Nabi Ibrahim, Remake.

Remake Nabi Ibrahim? ingat film Batman yang diremake berkali kali dengan aktor dan setting cerita yang berbeda agar lebih menarik dan sesuai dengan jamannya.

Apakah ini yang terjadi dengan kisah Nabi Ibrahim? Ya.

Nabi Ibrahim dikisahkan lengkap di kitab Perjanjian Lama dan dikisahkan lagi di Qur’an. Kedua kisah ini menyangkut tokoh yang sama, akan tetapi ada perbedaan di rincian kehidupan Ibrahim yang menggambarkan fokus dan kepentingan pembawa cerita ini.

Apa perbedaan kedua kisah ini?

Yahudi dan Kristen: Ibrahim, Bapak Bangsa

Migrasi Keluarga Terah

Dalam Perjanjian Lama, kisah Ibrahim menggambarkan sukses keluarga migran dalam membentuk keluarganya sebagai bangsa dengan identitas baru.

Kisah ini dimulai dengan Terah yang meninggalkan kota Ur di Babilonia dan beniat untuk menetap di tanah Kanaan. Tidak diceritakan alasannya, mungkin hanya untuk mencari peghidupan yang lebih baik. Dalam rombongan ini, ikut Ibrahim anaknya dan Lot anak dari saudara Ibrahim, besertanya ikut istri-istri mereka.

Tanah Kanaan merupakan tujuan yang jauh dari asal mereka. Sampai di kota Haran, keluarga ini berhenti untuk menetap sementara. Akan tetapi kota ini menjadi tempat tinggal terakhir bagi Terah. Di kota ini Terah meninggal pada usia 205 tahun.

Sepeninggal Terah, Allah memerintahkan Ibrahim untuk melanjutkan tujuan migrasi mereka semula, yaitu tanah Kanaan

Jalur migrasi keluarga Terah, yang dilanjutkan Ibrahim
Kisah Perjanjian Lama: migrasi keluarga Terah, yang dilanjutkan Ibrahim

Ibrahim meninggalkan Haran di usia 75 tahun untuk melanjutkan migrasinya bersama Lot, keponakannya dan Sarah, Istrinya.

Sesampai di Kanaan, Ibrahim dan Lot berpisah. Lot memilih menempati lembah Yordan sedangkan Ibrahim di tanah Kanaan di kota Mamre. Di tanah Kanaan ini Ibrahim mengalami banyak peristiwa penting yang diceritakan dalam kitab Perjanjian Lama.

Ibrahim menetap di Kanaan hingga ia meninggal di usia 175 tahun. Ia dikuburkan di dekat kota Mamre di Kanaan.

Problem Rumah Tangga

Sejak meninggalkan Ur, ada hal penting yang menjadi problem bagi rumah tangga Ibrahim dalam kacamata jamannya. Sarah mandul.

Selama perkawinannya dengan Ibrahim, Sarah belum pernah hamil, dan itu merisaukan keduanya yang mengharapkan mempunyai keturunan. Keinginan mempunyai anak ini membuat Sarah memutuskan untuk mengusulkan kepada Ibrahim agar menggauli salah satu budak wanitanya untuk memperoleh anak darinya. Itu setelah mereka menetap 10 tahun di Kanaan, dan Ibrahim sudah berusia 86 tahun. Ibrahim setuju.

Putus asa untuk melahirkan anak sendiri, Sarah menyodorkan budaknya Hagar untuk dibuahi Ibrahim
Putus asa untuk melahirkan anak sendiri, Sarah menyodorkan budaknya Hagar untuk dibuahi Ibrahim

Budak wanita itu Hagar, seorang wanita sehat dari Mesir. Segera setelah digauli Ibrahim, ia hamil.

Hamil dari tuannya merupakan karunia bagi Hagar yang membuatnya menjadi lebih berharga dihadapan keluarga Ibrahim. Ia mengandung anak yang akan menjadi penerus Ibrahim yang dikaguminya.

Dimata Sarah, kehamilan Hagar menjadi masalah baginya. Ia merasa Hagar menjadi besar kepala dan meremehkan dirinya yang tak bisa punya anak.

Sarah mengadukan kesombongan Hagar ini pada Ibrahim. Ibrahim menyerahkan kepada Sarah untuk mengambil tindakan.

Sarah memperlakukan Hagar dengan kejam sampai diluar batas yang bisa ditahannya. Hagar melarikan diri dari rumah, berjalan melewati gurun.

Allah mengutus malaikat untuk membujuk Hagar untuk kembali. Di sebuah mata air dekat padang gurun Sur, malaikat menemuinya.

“Kembalilah, Allah telah mendengar tangismu”, malaikat kemudian menjelaskan bahwa tak lama lagi ia akan melahirkan anak laki-laki yang akan diberi nama Ismail. Ismael akan hidup bagai keledai liar, yang melawan setiap orang dan setiap orang akan melawannya. Ismail akan hidup terpisan dengan semua sanak saudaranya. Hagar luruh dan mau kembali ke Ibrahim dan Sarah.

Disaat Ibrahim berusia 99 tahun, dan Ismail berusia 13 tahun, Allah datang kepada Ibrahim untuk mengabarkan bahwa ia akan mendapatkan anak dari Sarah istrinya. Kabar itu tentu menggembirakan, walau terasa mustahil, karena Sarah sudah tua dan mati haid.

Sarah melahirkan Ishak saat Ibrahim berumur 100 tahun.

Masalah baru muncul.

Suatu hari Sarah melihat Ishak bermain-main dengan Hagar budaknya dan Ismail. Ia tidak senang, ia datang ke Ibrahim dan berkata: “Usirlah Hagar dan Ismael. Mereka tidak berhak atas kekayaanmu. Hanya Ishak yang harus mewarisi semua kekayaanmu”

Ibrahim tidak senang, tapi Allah menyuruhnya menuruti kehendak istrinya. Dengan berat Ibrahim memberi Hagar bekal makanan dan sekantong air minum, ia mengusir budak dan anaknya yang berumur kira-kira 14 tahun. Hagar dan Ismail berangkat ke arah padang gurun Bersyeba.

Saat bekal air habis, Hagar meletakkan Ismail yang lemas dibawah semak, “Aku tak tahan melihat anakku mati”, lalu menangislah ia. Setelah berlalu seratus meter, malaikat berbicara dari langit “Apa yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut. Allah telah mendengar suara anakmu.”

Allah membuat Hagar bisa melihat dengan jelas dan menemukan sebuah sumur. Hagar mengisi kantongnya dengan air, lalu memberikannya pada Ismail.

Hagar dan Ismail menetap di padang gurun Paran terpisah dari Ibrahim. Ismail menjadi seorang pemburu yang mahir.

Sarah meninggal di usia 127 tahun, Ibrahim menikah lagi dengan Ketura dan memperoleh beberapa anak lagi.

Ibrahim meninggal di usia 175 tahun. Ismail dan Ishak menguburkannya di Gua Makhpela yang terletak di ladang sebelah timur Mamre.

Penyembelihan Ishak

Allah butuh menguji kesetiaan Ibrahim.

Pada suatu hari Allah berfirman: “Pergilah ke tanah Moria dengan Ishak, anakmu yang tunggal, yang sangat kaukasihi. Di situ, di sebuah gunung yang akan Kutunjukkan kepadamu, persembahkanlah anakmu sebagai kurban bakaran kepada-Ku.”

Ibrahim patuh. Tanpa memberitahu Ishak tentang tujuannya, ia mengajaknya menuju gunung Moria yang sejauh 3 hari perjalanan. Digunung Moria, Ibrahim dibanti Ishak membangun altar api untuk persembahan korban kepada Allah.

Anaknya berkata: “Mana korbannya?”. “Nanti Allah akan menyiapkannya” kata Ibrahim.

Setelah altar selesai, Ibrahim mengikat Ishak di altar dan bersiap menyembelihnya. “Jangan!”, terdengar suara dari langit.
“Sekarang Aku tahu bahwa engkau hormat dan taat kepada-Ku, karena engkau tidak menolak untuk menyerahkan anakmu yang tunggal itu kepada-Ku.”

Ibrahim melepaskan Ishak, dan menggantinya dengan seekor domba jantan yang tanduknya tersangkut disemak-semak.

Perjanjian Dengan Allah

Salah satu momen terpenting dalam kisah Ibrahim bagi bangsa Yahudi adalah ketika Ibrahim berusia 99 tahun, Allah mengucapkan jani pada Ibrahim sebagai berikut:

“Akulah Allah Yang Mahakuasa. Taatilah Aku dan lakukanlah kehendak-Ku selalu.  Aku akan mengikat perjanjian denganmu dan memberikan kepadamu keturunan yang banyak.”
“Inilah perjanjian yang Kubuat dengan engkau: Aku berjanji bahwa engkau akan menjadi bapak leluhur banyak bangsa. Oleh karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham.  Aku akan memberikan kepadamu banyak anak cucu, dan di antara mereka akan ada yang menjadi raja-raja. Keturunanmu akan begitu banyak, sehingga mereka akan menjadi bangsa-bangsa.  Aku akan memenuhi janji-Ku kepadamu dan kepada keturunanmu, turun-temurun, dan perjanjian itu kekal. Aku akan menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. Aku akan memberikan kepadamu dan kepada keturunanmu, tanah ini, yang sekarang engkau diami sebagai orang asing. Seluruh tanah Kanaan akan menjadi milik anak cucumu untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadi Allah mereka.”
“Engkau pun harus setia kepada perjanjian ini, baik engkau maupun keturunanmu turun-temurun. Engkau dan semua keturunanmu yang laki-laki harus disunat. Mulai dari sekarang engkau harus menyunatkan setiap bayi laki-laki yang berumur delapan hari, termasuk para hamba yang lahir di rumahmu atau yang kaubeli. Sunat itu akan menjadi tanda dari perjanjian antara Aku dan kamu. Setiap orang harus disunat, dan itu akan menjadi tanda lahiriah yang menunjukkan bahwa perjanjian-Ku denganmu itu kekal. Setiap laki-laki yang tidak disunat tidak lagi dianggap anggota umat-Ku karena ia tidak berpegang pada perjanjian itu.”
“Engkau jangan lagi memanggil istrimu Sarai; mulai sekarang namanya Sara. Aku akan memberkatinya dan ia akan melahirkan seorang anak laki-laki yang akan Kuberikan kepadamu. Ya, Aku akan memberkati Sara, dan ia akan menjadi ibu leluhur bangsa-bangsa. Di antara keturunannya akan ada raja-raja.”

Gen 17:1 –16

Ini adalah perjanjian yang kelak akan selalu digunakan bangsa Yahudi untuk menegaskan klaim hak milik mereka pada tanah Kanaan dan bangsa Yahudi sebagai bangsa pilihan.

Islam: Ibrahim, Teladan Iman

Qur’an mempunyai ciri penceritaan yang berbeda dengan kitab-kitab lainnya. Anda tidak akan menemukan kisah yang tersusun secara runtut dan mudah diikuti, kisah dalam Qur’an merupakan cuplikan-cuplikan dari kisah yang dianggap penting – tidak pernah lengkap. Namun dari kisah yang sepotong-potong ini, kita dapat menyusun poin penting kisah Ibrahim sebagai berikut:

Pencarian Tuhan

Dalam tradisi Islam, Terah ayah Ibrahim dikisahkan sebagai seorang pembuat berhala untuk sembahan di kuil. Mereka hidup di masyarakat penyembah berhala. Ibrahim adalah pemuda kritis yang selalu menanyakan kegunaan menyembah berhala-berhala tersebut.

Nabi Ibrahim dibakar penyembah berhala yang marah, pada sebuah sampul buku
Nabi Ibrahim dibakar penyembah berhala yang marah, pada sebuah sampul buku

“Apa berhala itu hidup? apa berhala itu mengabulkan do’a? apa berhala itu yang menciptakan semesta?”, begitu tanya Ibrahim.

Disisi lain, Terah dan masyarakat pada umumnya berkata: “Ini tradisi, ini budaya, ini nilai luhur para leluhur kita. Berpikir itu ada batasnya! Kamu melampaui batas! Kamu sesat!”, mereka menolak sikap kritis Ibrahim.

Dalam kekesalannya pada pikiran beku bapaknya dan masyarakat, Ibrahim berbuat nekat. Ibrahim memasuki kuil, menghancurkan semua berhala dan menyisakan satu yang terbesar.

Dengan reputasinya sebagai pembangkang pada berhala, Ibrahim tentu segera menjadi tertuduh nomor satu. Ia digelandang dan diinterogasi.

“Tanyakan saja pada berhala besar itu… Bila ia hidup, bila ia berkuasa, bila ia mengetahui dan mendengar do’a kalian, pasti ia tahu dan bisa menjawab”, jawab Ibrahim pada para interogator.

Jawaban itu tentu membuat mereka naik pitam, “Bakar Ibrahim!”

Tapi Allah tidak diam, atas perintah-Nya gunung api yang menelan Ibrahim menjadi dingin dan Ibrahim bisa melarikan diri dari para penyembah berhala serta bapaknya.

Ibrahim meninggalkan negeri itu, diajaknya Luth bersamanya.

Perintah Mengorbankan Anak

Dalam suatu mimpi, Ibrahim melihat ia menyembelih anaknya dan ia percaya bahwa itu adalah sebuah perintah.

Ibrahim menyampaikan mimpi itu ke anaknya. “Apa pendapatmu?”, tanya Ibrahim.

“Kerjakanlah; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”, anaknya menjawab.

Keduanya teguh hendak melaksanakan pengurbanan itu, akan tetapi di saat terakhir Allah menurunkan malaikatnya untuk mengganti anak Ibrahim dengan domba yang besar.

Qur’an tidak menyebut nama anak Ibrahim, akan tetapi dari Nabi, umat Islam yakin bahwa itu adalah Ismail.

Kisah ini kelak dirayakan setiap tahun oleh umat Islam melalui ibadah kurban yang diselenggarakan pada hari raya Idul Adha.

Meninggalkan Hajar dan Ismail di Padang Gurun

Kisah ini tidak ada di Qur’an, akan tetapi kisah ini penting bagi umat Islam sebagai landasan salah satu ritual haji, yaitu Sa’i.

Dikisahkan bahwa suatu hari Ibrahim mendapatkan perintah untuk meninggalkan Hajar dan Ismail yang masih bayi di tengah padang pasir. Ibrahim patuh melaksanakan perintah ini.

Ibu dan anak yang masih bayi ini ditinggalkan Ibrahim ditengah gurun hanya dengan bekal sekantung air.

Ditengah bara gurun, bekal air segera habis. Ismail menangis kehausan.

Hajar yang panik, berlarian mengejar air fatamorgana hingga allah membantuNya. Malaikat menciptakan mata air Zam-zam yang muncul di bekas kaki Ismail yang menendang-nendang saat kehausan.

Hajar dan Ismail terselamatkan. Mata air tersebut menjadikan tempat itu ramai sebagai persinggahan para musafir padang pasir.

Tempat itu kemudian tumbuh menjadi kota Mekah yang ramai, Ismail menetap dan beranak-pinak di kota ini dan kelak salah satu keturunannya adalah Nabi Muhammad.

Di kota ini pula Ibrahim dibantu Ismail, kelak akan membangun Ka’bah sebagai rumah Allah di muka bumi.

Kisah Hajar yang panik, kelak akan diabadikan sebagai salah satu rukun ibadah haji, yaitu lari-lari kecil antara bukit Safa dan Marwah, menirukan Hajar yang berlari panik mencari air.

Apa Yang Beda?

Kisah Ibrahim dalam Perjanjian Lama diperkirakan terjadi di sekitar 1900 tahun sebelum Masehi, dan dikisahkan lagi dalam Qur’an yang diwahyukan di sekitar tahun 600 Masehi. Ada beberapa perbedaan penting antara kedua penceritaan kitab suci tersebut, perbedaan tersebut antara lain:

Detil Kisah Yang Berbeda

Perjanjian Lama dan Qur’an bercerita dengan cara yang berbeda untuk kisah Ibrahim, namun dari kedua kitab suci tersebut ada beberapa beda yang bisa kita perhatikan. Perbedaan tersebut antara lain:

  • Konflik Ibrahim dengan ayahnya.
    Dalam Perjanjian Lama, Ibrahim mendampingi Terah (ayahnya) bermigrasi menuju tanah Kanaan. Di kota Haran mereka berhenti dan menetap, setelah Terah meninggal diusia tua (205 tahun), baru Ibrahim melanjutkan perjalanannya bersama Lot. Ia meninggalkan kota Haran saat berusia 75 tahun.
    Dalam Qur’an, Ibrahim berkonfrontasi dengan ayahnya sendiri perihal berhala sembahan ayahnya dan masyarakat umumnya. Ibrahim berpisah dengan ayahnya setelah Ibrahim lolos dari hukuman mati akibat menghancurkan para berhala di kuil. Ibrahim bersama Luth meninggalkan kota dan berpisah dengan ayahnya.
    Kisah berhala dan konflik dengan ayahnya merupakan kisah yang ada hanya di Qur’an.
  • Konflik rumah tangga dan pengusiran Hajar (Hagar).
    Dalam Perjanjian Lama, rumah tangga Ibrahim dan Sarah tidak terlalu harmonis setelah kehadiran Hagar. Puncaknya saat Hajar dan Ismail diusir Sarah karena ia tidak suka melihat mereka bermain bersama Ishak. Selisih usia Ismail dan Ishak, bila dilihat dari kronologi Perjanjian Lama adalah 14 tahun, sehingga paling tidak Ismail berusia 15 tahun saat diusir Sarah ke gurun.
    Dalam tradisi Islam, tidak ada cerita tentang ketidak harmonisan hubungan Ibrahim dengan istrinya. Allah memerintahkan Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail ke gurun sebagai ujian keimanan. Kisah ini dalam Islam lebih dramatis karena Ismail masih bayi saat ditinggalkan digurun bersama ibunya.
  • Pengorbanan anak oleh Ibrahim.
    Dalam Perjanjian Lama, Allah memerintahkan pengorbanan Ishak untuk menguji kepatuhan Ibrahim. Ibrahim melaksanakan perintah ini tanpa memberitahu hal yang sebenarnya pada Ishak.
    Dalam Qur’an, Ibrahim melihat pengorbanan ini dalam mimpinya. Mimpi itu ia mintakan pendapat pada anaknya Ismail. Ismail setelah mendengar mimpi ayahnya, secara sukarela mau dikorbankan untuk menunjukkan ketaatan mereka pada Allah.
  • Perbedaan lokasi penceritaan.
    Dalam Perjanjian Lama, Hagar dan Ismail ketika diusir dari rumah oleh Sarah, berjalan kaki mengembara ke gurun Bersyeba, suatu wilayah di negara Israel sekarang. Kisah mereka berhenti dan akhirnya menemukan mata air, juga terjadi di gurun Bersyeba itu.
    Dalam tradisi Islam, Hajar dan Ismail mengembara di gurun dan berhenti di tempat yang sekarang menjadi sumur Zam-zam. Wilayah ini ada di kota Makkah yang berjarak sekitar 1200 kilometer dari Bersyeba. Di wilayah itu pula Ibrahim dan Ismail membangun Ka’bah yang digunakan sebagai arah sholat umat Islam.

 

Perbedaan lokasi kisah Hajar & Ismail antara Perjanjian Lama dan Qur’an

Mengapa Bisa Beda?

Kisah dalam kitab suci adalah sarana yang dipakai untuk menyampaikan hal yang lebih penting. Demi tujuan ini, seringkali kisah yang sama ditampilkan dengan cara yang berbeda. Perbedaan kepentingan inilah yang membuat perbedaan kisah Ibrahim dalam Perjanjian Lama dan Qur’an. Perbedaan ini adalah:

Yahudi & Kristen: Sumber Legitimasi Geografis dan Ajaran

Dalam Perjanjian Lama, perjanjian Allah dengan Ibrahim adalah momen terpenting kisah ini. Dengan perjanjian ini, mereka menegaskan klaim religius mereka atas tanah Kanaan sebagai tanah yang telah diputuskan Allah sebagai tanah hak milik mereka untuk selamanya. Yahudi juga mengklaim bahwa berdasarkan perjanjian Ibrahim inilah mereka bisa mengatakan bahwa mereka adalah bangsa pilihan di atas semua bangsa di dunia ini.

Dalam agama Kristen, ada perjanjian baru antara Allah dengan Yesus yang membuat agama mereka tidak lagi diperuntukkan hanya untuk bangsa Yahudi, melainkan untuk semua manusia. Akan tetapi perjanjian dengan Ibrahim digunakan untuk menegaskan bahwa Yesus merupakan penggenap ajaran yang dibawa rangkaian para Nabi keturunan Ibrahim.

Islam: Pondasi Tauhid Dan Nabi Muhammad Sebagai Kelanjutan Para Nabi Terdahulu

Dalam Qur’an, Ibrahim digambarkan sebagai tokoh yang bersungguh-sungguh mencari Tuhan dan berhasil menemukannya pada Allah, Tuhan yang Esa.  Ibrahim juga digambarkan sebagai tokoh yang teguh mempertahankan imannya dan mau melakukan apa saja perintah Allah.

Penekanan Ibrahim sebagai seorang pembela iman sejati dapat kita lihat pada fragmen cerita berikut:

  • Demi imannya, Ibrahim berani melawan ayahnya dan masyarakatnya sendiri dengan menghancurkan para berhala. Kisah ini berakhir dengan diselamatkannya Ibrahim atas hukuman bakar melalui suatu mukjizat.
  • Demi imannya, Ibrahim patuh melaksanakan perintah Allah untuk membuang anaknya ke gurun bersama Hajar dan menyembelihnya saat beranjak besar. Dalam kedua peristiwa ini, lagi-lagi Allah turun tangan dengan mukjizatnya untuk menyelamatkan anak  dan istrinya.

Nabi Muhammad dan ajaran Islam lahir di wilayah yang tidak memiliki tradisi kenabian sebelumnya. Masyarakat Arab selama ini hanya mengenal tetangga mereka, bangsa Yahudi yang membanggakan bangsa mereka dan para Nabi yang turun diantara mereka. Jika Muhammad adalah Nabi, dia pasti anomali, karena para nabi hanya turun di bangsa Yahudi, bukan Arab.

Melalui kisah Ibrahim dan Ismail, umat Islam bisa menunjukkan bahwa kenabian Muhammad bukanlah anomali, melainkan kelanjutan dari para nabi bangsa Yahudi yang sudah termasyhur itu.

Dalam Islam, Nabi Muhammad dipercaya sebagai keturunan Ismail, anak Ibrahim yang memang hidup terpisah dari Ishak yang melahirkan bangsa Yahudi dan para nabi samawi. Muhammad bukan orang asing diantara para nabi, melainkan ia juga bagian dari para nabi, karena dalam darah Muhammad mengalir darah Ibrahim, bapak semua nabi yang terkenal itu.

Selain hubungan darah dengan Ibrahim dan Ismail, kepercayaan Islam juga menegaskan kaitan kota Mekah dengan Ibrahim dan Ismail.

Di wilayah Mekahlah, Ibrahim membuang Ismail dan Hajar ibunya.
Di Mekahlah, terletak mata air Zam-Zam yang tercipta dari bekas kaki Ismail yang menendang-nendang kehausan.
Di Mekahlah, terletak Ka’bah, rumah Allah yang dibangun oleh Ibrahim dan Ismail.

Mana Yang Benar?

Asalkan menarik, gak penting lagi mendebat mana yang lebih benar antara Batman Michael Keaton, Val Kilmer atau Christian Bale. Toh semuanya fiktif.

Begitu juga dengan kisah Nabi Ibrahim.

Bila versi Perjanjian Lama bisa meningkatkan keimanan umat Yahudi dan Kristen, maka itu yang cocok dengan mereka.

Bila versi Qur’an bisa meningkatkan keimanan umat Islam, maka itu yang cocok untuk mereka.

Baca Juga:


29 komentar

    1. @Qurious: benar, saat mencari Tuhan, Ibrahim skeptis dan kritis. Sayangnya pemuka agama sekarang memusuhi sikap kritis seperti itu.
      Agen properti yang buruk? he he benar juga. Kenapa jualannya cuma satu? selain tanah Kanaan, mestinya Ia juga bisa janjikan tanah Jawa ke Ken Arok mungkin…

  1. Kalau semuanya FIKTIF…..!!!
    Tentu tidak ..PERLU dijadikan TRADISI KEAGAMAAN yang berlandaskan Keimanan dari Cerita FIKTIF untuk kehidupan sehari hari…!!!

    Tentu TRADISI dari Cerita FIKTIF…adalah TRADISI FIKTIF…..!!! atau Agama FIKTIF…?!?!?

    FAKTA dan FIKTIF…tentu dibedakan dengan TULISAN yang ADA dengan KENYATAAN yang dapat dibuktikan SEKARANG….!!!

    ADA TULISAN…..ada FAKTA Antropologi, Arkeologi dan Teologi….!!! tentu adalah suatu KEBENARAN….!!!
    TIDAK ADA TULISAN….ada FAKTA Antropologi, Arkeologi dan Teologi….!!! tentu adalah MITOS atau SAH sebagai CERITA FIKTIF….!!!

    1. @Terang Dunia: Yang menjadikan dan memelihara tradisi agama adalah para pemeluk agama tersebut. Ribuan tahun agama terpelihara membuktikan bahwa agama tersebut berguna bagi mereka.

      Semua agama adalah hasil proses budaya manusia, kisah-kisah didalamnya hanyalah sarana untuk menyampaikan pesan religius agama tersebut. Tidak penting apakah kisah Ibrahim, banjir Nuh, penciptaan Adam, laut terbelah Musa atau keajaiban Yesus itu nyata atau fiktif — selama itu berguna bagi penyampaian pesan agama, maka itu bisa dimanfaatkan.

      Masalah fiktif atau tidak, itu tidak ada hubungannya dengan memberikan kedamaian dan pegangan hidup bagi para pengamal agama tersebut.

  2. Agama sebagai alat untuk menyampaikan kebaikan, kini makin berkembang ke arah yg makin buruk, karena pemeluknya sudah tidak bisa membedakan antara agama dengan aliran pemikiran bahkan partai yg mengatasnamakan agama, penganutnya beranggapan jika berbeda pendapat sudah keluar dari agama..dan layak dibasmi……iiih sereeem

  3. Semua hanyalah Dongeng belaka untuk menyampaikan pesan2 kebaikan. Kalau matimatian percaya ya monggo saya menghormatinya, tapi kalau saya tidak percaya jangan di musuhi ya ha…ha.. Itu tidak sesuai dengan ajaran agama kalau membenci pada orang yang beda pendapat.

  4. Ada cerita tambahan, hehheee

    Terimakasih pada Kepustakaan Google yang menambah imajinasi. Dihampir sepanjang dan di akhir hidupku, aku mencintai Allah dan selalu bertaqwa kepada-Nya, ini dimulai dengan informasi bahwa planet kita terbentuk 4.600 juta tahun yll, sedangkan proto homonoid yang merupakan pra-manusia/manusia purbakala yang sudah ada semenjak satu juta tahun – 400 juta yll. Penelitian selanjutnya secara akademis tentunya, manusia diperkirakan bermula sejak 44.000 tahun yll, dan mereka sudah dianggap manusia modern (homo sapiens) sekitar 11.000 tahun yll. Mari dibandingkan dengan masyarakat di Gunung Padang Cianjur yang dihebohkan akhir-akhir ini, dimana masyarakat bani jawi sudah berbudaya sejak 25.000 tahun yll, luar biasa bukan, itu memperlihatkan suatu produk peradaban tinggi, dan dapat dikatakan suatu mahakarya arsitektur dari jaman pra-sejarah. Dan rasa bangga nya lagi bahwa ternyata masyarakat Sunda Kuno mempunyai keyakinan sebagai agama sunda wiwitan, disamping suku jawa telah memiliki kepercayaan monotheisme, suatu keyakinan bahwa Allah Yang Maha Kuasa yang dilambangkan dalam bahasa sunda sebagai ‘nu ngersakeun’ dan dikenal sebagai Sang Hyang Keresa, dengan demikian bahwa bani jawi yang melalang buana ke manca negara mengendarai perahu layar seperti terpahat di dinding candi Borobudur, mereka berbekal ajaran monotheisme, dan nantinya akan berintergrasi dengan keyakinan nabi Ibrahim AS.
    Nabi Ibrahim AS yang telah terpapar oleh spiritual istrinya bernama Ken Turah (Kejadian: 1-6). Adalah sekelumit riwayat Keturah dalam teks Yahudi kuno yang berarti kemenyan ataupun wewangian yang dapat digunakan dalam upacara ritual, disisi lain kita teringat bahwa masyakat purba kita yang melalang buana sebagai pelaut ulung keseluruh manca negara seperti terlihat dari pahatan perahu di dinding candi Borobudur itu dalam upaya berniaga menjual kemenyan, kapur barus, emas dan tembaga.
    Disaat beliau menyadari bakal meninggal dunia, pada anaknya Isak dan Ismail diberikan warisan, sedangkan pada anaknya yang berasal dari istri ketiga Ken Turah ini beliau memberikan wasiat yang sangat berharga yaitu suatu serpihan puzzle berbentuk kunci rahasia yaitu pergilah ketimur, gunung, keris, dan alter yang harus dicari untuk mendapatkan asal usul dari ibunya.
    Ken Turah tidak lepas dari nama yang kita kenal di jawa pada Ken Arok si anak bengal dan penjudi dari anak haram seorang brahmana dapat mencapai kedudukan sebagai seorang raja di Tumampel. Dan juga jangan lupa bahwa sejarah nusantara diantaranya dibangun oleh kisah keris Mpu Gandring yang bertuah yang mengandung kutukan telah memakan korban 7 para raja dari kalangan elit Singosari.
    Alkisah sang prabu diinformasikan oleh staf kerajaan Kediri akan kedatangan tamu ‘terhormat’, seorang pandita dari kerajaan Rum yang bernama Sultan Maolana yang mengakuaku sebagai cucu rasul, dikenal dari sastra jawa sebagai Ngali Samsujen. Sebagai orang timur yang beradab budaya luhur maka sang prabu tentunya menerima tamu tersebut dengan penuh kehormatan tinggi. Akan tetapi sebenarnya siapakah Sultan Maolana tersebut. Di dalam kepustakaan google, terungkap bahwa yang dimaksud Rum adalah kekaisaran Seljuk Raya yang dikenal juga sebagai kekaisaran Seljuk Agung adalah imperium Islam Sunni. Tentunya dengan demikian Sultan Maolana diperkirakan berpaham syi’ah yang telah meninggalkan negrinya untuk menghindari dari kejaran kaum sunni, menuju ke arah timur sesuai dengan petunjuk wasiat nabi Ibrahim SA, dan bermaksud sowan, mencari leluhurnya, dan menuju ke sebuah bukit atau gunung yang mempunyai keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan alhamdulilah dia sampai ke daerah Cianjur tempat spiritual yang hebat bani jawi yaitu Gunung Padang.
    Pertemuan dengan sang prabu Joyoboyo tentunya banyak manfaatnya bagi sang sultan Maolana, dan setelah berdiskusi dan saling menimba ilmu, sang sultan pamit diri. Sang prabu dikenal sebagai seorang yang mempunyai daya alter yang tinggi dengan produk ramalan/jangka, yang dikenal dan dapat dibuktikan merupakan bentuk alter Joyoboyo tingkat tinggi.
    Sang Prabu memanggil anak lakinya, diajak sang bapak guna menemaninya ke Gunung Padang yang memerlukan waktu perjalanan selama satu bulan, untuk menemui Ajar Subrata seorang petapa yang tengah menjaga kelestarian agama sunda wiwitan. Dua orang tersebut mempunyai daya linuwih tinggi/alter/ilmu hakikat beradu kesaktian dalam bernubuat, dan dikisahkan Ajar Subrata menghidangkan bermacam hidangan ataukah itu berbagai nubuat, dan dapat dijawab dengan baik oleh sang Prabu. Pada akhirnya sang Prabu mencabut keris dan menikamkan ke sang Ajar Subrata sehingga putranya terkesima bagaimana ayahnya tega membunuh Ajar. Pada akhirnya dikesempatan yang baik di istana raja, sang Prabu menceritakan pada anaknya mengapa sampai melakukan pembunuhan, dan dijelaskan bahwa semua kejadian itu disebabkan atas permintaan Sultan Maolana yang tersinggung kalah debat dengan Ajar Subrata.
    Tercerminlah bahwa bagaimanapun budaja jawi lebih hebat dari budaya arab, dan bagaimana munafiknya sang sultan berbohong dengan menafsirkan suatu kejadian menurut budaya arabnya. Dengan kejadian demikian berbanggalah wahai masyarakat jawi, hargailah budaya sendiri, masa nabi Ibrahim AS yang hidup 3000 tahun yll begitu menghargai budaya bani Jawi dengan memberikan wasiat pada anaknya, dan anehnya ada masyarakat bani jawi yang terkesima dengan mengikuti budaya arab yang dikenal sebagai pembohong/jahiliah hehhehheee. Asumsi cerita di atas ini hanyalah sebagai bentuk keinginan untuk mendapatkan rasa bangga, yang dianyam indah dari arkeologi yang terdapat di Nusantara ini, untuk menambah imajinasi, seperti dianjurkan dan tertuang dalam Qs. Al A’raf:176 yang berbunyi: “……………..maka ceritakanlah kisah-kisah agar mereka berpikir”.

    Wassalam

    H. Bebey

  5. Kalo ini mah gampang bos. Paralelkan dengan sejarah dan arkeologi. Banyak kok bukti arkeologi dan tulisan sejarah yang mendukung. Gitu aja kok repot heheheh.

  6. Kalau ada dua cerita yang saling bertentangan maka kemungkinannya memang hanya ada 2. Keduanya salah atau salah satunya salah. Tidak mungkin dua-duanya benar. Untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah dikembalikan ke catatan sejarah (non Kitap Suci) dan temuan Arkeologi serta sisi logis tidaknya, misalnya apakah masuk akal bisa berjalan kaki sejauh 1200 km tanpa perbekalan.

    1. @Ahmad: sepertinya memang Qur’an menambahkan fiksi baru di kisah Ibrahim versi Bible.

      Akan tetapi apakah otomatis kisah di Bible itu nyata? Sepertinya tidak sesederhana itu. Bagaimana kalau kisah di Bible itu juga fiksi?

      Paling tidak ada beberapa arkeolog yang menemukan berbagai masalah di kisah Ibrahim versi Bible. Mereka bahkan menyimpulkan Ibrahim itu cuma fiksi. http://www.patheos.com/blogs/davidbokovoy/2015/01/were-abraham-isaac-and-jacob-real-people/

  7. Saya sependapat tetapi banyak teolog yang pseudo scholar juga bos. Mereka kadang sudah punya kesimpulan duluan sebelum melakukan penelitian. Adapun penelitian yang dilakukan adalah untuk berusaha memoles atau mendukung klaim kesimpulan yang telah mereka buat sebelumnya. Anda pernah dengan Jesus Seminar. Ini adalah kelompok ahli yang yang menganut kesimpulan dulu baru penelitian, padahal mereka bergelar doktor lho bahkan professor….
    Contoh yang terbaru adalah penemuan makam Yesus di Talpiot, hanya untuk membuat seolah-olah Yesus betul-betul meninggal sama seperti manusia umumnya mereka melakukan berbagai manipulasi termasuk manipulasi Ossuari (semacam batu nisan).

  8. Lanjut saya sudah cek link yang saudara kasih ternyata itu adalah link Agama Mormon (Agama yang lahir di Amerika) yang memang tidak menyukai Kekristenan. Sangat tidak kredibel, boleh kok browsing bagaimana mormon itu.

    Beberapa dukungan arkeologi terhadap kesahihan Bible :
    http://www.biblicalarchaeology.org/

    https://en.wikipedia.org/wiki/Cyrus_Cylinder

    10 Penemuan Arkeologi Alkitab Terbesar 2016 – Kitab Henokh
    https://kitabhenokh.wordpress.com/2016/11/25/10-penemuan-arkeologi-alkitab-terbesar-2016/

    https://kitabhenokh.wordpress.com/2016/12/28/penemuan-ribuan-keping-tablet-ebla-membuktikan-kebenaran-kisah-alkitab/

    https://kitabhenokh.wordpress.com/2016/11/29/arkeologi-alkitab-bukti-arkeologi-kebenaran-alkitab-perjanjian-lama/

    dan masih banyak lagi yang ada di museum, setidaknya ini membuktikan bahwa hari demi hari semakin banyak bukti otentik dari sejarah dan arkeologi yang mendukung peristiwa, lokasi dan waktu yang tercatat dalam Bible.

    1. @Ahmad: punya link dari arkeolog beneran gak? atau publikasi lembaga riset?

      Dari pengalaman, web-web agama itu punya kecenderungan menyedihkan: tukang klaim ilmiah dan melintir fakta. Agama mana saja sama.

  9. Saya paham maksud anda tapi link yang saudara kasih jauh lebih tidak berbobot. Oke untuk menjawab tantangan anda nih saya kasih link yang ga mungkin “berat sebelah”, secara Agama Yahudi ga suka Kristen sama Islam kok.

    https://zwingliusredivivus.wordpress.com/2013/01/09/amos-kloners-essay-on-talpiot/

    Note : Amos Kloner adalah arkeolog kenamaan Israel dari Hebrew University

    http://www.israeltoday.co.il/Topics/tabid/194/catid/38/Default.aspx?topic=more_topics

    Menyusul yang lain bos….:-)

    1. @Ahmad: menyerang akurasi Alkitab itu bukan cuma mengusik Kristen dan Islam, itu juga menghantam Yahudi. Jadi ini bukan tentang Yahudi yang memusuhi Islam dan Kristen.

  10. Nah anda kan minta “Arkeolog beneran” meski saya kira arkeolog yang di http://www.biblicalarchaeology.org/ sudah cukup karena tidaklah mungkin mereka merusak reputasinya untuk berbohong, mereka tidak terafiliasi pada ormas agama. Begitupun Amos Kloner saya kira dia melakukan blunder bagi nama dan reputasinya jika harus berbohong.

    Apakah saya harus mencari Arkeolog Hindu ataukah Arkeolog Ateis misalnya untuk membuktikan kisah-kisah di Alkitab ? Sayang sekali saya belum tahu apakah ada arkeolog India misalnya yang melakukan penelitian di Timur Tengah, setahu saya mereka lebih sibuk melakukan penelitian di negerinya sendiri karena memang India juga kaya akan sejarah di masa lalu.

    1. @Ahmad: kalau berbicara pusat riset arkeologi dunia, kita bisa merujuk kepada beberapa universitas ternama yang kredibilitasnya diakui, misalnya Leiden University, University of Cambridge, Stanford University, Harvard University, University of Michigan dan sebagainya.

  11. menyerang akurasi Alkitab itu bukan cuma mengusik Kristen dan Islam, itu juga menghantam Yahudi

    Justru Yahudi hanya mengakui Torah (Kitab Musa), Injil Perjanjian Baru sama sekali tidak diakui karena menyerang keyakinan mereka. Lantas bagaimana seorang Amos Kloner mau membela peristiwa di Perjanjian Baru ?. Tentu itu berdasarkan sudut pandang ilmiah keahlian beliau meskipun akan berbalik “menyerang keyakinannya” sebagai seorang Yahudi. 🙂

  12. kisah utuh Abraham itu di Torah

    Bagus tolong tunjukkan perbedaan kisah Abraham di Torah dan Alkitab. Karena Torah dan Alkitab sumbernya sama. Bisa dilacak kok….Torah juga bagian dari Alkitab.

  13. oke tak apa bos 🙂 Andakan memunculkan pertanyaan mana yang benar dan saya jawab keduanya bisa salah atau salah satunya yang benar. Lalu diskusi berkembang ke arah arkeologi dan anda menuduh bahwa banyak arkeologi yang memihak.

  14. Dalam Kejadian 16, Ismail lahir ketika Abraham berumur 86 tahun. Sedangkan dalam Kejadian 21, Ishak lahir ketika Abraham berumur 100 tahun. Ini berarti selisih umur antara Ismail dan Ishak adalah 14 tahun.

    Sekarang marilah kita lihat pembahasan berikut ini:
    Menurut catatan Alkitab dalam Kitab Kejadian 21:8-13, setelah menyapih Ishak, yang berarti let say Ismail berusia sekitar 16 tahun, Sarah cemburu dengan Ismail ketika melihat ia bermain bersama Ishak. Kemudian, ia meminta agar Abraham membuang Hagar dan Ismail. Abraham konon merasa tertekan dengan permintaan ini, tetapi Allah meyakinkan Abraham bahwa ia harus mengikuti permintaan Sarah.

    Kisah Alkitab kemudian dilanjutkan dalam Kitab Kejadian berikut ini:
    “Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba. Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak, dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: “Tidak tahan aku melihat anak itu mati.” Sedang ia duduk di situ, menangislah dia dengan suara nyaring. Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: “Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring. Bangunlah, angkatlah anak itu, dan peganglah erat-erat dengan tanganmu, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar.” Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum.” (Kejadian 21:14-19 – DRB 1582 & KJV 1611).

    Dalam kutipan di atas, tersurat perlakuan hagar terhadap ismail yang sudah berumur 16 tahun tapi lebih mirip perlakuan ke dedek bayi sbb :
    #meletakkan Ismail, roti dan sekirbat air di atas bahunya
    #membuang Ismail ke bawah semak-semak (membaringkannya)
    #mengangkat Ismail dari tempat ia terbaring dan memegang erat2 Ismail dengan tangannya.

    Gak usah nabi lah, saya orang biasa aja kalo dibuang dibuang di gurun waktu umur 16 tahun bareng mamah saya pasti saya yang lari2 nyari minum.

    So, jika memang semuanya toh hanya kisah fiktif (menurut anda), saya lebih bisa menikmati cerita dengan detail yang lebih masuk akal.

    1. @Copas.Engineer: dalam versi Islam, Ismail masih berupa bayi. Tentu tak masuk akal jika dinilai dengan kisah versi Kristen.

      Pada akhirnya semua kisah itu logis dan masuk akal jika dinilai menggunakan versinya sendiri. Persis seperti kalau kita menilai berbagai macam versi film Batman.

Perkaya Tulisan Ini Dengan Pendapat Anda