Kacamata Google, Augmented Reality, Agama

Anda sudah baca tentang kacamata canggih keluaran Google? kalau belum, bisa lihat video dibawah ini sebentar.

Demonstrasi Kacamata Google dalam kehidupan sehari-hari

 

Ini adalah kreasi terbaru Google yang menggabungkan data pengolahan komputer ke dalam ruang pandang yang kita tangkap dengan mata kita.

Luar biasa! Mata kita melihat informasi mengapung persis di depan kita bercampur dengan pandangan mata kita. Istilah teknisnya adalah Augmented Reality – Realitas Yang Ditambahkan.

Sebagai contoh, saat menjelang tiba waktu sebuah janji yang kita catat, tiba-tiba di depan mata kita muncul tulisan tentang janji tersebut beserta detilnya. Saat kita membutuhkan petunjuk arah, di pandangan mata kita muncul panah arah yang bisa kita ikuti.

Kira-kira Untuk Apa Saja?

Jika kacamata Google ini sukses, maka tak lama lagi akan muncul berbagai produk serupa dari pesaing Google. Mungkin bakal ada kacamata serupa dari Microsoft atau Yahoo mungkin.

Kacamata Google, menambahkan informasi komputer kedalam realitas
Kacamata Google, menambahkan informasi komputer ke dalam realitas

Berbagai aplikasi bisa kita bayangkan akan segera hadir, dan tiap profesi pasti menginginkan kacamata yang bisa membantu pekerjaannya.

Seorang walikota mungkin butuh kacamata yang terintegrasi dengan database warganya. Saat ia bertemu dan menatap seorang warganya, komputer akan segera mencari data sang warga berdasarkan wajahnya dan menampilkannya persis disampingnya. Dengan percaya diri sang walikota bisa langsung menyebut namanya, menanyakan kabar anaknya yang masih SD, dan sebagainya. Dapat dibayangkan, tentunya sang warga tersanjung melihat perhatian sang walikota pada detil kehidupannya.

Jenis yang paling laku mungkin adalah kacamata dengan program “Jomblo Seeker”. Kacamata ini diprogram untuk memancarkan status kejombloan penggunanya. Para jomblo saat mejeng di mall akan segera tahu mana lawan jenis yang jomblo dalam sekali pandang berdasarkan gambar hati yang ditempelkan dijidat mereka oleh program kacamata ini. Mereka tidak akan menghabiskan waktu untuk mencoba berkenalan dengan lawan jenis yang ternyata sudah punya anak dua misalnya.

Banyak lagi yang mungkin, tiap orang kelak bisa memilh program kacamata ini sesuai dengan kepentingannya. Tiap orang bakal punya pandangan berbeda terhadap satu obyek yang sama, karena program yang berbeda dalam kacamata mereka bakal menambahkan augmented reality yang sesuai dengan minat mereka.

Peningkatan Kapasitas Diri Atau Menipu Diri?

Bisa jadi kita seperti tidak akan pernah lupa ulang tahun istri kita, karena pada harinya, setiap kali menatapnya sebuah banner berkedip-kedip di atas kepalanya dengan tulisan “Hari ini ulang tahunnya!”.

Atau bisa jadi saat kita mengucapkan “Selamat Ultah” pada istri kita, dia langsung berpikir “Ah dia ingat karena pasti kacamata konyol itu menongolkan banner aneh diatas jidatku untuk mengingatkannya hari ini”.

He.. he.. he…

Kacamata Google memang bisa ditanggapi dengan positif sebagai peningkatan kapasitas diri atau negatif sebagai tipuan untuk menambal kekurangan diri.

Terserah anda…

Dengan Agama, Apa Hubungannya?

Lha iya, apa hubungannya? saya baca tulisan ini karena judulnya berbau agama!

He..he..

Kalau kita mau merenung, sebenarnya Agama bekerja persis seperti kacamata Google ini.

Ketika beberapa penumpang lolos dari kecelakaan pesawat yang hebat, mereka melihat dengan berbeda berdasarkan kacamata agama yang mereka pakai.

Seorang ateis yang tak memakai kacamata, akan berkata: “Luar biasa!, peluang lolos dari kecelakaan ini hanya 3%, dan saya termasuk yang 3% itu”

Seorang dengan kacamata Kristen, akan berkata: “Halleluyah!, kasih Yesus telah menyelamatkanku, bolehlah saya akan lebih banyak menyebarkan kasihNya di bumi”.

Seorang dengan kacamata Islam, akan berkata: “Alhamdulillah!, Allah telah berkenan memberikan rahmatnya melalui mukjizat ini. Semoga aku akan menjadi hamba yang selalu bersyukur”

Nah! peristiwanya sama, sang ateis hanya sekedar melihat ini sebagai probabilitas peristiwa biasa yang bisa terjadi pada setiap orang, akan tetapi orang beragama melihatnya sebagai peristiwa yang luar biasa bermakna. Kacamata agama mereka menambahkan augmented reality yang kaya dan mengesankan pada peristiwa yang mereka hadapi.

Delusi Atau Memperkaya Hidup?

Para Ateis Dan Pemuja Realitas Empiris

Kalau anda pernah membaca buku wajib para ateis, The God Delusion karya Richard Dawkins, anda melihat bagaimana sang penulis melucuti semua klaim-klaim agama dan Tuhan.

Bagi penulisnya, semuanya itu omong kosong, Tuhan hanyalah delusi (khayalan) orang beriman. Dan ia membuktikan dengan jalinan logika, fakta sains dan fakta sejarah yang tak terbantahkan.

Apa yang ditawarkan oleh pandangan dari buku ini? realitas telanjang

Hidup kita ini adalah hasil murni hukum alam dan probabilitas semata.

Semesta ini tak ada tujuannya, tujuan hidup kita adalah tujuan biologis yang sederhana, yaitu berkembang biak. Semua konsep adiluhung yang melingkari hidup kita adalah tipuan evolusi. Cinta, altruisme, kebenaran semuanya hanyalah konsep yang dapat dirunut sumbernya dari tujuan biologis kita.

Tuhan? itu pusat omong kosong!

Para ateis itu bersikukuh jujur dengan realitas empiris, mereka naturalis sejati. Mereka menolak campur tangan rekayasa realitas yang dilakukan melalui kecanggihan penemuan budaya manusia ribuan tahun: Kacamata Agama.

Bagi mereka kesenangan dan kesedihan hanyalah kesenangan dan kesedihan saja, tak ada maknanya sama sekali, seperti hidup yang tanpa makna ini.

Kaum Beriman Dan Hidup Yang Diperkaya

Ketika menjadi naturalis sejati, sesungguhnya apa yang kita dapati dan apa yang kita kehilangan?

Bagi naturalis sejati, pelukan seorang ibu kepada anaknya hanyalah semata-mata didorong oleh naluri biologis untuk menjaga gen sang ibu yang diwariskan melalui anaknya. Pengorbanan ayah hanyalah karena dalam sang anak, gen ayah kelak dilestarikan.

Astaga! banyak sekali realitas tambahan (augmented reality) yang mereka buang hanya karena idealisme berpegang pada fakta empiris semata.

Kalau kita mau kembali mengingat pelukan dan perhatian ibu kita, betapa kita bisa membangkitkan perasaan aman, terharu dan sekaligus menguatkan tekad kita untuk berbakti padanya.

Cinta dan kasih sayang yang memperkaya hidup kita
Cinta dan kasih sayang yang memperkaya hidup kita

Kalau kita bisa kembali mengingat ketika pertama kali menggendong bayi kita, betapa kita bisa membangkitkan perasaan bahagia, gembira dan mengingatkan kembali tekad kita untuk memberikan yang terbaik pada bayi kita.

Sains mungkin bisa menunjukkan bahwa itu tipuan evolusi untuk kelestarian spesies kita, akan tetapi bagi kita, cinta itu nyata dan kita senang tenggelam di dalamnya. Kita menerimanya bergabung dalam realitas kita.

Kalau anda beragama, anda pasti pernah mengalami masa-masa sulit, dimana hidup terasa buntu. Saat itu satu-satunya tempat curahan hati kita adalah Tuhan. Dalam kesunyian do’a, Tuhan menenangkan kita, menghibur kita dan membuat kita yakin bahwa seberat apapun kesulitan, suatu saat pasti akan berlalu. Kita harus menerawang di masa depan, dimana kesulitan saat ini hanyalah masa lalu yang memang harus kita lalui. Tuhan membuat kita kuat menjalaninya.

Nalar mungkin bisa membuktikan bahwa usaha kita atau bantuan dari sekeliling kitalah yang membuat kita bisa mengatasi masalah, akan tetapi bagi kita, saat masalah itu terjadi, hanya Tuhanlah yang mau datang dan mendengarkan dan menguatkan kita, saat rasanya tak mungkin mengadu kepada orang lain. Dia nyata dan kita membutuhkannya dalam realitas kita.

Bagi pemuja realisme empiris, semuanya budaya dan perasaan manusia bisa direduksi menjadi berguna atau tidak bagi kelangsungan hidup spesies manusia. Cinta, pengorbanan, tujuan hidup, kebahagiaan ataupun Tuhan adalah omong kosong yang diberikan sebagai label terhadap berguna atau tidak.

Pakai Kacamata Atau Tidak?

Bila tersedia dengan mudah, kenapa tidak?

Kenapa memilih tersesat, bingung dan bahkan putus asa di jalan hanya karena ingin alami, bila dengan kacamata Google, kita tinggal mengikuti tanda panah di pandangan kita yang menuntun ke arah alamat yang kita tuju?

Kenapa memilih hidup gersang, tanpa makna, tanpa tujuan dan merasa sendiri, bila dengan kacamata cinta, kekerabatan, budaya dan agama, kita bisa mempunyai hidup yang berwarna, bermakna, bertujuan dan merasa selalu didampingi Tuhan?

Semuanya berpulang kepada anda, biarlah anda mengatur sendiri hidup yang anda miliki dan jalani sendiri.

Saya hormati pilihan anda, toh saya juga sibuk dengan hidup saya sendiri…


Referensi:

Baca Juga:


22 komentar

  1. Terima kasih, tulisan yg menarik dan menyegarkan jiwa, sebagai penganut agama sy merasa ge-er, bisa merasakan nikmatnya kedalaman sesungging senyuman, hubungan sosial yg manis. Bukan senyuman dg tujuan komersial yg gersang atau hubungan baik yg pamrih.
    Saya jadi teringat saudara Dadang yg ada di tulisannya Mas Guntur Romli.

    1. @Dizal: saya senang anda bisa menikmati tulisan saya.
      Orang-orang seperti Dadang bisa mengingatkan kita untuk tidak memutlakkan kacamata yang kita pakai, sekaligus menghargai sumbangannya mewarnai hidup kita.
      Terima kasih komennya.

    1. @Edy: ha.. ha.. ha.. mereka lebih pragmatis dari kita.
      Pandangan, pendengaran dan pikiran mereka sudah di outsource ke para habib mereka.

  2. Artikel bagus Mas Yudhi. Google memang canggih dalam berinovasi kini menghadapi kompetitor e.g microsoft dan yahoo. biasanya si “yahoo” yg datang belakangan ngklim yang paling sempurna. lagian promossinya suka njelekin yg lain. mari bersaing sehat, dan fair. nanti akan ketahuan mana kacamata yang pantas kita miliki, ato lbih bqik gak usah berkacamata sekalian

    1. @Geloaku: setuju.
      Biarlah penjaja kacamata saling bersaing dengan sehat, dan negara mengambil jarak yang sama terhadap para penjaja tersebut.
      Konsumen pasti akan tahu kacamata mana yang berguna dan mana yang membuat mata juling.
      😀

  3. Edisi yang jomblo seeker itu yang pasti akan saya cari 🙂
    Kontekstualisasi berita tekno dengan spiritualitas yang Anda lakukan dalam artikel ini sangat berhasil 🙂

    1. @Insan SN: wah sepertinya harus segera urus patennya, biar gak keduluan Google.
      Kontekstualisasinya pas? Terima kasih

  4. Numpang mampir, Om. Dah lama gak kesini. 😀

    Perhatikan tulisan di atas :
    Seorang ateis yang tak memakai kacamata, akan berkata: “LUAR BIASA!, peluang lolos dari kecelakaan ini hanya 3%, dan saya termasuk yang 3% itu”
    …..
    Sang ateis hanya sekedar melihat ini sebagai probabilitas peristiwa BIASA yang bisa terjadi pada setiap orang.

    >>> Haha, harusnya si Atheis bilang “Ahh BIASA! peluang lolos dari kecelakaan ini hanya 3%, dan saya termasuk yang 3% itu.
    >>> Sebuah paradoks gobloks… 😀
    >>> Ternyata si Atheis lagi jadi sales kacamata probabilitas. Haha.

  5. Ateis modern prinsipnya sangat jauh berbeda dengan gambaran “penganut ajaran” seperti yang ditulis di artikel ini. Mereka berbasis pada Sains, realita diukur berdasarkan proses Sains, begitu juga kebenaran, dan semua hal lainnya. Sebab hanya dengan Sains-lah realita yang sesungguhnya bisa diketahui, tanpa ada ditambah ataupun dikurangi. Cinta, kesadaran, dan misteri alam lainnya masih dalam proses Sains, para penderita kelainan otak telah memberi tanda2 bahwa hal2 misterius itu sangat mungkin direduksi sebagai fungsi kerja otak, tidak lebih. Jadi hal2 subjektif sesungguhnya sangat mungkin untuk dijelaskan secara objektif, Sains terus berproses, begitu juga pandangan kaum Ateis modern atasnya.

    1. @Sibadu: terima kasih, anda mengkonfirmasi salah satu pendapat saya bahwa para ateis adalah pemuja realisme empiris.

  6. Nggak sesederhana itu juga, Pak. 🙂

    Kalau kita mau jujur, ada kok pandangan yang hidup di daerah abu-abu seperti beberapa sekte Buddhisme, Deisme, Unitarian, dsb. yang notabene tidak secara langsung mengakui Tuhan namun punya perspektif yang berorientasi pada spiritualitas. Mereka bisa dibilang atheis (atau non-theis) namun hidup mereka tidak “kering” kan?

    Demikian pula sebaliknya, tidak semua agama (atau orang beragama) selalu menempatkan Tuhan sebagai sosok penghibur dan penguat, ada banyak yang menempatkan Tuhan sebagai sosok penghukum dengan aturan-aturan ketat.

    Intinya sih, perspektif seseorang terhadap kehidupan itu tidak bisa kita pukul rata hanya berdasarkan dia percaya kepada Tuhan atau tidak 🙂

    1. @Wirawan Winarto: augmented reality (AR) adalah realitas tidak nyata yang ditambahkan pada realisme empiris.

      AR tidak harus agama. Cinta keluarga, nasionalisme, profesionalisme dan banyak lagi yg bisa membuat sesuatu yg biasa menjadi penting atau bermakna.

      Agama juga bukan berarti harus ada Tuhan di dalamnya seperti yg anda sebut.

      Tuhanpun belum tentu selalu merupakan refleksi nilai2 luhur manusia, bisa jadi refleksi ketakutan-ketakutan manusia terhadap perubahan, atau perasaan inferior lainnya hingga memunculkan sikap intoleran dan bengis.

      Saya setuju dgn pendapat anda bahwa AR tidak melulu tentang Tuhan, akan tetapi Tuhan dan Agama merupakan AR yang terbukti efektif digunakan dalam sejarah manusia untuk membantu menghadapi penderitaan dan ketidak-pastian hidup.

      Terima kasih komentarnya.

  7. menarik,,,terima kasih atas tulisannya….membantu sekali…
    lalu yang menjadi permenungan saya selanjutnya…(*padahal ga ada yang nanya hehe..) bukan sekedar memakai kacamata/tidak..tapi kapan harus memakai kapan tidak?
    haruskah jika sekali saya memutuskan melabeli diri sebagai pemakai kacamata, saya harus menggunakan kacamata saya untuk semua hal?
    sebagai pengguna kacamata tentunya saya ingin loyal kepada kacamata saya dan pembuatnya…tapi alangkah baiknya merenungi maksud pembuat kacamata menciptakannya..alangkah konyol jika saya memaksa memakai kacamata baca untuk berenang…alangkah konyol jika saya menyayangi,membersihkan, melindungi kacamata saya mati2an namun menafikan dan melupakan fungsinya…
    mmm…juga ada beberapa hal yang lebih indah dilihat telanjang daripada dengan kacamata.
    terima kasih tulisannya.

    1. @AnotherLastDay: kita mengelola hidup kita sendiri. Tentunya keputusan untuk memakai atau tidak memakai kacamata tertentu tergantung pada kebutuhan kita sendiri.
      Memakai kacamata baca untuk berenang? tentu serupa dengan memakai agama untuk menafsirkan hasil penelitian ilmiah…

Perkaya Tulisan Ini Dengan Pendapat Anda