Tuhan Dalam Agama. Berapa?

Tuhan? tentu hanya Allah!

Itukan kata orang Islam, pandangan agama lain bisa beda. Ada yang Tuhannya banyak, satu tapi beda dengan Tuhannya Islam, atau bahkan gak bicara sama sekali tentang Tuhan.

Ada baiknya kita coba baca sejarah tentang penceritaan agama tentang Tuhan mereka.

Politeisme

Politeis adalah kepercayaan yang lazim muncul pada awal setiap peradaban.

Peradaban Mesir, Sumeria, Babylonia, Yunani, Proto Amerika, India, Cina Kuno dan sebagainya pada mulanya mengenal banyak sekali dewa. Masing-masing dewa menguasai satu aspek saja dari kekuatan supranatural yang mempengaruhi dunia. Secara umum ada Dewa Perang, Dewa Kesuburan, Dewa Cinta, Dewa Pengetahuan dan sebagainya.

Dewa Yunani, mereka banyak dan punya keahlian khusus masing-masing
Dewa Yunani, mereka banyak dan punya keahlian khusus masing-masing

Manusia memberikan persembahan atau ritual pada dewa tersebut hanya jika menghadapi situasi dimana dewa tersebut relevan. Saat akan menghadapi perang, mereka akan memberi persembahan pada Dewa Perang, saat damai mereka memuja dewa kesuburan agar panen mereka berhasil, saat kasmaran mereka membujuk Dewa Cinta untuk membantu mendapatkan sang kekasih.

Para Dewa tidak sepenuhnya mengontrol kehidupan manusia, sebaliknya para dewa layaknya penjaja jasa pada manusia. Jika diperlukan, manusia datang pada mereka memberi persembahan untuk minta bantuan dan beralih memberi persembahan pada Dewa lainnya saat kebutuhannya berubah.

Para Dewa hanyalah pelayan supernatural manusia.

Monolatrisme

Monolatrisme adalah manakala manusia mengakui banyak dewa, tapi memilih hanya menyembah satu dewa saja dan mengabaikan dewa lainnya.

Contoh menarik dari monolatrisme adalah perjalanan para Nabi Yahudi.

Sebagai contoh adalah Dewa yang disembah Ibrahim dan keturunannya yaitu Yahweh atau nama lainnya El/Elohim/Allah. Yahweh hanyalah salah satu dewa dalam stok jajaran Dewa yang dikenal di wilayah Kanaan. Ada dewa lainnya yang disebutkan dalam Perjanjian Lama seperti Baal, Asytoret, Molokh, Kamos, Milkom, dan Milkom.

Dalam perjalanan waktu, para Nabi Yahudi banyak melakukan peperangan, penaklukan dan bahkan ethnic cleansing terhadap banyak bangsa lain di wilayah Kanaan hanya dengan alasan sederhana: menegakkan superioritas Yahweh atas dewa-dewa yang disembah bangsa-bangsa lainnya.

Jika para dewa lainnya tersebut tidak dianggap sebagai ancaman terhadap Yahweh, tentunya Yahweh cukup memerintahkan untuk diabaikan saja, toh mereka bukan dewa yang memiliki kekuatan supranatural sebagaimana dirinya.

Nabi Elia, membunuh 450 orang pemuka agama Baal
Nabi Elia, membunuh 450 orang pemuka agama Baal

Pada era ini Tuhan berusaha mengambil kontrol atas segala aspek kehidupan manusia. Ritual penyembahan pada dewa tidak lagi atas dasar kebutuhan manusia, akan tetapi menjadi sesuatu yang wajib dilakukan manusia tanpa ada alasan apapun yang bisa diterima. Tuhan menerapkan apa yang baik apa yang benar, bagaimana berpakaian yang boleh bagaimana berpakaian yang membuat Tuhan naik pitam.

Dewa berubah menjadi ‘Tuhan’ yang menguasai manusia.

Monoteisme

Monoteisme adalah manakala manusia memandang bahwa Tuhan hanyalah satu dan tak ada sesuatu yang setara dengannya.

Statemen yang jelas tentang monoteisme dapat dilihat dari pernyataan Qur’an berikut ini:

Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” [QS Al-Ikhlas]

Apakah setelah deklarasi monoteisme ini, sifat agresif pemeluk agama akan berakhir? ternyata tidak.

Jika pada era Monolatrisme, agresifitas Tuhan untuk menegaskan dominasinya terhadap para Dewa lain dengan jalan mendominasi, mengalahkan dan bahkan membasmi mereka yang menyembah Dewa lainnya.

Maka pada era Monoteisme, Tuhan ternyata tetap bersikap agresif. Kali ini bukan untuk mengalahkan Dewa lain, melainkan untuk menyadarkan manusia bahwa hanya lewat jalan yang ditentukan Tuhan, manusia bisa selamat di dunia-akhirat.

Tuhan mengatur segala apa yang harus dilakukan manusia dan apa yang boleh dipikirkan manusia.

Monoteisme Apakah Sudah Cukup?

Setelah monoteis, setelah penyederhanaan komposisi Tuhan, apakah evolusi agama berakhir? ternyata tidak.

Paling tidak pola pikir monoteis telah menguasai panggung selama seribu tahun untuk mengatur dunia melalui Imperium Kristen dan Khilafah Islam, hasilnya adalah masyarakat yang dikekang, disekat-sekat dan ditindas atas nama agama. Agama menjelma menjadi alat penekan rezim penguasa dan bukan lagi sarana menyejahterakan masyarakat.

Timbul penolakan terhadap dominasi agama monoteis pada setiap aspek kehidupan manusia. Di negara-negara dengan mayoritas Kristen di Barat, mereka membuang Kristen dari pemerintahan dan  memilih pemerintah sekuler. Di negara-negara dengan mayoritas Islam di Timur Tengah, mereka secara perlahan mulai mengadopsi jalan yang telah ditempuh saudara-saudara Kristen mereka dengan mulai mengadopsi demokrasi dan meninggalkan syariah sebagai hukum negara.

Apa yang bisa disimpulkan?

Konsep Monoteis yang memusatkan diri pada satu Tuhan yang mengatur semua aspek kehidupan manusia, mulai dari cara bernegara, cara berpakaian, cara berhubungan sosial dan bahkan cara buang air, ternyata tidak terbukti membawa manusia menjadi lebih baik, tidak terbukti menjadikan manusia menjadi lebih manusiawi.

Pemeluk agama monoteis ternyata juga korupsi, terlibat kekerasan, terlibat kekerasan seksual, dan segala hal buruk lainnya.

Ada yang perlu dirubah dengan konsep agama-agama monoteis.

Agama Jenis Lain? Tuhannya Dimana?

Dengan gambaran kegagalan agama untuk mengatur seluruh aspek kehidupan manusia yang dapat di lihat di mana-mana, beberapa orang mulai merintis munculnya berbagai agama baru.

Banyak agama baru tersebut hanya merupakan modifikasi dari agama lama atau sintesis dari beberapa agama lama. Namun ada beberapa yang memiliki pola baru, yang tidak dimiliki agama-agama lama.

Dua agama baru yang muncul di Barat dan cukup menarik untuk kita bahas adalah Scientology dan Raelianisme, beberapa pola baru agama-agama ini adalah:

Tuhan Supranatural Yang Hilang

Konsep Tuhan personal yang menciptakan segalanya di dunia dan ikut campur mengatur dunia, ditinggalkan di agama baru ini. Itu tidak ada.

Sesuatu Yang Mengendalikan Kehidupan Manusia

Jika Tuhan tidak ada, agama baru ini memperkenalkan sesuatu yang mengendalikan kehidupan manusia, tapi bukan Tuhan.

Scientology percaya dengan adanya jiwa yang menghuni raga,  reinkarnasi dan kehidupan yang berulang dan alam spiritual yang tak jelas datangnya dari mana. Menjalani hidup hanya akan mendatangkan kebahagiaan manakala kita menyelaraskan diri pada hukum-hukum alam tersebut.

Tom Cruise dalam salah satu acara Scientology
Tom Cruise dalam salah satu acara Scientology

Raelianisme percaya bahwa dimasa lalu ada ras alien luar angkasa yang telah mencapai peradaban sangat maju mendatangi bumi. Yahweh adalah pemimpin dari ras alien tersebut, para dewa yang pernah dikenal dalam peradaban manusia hanyalah anggota dari ras alien tersebut.

Dalam kedatangannya, Yahweh dan gengnya bereksperimen memicu timbulnya kehidupan di bumi yang sebelumnya tak berpenghuni. Manusia adalah hasil eksperimen tersebut.

Di masa depan yang jauh, kelak Yahweh akan datang kembali ke Bumi untuk melihat hasil eksperimennya. Pada kedatangannya kelak, Yahweh akan menunjukkan solusi bagi peradaban manusia atas problem-problemnya. Dengan tuntunan peradaban supermaju Yahweh, pada hari kedatangannya, ras manusia akan mencapai peradaban ideal (surga) yang memberi kebahagiaan bagi semua manusia.

Tujuan Kehidupan Manusia Yang Baru

Dalam agama monoteis, Tuhan adalah tujuan kehidupan manusia, menuruti kehendak Tuhan adalah laku tertinggi pemeluk agama monoteis. Dengan tidak adanya Tuhan, agama-agama baru ini menawarkan tujuan hidup yang mungkin asing bagi kebanyakan kita.

Scientology menawarkan Operation Thetan, yaitu upaya untuk mencapai kesadaran spiritual tertinggi yang bisa dicapai oleh manusia. Pada kondisi tertingginya manusia akan mencapai kesadaran seperti para dewa yang terbebas dari segala macam penderitaan.

Raelianisme yakin bahwa manusia jika tanpa kekangan tabu-tabu akan bisa mencapai potensi kehidupan tertingginya melalui sains dan teknologi. Raelianisme banyak berbicara tentang teknologi kloning untuk mencapai kekekalan dan penjelajahan luar angkasa untuk mencapai kemajuan lebih lanjut.

Tuntunan kehidupan dalam Raelianisme sangat minimal, yaitu mencegah diri dari perilaku yang merusak diri seperti rokok, alkohol dan narkoba. Selebihnya manusia selayaknya merayakan kesenangan hidup dengan batas tidak merugikan orang lain.

Dengan Berubahnya Tuhan Dalam Agama, Masihkah Agama Laku?

Apakah bentuk baru agama bisa meningkatkan daya tarik agama?

Kita belum tahu, tapi yang jelas agama-agama baru tersebut masih tidak bisa melepaskan diri dari menggunakan dogma yang sama sekali tidak bisa mereka buktikan sendiri. Scientology berdogma tentang Thetan/Jiwa, reinkarnasi dan alam spiritual. Raelianisme berdogma tentang Yahweh dan alien super cerdas yang entah datang dari mana.

Bagi banyak orang yang begitu banyak terpapar sains dan konsep pembuktian ala sains, maka agama baru tersebut hanyalah mengganti dogma lama dengan dogma baru.

Mungkin mereka bisa tertarik lagi pada agama jika ada inovasi yang baru lagi, tapi bukan dengan konsep alien luar angkasa atau reinkarnasi tersebut.

Atau kalau jenuh menghadapi alam nyata, agama akan tetap menarik…


Bacaan Pelengkap:

Baca Juga:


5 komentar

  1. tulisan kali ini bagus tapi kurang menantang mas kurang gereget dibanding tulisan yang sebelumnya, bisa jadi mungkin karena ilmu saya kurang, tapi gak apa2 soalnya saya udah lama menunggu tulisan baru mas judhi. saya tunggu tulisan mas yang lebih kontroversial lagi, gak mainstream dan agak ngajak ribut hehe. tetap semangat mas

  2. yahhh, aku lagi seneng baca sejarah agama, seperti cerita bani jawi, diulas turunan Ken Turah lleluruhnya Ken Arok, Ken Dedes, Ken Uma hheeehhhh

Perkaya Tulisan Ini Dengan Pendapat Anda