Alam Yang Berlapis-lapis

Ada berapa lapis? ratuusan… (kata iklan sebuah biskuit wafer)
Ada berapa lapis? tujuh lapis langit… (kata ustad)
Bagaimana dan mana lapisan langit itu? itu rahasia Tuhan … (kata ustad, lagi)
Apakah benar langit itu berlapis-lapis? entahlah.

Saya ingin menuliskan juga tentang lapisan-lapisan.

Cake Pelangi. Kita hidup di salah satu lapisan realitas
Cake Pelangi. Kita hidup di salah satu lapisan realitas

Bukan tentang lapisan langit, akan tetapi tentang lapisan dunia materi yang telah ditemukan dalam penjelajahan para ilmuwan.

Apa saja lapisan-lapisan alam itu? dan apa hal penting yang bisa kita temukan dari lapisan-lapisan itu?

Mengupas Lapisan Materi

Bagaimana kita sampai pada lapisan-lapisan itu? hancurkan materi tersebut sampai batas terkecilnya, dan kita akan bisa menguak lapisan materi berikutnya.

Mari kita mulai…

Alam Fisik – Pengurai Mekanis

Kumpulkan semua yang ada dihadapan anda. Meja, kursi, buku, nasi padang, minuman, telpon, televisi, kucing, permen, atau apapun yang bisa anda tangkap dalam pandangan anda.

Siapkan golok, martil, alat pencacah, gergaji, atau segala macam alat mekanis yang bisa digunakan untuk meremukkan, merobek atau menggiling sesuatu.

Mari kita mulai. Hancurkan semuanya, cacah semuanya, giling semuanya sampai sehalus mungkin.
Anda takut capek, rugi, atau didamprat yang punya barang? Lakukan dalam imajinasi anda saja … he.. he…

Dimana batas terkecilnya?
Dengan alat mekanis, semua yang ada disekeliling kita tak bisa dibagi lagi setelah sampai pada satuan molekul. Dari berbagai benda atau mahluk yang anda kumpulkan tadi, kita bisa memperoleh kumpulan molekul air, karbon, bermacam-macam mineral, bermacam-macam protein, asam amino, lemak, amoniak, dan segala macam molekul lainnya.

Setetes air embun atau berton-ton air yang ada di awan, pada dasarnya hanyalah kumpulan molekul air. Jumlahnya saja yang membuatnya berbeda.

Alam Atom – Pengurai Kimia

Sekuat apapun martil atau setajam apapun pisau yang digunakan, molekul tak bisa dipecahkan lagi dengan cara mekanis.

Salah satu cara efektif untuk memecah molekul adalah dengan memanfaatkan reaksi kimia atau penggunaan suhu tinggi. Campur dengan larutan asam , basa, pelarut yang sesuai atau paparkan molekul pada suhu tinggi, maka kita bisa memecah struktur molekul dan menyusun ulang dalam komposisi yang kita kehendaki.

Tabel Periodik Atom, berisi semua atom yang dikenal manusia
Tabel Periodik Atom, berisi semua atom yang dikenal manusia

Dari penguraian dan penyusunan ulang molekul melalui reaksi kimia, ilmuwan bisa mengetahui bahwa bahan penyusun yang tak bisa diuraikan lagi adalah atom. Semua materi di semesta ini, bagaimanapun kompleksnya tersusun dari kombinasi 110 jenis atom yang sudah dikenal ilmuwan. 110 atom ini merupakan penyederhanaan luar biasa batu-bata penyusun alam fisik dalam lapisan ini, bandingkan dengan jutaan molekul yang menjadi batu-bata penyusun alam fisik di lapisan yang lebih tinggi.

Alam Sub Atom – Pengurai Listrik

Segera ketika ilmuwan menemukan jenis-jenis atom, mereka menemukan kesamaan dari semua atom tersebut.

Ketika diurai dengan gaya listrik, semua atom tersebut tersusun dari satu inti atom yang bermuatan listrik positif dan satu atau lebih elektron bermuatan negatif yang mengorbit inti atom tersebut. Secara keseluruhan, atom bermuatan listrik netral, jumlah muatan positif pada inti atom sebanding dengan jumlah seluruh muatan negatif elektron yang mengorbitnya.

Ketika diurai lebih jauh ternyata inti atom tersusun oleh Proton yang menentukan muatan listrik positif atom tersebut. Bersama Proton, didalam inti atom terdapat juga Neutron yang tidak bermuatan listrik. Hanya perbedaan komposisi ketiganya dalam satu atom yang membuat atom berperilaku berbeda.

Jadi dalam alam sub atom, seluruh materi semesta ini tersusun oleh tiga batu bata penyusun lapisan ini yaitu: Proton, Neutron serta Elektron.

Sebuah atom Hidrogen hanyalah sebutir Proton yang dikelilingi sebutir elektron, sebuah atom emas hanyalah 79 butir Proton menggumpal bersama 117 butir Neutron yang dikelilingi oleh 79 Elektron. Kompleksnya jenis-jenis atom hanyalah akibat kombinasi berbeda dari 3 komponen tersebut.

Alam Partikel Elementer – Pemecah Partikel

Apakah partikel sub-atom masih bisa dipecah?

Large hadron Collider di Swis yang berdiameter 27 km. Mesin ini mempercepat partikel hingga mendekati kecepatan cahaya dan menumbukkannya untuk melihat partikel-partikel penyusunnya. Partikel Higgs dibuktikan keberadaannya dengan cara ini.
Large hadron Collider di Swis yang berdiameter 27 km. Mesin ini mempercepat partikel hingga mendekati kecepatan cahaya dan menumbukkannya untuk melihat partikel-partikel penyusunnya. Partikel Higgs dibuktikan keberadaannya dengan cara ini.

Pada tingkat ini, para ilmuwan harus menggunakan mesin pemecah tercanggih, akselerator partikel.

Pada mesin ini, ilmuwan melontarkan partikel sub-atom melalui lintasan medan listrik yang panjang untuk mendapatkan kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Di ujung lintasannya, partikel ini diadu dengan partikel lawan yang melaju dengan kecepatan sama dalam arah berlawanan.

Peristiwa tumbukan ini menghasilkan pelepasan energi yang sangat dahsyat, yang mampu memecahkan partikel-partikel ini ke berbagai batu bata penyusunnya.

Apa yang diperoleh ilmuwan?

Serangkaian partikel elementer yang menyusun semua materi dan energi.

Materi dan Energi? ya..!
Pada tingkat ini ternyata energi tidak lagi dibedakan dengan materi, gaya-gaya yang kita terima selama ini seperti gaya listrik, panas, cahaya atau berat; adalah manifestasi dari reaksi partikel terhadap partikel pembawa energi yang dipancarkan.

Temuan terakhir yang melengkapi jajaran partikel elementer ini adalah partikel Boson Higgs pada tahun 2012. Partikel ini oleh kalangan pers disebut dengan partikel Tuhan, karena begitu sulitnya cara menemukannya. Partikel ini yang bertanggung jawab memberikan massa pada benda, tanpa kandungan partikel ini, sebuah benda tidak akan memiliki massa (dan berarti ukuran berat).

Batu bata penyusun semesta di tingkat Partikel dan Gaya elementer
Batu bata penyusun semesta di tingkat Partikel dan Gaya elementer

Masih Adakah Yang Lebih Elementer?

Sejauh ini partikel elementer adalah partikel paling dasar yang bisa dikonfirmasi keberadaannya melalui uji coba oleh manusia.

Akan tetapi para ilmuwan sudah punya beberapa kandidat teori untuk mengungkap lapisan paling dasar dari semesta ini. Kesemua teori ini sedang bersaing untuk mendapatkan konfirmasi dari berbagai percobaan yang jauh lebih rumit lagi.

Salah satu teori menyatakan bahwa semua ragam partikel elementer tersebut hanyalah manifestasi dari satu partikel tunggal penyusun alam ini. Hanya karena perbedaan kondisi tertentu yang membuat partikel ini mewujud menjadi salah partikel elementer tersebut. Ini adalah Grand-Unified-Theory.

Teori yang lain adalah semesta ini hanyalah sebuah dawai yang bergetar. Perbedaan getaran tersebut yang dipersepsikan sebagai partikel elementer, yang selanjutnya menyusun partikel sub–atom, atom dan kemudian molekul. Ini adalah String-Theory.

Dua teori tersebut sangat absurd, akan tetapi mereka mempunyai landasan perhitungan matematis dan teori yang sangat kuat. Melalui teori-teori ini, beberapa hal yang sangat absurd diramalkan seperti keberadaan dimensi yang tak terdeteksi manusia, semesta pararel, manipulasi waktu, wormhole, blackhole dan sebagainya.

Ilmuwan belum bisa memastikan mana yang benar-benar merupakan lapisan terdalam dunia materi ini, dan kita bisa berharap masih akan banyak kejutan yang bakal kita temukan.

Fakta Menarik Dari Lapisan Materi

Setelah menjelajahi temuan ilmuwan terhadap lapisan-lapisan materi, ada beberapa hal menarik yang kita temukan:

Sifat Supranatural

Ini bukan tentang alam ghaib para dukun, akan tetapi fakta bahwa realitas yang ada di suatu lapis materi akan menjadi sesuatu yang Supranatural – Adi kodrati – Tidak Natural – Ghaib jika dipandang dari realitas di lapis materi yang berada di bawahnya.

Beberapa hal berikut bisa menggambarkan sesuatu yang tidak dikenal di lapisan materi yang lebih bawah:

  • Posisi dan kecepatan
    Ungkapan kursi itu terletak diam di sudut ruang, akan menjadi ungkapan ngawur jika diterapkan pada elektron. Dalam prinsip ketidakpastian Heisenberg, sebuah partikel sub-atom tidak bisa dipastikan posisi dan kecepatannya dalam waktu bersamaan. Ungkapan bahwa elektron sedang berada di “titik ini” dan dengan “kecepatan itu” sebagaimana kita ungkapkan pada sebuah kursi, adalah ungkapan supranatural dalam alam sub-atom.
  • Kepadatan
    Pada sebuah atom, elektron mengorbit inti atom dalam jarak sedemikian jauhnya, sehingga 99% ruang yang ditempati sebuah atom adalah ruang kosong. Martil besi yang pejal berat, kumpulan atom yang mempunyai 99% ruang kosong didalamnya. Padat itu ilusi, itu tidak ada, itu adalah kualitas supranatural di dalam alam atom.
  • Jarak
    Pada skala sub-atom, ada kondisi entanglement yang bisa terjadi pada sepasang partikel. Perubahan pada satu partikel akan mengubah partikel pasangannya seketika, walaupun partikel ini terpisahkan oleh jarak jutaan tahun cahaya. Kondisi ini mengilhami teleportasi ala film Star Trek yang juga sukses dilakukan ilmuwan dalam skala atom. Pada kondisi ini jarak tidak dikenal.
  • Kekosongan
    Dalam mekanika quantum, tidak dikenal kepastian nilai energi suatu ruang. Untuk itu mustahil ada ruang yang benar-benar kosong dengan jumlah energi tepat nol. Karena tak akan pernah ada ruangan dengan jumlah energi tepat nol, yang ada adalah ruangan dengan jumlah energi rata-rata nol. Maka dalam ruang yang kosong, nilai ini berayun dari positif ke negatif dengan rata-rata nol. Implikasinya, pada ruang yang kosong, selalu tercipta sepasang partikel secara spontan dengan energi postif dan negatif yang sesaat kemudian saling memusnahkan. Teori ini mendapatkan bukti dengan terdeteksinya radiasi Hawking yang terjadi di permukaan blackhole. Dalam dunia sub-atom, kekosongan adalah tidak mungkin, itu kualitas adikodrati.

Lapisan Lain?

Apa ada lapisan lain, selain lapisan materi?
Tentu ada.

Rumput hanya bisa muncul pada lapisan kehidupan, lapisan yang berada di atas materi.
Kucing muncul di lapisan yang lebih atas lagi, yaitu lapisan kehidupan hewan.
Diatasnya lagi adalah lapisan kesadaran, dimana terdapat beberapa hewan yang mempunyai kapasitas untuk menyadari bahwa dirinya ada dan kita termasuk ada di dalamnya.

Apakah ada lapisan lain di atas lapisan yang kita tempati?
Tidak tahu.

Sebagaimana tumbuhan menganggap mobilitas binatang dan percakapan manusia sebagai sesuatu yang supranatural (tak natural dalam lapisan mereka), tentu kita sama sekali tidak mempunyai petunjuk bahwa ada lapisan di atas kita.

Karena keterbatasan ini, kita tak akan benar-benar tahu apakah masih ada lapisan di atas lapisan realitas yang kita huni.

Apakah alam ghaib para agamawan, mistikus atau pecinta klenik itu ada?
Kalau berpegang pada yang namanya real adalah yang bisa diuji atau dibuktikan, maka alam ghaib macam itu tentu tidak ada.

Tetapi kalau yang namanya real bisa berpijak pada pengalaman atau keyakinan, maka alam ghaib itu jelas ada.

Sebagai contoh, banyak ustad yang akan dengan fasih menceritakan tentang dunia para jin, alam kubur, alam akhirat walau tak pernah sekalipun mereka pernah mengalaminya dalam pengalaman yang bisa diverifikasikan. Mereka bisa menceritakan dengan detil pertanyaan yang diajukan malaikat di kuburan. Mereka bisa menceritakan pintu surga itu berapa dan apa beda masing-masing. Mereka bisa menceritakan sungai-sungai, buah-buahan dan bidadari di surga. Mereka bisa menceritakan detil siksaan di neraka dan siapa saja yang disana.

Apakah ada buktinya? tidak ada. Selain klaim dari kitab suci dan kesaksian tokoh-tokohnya, semua detil tersebut tidak bisa dibuktikan.

Apakah berarti tidak ada? belum tentu, karena yang belum kita alami tentu bukan berarti tidak ada.

Jadi?
Kalau anda khawatir, silakan pilih diantara banyak keyakinan yang ditawarkan para agamawan, mistikus dan pecinta klenik.

Tapi mana yang benar?
Jangan khawatir, semuanya tak bisa dibuktikan kebenarannya.

Ini masalah keyakinan yang tak perlu dibuktikan, bukan kebenaran yang bisa diuji. Silakan pilih, asal yakin dan bermanfaat bagi hidup anda.


Sumber Luar:

Baca Juga:


12 komentar

  1. Assalamualaikum.

    Boleh dong kita bicara nimbrung suatu lapisan lain yang juga menarik.

    Kalau dipagi hari saat kita bangun, kemudian menghidupkan TV, di Trans 7 maka akan disuguhi tayangan mengenai negeri arab jaman dahulu saat perkembangan kehidupan disana.
    Ulasan mas Budiashari memang hebat, semua berlapiskan kebenaran yang dioleskan dalam kehidupan itu. Dalam kenyataannya, itu film kan pasti ada yang mengarang, dibuatlah skenario berlapis-lapis yang dicuplik dari Hadis maupun yang lain, dikaranglah sedemikian rupa. Jadi kita akan menjadi begitu terkagum-kagum akan kejadian itu, yang berupa lagenda itu. Padahal kita harus ingat bahwa hadis yang kita baca adalah karangan berlapis-lapis dari manusia yang hidup kira-kira 100 sampai 200 tahun setelah nabi meninggal.

    Kedua kejadian itu ‘sejarah yang dibaca di hadis’ dan perkembangan sejarahnya itu, maka dapat diambil benang merahnya sangat jelas bahwa semua lapisan itu, kita melakukan reka yasa, kejadian itu dipoles dengan hal yang baik berlapis-lapis ‘disesuai’ dengan cara berpikir dalam kehidupan kita saat sekarang. Perlu disadari kejadian tersebut terjadi 1.500 tahun yang lalu, jadi sudah berapa lapisan kita buat untuk menjadikan cerita itu begitu menarik, sehingga ujung2nya kita jadi kaget apakah fenomena itu apakah benar telah terjadi ataukah lapisan demi lapisan suatu kebohongan demi kebohongan, sehingga dengan demikian kita harus terus berbohong, dan berbohong lagi untuk supaya cerita itu seolah-olah benar.
    Lain hal nya, suatu kejadian di masyarakat saat ini terekam secara detil dalam suatu alat yang menghasilkan kebenaran 95 % hehhheeeee, seperti korupsi yang terjadi di masyarakat kita ini, kebohongan demi kebohongan terus berjalan sepertinya memang harus terus berbohong kalau perlu katanya….. ‘kalau aku korupsi satu dinar saja, maka aku boleh digantung di pohon asem’ …. wkwkwk walaupun kenyataan nya …hhheehhhee dapat grafitasi dan untuk menjadi ketua suku harus korupsi berramai-ramai, wkwkwk

    Jadi apalagi yang akan kami kagumi, untuk saat ini, huhuuuhhuuuuuuuu

    Wassalam

    H. Bebey

  2. Menurut Guru Agung kami (dan sudah dibuktikan pula oleh puluhan ribu murid murid Beliau) yang sudah mampu membuktikannya, mengatakan bahwa di alam semesta ini hanya terdiri dari 31 alam saja, tidak lebih dan tidak kurang dan Bukan berlapis lapis seperti uraian diatas.
    Namun sayang, karena mereka ini tidak menggunakan tools atau equipments yang bisa dijadikan tolok ukur atau standarisasi, yah jadi sulit untuk di ungkapkan.
    Tetapi kabar baiknya adalah, bapak bisa di beritahu cara dan methode untuk membuktikan sendiri, sehingga bapak akan mampu “melihat” dan mengalami nya sendiri, yang kemudian menjadi pengalaman pribadi untuk membuktikannya.
    Dan caranya inipun mudah saja, tanpa perlu mengeluarkan biaya sepeserpun, tidak dibutuhkan gelar apapun untuk mencapainya, tidak perlu harus mengerti chemistry, tidak perlu harus mengerti quantum physics atau segala macam Bio Engineering bla bla bla..

    Yang dibutuhkan Hanya : kejujuran hati, pikiran yang terbuka (open mind), ketenangan bathin, waktu, konsistensi selama melakukan eksplorasi dan pembimbing yang benar (pembimbing nya pun gratis lho..!).

    Semua Unsur unsur kimia yang bapak uraikan diatas pun sepertinya ruwet, padahal di alam semesta ini, hanya seperti busa busa sabun didalam ember berisi air sabun saja. Tidak lebih dari itu.

    Sesungguhnya Alam semesta ini sederhana (simple) saja, tetapi manusia lah yang menjadikannya (“terlihat seperti ) ruwet (complex/complicated).

    Life is really simple, but we insist on making it complicated. ~Confucius

    1. @Joseph: yang saya ungkap adalah lapisan yang akan kita temui jika kita memakai tolok ukur obyektif, yang bisa dilihat siapa saja tanpa terpengaruh pandangan spiritual-agama.

      Untuk 31 lapis atau berapapun versi spiritualis-agamawan, akan bisa kita temui kalau kita mau menggunakan standard realitas spiritual-agama yang sesuai.

      Saya setuju dengan ungkapan:

      Life is really simple, but we insist on making it complicated. ~ Confucius

      Realitas itu sederhana, yaitu materi yang bisa diukur siapa saja, akan tetapi manusia menciptakan realitas rumit spiritual-agama.

  3. tujuh lapis langit sepertinya sebuah pernyataan. Tetapi menjadikan bingung untuk membuktikan. Kalau berdasarkan keimanan atau kepercayaan sudah selesai dan tidak dipermasalahkan. Persoalannya adalah jika bermaksud membuktikan lapisan-lapisan itu, seolah sudah terkesima dengan pernyataan.
    Logika mengatakan semua bisa dibuktikan, tetapi kenyataan susah membuktikan. Misal: Langit “mungkin” berlapis atau tidak berlapis. Jika berlapis. Apa ukuran-ukuran, standar materi lapisan, atau seberapa tebal lapisan itu. Pasti saat ini, belum ada sebuah alat yang mampu menunjukkan bagaimana lapisan itu. Atau justru sebaliknya, proporsional, dengan pernyataan “langit tidak berlapis”, sampai sekarang juga tidak ada bukti atau alat atau metode atau logika yang menyatakan langit tidak berlapis.
    “Kemungkinan” sama dengan pernyataan dalam Al Qur’an, bahwa langit tidak bertiang, ketika pikiran masyarakat waktu itu menganggap bumi ini datar (perlu bukti juga, adanya anggapan ini). Kenyataannya memang tidak bertiang. Namun bisa dikatakan bertiang juga, dalam bentuk yang lain. Namun penjelasannya, tiang yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah dalam pikiran manusia berupa pilar.
    Seolah pernyataan itu, sebagai sebuah klaim kebenaran tanpa bukti. Namun dalam konteks kepercayaan jadi beda. Dalam kepercayaan atau keimanan yang bisa melakukan Klaim tentu Sesuatu Yang Sudah Tahu (saya tulis besar), karena tidak mungkin dalam waktu tertentu pula manusia mengklaim sudah tahu. Manusia arif mengatakan tidak tahu, atau saya akan cari tahu.
    Maksud saya dalam konteks ilmu pengetahuan, kebenaran premis itu belum terbukti. Namun dalam konteks keimanan sudah final, pembuktian bukan tugas kitab untuk memberikan bukti itu. Meskipun, dalam banyak hal kitab menunjukkan relevansinya dengan kenyataan, dan anehnya bukan dari kalangan penganutnya yang mampu menunjukkan bukti itu. Ini beda dengan sikap apologetik seseorang, namun lebih mendekati bersikap “keraguan yang sistematis”.
    Kebenaran akan datang dari siapapun. Penganut atau bukan. Bila tidak sesuai dengan kitabnya maka akan menjadi ragu, tetapi jika sesuai akan menjadi lebih percaya dengan kitab tersebut.

    1. @Ayakusni: sebenarnya gampang kok.
      Secara umum, jika ada suatu pernyataan, tentu yang pertama kali dituntut menunjukkan buktinya ya tentu yang membuat pernyataan itu sendiri. Gak wajar dong, jika seseorang mengeluarkan pernyataan aneh lalu suruh orang lain untuk membuktikannya.

      Jadi untuk pernyataan langit berlapis dikeluarkan oleh siapa? lalu tanya kepada pembuat pernyataan tersebut, maksudnya apa? buktinya apa?

      Dalam hal ini, langit berlapis itu hanya ada dalam konteks agama. Tentunya para agamawan yang harus tunjukkan maksudnya lapisan itu apa? bagaimana cara ukurnya?

      Selama yang keluarkan pernyataan tak bisa buktikan sendiri pernyataannya, ya wajar kalau pihak lain meragukannya, lha wong yang ngomong gak bisa jelaskan sendiri kok.

      1. @Judhianto: Senang sekali dapat tanggapan. untuk pembuktian, masalah utama adalah sebagai sebuah kitab, yang disusun tidak dialogis. Tentu orang akan menganggap itu klaim sepihak. Menjawab pertanyaan “dikeluarkan oleh siapa?” tentu Kaum agamawan termasuk Nabi-nya yakni yang dianggap pencipta kitab itu, yang bertanggungjawab. Apalagi sampai sekarang belum terbukti sama sekali.
        Berdasarkan pemahaman agama; tentu dengan maksud bahwa itu kekuasaan Penciptanya yang tidak tertandingi, dan punya pengetahuan luas. Persoalannya adalah agamawan sendiri terbatas pengetahuannya, dan Nabi-nya tidak menunjukkan secara kasat mata.
        Agamawan hanya mampu mempercayai, menurut mereka hal tersebut tentu masih barang gaib. Karena kitab itu, diperuntukkan bagi orang yang percaya pada sesuatu “yang gaib” dimana pembuktian-pembuktian, tersingkap sesuai waktu (jaman). Saya kira pembuktian itu, sama dengan membuktikan tuhan itu ada atau tidak. Selama tidak ada perangkatnya pasti tidak terbukti. Perangkat Filsafat, logika, pengetahuan atau ilmu pengetahuan termasuk sains tidak semua agamawan punya. Bahkan sering terkaget-kaget ternyata yang dimaksud dalam kitab, seperti itu. Sampai sekarang pun tidak ada yang bisa membuktikan, termasuk sains, filasafat. Jadi pernyataan itu, bisa mungkin ya tetapi bagi yang menolak juga dalam posisi sama tidak bisa membuktikan juga, apakah langit itu berlapis atau tidak. Jika dalam konteks agama, pasti masih menjadi keyakinan dan tidak ada pembuktian. Kecenderungan pembuktian itu sendiri, tidak dilakukan dengan serius.
        Sebagaimana cukilan Ar-Ra’d ayat 2 ” Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat”, ayat ini terbukti oleh berjalannya waktu. Memang benar, langit tanpa tiang. Pada waktu ayat ini diluncurkan, Agamawan dan Nabi-nya tidak pernah memberikan bukti, langit itu benar-benar tanpa tiang sebagai sebuah sains. Yang kasat mata dapat dibuktikan berkali-kali dengan hasil sama. Langit Lapis Tujuh. yang ada adalah “percaya” & “mengimani”
        Apakah mungkin, langit lapis tujuh sama dengan hal itu.
        Contoh lain : logika agama, sesuatu yang dilarang banyak akibat buruknya (mudharat?). Tentang membuat kerusakan di bumi, tidak dijelaskan “apa saja kerusakan” di bumi. Apakah pencemaran lingkungan itu juga larangan?
        Kemudian kembali ke persoalan langit berlapis. Ukuran-ukuran lapisan langit “mungkin sama” dengan “pernyataan” langit tanpa tiang!!!
        Dalam konteks pengetahuan dan ilmu pengetahuan:

        “Belum bisa membuktikan bukan berarti tidak bisa membuktikan”.

        “Belum bisa menjelaskan, bukan berarti tidak bisa menjelaskan. Atau

        Belum ada kejelasan, bukan berarti tidak bisa dijelaskan”

        Belum ada bukti, bukan berati tidak bisa dibuktikan”

        Saya setuju, langit lapis tujuh ada dalam konteks agama, atau “masih” dalam konteks agama.
        Kemudian tentang kebenaran, kebenaran sains, hampir sama dengan kebenaran agama.
        Tetapi kebenaran ilmu pengetahuan, saya “percaya” tidak sama dengan kebenaran agama.
        Terlalu panjang ya????
        Ayakusni

        1. @Ayakusni: karena pada dasarnya semua kitab suci muncul di era pra-modern, maka wajar jika strukturnya sama dengan karya-karya pra-modern lainnya. Kita akan salah jika berharap kitab suci dapat dipahami sebagaimana kita memahami karya tulis modern yang secara umum terstruktur, punya topik yang jelas, dan logis.

          Jika memaksa memahami kitab suci sebagai sebagai kitab yang mengutip fakta sains, maka mau tak mau orang menjadi pilih-pilih. Cuplik ayat yang kebetulan bisa dicocok-cocokkan dengan fakta dan terus kagum, akan tetapi tidak mau tahu bahwa banyak ayat-ayat yang sama sekali tidak sesuai dengan fakta.

          1. @Judhianto: Pikiran kita “mungkin sama” bahwa kebenaran kitab suci datang sebelum metoda sains lahir. dan pasti dan setuju jika kitab suci, misalnya Al Qr’an dipahami dengan paradigma memahami karya tulis modern. Namun beberapa waktu yang lalu ada penjelasan masuk akal Al Qur’an Topik, jelas, masuk akal dan sitematis. Tentu tidak bisa dijelaskan mendetil dalam media ini, karena keterbatasan ruang.

            Gejala apologetik, pembenaran yang dicocok-cocokan,” pada tahapan dan tataran tertentu” menurut saya masih baik dan cukup menghibur. Namun tidak cukup demikian. Ayat-ayat tidak sesuai fakta pasti banyak, karena tidak atau belum faktual sebagaimana penggunaan “Pemahaman” metode sains atau malah metode ilmiah.

            Lalu bagaimana? Kitab suci memuat banyak topik, terkesan menelan dunia sampai akherat. Kenyataannya begitu!!. Karena kalau gak gitu, maka kitab ini kurang kredibel sebagai petunjuk kehidupan. Makanya kitab tidak semua faktual dalam pendekatan sains yang memerlukan fakta.

            Berbeda dengan Darwin dengan teori Evolusinya. Secara spesific dan metodis ilmiah topiknya spesifik, gak seluas kitab suci. Tetapi menyinggung tentang “Tema Penciptaan” dengan berbagai argumen ilmiah dan tidak menolak dan menerima konsep yang ditemukan Darwin. Sehingga secara apologetik menerima konsep tapi juga ada yang mati-matian menolak. Darwin mampu menunjukkan fakta, meski secara ilmiah juga masih meragukan (skeptisisme sistematis) bahkan dalam ilmu pengetahuan pun, kebenaran lain belum terungkap.

            BTW: dalam topik lain istilah “ndlahom” anda dapat dari mana? karena kata itu terlalu spesifik pada komunitas terbatas dan muncul pada waktu tertentu.
            Ayakusni

  4. Kalo diperhatikan, cuman nyampein tulisan orang lain dengan gaya sendiri.
    Jadi………
    Coba kalo neliti sendiri pasti tambah yakin-NYA

Perkaya Tulisan Ini Dengan Pendapat Anda