Dongeng, Kisah Agama Dan Masa Depannya

Salah satu saat yang menyenangkan di masa saya kecil dulu adalah saat mendengarkan ibu mendongeng untuk saya. Ibu mendongeng untuk membujuk saya agar tidur siang sepulang dari sekolah.

Bermacam dongeng koleksi ibu saya, mulai dari dongeng kancil, legenda rakyat Jawa, hingga kisah para nabi. Sambil duduk di samping tempat tidur atau kadang berbaring menemani saya berbaring, ibu bercerita. Menyenangkan sekali. Saya hapal koleksi dongeng ibu saya, kadang saya memesan dongeng apa yang ingin saya dengarkan.

Kebanyakan dongeng itu tidak tuntas diceritakan. Biasanya saya tertidur sebelum dongeng selesai. Kadang ibu yang tertidur sebelum selesai mendongeng, dan itu berarti saya punya kesempatan menyelinap keluar untuk pergi bermain…

Dongeng, pelajaran yang sangat efektif

Setelah dewasa, ada satu hal yang saya sadari: dongeng ibu saya itu adalah sekolah kedua saya.

Di sekolah saya diajari untuk tidak berbohong (lewat pelajaran agama atau PMP mungkin).

Di rumah, ibu menceritakan anak gembala yang suka menarik perhatian dengan berteriak bahwa ada serigala yang datang mengintai ternaknya, padahal tidak ada. Ketika saat serigala benar-benar datang, teriakan anak gembala tadi tidak lagi diperhatikan orang kampung, akibatnya ternak mereka benar-benar habis dimangsa serigala.

Apa yang saya sadari lagi?

Dalam seminggu, apa yang diajarkan guru sudah menguap, sehingga perlu membuka catatan untuk menghadapi ulangan. Dongeng ibu saya tetap saya ingat jauh lebih lama. Bagi saya, ”jangan bohong” tidak datang dari ajaran guru di sekolah, melainkan dari dongeng ibu saya.

Sekarang saya merasa sangat beruntung bahwa dulu ibu punya banyak dongeng dan mau mendongengkannya untuk saya.

Mengapa dongeng efektif?

Dalam dongeng kita diajak mengamati kisah seorang tokoh dalam dongeng tersebut.

Jika pendongengnya pandai menceritakannya, maka kita akan terhanyut dalam dongeng itu, kita bisa terbawa gembira, sedih, bahagia dan marah selama mengikuti dongeng tersebut. Kita bisa merasa terlibat secara emosional dengan tokoh dongeng itu.

Seorang anak kecil mungkin tergerak untuk memakai sarungnya sebagai “jubah Superman” setelah mendengar dongeng Superman atau membawa pedang mainannya setelah mendengar dongeng pendekar silat.

Pinokio: jangan bohong! hidungmu nanti tumbuh
Pinokio: jangan bohong! hidungmu nanti tumbuh

Satu hal yang terpenting adalah kita melihat konsekwensi “nyata” dari tindakan yang diperbuat tokoh dongeng itu dan menerima sebagai pelajaran penting bagi kita.

Jangan berbohong, nanti akibatnya fatal seperti anak gembala yang ternaknya habis dimakan serigala, atau hidung kita memanjang seperti pinokio.

Jangan “ini” atau jangan “itu” sangat efektif disampaikan lewat dongeng.

Sebagai bandingannya, “jangan bohong” bisa juga diajarkan melalui pelajaran budi pekerti atau agama di sekolah. Dalam pelajaran sekolah, anak diberitahu jangan berbohong, dan bersama itu dipaparkan alasan logis dan mungkin ayat-ayat pendukung mengapa kebohongan harus dihindari. Semuanya dengan rasio dalam standar kebenaran yang baku.

Dalam pelajaran, anak langsung diberitahu dan diajari. Dalam dongeng, anak diajak mengamati dan menarik kesimpulan sendiri.

Dalam pelajaran, aspek kognitif yang digunakan membungkus pesan. Dalam dongeng, aspek emosional dan partisipatif digunakan untuk membungkus pesan yang disajikan kepada anak.

Pelajaran itu menyampaikan pengetahuan, dongeng itu terlibat menerima pengetahuan.

Problematika dongeng

Dongeng akan efektif sebagai penyampai pesan manakala pada pendengarnya faktor “menarik” masih bisa mengalahkan faktor “mengetahui”.

Dongeng fabel (binatang yang berbicara) akan efektif pada anak kecil, saat remaja dan tahu bahwa tak ada binatang yang bisa bicara, fabel tidak lagi efektif sebagai penyampai pesan. Kecuali dengan jalinan cerita spektakuler, kebanyakan remaja sudah tidak tertarik lagi pada cerita fabel.

Dongeng akan efektif jika pendengar memusatkan perhatian pada keseluruhan cerita dan tidak meributkan masalah detil.

Cerita Superman akan menarik kalau kita memusatkan perhatian pada keseluruhan cerita dan tak meributkan kenapa semua orang sedemikian bodohnya untuk tak dapat mengenal bahwa Superman itu Clark Kent hanya karena sebuah kacamata saja.

Astaga! kok gak ada yang tahu kalau Superman itu sama dengan Clark Kent?
Astaga! kok gak ada yang tahu kalau Superman itu sama dengan Clark Kent?

Kisah agama dan dongeng

Penceritaan kisah-kisah dalam agama sebenarnya mengikuti pola penceritaan dongeng.

Pesan untuk mengalahkan kepentingan pribadi dan menegakkan perintah agama seberat apapun itu bisa tangkap dalam keseluruhan kisah Nabi Ibrahim dan Ismail.

Keteguhan hati Ibrahim untuk menyembelih anaknya dan keteguhan hati Ismail menerima nasibnya digambarkan dalam dialog-dialog mereka dalam Qur’an, godaan setan yang menghalangi juga digambarkan dengan menarik. Kita menjadi lega saat malaikat disaat-saat terakhir mengganti Ismail dengan domba.

Pesan yang sama bisa kita tangkap pada kisah Nabi Nuh. Ketika seluruh desa mengolok-olok Nuh karena membuat bahtera di atas bukit dan ramalan mustahilnya tentang azab banjir yang akan diturunkan Allah, Nabi Nuh tetap teguh melaksanakan perintah Allah. Semustahil apapun itu. Kita menjadi lega manakala Allah benar-benar menurunkan banjir yang menenggelamkan para kafir yang menertawakan Nuh.

Agama menyampaikan itu dengan mengajak kita menyaksikan kehidupan para Nabi dan terlibat secara emosional dalam drama mereka. Dengan menyimak banyak kisah dalam kitab suci, kita bisa tahu apa yang penting bagi kita, apa yang perlu kita perjuangkan dan apa yang perlu kita lawan.

Pudarnya kisah agama, pudarnya pesan agama

Seperti remaja yang tak lagi tertarik dongeng fabel, masyarakat masa kini banyak yang tidak lagi tertarik pada kisah para Nabi.

Para pendakwah yang tidak lagi telaten, memotong-motong kisah panjang para Nabi hanya untuk mengambil pesan-pesan pentingnya tidak sadar bahwa kekuatan kisah para Nabi ada pada keseluruhan cerita, dan bukan pada bagian-bagiannya. Ketika kisah dipotong-potong, perhatian bergeser dari keseluruhan cerita kepada detil cerita.

Karena mimpi, Ibrahim menyembelih anaknya
Karena mimpi, Ibrahim menyembelih anaknya

Orang jadi bertanya, kenapa Ibrahim percaya begitu saja pada mimpi dan mau menyembelih anaknya berdasarkan mimpi? apa agama menganjurkan kita percaya begitu saja pada mimpi yang sering tak masuk akal?

Orang jadi bertanya, kenapa Ibrahim melempari batu pada setan yang tidak mengajak berbuat jahat, melainkan mengajak Ibrahim menggunakan nalar untuk menolak perintah tidak masuk akal? apa begitu kita harus bersikap pada orang yang kritis?

Orang jadi bertanya, jika Nuh tidak dapat mengajak semua orang mengikutinya, kenapa Allah dengan mudahnya membunuh semua orang? kenapa kita tidak mempertanyakan metode dakwah Nuh yang tidak efektif? kenapa tidak Nuh saja yang secara ajaib diupgrade kepandaiannya berdakwah daripada membunuh ribuan (atau jutaan) orang karena tidak kompetennya Nuh menyampaikan ajaran?

Orang jadi bertanya, apa benar Nuh berumur 950 tahun sebagaimana dikatakan Qur’an dan Bible? bukankah itu tidak masuk akal dan tidak pernah ada bukti bahwa manusia bisa setua itu?

Orang jadi bertanya, apa benar Sulaiman bisa bicara dengan semut? bukankah bicara itu memerlukan perkembangan otak yang jauh lebih kompleks?

Sebagaimana dongeng, kisah agama hanya efektif bila faktor “menarik” dapat mengalahkan faktor “mengetahui”.

Bagaimana pesan agama bisa diterima, jika penuturnya lupa pada kaidah bercerita yang mengasyikkan dan terlalu berusaha menyampaikan pesan dengan gaya menggurui serta penuh kutipan-kutipan bahasa Arab yang tak dimengerti?

Dongeng modern, perlukah?

Masih perlukah, atau masih adakah dongeng di jaman modern ini?

Masih perlu? tentu masih.

Dongeng terutama berisi pedoman bersikap praktis yang disampaikan dengan cerita yang menarik dan tidak terlalu memusingkan perihal detil teknis atau logika dibaliknya. Kebanyakan orang butuh pedoman praktis, dan tak punya banyak waktu untuk mengurusi segala macam detil .

Contoh berikut mungkin bisa kita gunakan:

Pada masa lalu, masyarakat kita menganggap cinta dan kesetiaan hanyalah sekedar luapan emosi remaja yang tak perlu diperhatikan. Perkawinan sebagai gerbang menjadi dewasa sepenuhnya seharusnya tidak didasari oleh cinta, melainkan oleh kepentingan agama, adat, orang tua dan kepentingan yang lebih besar. Perjodohan oleh orang tua, menjadi istri keempat untuk mendapatkan surga merupakan alasan yang dapat diterima. Cinta dan pilihan pribadi menjadi penting ketika para orang tua kita membaca roman Siti Nurbaya, Dibawah Lindungan Ka’bah atau berbagai roman pada eranya. Untuk generasi berikutnya film-film percintaan remaja menggambarkan betapa pentingnya cinta.

Pada masa kini, perjodohan oleh orang tua menjadi bahan olokan, menjadi istri keempat jadi cibiran walau masih tidak dengan terus terang.

Apa yang mengubah masyarakat? bukan pelajaran sekolah, bukan makalah aktivis feminis. Masyarakat berubah karena ada dongeng-dongeng baru yang disampaikan novel, film dan bahkan lagu percintaan yang disampaikan dengan menarik.

Berbagai macam ide seperti kesetaraan manusia, demokrasi, tidak menyerah pada nasib dan berbagai ide lainnya, lebih banyak masuk kedalam kesadaran masyarakat bukan melalui buku pelajaran atau ceramah menggurui dari pemuka agama, melainkan dari dari berbagai macam dongeng modern yang disampaikan lewat novel, film dan nyanyian yang akrab dengan keseharian mereka.

Selain menyampaikan ide yang terkait langsung dengan kehidupan kita, dongeng juga diperlukan untuk menyampaikan pengetahuan yang tak terkait langsung dengan keseharian kita.

Pengetahuan tentang DNA dan kloning diterima justru tidak lewat pelajaran biologi, melainkan dari film Jurassic Park.

Perjalanan antariksa dan kehidupan diluar bumi dipahami tidak dari laporan NASA, akan tetapi dari film scifi macam Star Trek, Star Wars atau Avatar.

Avatar, dongeng tentang kehidupan di planet lain
Avatar, dongeng tentang kehidupan di planet lain

Semua dongeng modern ini bisa kita terima manakala kita bisa menikmati sebagai cerita yang utuh dan mengabaikan detil-detilnya. Pesan kita tangkap manakala kita tidak ceriwis untuk menanyakan: apa benar itu terjadi? apa detil seperti itu masuk akal? bagaimana alat canggih itu bekerja?

Jadi, perlukah dongeng dan kisah agama?

Jelas perlu.

Tidak semua orang adalah filosof, ilmuwan atau agamawan yang bisa dan butuh mencerna teori-teori atau dalil-dalil. Dalam setiap jaman, mereka hanyalah kaum minoritas. Pembahasan teori atau dalil hanya efektif jika dilakukan dalam forum ilmiah di lembaga sains atau majelis ulama.

Jika ingin menyampaikan ide atau pesan yang bisa diterima masyarakat banyak, para filosof, ilmuwan atau agamawan harus menyerahkannya kepada para pendongeng modern. Para pembuat film, lagu, novel atau bahkan iklan adalah para pendongeng modern kita, merekalah penyampai ajaran baru pada masyarakat awam.

Sikap kita pada dongeng dan kisah agama

Dongeng dan kisah agama masih akan terus diproduksi, dan itu merupakan kekayaan peradaban manusia. Kita akan rugi jika menolak itu sebagai sumber pengetahuan kita.

Jadi, bagaimana kita bersikap terhadap dongeng dan kisah agama?

Santai, relaks, nikmati saja, tak usah terlalu ceriwis pada detil.

Bila perlu dengan semangkuk popcorn dan minuman ringan dihadapan kita, atau… sambil tiduran di tempat tidur.

Jadi teringat mendiang Ibu saya. Terima kasih Ibu…


Baca Juga:


21 komentar

  1. Assalamualaikum.

    Berbahagialah mas yudhi anak dari seorang ibu yang suka meluangkan waktu bercerita bagi anaknya menjelang tidur. Kita lihat hasilnya, luar biasa, anaknya jadi pintar, dan bijak.
    Lain dengan pengalamanku, ibu maupun bapak tidak pernah bercerita itu. Orang tuaku langsung menanamkan budhi-pekerti kehidupan dalam perkembangan dari bayi, anak, dan dewasa. Orang tua sepertinya tidak punya waktu untuk mendongeng karena beliau punya anak banyak, ayah sibuk mencari uang untuk pendidikan, sandang pangan, dan papan walaupun serba sederhana, yang menimbulkan kita merasa risi mengapa ayah tidak mau korupsi, padahal kesempatan banyak sekali.
    Apa jadinya anak anaknya, segala macam dongeng dicari sendirilah; apakah itu dari pengalaman hidup yang diliat, apakah dengan membaca komik, bacaan novel tidak terbeli, melihat budipekerti sang kakak, saudara, maupun masyarakat disekeliling kita.
    Yah semua itu fakta yang dialami, bimbingan Allah SWT merupakan sumber terbentuknya pribadi anak-anaknya sehingga dalam menuju cita-cita itu tersusun rapi, dengan perjuangan tidak kenal putus asa, selalu memanjatkan doa ke ilahirobbi, jadilah kami menjadi orang yang berguna bagi masyarakat.
    Kondisi kami tidak sama dengan kondisi saat kita mendidik anak maupun cucu, dimana kita mulai terpapar dengan silogisme, premis-premis, dan hipotesis. Ini semua mengakibatkan dalam menyingkapi dongeng maupun dongeng agama selalu dihinggapi pertanyaan yang menggelitik, seperti benarkah bulan dapat dibelah dua oleh sabetan pedang. Atau apakah suatu kemenangan perang jaman dulu tidak diikuti perampokan, pemerkosaan, dan perbudakan. Apakah sebagai pemimpin tidak tergiur oleh paha wanita cantik, apalagi perawan. Liat saja saat timor timur ditaklukan, bagaimana cerita dari para pejuang, dan terbukti bahwa masyarakat disana banyak seperti orang suku luar timor.
    Dengan kemajuan iptek, maka pertanyaan yang mengelitik itu ditelusuri melalui arkeologi, maupun catatan sejarah, dan apakah hasilnya. Semua terungkap dengan fakta yang mendekati kejadian sebenarnya, dan diketahui pula bahwa dalam perkembangan sejarah yang beredar itu ternyata telah dipolitisir sedemikian rupa sehingga kedudukan para pemimpinnya tetap terjamin nyaman. Masyarakat tetap diharapkan bodo dengan cara mengadu domba, beranak pinak dengan semua diserahkan tanggung jawab pada Tuhan, bukan pada orang tuanya.
    Sadarlah saudara sebangsa, kita bangsa Indonesia mempunyai 4 pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 45, Bhenika Tunggal Ika, dan NKRI) yang dapat membawa kita lebih sejahtera. Janganlah kita terbuai dengan bujukan budaya luar seperti arab yang mementingkan diri sendiri dan banyak bohong. Hehhheeeeee

    Wassalam

    H. Bebey

    1. @H. Bebey: terima kasih pak.
      Memang kita harus mempunyai wawasan yang luas dan sikap kritis untuk dapat membedakan mana yang bisa kita ambil dari dongeng dan cerita yang kita terima.

  2. Kitab suci bisa jadi kumpulan dongeng, isinya ada yang baik juga ada yang jelek, contoh jelek pembenaran berbohong/taqiya, membunuh orang yg tidak yakin, memerangi orang yg mengkritisi. akibatnya kejujuran, kasih sayang dan sifat tolong menolong menghargai org lain yg ditanamkan org tua menjadi hilang stelah didongengi para ustad, karena dalam dongengnya unsur ancaman lbih ditonjolkan, ironisnya banysk orang yg percaya. Padahal inilah bisnisnya bangsa arab, jual dongeng

    1. @Geloaku: dongeng buruk bisa datang darimana saja, dari orang tua, masyarakat, negara, film, maupun media lainnya.
      Negara mungkin bisa mengatur lewat UU yg melarang hate speech, rating film atau aturan lain, namun yg buruk akan terus ada dan diproduksi.
      Bagi kita sendiri, kuncinya adalah menambah wawasan agar segera tahu mana yang omong kosong. Dan yg penting, tak terlalu menganggap serius segala macam dongeng tersebut.
      Yang pakai kostum Arab jangan melecehkan yang pakai kostum Naruto, toh keduanya sekedar ‘cosplay’.

      1. Hmmm dongeng….sepertinya dalam kitab samawi memang banyak berkusah tentang kisah israilliyah, tapi coba lihat dan saring berapa banyak yg kisah yg real?? Seperti naga pada kitab orang yahudi?? Ada kah? Atau banjir besar yg menenggelamkan dunia menurut bible adakah? Coba kita liat dna yg seperti di jelaskan diatas di film jurassic park ternyata telah dibahad di dalam alquran lebih sekitar 1400 thn yg lalu, bagaimana alquran menjelaskan penciptaan manusia dari plasma nuftah (yg jelas berisi finger print dna jutaan rangkaian) di buahi di dalam rahim yg konstuksinya dibuat untuk hidup pasangan plasma nuftah hingga menjadi bayi…dongeng kah? Hidup terlalu pendek untuk kita apabila sehari2 dalam hidup kita hanya mencari kelemahan2 eksistensi ketuhanan yg jelas2 otak kita tidak mampu menerimanya, jalani hidup apa adanya apapun agamanya itu pilihan, terlalu banyak mengkoreksi eksistensi ketuhanam malah membuat kita terlihat jadi orang yang lebih bodoh padahal kita manusia sudah amat bodoh, seperti kata socrates orang bodoh dilihat dari bicaranya, bila berbicara seakan tau semua, tidak ditanya berbicara dan setelah berbicara lupa atau tidak tahu apa yg dibicarakan, mudah mudahan mas yud bukan termasuk golongan itu…amien…

        1. @Imoenk: anda asbun atau berdasarkan fakta? untuk berbicara dengan fair, mungkin anda bisa tunjukkan:
          * Di ayat mana kitab Yahudi yang menceritakan tentang naga?
          * Di ayat mana Qur’an yang sudah bercerita tentang Jurassic Park atau DNA, dan kenapa sedemikian bodohnya umat Islam yang sudah memegang informasi itu sejak 1400 tahun yang lalu sampai keduluan diungkap saintis barat?

          1. Hahaha….betul mas….sepertinya anda salah membaca, saya tidak bilabg jurasicpark ada dalam alquran, coba baca lagi..yg saya tulis alquran telah membahas tentang kejadian pembuatan manusia, dari nutfah seperti di jelaskan pada alquran ( setetes mani, bukan ber liter2 , bukan secangkir tapi setetes untuk 1 bakal bayi, nutfah, yang di dapat dari sari pati tanah / dalam hal ini makanan yg kita makan, nutfah adalah kumpulan pembawa sifat atau yg disepakati oleh ilmuan sebagai dna) silahkan baca bagian ini, nah sekarang saya mau tanya kitab suci mana di dunia ini yg menjelaskan penciptaan manusia sedetail ini?, saya setuju kalo orang islam saat ini terlalu bodoh sampai 2 lupa untuk menelaah lebih dalam kitab sucinya sendiri hingga kecolongan oleh scintis barat, bukan saalah kitabnya tapi kemalasan orangnya, padahal ajaran islam pertama kali ayat di turunkan adalah ayat yg memerintahkan manusia untuk membaca, saya sedikit mempelajari kitab agama lain, dari semua yg saya pelajari cuma alquran saja yg didalamnya memeritahkan untuk membaca, “iqra” tapi sayang umatnya kurang mengeksploitasi lebih dalam sumber ilmu pengetahuan ini. Untuk masalah naga coba buka talmud mas.

          2. @Imoenk: kalau informasi bahwa proses pembuatan manusia berasal dari setetes mani, rasanya gak perlu baca dari kitab manapun orang sudah tahu dari pengalaman.

            Yang kompeten mengeluarkan pendapat ilmiah tentunya komunitas ilmiah melalui publikasi ilmiah, seperti lembaga riset, jurnal sains, hasil penelitian yang diverifikasikan oleh komunitas sains.
            Yang tidak kompeten mengeluarkan statemen sains adalah organisasi olahraga, lembaga politik, kumpulan pelawak, lembaga agama, majelis taklim atau organisasi diluar sains.

            Mengenai nuftah yang anda artikan sebagai kumpulan pembawa sifat terus anda asosiasikan sebagai DNA, ini pendapat ilmiah yang anda rujuk darimana? apakah yang mengeluarkan kompeten bicara sains?

            Naga ada dalam Talmud? ayat mana tepatnya biar saya juga bisa cari…

  3. imoenk ini merupakan fenomena jamak dalam umat islam…. suka menghubung2kan ayat al-qur’an dgn fakta sains, yg kadang2 terlalu dipaksa2kan utk dihubungkan. dan anehnya sebelum saintis mengeluarkan fakta ilmiah tersebut, ga pula mereka tau bahawa hal tsb ada dalam al-qur’an… miris

    1. Hehehe…. ya ga bisa gitu jugan gan,,, anak jaman sekarang kan kritis. kalo dibilang diam, malah ceriwis. kalo disuruh duduk manis, malah usil. dan kalau dibilang JANGAN TANYA, eh malah terlalu banyak tanya…

      sayangnya Tuhan tidak ditempat ketika menceritakan dongengNya

  4. sy banyak mendengar beberapa orang yang sering menghubung2kan setiap ayat alquran dengan fakta sains, berbagai sebutan juga sering dilontarkan kepada mereka, seperti penganut ilmu cocokologi, pemaksaan antara cerita lampau dengan sains modern.

    hal yang sy fikirkan adalah ketika fakta2 sains yang bermunculan ternyata cocok dengan yang apa dibicarakan alquran walau bahasanya sederhana. memang hanya sebuah kebetulan, kebetulan yang begitu banyak dan terasa cocok untuk di cocok2an. hehe.

    tetapi, ternyata cukup cocok untuk menjadi bahan renungan. anda mau merenungkannya atau minimal sedikit memikirkannya.?

    “Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya.” (2:266)

    “maka mengapa kamu tidak mahu memikirkannya?” (109:16)

    1. @Atep Sudiro: sebuah konsep sains mempunyai struktur logika yang jelas, dan didukung oleh banyak fakta yang menguatkannya.

      Problemnya adalah bila dari 100 fakta yang mendukung suatu konsep sains, ternyata ada satu-dua yang sesuai dengan ‘sesuatu yang bukan sains’, banyak yang dengan serta-merta mengklaim ‘sesuatu yang bukan sains’ itu sesuai dengan sains. Contoh macam ini bisa dilihat di ramalan nostradamus, ramalan ronngowarsito dan juga kitab suci. Dengan kecocokan satu-dua ini mereka mengabaikan sebagian besar klaim-klaim kosong di dalamnya.

      Oh ya ayat di Al-Qur’an yang sesuai dengan sains itu contohnya apa?

      1. banyak kok contohnya mas jud, tp tidak bisa saya jelaskan satu persatu, bukan kapasitas saya, takut nanti saya malah salah menjelaskan, hehe. saya hanya bisa menonton, membaca pertanyaan, mencari jawaban, dan berfikir.

        mungkin bisa dilihat di dalam artikel harun yahya, di situ banyak sekali penjelasan beberapa ayat alquran yang menyinggung masalah sains, tentunya pakai rumus cocokologi, he.he.

        kelemahan alquran memang tidak menguraikan sesuatu secara detail, bahasanya pun sederhana, alquran hanya menyinggung point2nya saja. selanjutnya manusianya yang diajak berfikir, sehingga menemukan kesadaran bahwa semua yang ada, bukan karena kebetulan, tetapi sengaja dicipta untuk manusia.

        1. Problemnya adalah umat Islam yang tidak pede dengan kitabnya, sehingga membutuhkan sains untuk menguatkannya.

          Ini karena sifat agama yang berpijak pada keyakinan dan bukan kenyataan.

          Di era modern yang membutuhkan bukti bukan janji, mau tidak mau keyakinan ini harus didukung dengan kenyataan, atau kalau tidak agama akan jatuh digolongkan sebagai klenik dan omong kosong.

          Ini beda dengan studi sains murni, yang jalan terus tanpa butuh dukungan agama, dan bahkan dalam banyak kasus, agama adalah penghalang ilmu.

          Di kebutuhan ini, tukang cocokologi berperan. Mereka tidak giat melakukan studi sains, melainkan giat meneliti hasil kerja para saintis. Jika ada satu-dua yang kebetulan cocok, mereka akan mengklaim itu dengan bangga – “itu sesuai dengan kitab suci”.

          Saya tidak melihat itu berguna bagi Islam, itu hanya membuktikan Islam (atau agama apapun) sedang mengambil posisi defensif atas gilasan modernitas.

          Kalau ingin dianggap berguna, Islam harus mulai memberi masukan kepada masyarakat modern tentang bagaimana menghadapi problematika modern, seperti korupsi, keadilan, kesetaraan, perubahan struktur keluarga dan lain-lain, bukannya berkutat pada isu-isu gak penting yang tercermin pada perda-perda syariah yang jadi bahan tertawaan.

          1. kelemahannya memang ketika fakta saint justru malah menjadi kiblat para cocokologi, tetapi ketika hal itu malah semakin menguatkan iman, bagi saya tak masalah, hehe.

            yang menjadi masalah adalah umat islam berpuas diri dengan kecocokan itu dan terus berkiblat kepada para saintis. suatu hal yang membunuh kreativitas.

            saya setuju, sudah seharusnya Islam mulai memberi masukan kepada masyarakat modern tentang
            bagaimana menghadapi problematika modern, seperti korupsi, keadilan,
            kesetaraan, perubahan struktur keluarga dan lain-lain. hal itu tentu lebih berguna ketimbang memperdebatkan perkara bidah. 🙂

          2. Agama adalah alat manusia untuk memberi makna hidupnya dan meningkatkan manfaat dirinya bagi dirinya sendiri serta sekelilingnya.
            Manakala tujuan itu tercapai, tak ada masalah dengan cara apapun untuk mencapainya, termasuk cocokologi.

  5. para pemuka 2 agama yg mempengaruhi kaisar untuk membunuh nabi ISA as, para pemuka agama juga yg menentang pendapat bahwa bumi bundar dan pusat tata surya matahari hingga melabeli murtad galileo.dari dulu sampai kini pemuka pemuka agama yg berpikiran sempit dan pragmatis lah yg nggak sadar mengkerdilkan kitab 2 suci mereka………

  6. Luar biasa perspektif anda sampai membuat cerpen yg sangat enak untuk dinikmati, tentu akan menambah perspektif para pembaca…:)

Perkaya Tulisan Ini Dengan Pendapat Anda