Seberapa Pentingkah Manusia?

Pentingkah manusia di dunia ini?

Jika anda tanyakan ke ustad, maka jawabnya: bagi Allah, tak ada ciptaannya yang lebih penting dari manusia.

Allah menciptakan Adam, dalam sebuah lukisan Michelangelo. Tak ada mahluk lain yang diciptakan dengan spesial seperti manusia
Allah menciptakan Adam, dalam sebuah lukisan Michelangelo. Tak ada mahluk lain yang diciptakan dengan spesial seperti manusia

Manusia diciptakan sebagai mahluk paling sempurna, padanya Allah menitipkan amanah sebagai khalifah di muka bumi.

Bersama jin, manusia dinilai hidupnya di dunia, dan kelak akan ada akhirat dimana ia akan menerima hadiah atau hukuman atas apa yang diperbuat di dunia.

Manusia dan jin adalah aktor utama semesta ini, mahluk yang lain hanyalah figuran penggembira yang kehidupannya tak dinilai apa apa oleh Allah.

Bagaimana tinjauan sains atas pentingnya manusia?

Banyak cara untuk menilai, tapi saya tertarik untuk memakai waktu keberadaan manusia di semesta dan pengaruh manusia di semesta ini.

Detik Yang Bisa Dilupakan

Saya mengutip Carl Sagan dalam buku Dragons Of Eden, yang menghitung keberadaan manusia dibandingkan dengan umur semesta.

Jika 14 milyar tahun usia semesta dapat dimampatkan dalam hitungan satu tahun, maka berikut ini adalah momen-momen penting yang bisa diketahui manusia.

Tanggal Sebelum Desember

Tanggal Peristiwa Penting Semesta
1 Januari Big bang – awal semesta yang kita diami
1 Mei Galaksi Bimasakti terbentuk
9 September Tatasurya terbentuk
14 September Bumi terbentuk
25 September Perkiraan mahluk hidup pertama muncul di Bumi
2 Oktober Usia batu tertua yang bisa ditemukan
9 Oktober Fosil tertua yang bisa ditemukan (bakteri dan ganggang biru-hijau)
1 November Perkembang biakan secara seksual diperkirakan mulai muncul pada mikroorganisme
12 November Fosil tertua untuk tanaman yang berfotosintesis
15 November Munculnya Eukaryotes (sel yang dilengkapi inti sel)

Tanggal Di Bulan Desember

1 Desember Atmosfir Bumi mulai terisi dengan Oksigen melimpah
16 Desember Cacing pertama muncul
17 Desember Kemunculan berbagai macam binatang tak bertulang belakang
18 Desember Plankton mengisi lautan, Trilobites berkembang.
19 Desember Ikan sebagai binatang bertulang belakang pertama kali muncul
20 Desember Tanaman dengan pembuluh muncul, tanaman mulai menguasai daratan
21 Desember Serangga muncul dan menguasai daratan
22 Desember Amfibi dan serangga terbang mulai muncul
23 Desember Pohon besar dan binatang reptil mulai muncul
24 Desember Dinosaurus pertama
26 Desember Mamalia pertama muncul
27 Desember Burung muncul
28 Desember Dinosaurus punah, tanaman dengan bunga muncul
29 Desember Primata dan mamalia laut muncul
30 Desember Otak depan primata mulai berkembang, mamalia besar muncul, hominid mulai ada

Detik-detik Di Tanggal 31 Desember

13:30 Muncul Proconsul dan Ramapithecus yang merupakan nenek moyang Kera dan Manusia
22:30 Manusia pertama
23:00 Alat dari batu digunakan secara luas
23:46 Manusia Peking bisa membuat dan memanfaatkan api
23:56 Jaman es terakhir
23:58 Manusia mencapai Australia dengan melintasi laut
23:59 Manusia mulai membuat lukisan di gua-gua
23:59:20 Manusia mulai bertani
23:59:35 Era Neolitik, kota mulai terbentuk
23:59:50 Dinasti pertama di Mesir, Sumeria dan Ebla (sekitar Syria sekarang). Pengamatan bintang bermula
23:59:51 Penemuan tulisan. Kerajaan Akkadian
23:59:52 Hammurabi merumuskan hukum tertulis di Babylonia; Kerajaan Mesir Tengah berdiri
23:59:53 Pengolahan logam perungu. Peradaban Mycenaean. Perang Troya. Peradaban Olmec. Kompas pertama
23:59:54 Pengolahan besi. Kerajaan Assyrian, Kerajaan Israel, bangsa Phoenicia mendirikan kota Cathage
23:59:55 Kerajaan Asokan di India, Dinasti Chi’in di China, Kerajaan Periclean Athena, Kelahiran Buddha
23:59:56 Geometri Euclides, Fisika Archimedes, Astronomi Ptolemaic, Imperium Romawi, Kelahiran Yesus
23:59:57 India menemukan angka nol dan bilangan desimal, Runtuhnya Romawi, Peradaban Islam muncul
23:59:58 Peradaban Maya, Dinasti Sung di Cina, Imperium Byzantium, Serbuan Mongol, Perang Salib
23:59:59 Renaissance di Eropa, Penjelajahan dunia oleh Eropa dan Dinasti Ming, metode eksperimen sains dimulai
24:00 Ledakan ilmu dan teknologi, peradaban global, perang dunia, penjelajahan antariksa, pencarian planet dan kehidupan luar angkasa

Jika dalam waktu yang dimampatkan alam semesta sudah berusia satu tahun, maka manusia hanyalah anak yang baru muncul di menit-menit terakhir menjelang pergantian tahun.

Pasir Tak Berarti Di Gurun Semesta

Manusia memang baru tapi bukankah manusia terbukti bisa menjadi penguasa planet bumi ini?

Benar, secara de-facto manusia memang penguasa bumi, akan tetapi bumi hanyalah debu di semesta ini.

Galaksi Andromeda, galaksi tetangga terdekat kita. ada milyaran bintang disana, milyaran planet juga.
Galaksi Andromeda, galaksi tetangga terdekat kita. ada milyaran bintang disana, milyaran planet juga.

Bumi hanyalah satu diantara 8 planet yang mengitari matahari. Matahari hanyalah satu diantara sekitar 300 milyar bintang di galaksi Bimasakti. Galaksi Bimasakti sendiri hanyalah satu diantara 200 milyar galaksi yang bisa dilihat teleskop.

Jadi dilihat dari skala semesta, jika semesta adalah padang pasir yang luas, maka manusia hanyalah penguasa sebutir pasir di dalamnya.

Jika suatu saat manusia menghancurkan bumi lewat perang nuklir atau kerusakan lingkungan yang parah, ulah manusia ini tak ada artinya bagi semesta. Tatasurya tetap ada, bintang terdekat kita Alpha Centauri yang berjarak 4 tahun cahaya tak terpengaruh apa-apa, apalagi galaksi Bimasakti dan keseluruhan semesta.

Jadi, Pentingkah Manusia Di Dunia?

Terserah anda…

Jika tak ingin besar kepala atau bahkan merasa tak berarti, pilih realitas yang telah diungkapkan sains.

Jika ingin merasa berarti, penting dan mengemban tanggung jawab memelihara alam, pilih realitas yang telah disodorkan agama.


Bacaan:

Baca Juga:


23 komentar

  1. mungkin (cmiw)…. karena “you are is what you think”. jika manusia mempelajari agama, maka tuhanlah yang paling penting. jika manusia mempelajari sains, maka sains lah yang paling penting. menurutku, “take what you need”

    1. @Qurious: “take what you need” saya setuju sekali.

      Hidup ini milik kita, yang menjalani kita, yang bahagia dan sedih adalah kita, maka jadikan kita raja dan realitas hanya alat bantu, yang kalau menjengkelkan bisa kita abaikan.

      Terima kasih.

  2. Assalamualaiku.

    “Pasir Tak Berarti Di Gurun Semesta”
    Manusia memang baru tapi bukankah manusia terbukti bisa menjadi penguasa planet bumi ini?

    Luar biasa dalam mengungkapkan alam secuil semesta ini, dikatakan bahwa planet kita hanyalah sesuatu pasir yang tidak berarti di gunung semesta, dan selanjutnya apalah artinya kita manusia ini.
    Kalau ada manusia yang merasa dirinya mempunyai Allah semesta itu, itu sama saja artinya jumawa yang tolol, yang mencoba membohongi kita.
    Jadi kalau mengacu pada informasi yang obyektif tadi, maka mungkin yang dimaksud Allahnya yang sering di sebutsebut para agamawan itu adalah Allahnya yang menguasai bumi to’, sedangkan Allah yang menguasai alam semesta itu belum mampu dibayangkan.
    Untuk agama jahudi mungkin Allahnya nabi Musa, untuk kristen Allahnya nabi Isa, dan untuk islam Allahnya nabi Muhammad. Ada benang merah yang tersambung, sedangkan dengan agama hindu dan budha ada benang merahnya tersirat dari nabi Ibrahim yang diduga berasal dari india.
    Engga masalah, yang penting apakah manusia bisa rukun tidak. Sedangkan apa yang terjadi saat ini adalah kerukunan yang kacau beliau, yahh karena pengertian Allahnya kacau sihhh.
    Nahh selanjutnya karena Allahnya yang diutarakan itu tidak sesuai lagi dengan jaman sekarang, maka maaf bahwa Allah ku dengan ada informasi yang disampaikan oleh nabiku itu yaitu berbeda jauh, dengan kata lain yahh sesuai dengan hati nurani aku lah.
    Seandainya ada orang yang mengklaim sudah menyatu dengan Allah, itu artinya menyatu dengan Allahnya bumi yang sebenarnya tentunya tidak mungkin bersatu, jadi yang mungkin bersatu adalah Allah yang kita kenal sebagai GURU MURSYID. Kalau demikian adanya maka premis yang diutarakan di atas itu akan lebih cocok dengan hipotesis ini. Hehheehhe

    Kesimpulannya adalah wahai pemuka bermacam agama yang ada di muka bumi lupakan semua ketidak sepahaman yang ada, marilah kita menghargai Allah Bumi yang sama ini, yang diwujudkan kedalam agama masing2, dalam kebebasan bagi insani dalam mempercayai guru mursyid NYA itu, dan diharapkan dengan kita punya 4 pilar kenegaraan itu (UUD 45, Pancasila, Bhenika Tunggal Ika, dan NKRI) diharapka kita maju kedepan dalam mencapai kesejahteraan masyarakat sesuai dengan tingkat kecerdasan yang telah dicapai masingmasing. Seperti apa yang kita saksikan dan rasakan saat ini, kita akan mencapai tingkat lebih sejahtera apabila kita secara sadar ataupun disadarkan untuk ber-keluarga berencana (BKKBN). wkwkwkwkwkkkkk

    Wassalam

    H. Bebey

  3. Mas Yudhi maaf lahir batin, saya pilih sain aj, biar gak sombong dan gak gumunan. Orang yg pilih agama sombongnya minta ampun, bahkan mereka merasa sudah diijinkan alloh terusk membunuhi manusiia lain yg tidak sepaham. Sering kita dengar “atas ijin Alloh” lalu ngobrak abrik tempat ibadah agama lain, ngobrak abrik orang cari nafkah. Kalo gitu Alloh mereka adalah Alloh Sang maha sadis n jahat.

    1. @Geloaku: mohon maaf lahir batin juga.

      Salut untuk pilihannya, walaupun tidak sepenuhnya tepat kalau agama bertanggung jawab penuh atas problem yg disebut.

      Fasisme agama seperti itu sepertinya adalah perkawinan kesenjangan sosial, pemerintah yg tidak efektif dan cara beragama yg tidak kritis.

      Terima kasih

      1. adakah cara beragama yang kritis pak Judhi? apakah kita bisa meng-kritisi agama dan kitab suci yang notabene kalimat yang datang dari Tuhan? bukankah memang tidak ada dialog, yang ada adalah hanyalah monolog. jika ada yang mempertanyakan, siap2 saja dengan cap yang bakal diterima dari umat beragama yang katanya sangat religius. dan rasanya di negara kita ini budaya “berpikir kritis” belum bisa diterima. atau jangan2 Tuhan adalah yang maha demokratis? ah.. entahlah

        1. @Qurious: kitab suci itu seperti diktat kuliahan.
          Saat hadapi dunia nyata, kita harus berimprovisasi. Kitab itu memberi kerangka dasar kita, akan tetapi pada saatnya kita harus berani menemukan cara kita sendiri, bila perlu tabrak semua prosedur untuk rumuskan prosedur yang lebih baik berdasarkan pengalaman praktis kita.

          Tuhan demokratis? Dia hidup di kepala kita.
          Kalau kita demokratis, Tuhan itu demokratis.
          Kalau kita tiran, Tuhan itu tiran.

  4. Tuhan hidup di kepala kita, atau yg lebih populer Tuhan tergantung perkiraan mahlukNya.
    Alkisah nabi Musa yg ditegur Tuhan hanya karena bersikap keras terhadap pengembala yang bersusah payah akan membelikan alas kaki buat Tuhan.(jangan tanya sumbernya, karena sy cuma mengingat pernah mendengarkan kisah ini, sy hanya berusaha menarik benang merah dari kalimat diatas)
    Ternyata Tuhan begitu toleran dengan kemampuan pemahaman jenis apapun.

    Bumi hanyalah sebutir pasir di alam semesta, bagi yg beragama pengetahuan ini bisa dibuat bahan perenungan, Kalau Tuhan tidak menjadi besar dengan pujian dan dalam bentuk ketakwaan apapun dari kita, dengan segala kemampuannya mencipta dan mengatur alam semesta.

    Saya bisa maklum jika ada ilmuan yg sikapnya menafikan agama, saya merasa senang jika ada pemeluk agama yang berlapang dada terhadap ilmu pengetahuan.

    Ilmuan yg beragama….woow indahnya.

    1. @Dizal: Tuhan memperkuat kepribadian kita dengan luar biasa.

      Osama Bin Laden dan Gus Dur mengabdikan hidupnya demi Tuhan yang ada dalam konsep mereka.
      Tuhan mereka satu, akan tetapi hasilnya bisa sangat berlawanan. Yang satu menjadi pembenci golongan lain dan yang satu lagi sangat membuka tangan bagi golongan lain.

      Jadi bila menemukan ulama/tafsir yg mendorong kebencian, cari ulama/tafsir lain yang mendorong kasih sayang…

  5. hahaha…artikel yg sangat menarik.
    saya jadi geli ketika menonton film2 barat ataupun jepang, di mana digambarkan makhluk2 luar angkasa sangat berambisi untuk menguasai bumi. padahal bumi hanyalah sebutir pasir di gurun. terima kasih mas judhianto

    1. @H. Bebey: wadooh seperti apa virusnya? Mungkin kalo indikasinya jelas, yg jago bisa bantu…

      Web ini sendiri sempat di bombardir, kemarin malam sempat di suspend oleh providernya krn ‘abnormal activity’ . Siang tadi baru bisa aktif lagi.

  6. Iya mas yudhi, kalau kita analogkan dengan kejadian jaman awal kenabian, sepertinya samalah kelakuan orang-orangnya, bedanya nabi pergi ke madinah untuk menyebarkan agama kebenaran anyar, tapi kalau pada saat ini mas yudhi harus bisa melawannya dengan teknologi informatika yang lebih canggih.
    Kalau kita analogkan dengan peristiwa selanjutnya, maka pasukan nabi akan mengkafirkan penentangnya, yang artinya penantangnya harus ‘meninggalkan bumi’ secara dipaksa/dipenggal hehhheeee

  7. Bagi Allah yg diyakini muslim tidak ada yg penting, karena bagi Allah yg maha kuasa sama gampangnya menciptakan seekor semut saja dengan menciptakan alam semesta beserta isinya. Bagi Allah sama gampangnya untuk menciptakan satu kerikil di sungai saja dengan satu galaksi atau milyaran galaksi. Tidak ada yg sulit dan SAMA gampangnya. Mau menciptakan alam semesta dengan milyaran galaksi hanya satu detik, atau menciptakaan alam semesta dengan milyaran galaksi dengan waktu milyaran tahun bagi Allah sama gampangnya. Dan suka-suka Allah karena Dia maha berkehendak. Logika Tauhid –> http://ketoklogic.blogspot.com

    1. Dalam kacamata Islam, ada sebuah hadis qudsi:
      “Aku adalah harta tersembunyi dan aku ingin diketahui, maka aku ciptakan ciptaan.”

      Jadi semesta ini penting untuk Allah, karena Ia ingin dikenal. Dipuncak ciptaannya, ada manusia yang padanya Ia secara khusus meniupkan roh-Nya (ingat kisah Adam) Untuk manusia juga Allah ciptakan surga, neraka, dosa, pahala, agama.

      Adakah ciptaan lain yang dicipta khusus oleh Allah? adakah surga, neraka untuk ciptaan lain? adakah mahluk lain dimana Allah berfirman dan melibatkan diri dalam mukjizat-2? Tidak Ada!

      Jadi manusia tidak penting? jangan salah… kita penting,

      1. Betul, salah satu sifat Allah adalah maha berkehendak (mempunyai keinginan), dan salah satu keinginananNya adalah ingin diketahui. Meski Allah ingin diketahui, tapi Dia tidak butuh diketahui. Jika tidak ada yg mengetahui Allah, Allah tidak lalu sakit atau galau. Jadi sesuatu yg tidak dibutuhkan tentunya tidak penting meski diingini. Makanya, bagi muslim yg paling penting adalah pemahaman Tauhid, karena hal itu yg menjadi hakekat kenapa Allah menciptakan makhluk. Yg mau saya tekankan di atas sebenarnya, bahwa Allah bisa menciptakan dan menghancurkan lalu menciptakan lagi atau menciptakan lagi tanpa menghancurkan jutaan alam semesta (maksudnya kumpulan galaksi-galaksi) entah hanya dengan satu detik atau milyaran tahun, sama mudahnya. Jadi tidaklah penting alam semesta yg sekarang ini, Dengan adanya dzat yg maha kuasa tersebut. Karena Dia bisa menciptakan alam semesta yg lebih indah, lebih megah, dan lebih besar semilyar triliun kali lipat alam semesta yg sekarang ini.

        1. Dari komentar anda, Allah itu paradox.

          Gak butuh diketahui tapi ingin – jadi semacam benci tapi rindu.

          Ini seperti konsep maha kuasa yang anda kutip: Ia mampu ciptakan atau hancurkan alam semesta semau-mauNya.

          Tapi pada kenyataan yang kita hadapi saat ini:

          * Kita hidup di semesta dimana Ia sendiri menciptakan karena ingin diketahui,
          * dimana kita adalah aktor spesial yang diciptakanNya,

          * dimana Ia menciptakan segala macam setting surga, neraka, nabi, agama dan wahyunya untuk kita.
          * Dia yang gembira pada kita yang taat dan marah pada kita yang murtad
          * Dia yang mendengarkan do’a kita
          * Dia yang menempatkan diri lebih dekat daripada urat leher kita.

          Jadi pada kenyataan hidup kita, kita adalah penting bagi Allah. jika Ia musnahkan kita, maka tak ada yang menyembah Dia, tak ada yang menyaksikan Dia ada. Kita musnah – Dia gak eksis.

          Memusnahkan kita sama dengan memusnahkan keinginannya untuk eksis.

          Jadi kita penting, sepenting keinginan Allah untuk eksis.

          1. Betul, tapi jika Dia memusnahkan kita, toh Dia bisa menciptakan makhluk cerdas selain kita. Gembiranya, marahnya Tuhan beda dengan makhluk. Marahnya Tuhan tidak membuat Dia jadi galau dll (mengganggu dzatNya), beda dengan makhluk, ketika kita marah dan tidak suka sesuatu maka pikiran kita akan tersiksa, begitu jg gembira dan senang akan berdampak pada fisik dan pikiran kita. Sebenarnya tidak ada bahasa manusia (bahasa arab dan lainnya) yang bisa sepenuhnya tepat untuk menggambarkan sifat Tuhan, karena pada dasarnya bahasa mahkluk untuk makhluk (marah, senang, dan lain-lain). Selain itu, kita sendiri tidak tahu sepenuhnya tentang diri kita, misalnya ketika kita di alam roh, dimana kita masih berupa master program/chip, dan diriwayatkan bahwa calon manusia dulu berkomunikasi dgn Tuhan ketika di alam roh. Kekuasaan Tuhan yg diberikan kpd kita, kita tidak tahu semuanya. Makanya, diriwayatkan jg bahwa Allah lebih tahu siapa-siapa manusia yg akan Dia beri hidayah. Lihat pelacur yg diberi hidayah gara-gara memberi minum anjing. Kasih dan ikhlas sepertinya kuncinya. Manusia jg tidak tahu semua apa yg akan dilakukan Tuhan, kecuali sedikit yg telah dikabarkan dlm FirmanNya. Hewan yg disiksa pun, kita tidak tahu apakah sebenarnya hewan itu sakit atau tidak sebenarnya, dan Allah kuasa membuat tidak sakit meski kita mengira sakit. Allah jg berhak mengganti hewan yg tersiksa dengan kenikmatan yg luar biasa di alam akhirat (atau alam lain apapun namanya). Itu semua kita juga tidak tahu. Makanya ada kata “Wallaua’lam” meski kita diperintahkan utk selalu tafakur (berpikir)

          2. Benar, Tuhan bisa jadi membuat semesta yang lain, dimana mahluk cerdasnya sejenis kadal, dan Ia ingin diketahui dan disembah oleh kadal-kadal tersebut. Surga dan neraka mungkin untuk kadal-kadal tersebut.

            Benar, Tuhan mungkin mampu membuat jutaan kemungkinan semesta lain, dimana manusia tidak ada atau tidak penting.

            Tapi yang perlu kita ingat, kita hidup tidak di semesta yang lain itu. Kita hidup disini, di semesta dimana kita penting. Dimana Tuhan sengaja menciptakan manusia untuk memuaskan keinginanNya untuk dikenal.

            Di semesta lain dimana Tuhan memuaskan keinginanNya untuk dikenal pada mahluk kadal – itu bukan urusan kita, karena kita hidup di sini. Dan disini, di semesta ini, kita mahluk terpenting.

Perkaya Tulisan Ini Dengan Pendapat Anda