan sepihak oleh sang diktator, junta militer atau atau rezim penguasa negara tersebut. Semuanya mengatas-namakan rakyat, negara atau kelompoknya, yang bila kita tarik kesamaannya –> semuanya merupakan kepentingan manusia.

Jadi?

Apa acuan realitas? yang bisa diindera dan dibuktikan manusia.
Apa acuan kebaikan dan moral? apa yang dirasa manusia.
Apa acuan tertib sosial? kepentingan manusia.

Jadi apa pusat acuan kehidupan manusia sekarang? Manusia dan kepentingannya.

Manusia, Pusat Yang Sakral

Jika pada Agama Tuhan (agama-agama terdahulu), ada Tuhan yang tak boleh diperdebatkan dan harus diterima begitu saja klaim-klaimnya, maka bagaimana dengan Agama Manusia?

Saat ini, secara global, seluruh manusia di muka bumi secara langsung maupun tak langsung terikat pada satu organisasi global yang disebut PBB. Organisasi ini menaungi semua negara di dunia, memberi payung semua kerjasama ekonomi, politik dan budaya dunia. Dengan organisasi ini secara praktis manusia di bumi mengembangkan dasar tata-krama pergaulan antar negara dan manusia di bumi ini.

Ada berbagai macam aturan dan kesepakatan yang digunakan untuk kepentingan kerjasama global, salah satu kesepakatan terpentingnya adalah Deklarasi Universal HAM. Boleh dikata ini adalah penanda apakah suatu negara dianggap beradab atau tidak.

Apa isi terpenting deklarasi ini? Pengakuan dan jaminan perlindungan di seluruh dunia untuk semua orang tanpa perkecualian atas Hak Asasi Manusia (HAM) mereka. Semua negara wajib melindungi HAM warganya dan tak menguranginya untuk keperluan negara.

Poster tentang HAM, nilai sakral manusia masa kini. Sumber: http://www.womensviewsonnews.org/

Apa Hak Asasi Manusia itu?

Yaitu hak yang melekat pada tiap individu yang lahir di bumi ini. Banyak definisinya, namun secara umum adalah hak hidup dan keselamatan diri, hak kepemilikan dan bertransaksi, hak memilih keyakinan dan ekspresi budaya, hak berekspresi dan berkumpul, hak kesetaraan di depan hukum dan mendapatkan proses hukum yang adil.

HAM adalah pusat sakral kehidupan manusia global.

Terima, lindungi HAM dengan segala rincinya dan jangan sekali-kali memperdebatkannya. Sebagaimana pusat sakral semua agama, tak usah mencari bukti ilmiah tentang keberadaan Tuhan atau HAM, terimalah apa adanya.

Tuhan dalam Agama Manusia

Jika pusat kehidupan Agama Manusia adalah Manusia dan kepentingannya, bagaimana dengan Allah, Yesus, Syiwa, Yahweh yang pada kenyataannya masih tetap disembah di Masjid, Gereja, Sinagog dan Kuil?

Agama Manusia secara prinsip tidak mempersoalkan Tuhan. Yang menjadi fokus Agama Manusia adalah manusia dan kepentingannya.

Bila ada manusia yang percaya Tuhan, maka demi melindungi hak manusia tersebut, keberadaan Tuhan harus juga dilindungi. Tuhan perlu dibela keberadaannya selama itu berarti membela kepentingan manusia dan tidak merugikan komunitas manusia.

Bila kelak Tuhan itu sudah tak ada yang menyembahnya, mungkin statusnya akan mirip seperti Dewa Odin, Dewa Thor atau Dewa Zeus yang berakhir sebagai salah satu karekter dalam perfilman.

Demonstrasi membela hak-hak Muslim di Amerika. Orang Kristen, Yahudi dan bahkan Ateis ikut dalam demo ini. Yang dibela adalah hak manusia untuk menjadi Muslim, bukan membela Allah (Tuhan dalam Agama Islam).

Agama Manusia, Sirnanya Konflik Agama?

Sepanjang sejarah, manusia mengalami berbagai macam konflik akibat perbedaan agama.

Ketika Tuhan yang baru dikenal dan agama baru muncul, biasanya terjadi konflik antara agama baru dengan agama yang sudah ada sebelumnya. Di antara penganut agama yang berbeda, biasanya juga terjadi konflik. Bahkan di dalam agama yang sama pun ketika terjadi perbedaan penafsiran, biasanya juga terjadi konflik. Dalam penyebarannya setiap agama umumnya tak lepas dari berbagai konflik yang ditimbulkannya.

Biasanya konflik agama adalah konflik yang paling emosional, berdarah-darah dan memakan banyak sekali korban jiwa.

Konflik agama yang paling terkenal dalam sejarah adalah Perang Salib antara pemeluk Islam dan pemeluk Kristen di Timur Tengah dan Eropa yang berlangsung dalam 9 babak perang selama hampir 3 abad. Konflik berikutnya adalah perang 30 tahun antara pemeluk Kristen Katolik dengan pemeluk Kristen Protestan yang memporak-porandakan negara-negara Eropa.

Menghukum yang kafir. Sebuah lukisan tentang suasana Perang 30 tahun Eropa antara pemeluk Kristen Katolik melawan pemeluk Kristen Protestan.

Jika Agama Tuhan tak terlepas dari konflik berdarah, apakah dengan tersingkirkannya Agama Tuhan oleh Agama Manusia, konflik agama yang keras tidak bakal terjadi lagi?

Bukankah tidak seperti Tuhan yang ada bermacam-macam, Manusia dan kemanusiaan cuma satu?

Jangan salah mengira.
Agama Manusia pada dasarnya juga terpisah dalam berbagai sekte yang saling berebut pengaruh dengan keras. Bahkan pertikaian kolosal berdarah semacam “Perang Salib” juga terjadi di antara mereka dan telah memakan puluhan juta korban jiwa.

Saya akan menceritakannya dalam tulisan selanjutnya.


Bacaan:

Baca Juga:

7 komentar

  1. Membaca blog ini dengan pikiran terbuka memang benar-benar “eye opening”.
    Btw, klo boleh request Om, mohon dibahas tentang Lailatul Qodar dan konsep Trinitas.
    Terima kasih atas tulisan-tulisannya.

  2. Menurut saya sih Kenyataan tidak harus kita sepakati bersama, dan kenyataan bagi saya boleh saya awali berdasarkan keyakinan, tidak ada kewajiban bagi saya untuk menjelaskan apa alasan saya anggap itu sebagai kenyataan. Dulu sewaktu ilmu kimia belum mengenal molekul, atom dsb, maka membicarakan atom, molekul dsb akan dianggap sebagai dongeng. Apakah waktu dulu itu Atom dan molekul tidak nyata?
    Keduanya nyata, bahkan sejak alam semesta ini diciptakan, hanya saja ilmu pengetahuan manusia belum sampai. Ada jga yg sdh bisa merasakan atau sdh punya ide lebih awal ttg itu tapi tdk bisa menjelaskannya secara ilmiah. Pengalaman spiritualnya manusia beragam, dan efek nya terhadap individunya jga tidak sama, ada yg menganggap sebagai ilusi atau halusinasi semata, ada jga yg mempercayainya, Bagi saya sih saya percaya bahwa ada banyak fakta yang masih asing oleh pengetahuan manusia, sebagai mana asingnya molekul dan atom sebelum ilmu ttg nya berkembang. Alam semesta terlalu luas dan ilmu pengetahuan yang melingkupinya terlalu kompleks bila saya hanya menggantungkan pada indera penglihatan, peraba, pendengar perasa dan penciuman untuk menjustifikasinya.

    1. @Arjo: inti dari kenyataan itu adalah ‘nyata’, artinya bisa di-indera dan dibuktikan alias obyektif. Dari hal tersebut, ya tidak relevan dengan apakah ada yang yakin atau sepakat dengannya.

      Api itu panas, itu kenyataan. Tak ada hubungannya dengan keyakinan atau kesepakatan seseorang. Anda masukkan tangan tanpa pelindung ke api, ya terbakar, sesederhana itu.

      Kalau ada yang yakin dengan pengalaman spiritual, keberadaan jin, atau makhluk halus, ya silakan saja. Namanya juga keyakinan, seabsurd apapun itu hak tiap orang untuk meyakininya. Namun kalau ia ingin orang lain menganggap keyakinannya itu adalah kenyataan, ya yang pertama kali harus dilakukannya adalah menunjukkan bahwa keyakinannya tersebut adalah sesuatu yang obyektif, alias bisa di-indera dan dibuktikan oleh orang lain, tanpa perduli apakah orang lain itu percaya atau tidak dengan keyakinan itu.

      Kalau tidak lolos dengan uji obyektivitas semacam itu, ya jangan salahkan kalau keyakinan itu tingkatnya sejajar dengan dongeng Aladin, Dewa Thor, Cinderella, Buto Ijo, Naga terbang, Sinterklas atau Doraemon.

      1. Om Judhi..

        Saya sy tertarik dgn kalimat “obyektif adalah sesuatu yg dapat di-indera dan dibuktikan oleh orang lain”. Nah, kebanyakan manusia pada umumnya mempunyai panca (lima) indera. Ada pula manusia yg dikaruniai oleh lebih dari 5 indera tersebut, seperti misalnya beberapa manusia indigo.

        Nah, dari definisi obyektif di atas, sebuah “kenyataan” bagi manusia yg hanya mempunyai panca indera akan dapat diterima oleh manusia lain yg juga hanya punya panca indera. Bagi manusia indigo, sebuah “kenyataan” bagi mereka akan dapat diterima oleh manusia yg indigo pula.

        Pertanyaan sy, apakah om Judhi percaya adanya manusia indigo atau manusia yg mempunyai lebih dari 5 indera?

        Terimakasih..

        1. @Hartono: saya percaya manusia mempunyai kemampuan otak yang luar biasa, namun kebanyakan potensi kehebatan itu bekerja dibawah alam sadar kita.

          Ada beberapa orang yang terlahir dengan bakat hebat memanfaatkan potensi tersebut. Ada yang seperti kalkulator atau ensiklopedia hidup, dan ada yang mampu membaca isyarat-isyarat samar yang tanpa disadari dikomunikasikan orang ke orang lainnya. Menurut saya kemampuan indigo adalah semacam bakat membaca isyarat komunikasi samar manusia yang tidak disadari sendiri oleh pelakunya sendiri. Tentang makhluk halus atau dunia ghaib untuk fenomena indigo, saya tidak percaya.

          1. Terimakasih Om atas tanggapannya.

            Satu bulan terakhir ini sy rajin baca2 tulisan di http://www.nontondunia.net dan sy kagum sama tulisan2 Om Judhi.. Banyak hal yg sy pelajari dari situ. Salut, dan sy tunggu tulisan2 berikutnya (meski tulisan2 yg ada pun belum selesai sy baca )…

Perkaya Tulisan Ini Dengan Pendapat Anda