Kapitayan 2.0

Pernah dengar Agama Kapitayan?

Kalau anda tahu agama cuma dari sekolah dan ceramah agama, dijamin nama Kapitayan tak pernah terdengar bagi anda.

Kapitayan adalah agama regional Nusantara yang bekasnya bisa ditemukan mulai dari wilayah Indocina, Semenanjung Malaka hingga kepulauan Nusantara. Di Jawa lamat-lamat kehadirannya bisa kita rasakan pada filosofi perwayangan.

Agama ini nyaris terlupakan, namun filosofi dasarnya, lamat-lamat bisa kita tangkap pada religiusitas manusia modern. Apa itu? baiknya kita tinjau sejenak Kapitayan.

Saya tidak akan menuliskan Kapitayan sebagaimana adanya, karena anda bisa mendapatkannya dari berbagai sumber lain yang lebih akurat.

Sebagai gantinya, saya sampaikan semangat Kapitayan yang saya leburkan dalam kerangka kehidupan manusia modern. Ini Kapitayan versi 2.0.

Puncak Eksistensi Yang Tak Tergambarkan

Apa yang dipuncak eksistensi segala sesuatu, yang menjadi sumber segala sesuatu?
Agama samawi akan menjawabnya dengan Allah, yang menciptakan segalanya, yang Maha Sempurna, yang Maha Kuasa, pokoknya yang Maha Segalanya.

Apa kata Kapitayan?
Sumber segala sesuatu dan puncak eksistensi adalah ketiadaan, kekosongan, kehampaan yang mutlak. Kekosongan ini berbeda dengan ruang kosong yang bisa kita lihat dilangit, yang menjadi wadah dari semua bintang dan galaksi. Kekosongan mutlak berarti tak ada satupun disana, termasuk ruang, termasuk waktu.

Jika harus diberi nama itulah Sang Hyang Taya (dimana nama Kapi-Taya-n berasal). Taya sendiri bermakna suwung, hampa atau kosong.

Karena kita selalu hidup dalam alam yang memiliki dimensi materi, ruang dan waktu; maka kekosongan mutlak dimana tidak ada ruang, waktu, materi benar-benar diluar jangkauan imajinasi kita. Sang Hyang Taya berbeda dengan apapun yang bisa dibayangkan manusia. Dia tidak seperti apa-apa, yang dalam bahasa Arab disebut “mukhalafatu lil hawaditsi”.

Karena tak seperti apapun, Sang Hyang Taya tak bisa diapa-apakan, tak bisa dilihat, tak bisa dimintai, tak bisa dimanfaatkan. Orang Jawa Kuno menyebutkan Sang Hyang Taya sebagai “tan keno kinoyo ngopo” – tak bisa diapa-apakan.

Hantu dan Tuhan

Sang Hyang Taya tak ikut campur dalam semesta ini, akan tetapi ada bayang kehadirannya yang bisa ditangkap manusia di dunia ini.

Bayang kehadiran Sang Hyang Taya adalah kekuatan ghaib yang disebut “Tu”. Tu hadir dalam pasangan sifat yang saling meniadakan. Tu yang bersifat negatif disebut Han-Tu, sedangkan Tu yang bersifat positif disebut Tu-han.

Pada Hantu, manusia membujuknya melalui sesaji agar kejahatan atau keburukan Hantu tidak mengganggu hidup mereka.

Pada Tuhan, manusia menyembahnya dan berusaha agar sifat-sifat kebaikan Tuhan tercermin dalam kehidupan mereka.

Memilih untuk membujuk Hantu atau menyembah Tuhan bagi penganut Kapitayan hanyalah pilihan jalan. Tidak menjadi masalah pilih yang mana, asal semuanya bisa menghasilkan kebaikan bagi yang menjalankannya. Dengan pandangan tersebut penganut Kapitayan tidak mempermasalahkan tentang berbagai agama yang ada dengan ritualnya masing-masing.

Ujung Membujuk Hantu

Pada masyarakat dengan pendidikan rendah, alam penuh dengan kekuatan yang tak bisa mereka pahami. Penyakit, bencana, kegagalan, selalu dikaitkan dengan campur tangan kekuatan Hantu-Hantu. Bagi mereka para Hantu bersemayam di pohon yang besar, batu besar, gunung, sungai atau simpang jalan yang mereka lalui. Jika tak dibujuk para Hantu bisa sangat mengganggu kehidupan mereka, untuk itu mereka akan secara rutin memberikan sesaji untuk membujuk para Hantu agar tidak mengganggu.

Untuk sesaji ini, tiap Hantu memiliki selera masing-masing tergantung dimana Hantu tersebut bersemayam.

Ada berapa macam Hantu? banyak sekali. Semakin penakut, sepertinya semakin banyak Hantu yang harus dibujuk.

Apakah para Hantu berjalan sendiri-sendiri dan mempunyai kedudukan yang sama? Tidak..

Semua Hantu tunduk pada penguasa Kahyangan yang disebut Sang Hyang Manikmaya. Manikmaya berarti permata khayalan.

Apa artinya? artinya semua Hantu pada hakikatnya hanyalah buah dari khayalan manusia yang takut pada hal yang tak diketahuinya.

Para Hantu itu hanyalah khayalan.

Ujung Menyembah Tuhan

Pada masyarakat yang lebih terdidik, mereka tidak terlalu risau pada cerita Hantu penghuni batu besar atau pohon angker.

Mereka lebih memusatkan diri pada pencapaian status ekonomi dan sosial yang tinggi dalam masyarakatnya. Untuk itu mereka lebih memilih untuk mendapatkan limpahan kebijaksanaan, kebajikan, kemurah hatian dan segala macam kebaikan dari sumber kebaikan, yaitu Tuhan.

Berbeda dengan membujuk Hantu yang harus dilakukan dengan banyak jalan sesuai dengan macam Hantu, menyembah Tuhan hanya ditujukan pada personifikasi Tuhan yang disebut Sang Hyang Tunggal (Yang Esa).

Menyembah Sang Hyang Tunggal dilakukan melalui pengarahan hati dan pikiran melalui ritual yang disebut sembahyang dan puasa. Ritual sembahyang ini dilakukan dalam waktu-waktu tertentu di sanggar dan meliputi rangkaian gerak tubuh yang terdiri dari berdiri, duduk dan sujud.

Dengan bersungguh-sungguh melakukan sembahyang dan puasa, diharapkan sifat-sifat kebaikan Tuhan akan terserap dalam diri pemeluk yang taat tersebut.

Jika sifat kebaikan sudah dapat terserap dalam diri, apalagi yang bisa diharapkan?

Puncak pencapaian penyembahan Tuhan adalah ketika manusia sudah berhasil melebur menjadi satu dengan Tuhannya, Manunggaling Kawulo Gusti. Dalam tingkat kesadaran tersebut, tidak dirasakan lagi beda antara manusia dan Tuhannya.

Dalam sejarah ada 2 tokoh sufi Islam yang menyatakan mencapai tahap ini yaitu Al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar. Dalam puncak dzikirnya, kedua orang ini mengucapkan “Aku adalah Allah”. Atas pernyataan ini, keduanya mengalami nasib yang sama, yaitu dihukum mati oleh ulama lainnya.

Bagaimana pandangan mereka tentang Tuhan yang telah berhasil mereka temui? ada sebuah syair dari Al-Hallaj berikut:

Kulihat Tuhanku dengan mata hatiku,
kusapa Dia “Siapa Kamu?”
Dia jawab “Kamu”

Bima
Bima, pencarian Tuhan

Ada juga kisah dalam pewayangan Jawa yang menggambarkan penyatuan manusia dan Tuhannya, yaitu lakon Dewa Ruci.

Dalam kisah ini Bima atas petunjuk Durna gurunya mencari air Prawitasari (intisari kehidupan). Setelah pencarian ke seluruh ujung dunia, Bima bertemu dengan Dewa Ruci yang menyuruhnya masuk ke telinganya untuk mendapatkan air tersebut.  Setelah Bima masuk ke telinga sang dewa, terkuaklah segala tabir kehidupan. Bima mengalami perasaan diri yang sempurna yang merupakan intisari kehidupan itu sendiri.

Dan bagaimanakah Dewa Ruci yang memberikan puncak diri yang sempurna itu? Dewa itu ternyata dirinya sendiri yang berwujud lebih kecil.

Apa artinya?

Puncak penyembahan Tuhan adalah saat manusia menyadari bahwa Tuhan bukanlah sesuatu yang terpisah dari manusia.

Tuhan tiap manusia adalah diri mereka sendiri dalam sosok yang sempurna. Tuhan adalah sifat-sifat ideal yang dibayangkan manusia dan diproyeksikan ke dalam pribadi sempurna diluar dirinya, sebagai Tuhan.

Tuhan adalah sangkaan manusia.

Untuk Apa Hantu dan Tuhan?

Jika Hantu hanyalah khayalan dan Tuhan hanyalah sangkaan, untuk apa mereka ada?

Dalam Kapitayan, Sang Hyang Taya sebagai puncak eksistensi tidak membutuhkan apapun.

Semesta muncul dari kekosongan dan kelak kembali ke kekosongan tanpa kehendak dari siapapun. Semesta ini hanya satu diantara jutaan kemungkinan semesta yang bisa ada. Kebetulan saja manusia muncul di semesta ini, kelak akan musnah kembali ke kekosongan tanpa bekas sama sekali. Secara obyektif, tak ada tujuan dalam kehidupan manusia.

Akan tetapi manusia mempunyai satu hal yang tak dimiliki oleh mahluk lainnya, yaitu kesadaran diri dan kehendak bebas.

Dengan kesadaran diri dan kehendak bebasnya, manusia mengubah dirinya dari sekedar mahluk tanpa tujuan menjadi mahluk yang ingin mencapai sesuatu. Jika alam obyektif tidak menunjukkan tujuan hidup manusia, maka subyektifitas manusialah yang menentukan sendiri tujuan hidupnya. Disinilah peran Tuhan dan Hantu.

Tuhan dan Hantu adalah penyedia “perasaan bertujuan” yang secara efektif terbukti berhasil memberikan arah kehidupan manusia.

Semar, Berdamai Dengan Realitas

Salah satu tokoh penting dalam Kapitayan adalah Semar.

Namanya berasal dari kata samar – tidak jelas. Kalau laki-laki, wajahnya mirip wanita. Kalau wanita, perawakannya mirip laki-laki. Wajahnya seperti menangis, tetapi juga seperti tertawa. Pada ketawanya tercampur suara terkekeh he.. he.. he.. dengan suara tersedu hu…hu..hu.. ; sehingga berbunyi heu.. heu.. heu..

Ini adalah tokoh yang telah mampu melihat realitas kehidupan yang ternyata berasal dari Sang Hyang Taya dan menuju kepada Sang Hyang Taya kelak. Dari yang suwung, hampa dan kosong menuju yang suwung, hampa dan kosong . Tanpa arti.

Tak ada lagi yang terlalu gembira atau terlalu sedih, baginya semuanya hakikatnya sama.

Semar karakter penting Kapitayan
Semar karakter penting Kapitayan

Semar tidak mengambil peran sebagai pengatur kehidupan banyak orang, walau memiliki kebijaksanaan, ia memilih hidup sebagai pelayan tuannya.

Ia memilih membiarkan dirinya diatur oleh para raja dengan kekuasaannya, ia memilih mendengarkan para begawan memberi nasehat tentang nilai luhur, ia memilih membiarkan para ksatria menggunakan pedangnya mengatur dunia, ia memilih tunduk patuh pada para Dewa yang memiliki kuasa ghaib.

Akan tetapi manakala kekacauan tak terkendali dan mengancam seluruh rakyat, ia bertindak. Ia tunjukkan mana yang benar, ia tunjukkan bahwa semua kesaktian dewa, kekuasaan raja, kekuatan ksatria dan nilai luhur para begawan adalah omong kosong. Saat semua menghadapi dengan andalan mereka, Semar hadapi dengan “prettt…” – dengan kentutnya.

Semua kesaktian dewa, kekuasaan raja, kekuatan ksatria dan nilai luhur begawan; hanyalah omong kosong jika ternyata melawan kebenaran, melawan kemanusiaan.

Lalu, Bagaimana Dengan Hidup Kita?

Jika semua Tuhan, Hantu, dan segala macam konsep agama berakar dari manusia, maka tentunya semua itu tak berarti bila melanggar kemanusiaan itu sendiri.

Semua Tuhan, Hantu dan agama boleh hidup dan mengatur kehidupan kita, akan tetapi manakala semua itu mulai memakan kemanusiaan kita, mulai menjadikan kita bukan seperti manusia; kita harus abaikan itu.

Jika ada pemuka agama yang berapi-api menyuruh kita menyakiti orang yang tak bersalah hanya karena alasan agama, maka tak salah kalau kita bilang “prettt…”

Jika ia mengancam dengan neraka, kentuti saja….


Bacaan:

Baca Juga:


44 komentar

  1. Kozep ketuhanan dan ajaran kaum kapitayan dgn zang hyang taya nya jika memang benar tentunya akan mampu bertahan di abad 20 ini (jadi ingat tulizan maz judhi tentang Tuhan baru di kenal di abad 20). Nyatanya makin tergeruz dan terzingkirkan dan untungnya mazih ada yg ingat. Kayak maz judi ini 😉

    Aneh juga kalo kaum kapitayan mampu memikirkan zozok zang hyang taya yg tdk biza tergambarkan dan terjangkau. Mmm… mungkin benar kata maz judhi di ataz “prazangka”. Jadi bukan agama hanya ajaran ato paham zaja.

    Konzep agama zamawi kan langzung berzumber dr zang pencipta melalui perantara manuzia yg tertuang di kitab zuci dan kredibilitaz para nabi (tulizan maz judi juga lho). Jadi konzep ini zudah pazti benar. Bahkan jika kita anggap memakan kemanuziaan, tetap zaja benar krn berazal dr Tuhan. Konzep kemanuziaan hanya impian manuzia yg ingin hidup baik.
    Mmm.. mungkin yg zalah para penerjemah dan penafzir konzep2 keagamaan yg ada di kitab zuci. Zo yg zalah tafziranya 😉

    1. @Abeutthank: ajaran Kapitayan mempunyai kelemahan mendasar dibanding dengan agama lainnya. Ia tidak mempunyai semacam kitab suci tertulis yang menjelaskan dengan gamblang tentang pokok-pokok kepercayaannya. Ajaran Kapitayan masih diwariskan melalui tradisi lisan, sehingga dengan mudah terkubur dalam berbagai mitos-mitos yang seringkali tidak koheren satu dengan lainnya.

      Mengenai kebenaran agama, tentunya tiap agama meyakini bahwa ajarannya yang paling benar, bahwa ajarannya bersumber dari Tuhan yang Maha Kuasa.
      Pada titik ini, Kapitayan memandang bahwa semua ragam agama dan semua bentuk sesembahan hanyalah media yang bisa digunakan manusia untuk mengarahkan hidupnya, semuanya punya keunggulannya masing-masing yang tak perlu dipertengkarkan.

      Tapi kalau kita bukan penganut Kapitayan, tentunya tak perlu risau dengan konsep “nyeleneh” mereka…

      1. Sebetulnya jika dibilang gak ada ‘kitab suci’…..kapitayan sdh memberikan kitab sucinya…..yaitu kitab teles…..kitab yg bisa dibaca dg mata hati dlm tubuh kita sendiri maupun alam sekitarnya…..

        Jika terpaku pada kitab2 samawi ya jelas beda….makanya jangan dibandingkan

        1. @Nano Buana: Kitab Teles? Itu kitab imajiner, sejenis Lauh Mahfuz (kitab takdir).

          Untuk kehidupan nyata, butuh kitab nyata, bukan sekedar imajinasi.

  2. Hmm, berarti memang semua agama itu memiliki ‘sejarah’ nya masing2. Mulai dari hadirnya suatu ajaran, perkembangan sampai kemunduran/kepunahannya. Hm, hm.. Membuat jelas beberapa hal yg selama ini agak njelimet dalam pikiran.

    Misalnya kenapa sekarang Islam itu banyak pemeluknya di Indonesia (banyak, bukan maju ya). Yg pasti, Islam hadir sbg paham impor krn dibawa oleh org2 Arab/India yg mmg begitulah agama/tradisi/ kebudayaannya. Dan sptnya mendapat sambutan dari penduduk lokal krn bbrp persamaan konsep spt neraka/sorga, adanya ritual sembah menyembah dll. Di samping itu tentu saja dgn kekerasan spt kaum Paderi di Minang yg memerangi kaum adat utk menyebarkan paham baru yg mereka bawa dari Mekah/Arab (mulai nampak bibit2 kekerasan dan kebencian khas Arab di sini). 

    Nah, dlm perkembangannya, Islam dianggap penguasa sbg tool yg cocok utk mempertahankan kekuasaan, karena ajarannya yg menuntut kepatuhan mutlak tanpa reserve kepada so called ulama dgn peraturan2 syariat, fikih dlsb (yg merupakan rumusan pemikiran manusia jg). Shg kalau ada persoalan, tinggal ngumpulin pemuka agama, selesai urusan. Dan utk itu diperlukan penganut yg betul2 manut dan berakal tumpul/tdk banyak mempertanyakan, yg cocok betul dgn stereotip mayoritas muslim Indonesia (bahkan seluruh dunia).

    Akhirnya, krn diikat dgn peraturan ala mafioso utk membunuh mereka yg ingin keluar dari Islam, jadilah semua muslim terperangkap dlm agamanya, suka atau tdk suka. Tdk ada yg namanya hak memilih agama yg melekat pd msg2 pribadi. Padahal hampir semua muslim menjadi muslim hanya krn ‘nasibnya’ lahir dlm keluarga muslim. 

    Dan sekarang, upaya2 memaksakan kehendak dan tafsiran tertentu pd semua orang seakan mendapatkan tempatnya. Dgn MUI yg diiisi org2 tdk kompeten dan berkacamata kuda, rombongan keturunan Arab (yg merasa lebih mulia dari org Indonesia) dgn budaya Arab barbarnya, dan pemerintah yg tdk aware ttg bahaya fanatisme agama, semua ibarat bom waktu yg siap meledak kpn saja.

    Hm, mungkin sy terlalu jauh menilai. Tp mmg, makin hari suasana makin tdk kondusif utk berpikir beda, di mana salah satu puncaknya adalah pencekalan Mas Ulil utk berbicara di forum akademis setingkat Universitas. Oh Indonesia, makin lama terperosok makin dalam oleh org2 picik..

    1. @Dodi_startalloveragain: memang kecenderungan akhir-akhir ini cukup mengkhawatirkan, semakin banyak kekerasan dan kebencian atas nama agama.

      Salah satu sumber masalah ini adalah penekanan keras pada tunduk dan patuh sebagai cara beragama mengantikan bernalar dan berperasaan untuk memahami agama. Akibatnya banyak yang menidurkan nalar dan perasaannya dalam buaian agama.

      Dibutuhkan guncangan untuk menyadarkan mereka yang tertidur..

    2. “……………………………..dlm perkembangannya, Islam dianggap penguasa sbg tool yg cocok utk mempertahankan kekuasaan, karena ajarannya yg menuntut kepatuhan mutlak tanpa reserve kepada so called ulama dgn peraturan2 syariat, fikih dlsb (yg merupakan rumusan pemikiran manusia jg). Shg kalau ada persoalan, tinggal ngumpulin pemuka agama, selesai urusan. Dan utk itu diperlukan penganut yg betul2 manut dan berakal tumpul………………………….. ”

      SAYA KENAL HABIBIE KARENA DIA ADALAH LEGENDA AKIBAT “KECEMERLANGAN” OTAKNYA. TERNYATA HABIBIE JUGA ORANG YANG BERAGAMA. SEDANGKAN Dodi_Staralloveragain SAYA BARU KENAL, ITU PUN SECARA KEBETULAN………
      SEANDAINYA ORG2 BERAGAMA (TERMASUK HABIBIE) ADALAH KUMPULAN ORANG2 YANG TUMPUL OTAKNYA, YANG BERARTI ORANG2 YANG TAK BERAGAMA ADALAH SEBALIKNYA (ORG2 YG CEMERLANG AKALNYA) MAKA SEHARUSNYA SAYA LEBIH MENGENAL Dodi_Staralloveragain DARIPADA HABIBIE…………..

      1. @Al-Madjid: ah penyederhanaan yang berlebihan
        Habibie cemerlang otaknya dan beragama –> maka orang beragama akan cemerlang otaknya
        => bukankah kita bisa melihat di Arab Saudi atau Afghanistan betapa orang menjadi keterlaluan bebal dan konyol karena agama?

        1. Paling tidak Kita akan sama2 sepakat, bahwa mungkin bukan agama penyebab kecemerlangan otak seseorang, tapi agama juga tidak bisa dikambing hitamkan sebagai penyebab bebalnya seseorang. Dalam Agama yang saya anut pun (islam) mengakui bahwa tidak semua penganutnya seragam pola pikir, pemahaman dan daya nalarnya, maka seseorang yang mendakwahkan agamanya hendaknya “menyesuaikan” hendaklah menyesuaikan dengan daya nalar orang yang didakwahi-nya

        2. Wah, jd rame nih. Sptnya menurut @Al-Madjid, krn beliau tidak mengenal saya berarti saya berotak tumpul? Insyaallah saya seorang respected person dgn kapasitas akademis dan sosial yg memadai di bidang saya, sbgmn Habibie di bidang aeronautika. Sure we can have a high quality conversation Sir.

          Dgn segala hormat pak @Al-Madjid, komentar anda memperkuat pernyataan saya ttg satu hal, yaitu tentang berkacamata kuda dan tidak banyak mempertanyakan segala sesuatu. Pendapat berbeda dianggap salah. Skrg, beranikah bpk mempertanyakan dan memikirkan jawaban bbrp item berikut:
          – aslikah jejak kaki Nabi Ibrahim yg di Ka’bah itu? Apakah kita tidak sdg ditipu2 saja oleh segelintir orang yg mengambil keuntungan?
          – bisakah bpk menerangkan kpd ponakan saya bhw kuda sembrani tsb hanyalah dongeng, sedangkan bouraq adalah nyata?

          Renungkanlah pak, dulu sy akan bereaksi sama dgn anda, menganggap itu adalah pertanyaan kurangajar dan hanya butuh iman utk membenarkan semua hal absurd tersebut. I’m a free man now, and believe me, it feels great..

          1. Anda Tidak usah kebakaran jenggot. Saya tidak memvonis anda berotak tumpul, karena saya tidak pernah mempersoalkan orang berotak tumpul atau tidak, saya yakin klo disuruh memilih tidak ada orang yg ingin terlahir dengan otak tumpul. Meskipun anda sendiri telah mengidentikkan Muslim Indonesia (termasuk saya tentunya) sebagai “berakal tumpul”, dari tulisan anda diatas “……………..Dan utk itu diperlukan penganut yg betul2 manut dan berakal tumpul/tdk banyak mempertanyakan, yg cocok betul dgn stereotip mayoritas muslim Indonesia (bahkan seluruh dunia)………………………”
            Klo boleh saya “berasumsi” anda adalah orang yang merasa hebat ketika merasa berani mempertanyakan apa “yang menurut anda” tabu untuk dipertanyakan oleh Muslim.
            Anda juga orang yang gampang berprasangka (Gak apa2 koq, saya juga seperti itu), Hanya saja anda begitu yakin dengan prasangka anda dari pernyataan anda diatas, “………….Renungkanlah pak, dulu sy akan bereaksi sama dgn anda, menganggap itu adalah pertanyaan kurangajar…….” Jadi Anda menyamakan saya dengan “Anda yang dulu”, yang berpikiran sempit dan berkacamata kuda. Tapi anda yang sekarang pun saya masih ragu, apa sudah menggunakan “Kacamata beneran” atau masih “kacamata Kuda”.
            Kembali ke pertanyaan yg telah membuat anda merasa diri hebat karena telah berani mempertanyakannya :
            – Aslikah jejak kaki Nabi Ibrahim yg di Ka’bah itu? Apakah kita tidak sdg ditipu2 saja oleh segelintir orang yg mengambil keuntungan?
            – bisakah bpk menerangkan kpd ponakan saya bhw kuda sembrani tsb hanyalah dongeng, sedangkan bouraq adalah nyata?

            JAWABAN SAYA :
            SO WHAT……………
            – Jejak Nabi Ibrahim, Klo Asli emang kenapa? Klo palsu juga ruginya apa buat saya?
            – Ketika saya mengimani bahwa Bouraq itu nyata, lalu saya nggak bisa menerangkan kepada keponakan anda apa bedanya Bouraq dengan kuda Sembarani atau kuda Lumping sekalipun, Ruginya saya apa? Ruginya Anda Apa? dan ruginya Keponakan anda dimana?

          2. Ya, itu maksud saya pak. Tetap tanyakan hal2 dogmatis spt itu dan biarkan logika dan nalar kita dibantu oleh nurani utk menjawabnya. Tp usahakan tidak hitung2 untung rugi spt di atas..

  3. Assalamualaikum
    Hebbaaattt pokoknya, mudah2aan sebagai barang bukti peninggalan kepercayaan dapat terurai dari penelitian mengenai ‘gunung padang cianjur’ yang konon lebih tua dari peradaban piramid Mesir. Dan katanya juga bahwa agama di nusantara itu sudah tersusun rapi sejak 2500 tahun SM, yang intinya adalah yang diterangkan oleh mas yudhi. Dan lagi kalau kita baca ‘sastra jendra dst’ maka ada benang merahnya. Penegertiannya sangat luas sehingga tidk bisa dibuat buku, seperti agama lain yang mempunyai ‘kitab suci’. Kalau kita analogkan agama tadi berbuku seperti ‘Qur’an basah. wkwkwkwk

  4. Menarik..semacam oleh2 antik dari nenek moyang. sedikit informasi: akhir2 ini sy sering memberikan pernyataan terhadap orang sebagai “calon penghuni surga” dilihat dari sikap orang2 tsb, bukan dari keimanan atau agamanya.

  5. Kapitayan adalah agama regional Nusantara…
    Katanya ASELI indonesia tapi kenapa banyak unsur falsafah India/hindunya. Berarti ga 100% ori dong, kw1 or kw 2 maybee…

  6. Tulisan yang menarik, setidaknya menepis anggapan pemahaman masyakat selama ini bahwa kakek dan nenek moyang kita tak berTuhan, penyembah batu dan benda. kebetulan saya tinggal di seputaran lereng merapi yang meski secara formal agama2 telah dianut tapi secara keyakinan kejawen (saya gak tau apa itu yang dinamakan kapitayan ato bukan) masihlah sangat kuat, seperti tradisi ato keyakinan sesaji ketempat2 tertentu, kondangan ato selametan ato kenduri, menghitung semua aktifitas berdasar neptu, ritual manekung atau berdiam diri ato bertapa, ritual menyambut 1 suro dengan berkeliling desa tengah malam tanpa busana, tradisi mandi dari 7 mata air, ato tradisi belajar mantra2 ato bacaan wirid yang hanya boleh dihafal tanpa boleh ditulis dan masih banyak lagi.

    1. @Kang Gogon: menemukan Tuhan sepertinya menjadi naluri dasar manusia, hampir tak ada peradaban di dunia ini yang tak memiliki Tuhan. Kalau ada yang bilang nenek moyang kita tak bertuhan, maka itu hanya kalimat pengganti untuk mengatakan Tuhan nenek moyang kita tak sesuai dengan selera mereka tentang Tuhan 🙂

  7. agama tidak perlu di koordinasikan, itu namanya partai politik, beragama dan berTuhan itu naluri, cuma Dilingkungan mana dia dilahirkan dan dibesarkan itu mempengaruhi nama benderanya (agama). Agama juga tidak perlu di tunjuk2an dengan atribut2 (salib, tulisan Arab). Itu namanya riak. Agama adalah pengalaman pribadi antara Tuhan dengan personalnya. Jadi sesungguhnya gak perlu kitab2an. BerTuhan gak perlu ada aturannya, manusia sejak lahi sudah dibekali dengan naluri dan akan belajar dengan sendirinya. Tuhan dan hanTu, dah ada dalam diri masing2. Pandai dan tolol juga bukan karena beragama A, B, C dan D. Cuma kebanyakan orang menjadi tolol karena Beragama dan tidak belajar ilmu2 yang llain hanya mengimani tanpa otak dipakai. Banyak orang pandai jadi tolol wkwkwkw

    1. Mungkin orang tidak tolol gara2 agama, mungkin memang orangnya yang sudah tolol yang kebetulan aja beragama.
      Namun tolol pun bukan sebuah kesalahan, karena tidak ada orang yang menghendaki terlahir dalam keadaan tolol. Yang penting adalah apakah yang kamu yakini membuat batinmu tenang????
      Klo dengan tidak mempercayai adanya Tuhan membuat batinmu tenang, maka PERTAHANKAN itu……
      Dan sebaliknya bila meyakini adanya Tuhan membuat batinmu tenang maka beruntunglah kamu.

      1. Menurut feeling saya, sebagian besar komentator oposan pak Al Madjid di sini adalah orang Islam, yg peduli dan kritis terhadap bbrp ajaran agamanya yg dianggap tidak sesuai jaman, merendahkan kemanusiaan dan memasukkan karunia Allah terbesar untuk kita berupa akal, logika, nalar dan nurani ke dalam tong sampah. “Mereka” muslim krn mmg terlahir dlm keluarga muslim, spt halnya Bpk.

        Coba baca ulang pelan2 semua pendapat pemilik warung, komentar2 yg sepikiran dgn beliau, dan komentar2 yg sepikiran dengan Bapak. Akan terlihat alur pemikiran “mereka” bahwa yg diperlukan adalah berIslam dgn kustomisasi dan personalisasi tanpa ada suatu pihak yg mengklaim memegang kebenaran mutlak. Dan yg paling penting adalah tdk bisa ada pihak yg boleh melakukan apa saja utk memaksakan kebenaran versi mereka.

        Saya hanya akan menganjurkan Bpk utk terus bertanya dan membiarkan nurani menjawab. Misalnya : setujukah Bpk dgn peraturan membunuh org murtad? Hal ini akan menimbulkan rangkaian pertanyaan : siapa yg berhak memutuskan kemurtadan itu? Siapa yg akan membunuh org murtad tsb? Apakah pembunuh org murtad tsb akan bebas dari hukum?

        Nah, coba Bpk lihat2 di buku fikih, bgmn persoalan remehtemeh bisa dianggap murtad dan kafir oleh fukoha zaman dulu. Musik, menggambar, berdandan, berjenggot dll dll. Dan sy hampir2 tidak percaya bhw ide2 tersebut mmg bisa sampai ke jaman sekarang dan mmg ada pula “pasukan” yg mengawal ide2 aneh tersebut kalau perlu dgn kekerasan. Kalau peraturan tsb diterapkan, bisa ada ratusan pembunuhan setiap hari..

        Jadi, ini bukanlah tentang tidak berTuhan, tidak berAgama spt dlm komentar Bpk utk komentator yg tidak bpk setujui. Bahkan satu tulisan Pak Judhianto tidak setuju dgn Atheisme, krn itu bukanlah fitrah manusia.

        1. Sebelum saya berkomentar lebih Lanjut Boleh Gak saya tau Pak Dodi Percaya Tuhan Gak? Klo percaya, boleh tau gak agamanya Pak Dodi apa? Klo saya sendiri kan Bapak sudah Tau, Saya Muslim. Tapi Klo Bapak Gak percaya Tuhan Alasannya Apa? Trus Menurut Bapak Muslim itu Harus bagaimana dia beragama Islam?

          1. @Al-Madjid ZT: ah penyederhanaan yang berlebihan.

            Kalau mas Madjid muslim, apa pendapat mas Madjid pasti benar tentang Islam? apa anda selevel dengan nabi yang maksum (bebas salah)?

            Kalau pendapat mas Dodi berbeda dengan pendapat anda, anda jangan kebakaran jenggot dengan menanyakan hal yang gak penting: “Muslim atau bukan?”.
            Tunjukkan saja yang salah dari pendapat tersebut, dan informasikan yang benar menurut anda.

            Kalau anda memakai label “Muslim”, tidak ada jaminan sama sekali bahwa pendapat anda benar, anda tidak “maksum”, anda bukan nabi.

            Jadi dewasalah… balas argumen dengan argumen, jangan main label-labelan.

            🙂

          2. Ok, sy sdh tahu Bpk muslim. Sama halnya dengan 16 org anak Punk yg digaruk satpol PP minggu lalu. Juga sama dgn 8 dari 9 PSK yg terjaring malam Minggu kemarin. Di level yg lebih tinggi sama dengan pemuncak partai Islam terbersih yg barusan terbukti korupsi dan doyan gadis SMA. Pd skala yg lebih luas, sama dengan mungkin hampir 98% buruh pabrik, kuli pasar, cleaning service dan berbagai jenis pekerja kasar lainnya. It’s sad, but it’s true..

            See, bukan muslim/tidaknya yg jadi ukuran keberhasilan, pencapaian dan penghargaan umat manusia. Etos kerja, komitmen, intelektualitas, pemikiran terbuka, kesalehan sosial, kebaikan hati, loyalitas, cinta, kreativitas, inovasi, toleransi dan msh banyak lg variabel kualitas manusia yg akan menentukan pencapaian kita.

            Ya, saya muslim dan percaya Tuhan, yg saya yakin Bpk sdh tahu tapi entah kenapa masih pura2 bertanya, seakan2 kalau tidak sependapat dgn Bpk langsung dpt stempel tdk beragama dan tdk percaya Tuhan.

            Bgmn seharusnya muslim menurut saya? Well, tentu saja kalau bisa kita membalikkan angka2 di atas tadi Pak. Kalau bisa umat Islam tidak hanya menang jumlah, tapi juga kualitas. Maunya 98% posisi2 strategis di top level management dan pemilik usaha2 skala nasional dan global adalah umat Islam. Penemu2 teknologi, pembuat software2 yg sangat membantu memudahkan pekerjaan manusia, pekerja2 sosial tingkat dunia kalau bisa juga dikuasai umat Islam.

            Bisakah? Kalau org lain yg menurut Bpk kafir, musyrik dan atheis, yg menurut Bpk kualitasnya di bawah muslim saja bisa, harusnya umat Islam juga bisa. Tp mmg, semuanya itu masih mimpi kalau yg kita bicarakan masih berkisar tentang celana yg harus di atas mata kaki atau boleh tidaknya mengucapkan slmt natal/imlek/waisak kpd saudara sebangsa lain agama. Apalagi kalau kita msh ngomongin pahala yg banyak kalau bisa membunuh tokek dalam sekali pukulan..

          3. @ Mas Judhianto :
            “BENAR” adalah kata yang membutuhkan pembahasan tersendiri. Bisa jadi Mas Judihanto dan saya punya pemahaman yang berbeda tentang kata “benar”. Menurutku kebenaran itu Relatif, tergantung dari perpektif apa yang kita gunakan. Dari berbagai macam perpektif itu, manusia bebas untuk menggunakan perpektif mana dalam menilai kebenaran.
            Nah, Jadi bila Mas Judi bertanya kepada saya “Apakah pendapat saya pasti benar tentang Islam ??
            (Bila saya menggunakan kata “benar” dalam perpektif agama islam yang saya pahami dan yakini)
            Maka jawaban saya adalah :
            W A L L A H U A’L A M, maknanya : Hanya tuhan yang Maha Tahu.
            Seorang Muslim hanya diperintahkan untuk memahami ajaran agamanya (dengan segenap daya upaya dan kemampuannya), dan menjalankan apa yang telah dipahaminya, dan tidak pernah berhenti untuk menggali pemahamannya hingga akhir hayatnya. Di satu sisi, ketika seorang muslim menjalankan salah satu ajaran agamanya, maka tentu dia dalam keadaan “meyakini” bahwa apa yang dia jalankan itu adalah sebuah kebenaran, tapi disisi lain Muslim tidak boleh dan tidak perlu “berkoar2 bahwa pendapat saya tentang islamlah yang paling benar”. Menjadi muslim bukan seperti perlombaan acara “cerdas-Cermat”, berlomba meraih pengakuan dari wasit sebagai “peserta yang memiliki jawaban paling benar”. Muslim diajarkan, dipenghujung usahanya untuk memahami kebenaran, dia mengucapkan WALLAHU A’LAM.
            Oh ya Mas Judhianto, Pastinya saya nggak kebakaran jenggot karena perbedaan pendapat dengan Mas Dodi, gimana toh mau kebakaran jenggot, lha yang duluan berpendapat Mas Judhi dan Mas Dodi trus saya belakangan Masuk dengan pendapat yang berbeda.
            Adapun mengapa saya bertanya Apakah Mas Dodi Muslim atau Bukan mungkin tidak penting bagi Mas Judhi, tapi penting buat saya, alasan sya gini, biasanya seseorang berpendapat tentang sesuatu pasti menggunakan pendekatan/perspektif/standar tertentu, sehingga saya bisa maklum penyebab perbedaan pendapat itu. Nah Salah satu yang biasa digunakan sebagai standar/pendekatan adalah Agama, dan bisa juga bukan Agama, saya juga sempat bertanya kepada Mas Dodi apakah Mas Dodi percaya Tuhan. Makanya diawal2 sanggahan saya, saya sudah memperkenalkan diri sebagai seorang Muslim, untuk memberi signal kepada orang yang saya sanggah bahwa standar argumen saya “tidak akan jauh2” dari apa yang saya yakini, supaya Mas Dodi/Mas Juhianto harap Maklum aja.
            Analoginya mungkin kurang lebih sperti ini :
            Tiba-tiba saya tanpa Ba Bi Bu, tanpa konfirmasi langsung menyanggah Mas Dodi : “Makanya Mas, Klo berkendaraan itu bawa jas Hujan supaya tidak mandi Debu dan Kehujanan”.
            Mas Dodi Jawab : “ Ye siapa juga yang akan kehujanan, saya kan bawa mobil, Lo kira saya naik motor apa?”
            🙂

          4. @Al-Madjid ZT: benar sekali kalau “benar” itu relatif, karena benar itu selalu diukur dari pendekatan/perspektif/standar tertentu.
            Jika mas Madjid menggunakan standar Islam, mas Dodi juga mengatakan Islam maka tentunya gak terlalu jauh bedanya, walaupun selalu ada beda persepsi karena isi kepala tiap orang selalu beda.

            Silakan lanjut… 🙂

      2. Menurut feeling saya, sebagian besar komentator oposan pak Al Madjid di sini adalah orang Islam, yg peduli dan kritis terhadap bbrp ajaran agamanya yg dianggap tidak sesuai jaman, merendahkan kemanusiaan dan memasukkan karunia Allah terbesar untuk kita berupa akal, logika, nalar dan nurani ke dalam tong sampah. “Mereka” muslim krn mmg terlahir dlm keluarga muslim, spt halnya Bpk. “Mereka” tidak “memilih” utk jd muslim, spt juga halnya Bpk.

        Coba baca ulang pelan2 semua pendapat pemilik warung, komentar2 yg sepikiran dgn beliau, dan komentar2 yg sepikiran dengan Bapak. Akan terlihat alur pemikiran “mereka” bahwa yg diperlukan adalah berIslam dgn kustomisasi dan personalisasi tanpa ada suatu pihak yg mengklaim memegang kebenaran mutlak. Dan yg paling penting adalah tdk bisa ada pihak yg boleh melakukan apa saja utk memaksakan kebenaran versi mereka.

        Saya hanya akan menganjurkan Bpk utk terus bertanya dan membiarkan nurani menjawab. Misalnya : setujukah Bpk dgn peraturan membunuh org murtad? Hal ini akan menimbulkan rangkaian pertanyaan : siapa yg berhak memutuskan kemurtadan itu? Siapa yg akan membunuh org murtad tsb? Apakah pembunuh org murtad tsb akan bebas dari hukum?

        Nah, coba Bpk lihat2 di buku fikih, bgmn persoalan remehtemeh bisa dianggap murtad dan kafir oleh fukoha zaman dulu. Musik, menggambar, berdandan, berjenggot dll dll. Dan sy hampir2 tidak percaya bhw ide2 tersebut mmg bisa sampai ke jaman sekarang dan mmg ada pula “pasukan” yg mengawal ide2 aneh tersebut kalau perlu dgn kekerasan. Kalau peraturan tsb diterapkan, bisa ada ratusan pembunuhan setiap hari..

        Jadi, ini bukanlah tentang tidak berTuhan, tidak berAgama spt dlm komentar Bpk utk komentator yg tidak bpk setujui. Bahkan satu tulisan Pak Judhianto tidak setuju dgn Atheisme, krn itu bukanlah fitrah manusia.

      3. – maaf sy posting ulang agar lebih terbaca..

        Ok, sy sdh tahu Bpk muslim. Sama halnya dengan 16 org anak Punk yg digaruk satpol PP minggu lalu. Juga sama dgn 8 dari 9 PSK yg terjaring malam Minggu kemarin. Di level yg lebih tinggi sama dengan pemuncak partai Islam terbersih yg barusan terbukti korupsi dan doyan gadis SMA. Pd skala yg lebih luas, sama dengan mungkin hampir 98% buruh pabrik, kuli pasar, cleaning service dan berbagai jenis pekerja kasar lainnya. It’s sad, but it’s true..

        See, bukan muslim/tidaknya yg jadi ukuran keberhasilan, pencapaian dan penghargaan umat manusia. Etos kerja, komitmen, intelektualitas, pemikiran terbuka, kesalehan sosial, kebaikan hati, loyalitas, cinta, kreativitas, inovasi, toleransi dan msh banyak lg variabel kualitas manusia yg akan menentukan pencapaian kita.

        Ya, saya muslim dan percaya Tuhan, yg saya yakin Bpk sdh tahu tapi entah kenapa masih pura2 bertanya, seakan2 kalau tidak sependapat dgn Bpk langsung dpt stempel tdk beragama dan tdk percaya Tuhan.

        Bgmn seharusnya muslim menurut saya? Well, tentu saja kalau bisa kita membalikkan angka2 di atas tadi Pak. Kalau bisa umat Islam tidak hanya menang jumlah, tapi juga kualitas. Maunya 98% posisi2 strategis di top level management dan pemilik usaha2 skala nasional dan global adalah umat Islam. Penemu2 teknologi, pembuat software2 yg sangat membantu memudahkan pekerjaan manusia, pekerja2 sosial tingkat dunia kalau bisa juga dikuasai umat Islam.

        Bisakah? Kalau org lain yg menurut Bpk kafir, musyrik dan atheis, yg menurut Bpk kualitasnya di bawah muslim saja bisa, harusnya umat Islam juga bisa. Tp mmg, semuanya itu masih mimpi kalau yg kita bicarakan masih berkisar tentang celana yg harus di atas mata kaki atau boleh tidaknya mengucapkan slmt natal/imlek/waisak kpd saudara sebangsa lain agama. Apalagi kalau kita msh ngomongin pahala yg banyak kalau bisa membunuh tokek dalam sekali pukulan..

        1. Saya sependapat dengan mas dodi, masa depan masih panjang dan kita masih membutuhkan sekitarnya, toleransi hormat menghormatim tetap harus dijaga agar tetap dinamis tuhan selalu mencipta perbedaan biar bisa menemukan keindahan dari perbedaan tadi. Kalau bisa tingkatkan kwalitas umat muslim, jangsn suka ngibarkan gendera ng peperangan seperti FPI, dan saya senang juga dengan pendapat mas madjid, termasuk pencetusnya sem memberikan tambahan wawasan.

  8. Saya ingin menyoroti Lakon pewayangan Dewa Rucci, dalam serat pedalangan manapun Dewa Ruci tidak pernah ada, apalagi dalam kisah Mahabaratha, kecuali dalam serat pedalangan Carangan, karena Lakon Dewa Ruci memang sudah terbukti adalah lakon yang di karang oleh Sunan Kali Jaga sendiri ketika masa penyebaran Agama Islam, yang didalamnya dimasukkan intisari dari agama Islam, (hakikat kehidupan manusia), untuk unsur unsur apa saja yang dimasukkan kedalamnya saya masih belum belajar secara penuh, namun yang pasti Dewa Ruci diambil dari ajaran ajaran islam, yang sudah pasti menunjukkan Tuhan yang Esa, dan Dewa Ruci sendiri memiliki lakon sambungan yaitu Begawan , yang mengajarkan ilmu kehidupan, yang juga di buat oleh Sunan Kalijaga sendiri, didalamnya juga diceritakan kemarahan dewa karena ternyata manusia hanya patuh pada kekuatan tunggal yang Esa,

    Sunan kali jaga, dan Wali Sanga yang memiliki nama nama julukan perangkat gamelan, memiliki peran besar dalam menyempurnakan cerita pewayangan yang sudah mengalami berbagai perbaikan sejak di karang dalam karya sastra pertama kali oleh Sri Jayabaya dari Kerajaan kediri, terutama peran dan Fungsi Punakawan, togog dan Bilung dan cerita para dewa, ketika jaman sunan kali jaga Bagong belum ada dalam panakawan. Dari karangan pertama kali Panakawan hanya ada 3, hingga jaman jogja -solo, muncullah bagong yang melengkapi Panakawan.

    dalam Jaman Majapahit, cerita wayang, serat serat pewayangan di peragakan dalam bentuk wayang orang dan boneka, (mirip wayang golek),, dan ketika sunan kali jaga dan Wali sanga bergerak menyebarkan agama islam, maka pagelaran wayang di sempurnakan hingga lahir wayang kulit (ringgit Purwa), dan berbagai wayang lainnya yang variasinya sangat banyak, dimasa Panembahan senopati hingga jogja – solo wayang terus mendapat perbaikan.

    bisa dikatakan masukknya islam juga menjadi penyempurna cerita wayang itu sendiri

    1. @Andriasmocoswidiantoro: benar sekali kalau kisah wayang tidak sama dengan kisah Mahabaratha.

      Pada saat Wali Songo memulai dakwahnya, Mahabaratha dan Ramayana merupakan kisah hiburan yang populer di masyarakat (kalau jaman sekarang mungkin sinetron), sedangkan Kapitayan merupakan kepercayaan yang populer dimasyarakat banyak disamping Hindu dan Budha yang populer di kalangan istana.

      Wali Songo meenggunakan strategi budaya untuk memasukkan Islam di kalangan rakyat dan istana, jadinya mereka merombak dan mengemas ulang kisah yang populer ini dalam tontonan baru yaitu wayang kulit. Tentunya kisah-kisah tersebut dirombak agar sesuai dengan nilai-nilai Islam yang mereka bawa.

      Beberapa rombakan kisah ini adalah:

      • * Mengubah Drupadi yang dalam kisah aslinya adalah istri dari semua Pandawa bersaudara (poliandri), menjadi hanya istri Yudhistira
      • * Mengubah Dorna yang aslinya begawan (ulama) yang bijaksana dan pengabdi negara yang setia menjadi tokoh culas, karena Wali Songo menganggap ulama harus independen dari penguasa
      • * Mengubah tokoh transgender Srikandi menjadi wanita
      • * Memasukkan tokoh tokoh Kapitayan seperti Semar dan Togog sebagai bagian penting dari para satria, di kisah aslinya tidak ada
      • * Menjadikan para dewa kahyangan lebih terlihat manusiawi dengan memberikan silsilah mereka yang bisa dirunut sampai Nabi Idris
      • * Menambahkan banyak sekali cerita tambahan (carangan), yang sarat dengan kandungan filosofis Jawa-Islam

      Dari rombakan ini, cerita wayang menjadi jauh lebih menarik perhatian dibanding cerita aslinya, dan sangat menyukseskan diterimanya Islam yang merupakan “barang asing” di masyarakat baik kalangan istana maupun rakyat.

      Jadi wayang adalah bukti jeniusnya Wali Songo memasukkan Islam ke dalam masyarakat Jawa melalui pendekatan budaya, sangat jauh dengan metode pentungan dan mengkafir-kafirkan yang justru membuat orang menjadi sinis dan antipati pada Islam.

      Untuk lebih lanjut, bisa baca buku Atlas Wali Songo karya Agus Sunyoto.

  9. Salah satu artikel terbaik menurut saya. Untuk tambahan saja, setau saya Hyang adalah Tuhan yang disembah di nusantara sebelum Hindu dan Budha masuk. Pemahaman terhadap Hyang ini pun cukup beragam nusantara bergantung pada faktor kebudayaan lokal dan juga sudut pandang tentang tuhan yang berkembang di situ. Di Bali ada yang namanya Sang Hyang Widhi, inilah kenapa Hindu di Bali menjadi berbeda dengan Hindu yang ada di India. Di Jawa Barat ada deretan pegunungan bernama parahyangan yang artinya adalah tempat berkumpulnya para tuhan/dewa (kalau di mitologi yunani namanya olympus). Dalam salah satu aliran kepercayaan suku dayak ada yang namanya “Sang Hyang Hatala Langit” yang menurut suku dayak adalah Tuhan sekaligus manusia pertama yang ada (nenek moyang mereka). Jejak Hyang di nusantara berada di mana mana. Bahkan kata-kata sembahyang yang ada di peribadatan agama (hindu, islam, kristen) yang ada di Indonesia sebenarnya berasal dari kata sembah-Hyang yang artinya adalah kegiatan menyembah Hyang (walaupun yang disembah adalah dewa lainnya).

Perkaya Tulisan Ini Dengan Pendapat Anda