Semesta Paralel

Semesta paralel?
apa seperti Asgard, semesta asal dari Thor sang Dewa Petir yang mempunyai hukum alam yang berbeda dengan dunia kita?

Adakah itu?

Tulisan ini membahas semesta paralel, namun bukan dalam pengertian seperti dalam film scifi, yang hanya bisa kita jangkau melalui teknologi canggih. Ini adalah tentang berbagai semesta yang mempunyai patokan ruang, waktu dan hukumnya sendiri, namun begitu transparannya, sehingga kita tak sadar saat memasukinya atau meninggalkannya dalam kehidupan sehari-hari kita.

Untuk jelasnya, tuturan saya berikut mungkin bisa membantu.

Dunia Fisik – Semesta Perjuangan

Ini adalah semesta yang disadari secara penuh pada  kebanyakan manusia dewasa. Dalam semesta ini kita menghadapi kebutuhan-kebutuhan nyata yang juga menuntut tindakan nyata kita untuk memenuhinya.

Kita lapar – kita mencari makanan, kita butuh uang – kita bekerja, kita berpapasan dengan harimau lapar – kita pontang-panting menghindarinya. Ini adalah semesta perjuangan, kita tidak berjuang – maka kita tidak dapat memenuhi kebutuhan kita. Saya seterusnya akan akan menyebut dunia fisik yang kita alami ini dengan semesta perjuangan.

Di semesta ini kita bergerak (bekerja) dengan tujuan yang jelas dan dalam jangkauan waktu yang jelas pula.

Kita lapar, maka kita harus bisa mendapatkan makanan dalam waktu paling tidak sehari agar kita tidak lemas kehilangan tenaga.  Kita tak punya uang, maka kita harus bisa mendapatkan uang sebelum kita tak punya apa-apa lagi untuk dimakan. Kita kepergok harimau, maka kita harus secepatnya mencapai tempat persembunyian yang aman atau mendapatkan senjata apapun, sebelum kita menjadi mangsa harimau itu.

Ini adalah semesta yang kejam. Anda lemah – maka anda kalah. Ini adalah dunia ala evolusi Darwinian, yang selamat adalah yang paling fit. Semua tindakan harus bertujuan dan efisien – tindakan tanpa tujuan jelas, hanya memboroskan energi dan memperlemah anda dalam menghadapi tantangan baru yang akan menghampiri anda.

Dan celakanya, tantangan baru tidak akan pernah berhenti muncul, dan kita tak selalu berhasil mengatasinya.

Semesta Yang Lain

Semesta perjuangan sangat melelahkan dan tak ada satupun yang mampu bertahan terus menerus dalam tekanan semesta ini.

Untunglah secara alami, alam menyediakan kita sarana untuk jeda sejenak dari himpitan semesta perjuangan.

Semesta Mimpi

Salah satu sarana alami yang tersedia adalah tidur. Dalam tidur, kita keluar sejenak dari semesta perjuangan alias dunia fisik. Selain menyediakan jeda, tidur yang nyenyak juga merupakan gerbang kita pada semesta paralel yang lain, yaitu semesta mimpi.

Dalam semesta mimpi, berlaku ruang dan waktu yang berbeda dengan yang terdapat dalam semesta perjuangan.

Dalam semesta mimpi anda bisa bertemu dengan kenalan anda yang sudah meninggal, buyut anda, Pangeran Diponegoro atau dinosaurus; yang dalam semesta perjuangan, mereka terpisahkan dalam masa hiwaktu yang berbeda.

Dalam semesta mimpi anda bisa terlempar ke puncak gunung Himalaya, kota Paris atau tempat-tempat lain yang tak pernah anda kunjungi dalam semesta perjuangan.

Saat masuk semesta mimpi, anda bisa merasakan dengan nyata kehadiran diri anda disana.

Bagi Suku Aborigin, kehidupan nyata adalah kehidupan dalam mimpi
Bagi Suku Aborigin, kehidupan nyata adalah kehidupan dalam mimpi

Semesta Permainan

Semesta alami lainnya yang tersedia bagi kita (dan juga mamalia lainnya) adalahsemesta permainan.

Secara alami, semua mamalia harus memasuki masa pelatihan untuk mematangkan kemampuannya sebelum sepenuhnya memasuki semesta perjuangan. Semesta perjuangan adalah semesta berisiko yang tak kenal ampun, gagal dalam semesta ini bisa berarti cedera atau bahkan kehilangan nyawa. Untuk keperluan pelatihan ini, ada semesta permainan yang bisa digunakan untuk melatih peran-peran biologis mereka tanpa risiko yang berarti.

Dalam semesta permainan, anak mamalia bisa berlatih peran berburu, berkelahi, berkonflik, mengasuh anak, membangun keluarga atau hal-hal lain yang mereka amati akan mereka lalui pada kehidupan dewasa mereka. Semuanya tanpa resiko berarti, dan tentunya penuh dengan kegembiraan.

Dalam semesta permainan, tidak ada batas waktu yang ketat, tidak ada target yang harus dipenuhi dengan sempurna. Pada saat berburu di semesta permainan, mereka tidak dibebani target menaklukkan buruan. Pada saat menjadi polisi dan menembak penjahat di semesta permainan, tujuannya bukanlah benar-benar membunuh sang penjahat. Pada saat bermain peran mengasuh anak, mereka tidak dibebani target untuk benar-benar mengasuh anak.

Semuanya hanya untuk mengasah ketrampilan. Anak-anak itu bisa mengulang-ulang hal yang sama, bertukar peran atau berimprovisasi tanpa batasan hingga mereka bosan sendiri.

Saat mereka dewasa, mereka akan memasuki semesta perjuangan dengan segala resikonya. Beberapa mungkin masih akan memasuki semesta permainan sebagai selingan, sebagian lagi benar-benar akan meninggalkannya.

Semesta Manusia Yang Lainnya

Jika semesta perjuangan berakar pada dunia fisik, maka semesta yang lainnya adalah segala sesuatu yang membuat kita mengalami ruang, waktu dan hubungan antar hal yang berbeda dengan yang terjadi di semesta perjuangan.

Permainan sepakbola, pertunjukan film, musik, adat istiadat, keluarga dan agama adalah bermacam-macam semesta yang mampu diciptakan dan dialami manusia.

Dalam sepak bola, ukuran semesta adalah tanah lapang 70 meter kali 100 meter, waktu hanya membentang 2 kali 45 menit.

Dalam pertunjukan film, penghuni semesta adalah para tokoh film tersebut, waktu tidaklah linear – bisa lompat ke belakang saat adegan flashback.

Dalam musik, waktu semesta seolah berhenti saat kita hanyut didalamnya.

Dalam keluarga, penghuni semesta hanyalah orang-orang yang mempunyai pertalian darah langsung atau tidak langsung dengan kita.

Dalam agama, waktu membentang dari saat semesta belum tercipta hingga periode akhirat yang ada setelah semesta fisik hancur, penghuni semesta meliputi juga mahluk-mahluk ghaib yang sama sekali tak bisa kita deteksi di dunia nyata.

Hukum Tiap Semesta Berbeda, Hormatilah Perbedaannya

Saat berada di semesta sepakbola, jangan bertanya: kenapa mereka mesti berebut satu bola? bukankah tiap orang yang disana pasti mampu membeli bola mereka masing-masing?
Saat berada di semesta film, jangan bertanya: kenapa celana Bruce Banner tidak ikut sobek saat ia berubah jadi Hulk?
Saat mendengarkan musik, jangan sibuk bertanya: flute itu atau gitar itu berbunyi dalam frkwensi nada berapa?
Dalam keluarga, jangan bertanya: kenapa kita harus menghormati sepupu kita yang lebih tua, padahal penghasilan kita jauh di atasnya?
Dalam agama, jangan bertanya: kenapa harus menyembah Tuhan dan berharap surga yang tak bisa kita buktikan keberadaannya?

Semesta Film, tak usah bertanya dengan fenomena alam aneh yang ada disana
Semesta Film, tak usah bertanya dengan fenomena alam aneh yang ada disana

Setiap semesta punya konsep ruang, waktu dan hukum yang berbeda-beda. Pernyataan yang wajar dalam satu semesta, bisa jadi tidak relevan bila ditanyakan dalam semesta yang lain.

Semesta Primer dan Semesta Sekunder, Bisakah Saling Tukar?

Secara umum kita hidup terutama dalam semesta perjuangan dan secara berkala memasuki semesta lain untuk refreshing, beristirahat, mencari makna hidup, lari dari kenyataan yang pahit atau berbagai keperluan lain. Setelah keperluan kita dengan semesta lain tercukupi, kita balik dan menghabisakan sebagian waktu kita di semesta perjuangan.

Dalam kondisi yang umum ini kita menggunakan semesta perjuangan sebagai semesta primer, sedangkan semesta lainnya hanyalah semesta sekunder.

Apakah yang primer dan sekunder bisa saling dipertukarkan? tentu bisa! manusia adalah ahli dalam menghasilkan segala macam kemungkinan.

Bagi seorang pemain sepakbola dunia yang dalam masa jayanya, dunia sepak bola adalah semesta primernya. Kehidupan di semesta lainnya (termasuk semesta perjuangan) hanyalah interupsi sesaat dari kehidupannya di semesta sepakbola. Dimasa ketika karirnya berakhir, mungkin sang pemain sepakbola akan menukarkan kembali semesta perjuangan menjadi semesta primernya.

Banyakkah yang berusaha seumur hidupnya menjadikan semesta perjuangan hanyalah semesta sekunder? ada.

Kebanyakan agama mempunyai rentang waktu yang membentang diluar waktu dunia fisik. Manusia dalam semesta agama tidak dibatasi waktu dunia fisik saja, ada masa sebelum dia lahir dan ada masa setelah ia dan waktu dunia berakhir. Masa setelah waktu dunia fisik berakhir adalah akhirat, dan disana fokus kehidupan semesta agama.

Mungkin puisi Sajadah Panjang karya Taufik Ismail yang dinyanyikan oleh Bimbo, bisa memberikan gambaran seseorang yang menjadikan semesta agama sebagai semesta primernya dan semesta perjuangan hanya sebagai semesta sekunder:

Sajadah Panjang

Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini
Diselingi sekedar interupsi

Mencari rezeki mencari ilmu
Mengukur jalanan seharian
Begitu terdengar suara adzan
Kembali tersungkur hamba

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan rukuk
Hamba sujud tak lepas kening hamba
Mengingat Dikau sepenuhnya

Hidup adalah ibadah. Bekerja? itu interupsi
Hidup adalah ibadah. Bekerja? itu interupsi

Seharusnya Hidup di Semesta Mana?

Yang mana yang layak dijadikan semesta primer?

Terserah anda sendiri, pilih saja dimana anda menjadi paling berarti – yang penting jangan menganggu orang lain yang memilih hidup di semesta berbeda dengan anda.

Baca Juga:


5 komentar

    1. @RuslanAskar: ini tentang kemampuan luar biasa manusia untuk hidup dalam dunia (semesta) imajinasi dan saat yang bersamaan menghadapi dunia (semesta) nyata. Problemnya, seringkali orang lupa bahwa yang ada dalam satu semesta hanya berlaku dalam semesta itu saja dan tak mesti berlaku dalam semesta yang lain. Contohnya adalah antara yang anti agama dengan yang ingin meng-agama-kan dunia. Yang pertama memaksakan bahwa karena banyak hal dalam agama tak bisa dibuktikan (yang ghaib) dan tidak sesuai dengan kenyataan (penciptaan alam, kisah para nabi); maka semua agama adalah ngaco dan harus dibuang. Yang kedua yakin agama juga menyangkut kehidupan nyata, sehingga memaksa untuk menggunakan kacamata agama untuk semua hal dalam kehidupan nyata.

Perkaya Tulisan Ini Dengan Pendapat Anda