Jiwa dan Raga. Sebuah Ilusi?

Jiwamu adalah zat abadi yang terperangkap dalam sangkar raga, mengarungi dunia yang sementara. Kelak setelah ragamu mati dan saat dunia berakhir, jiwamu akan mengarungi kehidupan akherat yang abadi.

Itulah konsep dasar yang bisa kita temui di semua agama. Jiwa yang terpisah dari raga.

Darimanakah konsep ini mendapat landasan kuat?

Paling tidak ada dua fenomena pengalaman spiritual universal yang biasanya digunakan untuk menguatkan konsep tersebut.

Saya akan menyajikan informasi mengenai dua hal di atas, yang saya peroleh dari berbagai sumber.

Pengalaman Spiritual

Pengalaman Keluar Tubuh

Pengalaman ini sungguh luar biasa. Orang yang mengalaminya merasa dirinya (atau jiwanya) melayang keluar dari tubuhnya. Ia bisa melihat tubuhnya sendiri yang ia tinggalkan, melayang di udara dan bahkan pergi ke tempat lain meninggalkan tubuhnya.

Pengalaman keluar tubuh, sebuah ilustrasi
Pengalaman keluar tubuh, sebuah ilustrasi

Bagi yang mengalaminya, ini adalah bukti yang tak terbantahkan mengenai keberadaan jiwa yang terpisah dari raga.

 

Kembali Dari Kematian

Ini adalah pengalaman luar biasa yang biasanya membuat seseorang yang mengalaminya akan lebih bersungguh-sungguh menekuni agamanya.

Pelapor biasanya merasa melewati lorong panjang dengan ujung yang bercahaya. Di ujung lorong mereka biasanya bertemu dengan sosok dekat mereka yang sudah meninggal, tokoh-tokoh suci, malaikat atau bahkan Tuhan mereka. Tokoh yang mereka temui itu biasanya mengatakan bahwa waktunya belum tiba, dan mereka harus kembali lagi ke tubuh mereka dan menjalani kehidupan dunia lagi.

Perjalanan menuju ujung cahaya
Perjalanan menuju ujung cahaya

Dalam peristiwa tersebut, terkadang mereka juga mengalami berbagai pengalaman tambahan sesuai dengan latar belakang kepercayaan mereka. Ada yang melihat surga, neraka atau ramalan dunia di masa depan dan sebagainya.

Penjelasan Ilmiah

Kondisi yang bisa menghantarkan seseorang mendapatkan pengalaman spiritual di atas bermacam-macam. Beberapa mendapatkannya dalam serangan jantung, trauma fisik yang parah, tekanan penyakit kronis.  Beberapa akibat pengaruh obat-obatan, hasil meditasi atau bahkan spontan tanpa sebab apapun.

Para ahli medis sudah meneliti pengalaman ini sejak sekitar tahun 40-an. Dengan pemahaman lebih baik mengenai cara kerja otak, ilmu jiwa dan psikologi serta peralatan yang lebih canggih para ahli mulai mendapatkan titik terang mengenai penjelasan ilmiah fenomena ini.

Untuk penjelasan panjang lebar mengenai fenomena ini secara ilmiah, dapat anda lihat di referensi luar yang saya sertakan dibawah tulisan ini.

Secara sederhana fenomena ini disebabkan oleh terganggunya salah satu bagian otak (korteks parietal lobe) yang memproses pengindraan ruang dan hubungannya dengan tubuh kita.

Pada kondisi normal bagian otak ini memberikan masukan tentang posisi tubuh kita, sehingga pada saat tidak ada informasi visual apapun yang kita terima, kita bisa tahu persis dimana telapak kaki kita berada dan bisa menggerakkan tangan kita merabanya, bahkan pada saat gelap gulita.

Pada kondisi tertentu, korteks parietal lobe mengalami kekacauan sehingga memberikan gambaran yang salah tentang posisi tubuh, ditambah dengan ketidak mampuan orang tersebut saat itu untuk menggerakkan tubuh, maka yang dirasakan adalah kehilangan kontrol terhadap tubuh fisik dan sensasi diri yang diproyeksikan diluar tubuh.

Sedangkan sensasi melalui lorong menuju cahaya, dapat disebabkan oleh keadaan kekurangan/ketiadaan oksigen pada otak (keadaan yang dinamakan hypoxia/cerebral anoxia). Kondisi ini mengganggu korteks visual pada otak, gangguan ini diartikan oleh otak sebagai spiral konsentris yang bergerak menuju mata dan berakhir di sebuah ruangan yang terang.

Untuk pengalaman bertemu dengan sosok yang telah meninggal, dewa atau bahkan Tuhan, para ahli menduga hal tersebut semacam halusinasi yang terjadi akibat kacaunya kondisi otak pada saat tersebut. Pada kondisi kacau, otak menggambarkan peristiwa yang sesuai dengan latar belakang budaya dan agama dari orang yang mengalaminya.

Anda dapat membaca lebih detil di referensi yang saya berikan.

Menciptakan Ulang Pengalaman Spiritual

Jika pengalaman tersebut adalah hasil proses otak, tentunya hal tersebut bisa diciptakan ulang. Ini adalah pikiran yang logis.

Paling tidak ada 3 cara yang telah dikonfirmasikan dapat menimbulkan efek tersebut, hal tersebut adalah:

Penggunaan obat

Sudah sejak lama obat-obatan semacam marijuana, LSD dan ecstasy memberikan beberapa efek tak terduga, diantaranya adalah perasaan keluar tubuh. Para ahli menemukan efek yang paling kuat ada pada ketamine. Obat ini sangat kuat mengacaukan fungsi penginderaan ruang dan tubuh.

Pada salah satu percobaan dengan 192 sukarelawan menggunakan ketamine, didapatkan hampir 3/4 dari mereka merasa keluar dari tubuh mereka, melayang-layang dan menyaksikan tubuh mereka yang diam.

Pemberian medan magnet ke otak

Medan magnet yang kuat yang diarahkan ke bagian otak dapat mengacaukan fungsi bagian otak tersebut. Atas dasar inilah pada tahun 2004 dilakukan sebuah percobaan yang mengarahkan sinyal magnet ke bagian tertentu otak.

Penelitian ini populer dengan sebutan “God Helmet” karena penggunaan semacam helm untuk memancarkan sinyal magnet ke otak dan efek spiritual yang dihasilkannya.

God Helmet yang sedang diuji coba
God Helmet yang sedang diuji coba

Sekitar 20 orang yang dicoba menggunakan alat itu merasakan kehadiran Tuhan di ruangan percobaan (sebuah ruangan kedap suara yang kecil). Beberapa diantaranya bahkan dengan jelas melihat Yesus dihadapan mereka (sebagian besar adalah penganut kristen). Beberapa melihat penampakan mahluk gaib dan ada yang mengalami perasaan keluar dari tubuh mereka.

Latihan meditasi

Latihan meditasi (atau ritual ibadah) secara intensif dapat memberikan kemampuan seseorang keluar dari raganya dengan kemauannya sendiri (dalam istilah Jawa: Ngrogo Sukmo) dan mengembara ke mana saja.

Dari penelitian para ahli, meditasi intensif memang dapat memberi kemampuan seseorang untuk mengatur lebih jauh fungsi otaknya, dan Ngrogo Sukmo sepertinya adalah salah satunya.

Uji Ilmiah

Efek keluar tubuh dapat diciptakan ulang, akan tetapi apakah benar jiwa yang keluar tubuh tersebut hanya semacam halusinasi? Jangan-jangan jiwa tersebut memang benar-benar keluar tubuh dengan metode-metode di atas?

Untuk memastikan kebenarannya, kita harus menggunakan metode pengujian yang bisa dipertanggung jawabkan. Untuk perjalanan jiwa tersebut ada yang bisa diuji ada yang tidak.

Kita tidak bisa mengecek apa benar akhirat itu seperti yang digambarkan orang yang kembali dari kematian karena memang tidak ada yang pernah ke akhirat.

Tetapi kita bisa menguji apakah benar seseorang benar-benar mengunjungi suatu tempat dengan roh atau jiwanya, jika kita bisa mencocokkan laporan pandangan jiwa itu dengan keadaan yang sebenarnya.

Untuk hal kedua paling tidak ada dua fakta yang bisa kita pakai:

Riset supranatural oleh militer USA (1970-1995)

Militer USA melalui CIA melakukan riset serius mengenai kemampuan supranatural dan kemungkinan penggunaannya dalam keperluan militer. Bahkan sempat digagas pembentukan First Earth Batallion dan Project Stargate, yang para prajuritnya dikumpulkan dari orang-orang yang dianggap mempunyai kemampuan paranormal.

Dalam riset yang memakan biaya 1 juta dolar per tahun, berbagai kemampuan paranormal itu diuji secara ilmiah. Salah satu yang diujikan adalah kemampuan melihat jarak jauh dan keluar dari tubuh untuk menyelidiki tempat yang asing.

Hasil uji paranormal tersebut ternyata mengecewakan. Akurasi para paranormal tersebut ternyata hanya 15%, yang dianggap tidak lebih baik dari hasil tebak-tebakan. Para cenayang tersebut ternyata bahkan tidak dapat menebak secara akurat isi ruangan di sebelah ruangan percobaan mereka.

Pada tahun 1995, semua riset tersebut dihentikan karena hasil yang mengecewakan.

Tantangan James Randi

James Randi adalah pesulap profesional yang berpengalaman menyajikan tipuan sulap dalam karirnya. Ia sangat memahami trik-trik yang biasa dilakukan pesulap untuk mendapatkan efek supranatural. Berdasarkan pengalamannya, ia skeptik tentang keberadaan kemampuan supranatural yang bisa ditunjukkan oleh beberapa orang.

Pada tahun 1996 James Randi mengumumkan tantangan kontroversial untuk para paranormal. Ia memberi hadiah 1 juta US dolar bagi siapa saja yang bisa membuktikan kemampuan paranormal dalam suatu tes ilmiah.

James Randi. Pesulap, penulis, skeptik. Menyediakan 1 juta dolar untuk siapapun yang bisa membuktikan kemampuan paranormal.
James Randi. Pesulap, penulis, skeptik. Menyediakan 1 juta dolar untuk siapapun yang bisa membuktikan kemampuan paranormal.

Melihat jarak jauh yang merupakan hasil dari “keluar tubuh”, merupakan salah satu yang bisa diujikan. .

Untuk uji coba ini, paling tidak ada satu perguruan silat Indonesia yang terkenal dengan kemampuan melihat dengan mata tertutup, mencoba dan ternyata gagal membuktikan kemampuannya.

Sampai sejauh ini belum ada satu orangpun yang mampu merebut hadiah yang dijanjikan

Nyata Atau Ilusi?

Dari hasil penelitian ilmiah, kita dapatkan bahwa pengalaman jiwa yang keluar dari tubuh merupakan hasil proses di otak manusia,.

Dari uji coba juga tidak dapat dibuktikan bahwa ada jiwa yang benar-benar keluar dari tubuh dan bisa melihat apa yang tidak terlihat oleh fisiknya.

Jika jiwa yang terpisah dari raga tidak bisa dibuktikan, bagaimana dengan keberadaan jiwa itu sendiri? apakah jiwa hanya bagian dari ilusi otak?


Referensi Luar:

Baca Juga:


43 komentar

    1. Dizal: Kadang yang kita lihat adalah yang ingin kita yakini, dan otak kita berkonspirasi untuk mewujudkannya. Pengamat independen dan pengujian yang “dingin” diperlukan untuk mendapat realitas sejati.
      Terima kasih komentarnya…

    2. @Dizal: Kadang yang kita lihat adalah yang ingin kita yakini, dan otak kita berkonspirasi untuk mewujudkannya.
      Pengamat independen dan pengujian yang "dingin" diperlukan untuk mendapat realitas sejati.
      Terima kasih komentarnya…

  1. Selama ini saya diajarkan tentang adanya jiwa yg merupakan entitas yg bisa dikatakan berbeda dengan fisik/raga. Posisi jiwa/ruh lebih tinggi atau lebih cerdas dari pada otak fisik. Tetapi selalu muncul pertanyaan di benak saya, diantaranya sbb:
    1. Kenapa ada kasus orang yang kehilangan ingatan akibat benturan keras di kepala.
    2. Kenapa pada waktu kita memejamkan mata atau dalam keadaan tidak ada cahaya, kita tidak bisa melihat obyek2 yang bisa dilihat oleh mata terbuka atau dalam keadaan terang
    3. Kenapa orang gila menjadi kehilangan sebagian besar kendali atas dirinya.
    Seandainya kedudukan jiwa berada di atas fisik, bukankah jiwa bisa langsung mengambil alih kendali fungsi2 fisik yang mengalami gangguan? Artikel mas Yudhi sedikit memberi jawaban atas pertanyaan2 saya di atas.Jika berkenan, mohon kiranya mas Yudhi bisa menjawab secara spesifik atas pertanyaan2 saya di atas. Matur Nuwun….

    1. @Mas Gurit: realitas yang kita sadari merupakan hasil pengolahan informasi dalam otak kita. Informasinya bisa dari panca indera kita atau hasil pikiran/imajinasi kita.
      Karena imajinasi manusia hampir tanpa batas, maka otak juga mempunyai kemungkinan yang hampir tanpa batas untuk menghadirkan realitas ke pikiran kita.

      Untuk pertanyaannya, saya sendiri merasa bukan pakarnya, akan tetapi saya coba jawab:
      1. Benturan keras dikepala ada bisa membuat kerusakan/gangguan yang bersifat sementara atau permanen pada fungsi bagian otak. Bila yang terganggu adalah fungsi ingatan, tentunya bisa mengakibatkan kehilangan sebagian dari ingatan orang tersebut.
      2. Penglihatan sangat tergantung pada kemampuan mata untuk menangkap cahaya dari obyek yang dilihat. Jika gelap atau mata tertutup, tentu saja kita mata tidak bisa menangkap cahaya tersebut, sehingga kita tidak dapat melihat.
      3. Wah mestinya ahli psikologi yg lebih tepat menjawabnya…

      1. MAS JUDHIANTO: realitas yang kita sadari merupakan hasil pengolahan informasi dalam otak kita.
        Informasinya bisa dari panca indera kita atau hasil pikiran/imajinasi kita.

        SAYA : termasuk ketika kita menyadari adanya jiwa/ruh dalam diri kita ya mas? jiwa juga
        merupakan hasil kerja otak manusia. Dalam artian, ketika otak sudah tidak berfungsi,
        maka jiwa menjadi tidak ada.

        Terima kasih mas Judhi, ini memperluas wawasan saya yang selama ini menganggap jiwa merupakan entitas yang bisa hidup sendiri ketika tak bisa bersatu dengan raga lagi. Atau dengan kata lain, selama ini saya menganggap jiwa/ruh merupakan badan halus dari diri kita, yang merupakan sisi “bathiniah” dari keberadaan kita.
        Semoga kita semakin tercerahkan..

        1. @Mas Gurit: sejauh fakta obyektif yang kita ketahui, memang saat otak berhenti berfungsi, maka berakhir juga jiwa/ruh kita.

          Jiwa yang terus hidup ketika tubuh mati sejauh ini hanya berdasarkan keyakinan religius yang tak bisa dibuktikan, itu cuma teori.

          Apakah jiwa/kesadaran yang tak tergantung otak/tubuh mustahil?
          Kita bisa analogikan kesadaraan/jiwa adalah semacam konten informasi yang diproses dalam komputer biologis yang kita sebut otak kita.
          Bila kelak ditemukan komputer non biologis yang tepat, mungkin kelak kita bisa mengupload konten tersebut kedalam mesin untuk melanjutkan kesadaran/jiwa itu. Dan itu berarti kesadaran kita akan bisa berlanjut walau otak/tubuh kita sudah mati.

          Apakah kehidupan setelah mati mustahil?
          Akhirat itu teori religius, sama seperti semesta pararel yang sejauh ini hanya berdasarkan teori sains yang tidak bisa dibuktikan.
          Jika akhirat itu semacam semesta lain yang terhubung dengan jalan satu arah yang dinamakan kematian, maka kita tidak akan pernah bisa mengharapkan adanya bukti obyektif keberadaannya, walau kita tidak bisa buktikan bahwa itu tidak ada.

          Percaya ruh/jiwa, akhirat atau Tuhan bersifat subyektif.
          Seperti takdir jodoh, anda boleh percaya bahwa gadis yang anda taksir itu jodoh anda kelak. Itu kepercayaan subyektif tanpa bukti.
          Fakta obyektifnya hanya anda dapatkan setelah saatnya datang.

    2. Ijin numpang komen saja untuk pertanyaan no. 3. Analoginya adalah lampu senter dan batre, ketika lampu senter itu rusak apakah fungsinya untuk menerangi bisa digantikan oleh batre? Tentu tidak kan. Begitu pula dengan jiwa dan raga, masing-masing memiliki fungsinya yang tidak bisa diintervensi…

    3. Klo yang saya Pahami, Badan termasuk otak dan kognisinya adalah materi, sedang jiwa (spirit) adalah Immateri, jadi gak mungkin Immateri menyokong materi. Pertanyaan 1, 2, dan 3, semuanya berada dalam lingkup alam materi, yang gak ada kaitannya secara fisik, tapi bisa memiliki pengaruh secara non-fisik.

      1. @Al-Madjid ZT: kalau menggunakan kacamata “yang dipahami”, maka tiap praktisi agama, kepercayaan, para dukun, para paranormal punya apa yang mereka pahami masing-masing tentang yang ghaib baik berupa ruh, jiwa, spirit, tuhan, setan, malaikat, surga, neraka, nirwana, kahyangan, jin, siluman, gendruwo, pocong, suster ngesot.

        Tapi “yang dipahami” ini repotnya bersifat “katanya”, “menurut kitab ini”, “menurut kitab itu”, “menurut nabi”, “menurut wangsit”, “menurut riwayat” dan sebagainya. Tak ada satupun yang bisa diverifikasi dalam tes netral yang disaksikan oleh yang percaya ataupun yang tidak.

        Ini berbeda dengan fakta yang bisa diuji dan tak tergantung kepercayaan. Fakta bahwa api itu panas bisa diuji oleh siapapun, baik yang percaya atau tidak. Anda gak perlu percaya untuk bisa kepanasan saat didekatkan ke api.

        Kalau ada yang bilang jiwa tidak memiliki pengaruh dengan yang fisik, sehingga tidak bisa diuji, maka itu juga sama dengan orang yang mengatakan bahwa didepan saya ada gorilla raksasa bergigi emas yang tidak kelihatan.

        Kalau mau percaya bahwa gorilla bergigi emas yang tak terlihat itu ada, hanya saya saja yang tak bisa melihat – ya silakan. Mau percaya bahwa ada yang namanya jiwa/ruh yang tak bisa diuji secara ilmiah – ya silakan.

        Tulisan saya menunjukkan bahwa yang namanya jiwa/ruh ternyata tidak bisa diverifikasikan keberadaannya melalui metodologi ilmiah.
        Saya tidak percaya karena tidak ada buktinya. Itu saja, sederhana kok.

    1. @Nor: dalam hidup, kita selalu menghadapi dua macam realitas. Realitas nyata dan realitas imajiner.
      Realitas nyata berpijak pada fakta dan bisa dibuktikan dalam pengujian obyektif, sedangkan realitas imajiner tidak harus berakar dari fakta dan memiliki bukti obyektif.

      Spiritualisme dan agama (termasuk konsep reinkarnasi) merupakan bagian dari realitas imajiner. Keduanya tidak berakar dari fakta dan bukti obyektif, melainkan dari persepsi dan pengalaman subyektif.

      Apakah realitas imajiner tidak penting dan harus ditolak? tidak.

      Indonesia adalah salah satu contoh realitas imajiner. Tidak ada komposisi fisik dan obyektif yang bisa membuktikan batu atau pohon dari Propinsi Kalimantan Selatan adalah berbeda dengan pohon dan batu dari Brunei. Indonesia adalah realitas imajiner yang tak akan kita temukan buktinya dalam uji coba dunia fisik.

      Jadi yang penting adalah apakah sebuah realitas imajiner itu berguna atau tidak dalam kehidupan kita – bukan apakah benar atau salah.

      Selama konsep Indonesia berguna dalam kehidupan kita, ya manfaatkan saja. Hal yang sama bisa juga kita terapkan pada reinkarnasi.

  2. menurut buku 2 anand khrisna tugas manusia hidup,adalah membebaskan diri ,dari pengaruh alam dualitas,dan setahap demi setahap dengan menempuh tehnik 2 tertentu,meningkatkan kesadaran kita ke pada kesadaran murni/kasunyatan/kebahagiaan abadi/manunggaling kawulagusti/ketiadaan /kebenaran hakiki .gimana menurut agan.

    1. @Nor: karya Anand Khrisna merupakan salah satu penjabaran realitas imajiner yang memakai konsep Buddhisme.

      Dalam konsep ini, jiwa manusia terkurung dalam badan yang terikat dengan dunia. Hantaman pasang surut bahagia-sengsara akan kita alami selama kita masih terikat dengan badan dan dunia.

      Kita bisa mencapai ketenangan jiwa manakala sudah tidak lagi terhempas oleh pasang surut bahagia-sengsara. Ketenangan itu tercapai jika kita bisa mengabaikan dunia real sebagai sumber bahagia-sengsara dan memusatkan diri dalam meditasi.

      Analogi konsep ini adalah seperti saat seorang pemuda bertemu dengan seorang gadis yang sangat menarik (tentunya bisa dibalik gadis dengan pemuda).

      Menjalin hubungan romantis dengan gadis itu menjanjikan kesenangan, perhatian dan kebahagiaan, akan tetapi seperti dua sisi mata uang, bisa jadi mendatangkan cemburu, kesedihan dan patah hati yang seolah-olah membuat kiamat di bumi ini.

      Anand Khrisna mungkin bilang: “Dalam hubungan romantis, kau pasti mengalami hantaman pasang surut bahagia-sengsara, cinta-benci, ditemani-ditinggalkan. Itu semua mengambil ketenanganmu. Jika ingin tenang, jauhi hubungan romantis, abaikan daya tarik romantisme – pusatkan dirimu pada sesuatu yg mendukung ketenanganmu – seperti menghitung jumlah bulu kakimu. Kau pasti bahagia dalam ketenangan itu.”

      Saya tidak sependapat dengan Anand Khrisna. Kegagalan, kesengsaraan adalah resiko terlibat dalam hidup nyata, namun kebahagiaan, bangga mencapai sesuatu juga merupakan buah yang bisa kita raih darinya. Hidup kita hanya sekali, sungguh sayang kalau kita lari dari kesempatan kehidupan ini hanya karena takut mengalami tidak bahagia.

  3. Salam, Bung Judhianto

    Persoalan jiwa/raga ini memang problematis. Sebagai penggemar Sci-Fi, persoalan tentang AI dan kesadaran manusia (human consciousness) selalu menarik. Sehubungan dengan itu, ada adegan menarik dalam anime Ghost In the Shell:

    Jadi, kelompok protagonis kita berhasil menangkap AI yang disebut Puppeteer. Si Puppeteer ini mengaku sebagai ‘digital life form’, dan bukan AI. Ia mengaku tidak diciptakan oleh siapapun, melainkan lahir dari kumpulan informasi di jagat maya yang menjelma sebagaimana kehidupan muncul dari ‘sup purba’. Ia mengaku memiliki kesadaran sebagaimana manusia.

    Tak terima dengan penjelasan itu, seorang tokoh menandaskan padanya bahwa ia tidaklah ‘hidup’. Tapi si Puppeteer ini malah mengajukan pertanyaan-pertanyaan filosofis, ‘dapatkah kamu membuktikan bahwa kamu hidup’? ‘Apa itu hidup’? ‘Apa buktinya bahwa kamu bukan sekadar diatur oleh DNA-mu?’ dan sebagainya.

    Film itu menarik, dan saya sarankan Anda menontonnya. Ghost In The Shell adalah anime yang menginspirasi Wachowski Brothers untuk membuat The Matrix.

    Nah, berkenaan dengan consciousness, belum lama ini saya menemukan pembahasan yang menarik dari David Chalmers. Ia membagi permasalahan tentang kesadaran menjadi dua: easy problem dan hard problem. Easy problem adalah pertanyaan tentang cara kerja otak, bagian mana yang merasakan apa, bagaimana dunia luar diproses, dsb.

    Hard problem adalah: Mengapa kita memiliki kesadaran at the first place? Dari mana qualia itu datang? Mengapa kita bukan philosophical zombie?

    Saya pikir permasalahannya adalah kita selalu mendasari penjelasan kita tentang realitas dengan hal-hal yang bersifat material/fisikal. Apakah kesadaran muncul dari yang material? Ataukah dia adalah sesuatu yang lain? Saya sendiri masih berpegang pada dualisme jiwa/raga, karena saya rasa subyektivitas saya sebagai manusia yang sadar, yang punya daya cipta (kreativitas), yang mampu memilih untuk mengikuti insting, nalar, atau yang lain ini terlalu sulit untuk direduksi menjadi proses material.

    1. @Harun_Bey: soft-problem dan hard-problem bagi saya seperti dalam-realitas dan melampaui-realitas.

      Jiwa atau kesadaran pada konsep dalam-realitas adalah hanyalah produk samping dari proses elektrikal dalam otak, tidak lebih. Dalam konsep melampaui-realitas, itu bisa jadi adalah sesuatu diluar material.

      Apakah kelak kita bisa membuktikan keberadaannya?
      Itu seperti pandangan spekulatif kuno tentang atom dan bumi yang ditopang kura-kura raksasa, salah satunya terbukti benar sementara yang lain salah.

      Saya lebih memilih menganggap jiwa adalah hasil proses otak, tak lebih. Mungkin kalau kelak ada bukti lain yang meyakinkan, saya mengubah pendapat saya.

      1. Berarti real = material, begitu?

        Kalau sudah sampai ke situ memang sudah beda sih permasalahannya. Kalau saya berpendapat bahwa sains–yang memberikan penjelasan tentang hal-hal yang bersifat material–pada dasarnya bersifat instrumental. Dia tidak menjelaskan realitas, hanya memberikan penjelasan yang berguna. Jadi, saya tak akan ‘berinvestasi’ terlalu besar pada sains.

        Dapatkah sains menjelaskan mengapa kita mengalami dunia ini sebagai subyek? Atau dengan kata lain, dari mana datangnya (ke)aku(an)?

        1. @Harun_Bey: bagi saya sains adalah bangunan yang berdiri atas dasar fakta dan bukti. Sedangkan filsafat adalah bangunan yang berdiri atas asumsi dan menggunakan fakta dan bukti sebagai pelengkap.

          Dalam sains (sampai sejauh ini) kesadaran merupakan hasil proses materi. Kesadaran yang terpisah dari materi adalah salah satu hasil bangunan filsafat.

          Kerumitan tentang philosophical zombie, (ke)aku(an) akan muncul saat kita menganggap materi dan kesadaran adalah beda dan terpisah. Saya menganggap kesadaran muncul dari materi, jadi itu bukan isu bagi saya.

          1. Saya sepakat bahwa kesadaran yang terpisah dari materi adalah bangunan filsafat, tapi saya juga percaya bahwa sains dan filsafat tidak terlalu berbeda. AFAIK, sains dibangun di atas pandangan naturalisme yang berusaha menjelaskan semuanya sebagai proses alam. Jadi, naturalisme adalah teori laten yang melandasi seluruh bangunan sains.

            Saya percaya naturalisme/materialisme bukanlah satu-satunya penjelasan yang mungkin ataupun yang paling baik. Tidak pula saya percaya sains identik dengan realitas. Saya percaya sains adalah instrumen untuk menjelaskan fenomena dalam bentuk abstraksi reduktif.

            Saya masih belum mendapatkan penjelasan memuaskan, mengapa tubuh yang material ini dapat merasakan pengalaman subyektif (qualia), berpikir, berpikir tentang cara berpikir, memiliki kehendak bebas, daya cipta, dan melakukan berbagai aktivitas mental.

          2. @Harun_Bey: menurut saya, salah satu beda sains dan filsafat adalah relasinya dengan akal sehat (common sense).

            Filsafat, sebagai salah satu metode berpikir tertua sangat mengandalkan akal sehat untuk mengeksplorasi sesuatu yang belum diketahui. Konsep akal sehat yang merupakan akumulasi pengetahuan yang ditarik dari pengalaman, di ekstrapolasikan ke wilayah baru yang belum terjangkau nalar dan pengalaman.

            Sains, sebagai metode berpikir yang baru, menggantikan akal sehat dengan metodologi ilmiah untuk menjelajah ke wilayah yang belum diketahui.

            Dibidang fisika teoritis, beberapa fakta ilmu pengetahuan yang dibuktikan belakangan seperti teori relativitas, hubungan ruang dan waktu yang tak lagi statis, quantum fluctuation, quantum entanglement, pararel universes dan sebagainya sangat sulit dipahami dengan akal sehat akan tetapi itu nyata.

            Dibidang biologi teoritis, beberapa fakta evolusi, teori tentang asal kesadaran memang terasa absurd dan tak mudah dipahami dengan akal sehat (dan dengan religiositas), akan tetapi pelan tapi pasti teori-teori absurd ini satu-persatu mendapat konfirmasi dari bukti-bukti ilmiah.

            Filsafat dan sains ibaratnya radar untuk mengabarkan apa yang ada dibalik cakrawala, apa yang belum tampak oleh kita.

            Ramalan sains ke wilayah yang baru memang bisa salah, sebagaimana juga filsafat bisa salah, akan tetapi saya percaya saat ini kita mulai menjelajah wilayah dimana ramalan filsafat (dan akal sehat) kehilangan akurasinya digantikan ramalan sains (dan metode ilmiah).

  4. Membaca tulisan di atas kita bisa menarik kesimpulan bahwa orang-orang yang sehat fisiknya tidak akan mati (secara alami tentunya), tapi faktanya? Cukup banyak orang-orang yang tidak mengalami tanda-tanda penurunan fungsi tubuh tiba-tiba saja meninggal tanpa sebab. Bagaimana sains menjelaskannya? IMHO, ilmu kedokteran hanya mengajukan pembenaran sebagai “gagal jantung” atau “kegagalan fungsi” organ tubuh lainnya…

    1. @Ryan M.: yup benar, ada yang masih belum bisa dijelaskan sains walau sudah banyak yang bisa dijelaskan sains.

      Apakah itu selamanya akan ada diluar sains? saya rasa tidak, hanya menunggu waktu saja sains akan mengungkapnya.

      Apakah penjelasan diluar sains memadai (jiwa, ruh, jin, setan dan sebagainya)?
      itu hanya bahan ngobrol saja, karena tidak bisa di verifikasikan dan tidak bisa digunakan sebagai acuan standard yang bisa diuji obyektif.

      1. Standar uji untuk sains tentu tidak bisa dipakai sebagai standar uji untuk penjelasan di luar sains. Standar makanan berkualitas tentu tidak sama seperti standar motor berkualitas. Di sinilah pentingnya membuka diri terhadap ilmu-ilmu lain yang standarnya tidak atau belum kita pahami…

        1. @Ryan M.: benar sains tidak bisa digunakan menjelaskan yg diluar sains.

          Sains menggunakan standard bisa diukur, diuji dan diverifikasi dengan sama oleh siapa saja. Sains itu obyektif.

          Lain dengan rasa makanan, indahnya lukisan atau musik; anda akan mendapati nilai yang berbeda-beda, sesuai dengan selera tiap orang. Rasa atau indah itu subyektif.

          Bagaimana dengan jiwa/ruh atau alam ghaib?
          Anda bisa memilih sesuai selera anda, apakah milih penjelasan Islam, Kristen, Budha, Hindu, Kejawen atau lainnya. Jangan kuatir, semuanya tidak bisa diuji atau diverifikasi, sehingga nggak ada salah-benar.

          Sebagaimana soal rasa; jiwa, tuyul, jin ifrit, malaikat atau Tuhan; itu adalah masalah subyektif. Silakan anda pilih yang paling bermanfaat dan cocok buat anda. Tapi jangan ngotot bahwa pendapat anda paling benar, paling ilmiah, lha wong semuanya gak bisa dinilai secara obyektif.

          1. Maaf, saya bicara soal makanan berkualitas. Apakah makanan berkualitas mesti enak? Belum tentu. Makanan berkualitas juga sudah diuji secara ilmiah, memiliki kandungan nutrisi sekian, kadar air dan garam sekian yang semuanya memiliki parameter. Tapi apa iya standar makanan berkualitas bisa diujikan kepada motor yang punya parameternya sendiri? Apa bisa sebuah motor dibilang berkualitas apabila memiliki kandungan nutrisi, air, dan garam? Tentu tidak kan.

            Akan jadi hal yang lucu apabila ada seorang penguji makanan yang berdebat dengan penguji motor, dan dua-duanya sama-sama bersikukuh bahwa produk yang dihasilkan lawan bicaranya adalah produk yang tidak masuk akal hanya karena mereka berpegang pada ilmunya masing-masing dan tidak mau membuka diri terhadap ilmu lain.

          2. @Ryan M.: tepat sekali anda mempertanyakan apakah makanan berkualitas mesti enak?

            Kualitas dan Enak adalah sesuatu yang berbeda. Kualitas adalah sesuatu yang obyektif, bisa diukur dengan ukuran kandungan kalori, lemak, protein, vitamin dan sebagainya. Sedangkan Enak adalah sesuatu yang subyektif, tiap orang bisa punya ukuran berbeda.

            Dalam hal jiwa atau alam ghaib tiap kepercayaan, agama atau bahkan dilevel individu bisa punya pandangan yang berbeda tanpa bisa diverifikasikan satu sama lain.
            Untuk itu lucu bila ada orang yang bersikukuh mengatakan jiwa itu begini, alam ghaib itu begitu dan bersikukuh bahwa pandangan orang lain tentang hal itu salah. Jiwa dan alam ghaib itu adalah sesuatu yang subyektif.

            Secara obyektif, jiwa atau alam ghaib itu tidak ada karena tidak bisa diukur atau diuji dengan netral.

            Kalau ada yang bilang, “sains belum menemukan caranya mengukur, suatu saat akan bisa” ; itu kan masih akan dan “akan” dari setiap orang atau kepercayaan bisa beda.

            Sains sebagai sistem obyektif hanya bicara yang terbukti, hanya fakta. Selama masih “akan” dan bukan fakta, maka jiwa dan alam ghaib itu tidak ada dan sama kedudukannya dengan naga dan kuda sembrani.

  5. Hm… Rasanya kurang tepat bila “jiwa atau alam ghaib itu tidak ada” hanya karena tidak bisa diukur menggunakan parameter sains. Ya, menurut sains saat ini memang tidak ada yang namanya hal-hal semacam itu – sekali lagi karena parameter yang digunakan tidak cocok.

  6. Satu lagi contoh sederhana, keberadaan listrik – terutama yang berasal dari batre. Hanya karena kita tidak memiliki alat pengujinya (wattmeter, voltmeter, atau apalah itu), tidak berarti kita bisa mengatakan bahwa, “listrik itu tidak ada” – meski kita bisa melihat buktinya berupa hidupnya perangkat yang di dalamnya diisi batre. Begitu pula dengan jiwa, hanya karena Anda tidak memiliki alat penguji yang tepat, tidak berarti Anda bisa mengatakan bahwa “jiwa itu tidak ada” padahal Anda bisa melihat buktinya berupa hidupnya Anda, saya, orang-orang yang Anda sayangi, orang-orang yang Anda benci, guru Anda, dsb.

    Apa alat penguji yang tepat? Nah itu tugas Anda dan teman-teman saintis untuk menemukannya, dimulai dari pertanyaan, “Kenapa manusia bisa mati padahal fungsi tubuhnya masih baik? Kenapa manusia bisa punya perasaan subyektif yang jelas-jelas tidak logis?”

    Sekali lagi, di sinilah pentingnya membuka diri terhadap ilmu lain, tidak semata berpegang pada satu disiplin ilmu saja. Dengan membuka diri tanpa prasangka, Anda (dan sains) akan bisa menemukan keberadaan hal-hal yang sebelumnya dianggap tidak ada.

    Saya juga seorang yang logis, bahkan mungkin sangat logis dan lebih logis dari Anda, karena itu saya bisa – katakanlah – mengajari Anda untuk meneliti keberadaan jiwa dengan mengeluarkan pemikiran tentang “listrik” itu tadi. Apakah sulit untuk berangkat dari sebuah pemikiran bahwa “jiwa sebetulnya adalah sebuah energi seperti halnya listrik”?

    1. @Ryan M.: listrik batere merupakan contoh mudah untuk uji ilmiah.

      Beri 100 orang batere asli dan batere palsu tanpa mereka tahu yang mana. Beri masing-2 kabel halus untuk hubungkan kutub positif dan negatifnya. Setelah beberapa saat, batere asli akan menghasilkan panas pada kabel, yang palsu tidak. Anda bisa cek satu-satu ke 100 orang tersebut dan menyimpulkan dalam batere asli ada listrik -> buktinya panas yang dirasa oleh pemegang batere asli. Panas itu bukti dan bisa diverifikasi diantara 100 orang yg pegang batere asli.

      Listrik batere bisa dibuktikan (tidak perlu diukur dengan ketelitian kualitatif). Secara sains, listrik batere itu nyata.

      Anda merancukan antara fakta yang bisa dibuktikan sains dengan apa yang seharusnya berdasarkan akal sehat.

      Akal sehat adalah hasil kesimpulan dari akumulasi pengetahuan, pandangan (prasangka) budaya dan pengalaman.
      Sedangkan sains adalah hasil kesimpulan dari fakta dan bukti.

      Sains adalah “dunia yang nyata” karena ditarik dari hal yang nyata. Semua orang bisa melihat yang sama – sains itu obyektif.
      Akal sehat adalah “dunia yang seharusnya” karena ditarik dari pengalaman. Pengetahuan, pengalaman dan budaya yang beda bisa menghasilkan akal sehat yang beda – akal sehat itu subyektif.

      Fakta bumi yang melaju dengan kecepatan ratusan kilometer per jam mengelilingi matahari dan bersama matahari mengelilingi pusat bimasakti, tidak akan bisa anda peroleh dengan akal sehat karena anda tidak akan merasakan. Fakta itu hanya bisa diperoleh melalui sains setelah melakukan pengukuran posisi bintang dan matahari.

      Akal sehat mengatakan kita berdiri di atas tanah yang stabil statis, sementara sains mengatakan dalam diam-pun kita sedang melaju ratusan kilometer perjam.
      Akal sehat mengatakan waktu mengalir dengan laju tetap dan sama, sementara sains mengatakan dinamika aliran waktu yang bisa berbeda-beda yang bisa diukur dalam eksperimen.

      Akal sehat memuaskan kita, akan tetapi itu bukan alat untuk menyingkap kenyataan yang seringkali absurd dan tak bisa dimengerti.

      Anda mungkin jauh lebih logis dari saya. Tetapi kelogisan anda adalah dalam kerangka akal sehat anda.
      Anda yakin ada jiwa bedasarkan pandangan filosofis, budaya atau agama anda tanpa bisa menunjukkan satupun referensi fakta yang bisa diverifikasikan.

      Saat ini, berdasarkan sains anda salah.
      Tapi jangan kuatir, sains bukanlah perkara mutlak-mutlakan. Bila kelak jiwa sudah bisa diuji keberadaannya, sains akan mengatakan anda benar. 🙂

  7. @Judhianto,

    ” Penjelasan Ilmiah

    Kondisi yang bisa menghantarkan seseorang mendapatkan pengalaman spiritual di atas bermacam-macam. Beberapa mendapatkannya dalam serangan jantung, trauma fisik yang parah, tekanan penyakit kronis. Beberapa akibat pengaruh obat-obatan, hasil meditasi atau bahkan spontan tanpa sebab apapun.

    Para ahli medis sudah meneliti pengalaman ini sejak sekitar tahun 40-an. Dengan pemahaman lebih baik mengenai cara kerja otak, ilmu jiwa dan psikologi serta peralatan yang lebih canggih para ahli mulai mendapatkan titik terang mengenai penjelasan ilmiah fenomena ini. ”

    komentar gw:

    Ya begitulah nyatanya ilmuwan kafir itu. Setiap kali ada hal-hal ghaib yang gak masuk akal, mereka tidak akan mempercayainya. Malah yang ada, hal-hal ghaib tersebut, mereka hubung-hubungkan dengan ilmu psikologi lah, cara kerja otak lah, dan sains-sains yang lain.
    Ahk tai kucing.

    Ya gw sih taw, ilmuwan kafir ga mungkin percaya dengan adanya ruh, dengan alasan ruh itu ghaib. Ilmuwan kafir ‘kan ga percaya ama adanya makhluk ghaib. Ya wajarlah. Sebagai contoh kalo ummat Mukmin ngomong dgn org kafir (yg ateis):

    Mukmin: Woy, gw ngelihat jin
    Ateis: Alah, paling2 cuman halusinasi doang.

    Mukmin: Woy, kita harus beriman (percaya) dengan adanya malaikat
    Ateis: Alah, yang kayak gitu tuh cuman imajinasi.

    Mukmin: Woy, Tuhan itu beneran ada lhoh
    Ateis: Tuhan itu cuman beserta prasangka hamba-hamba-Nya (alias: Cuman sekedar imajinasi doank).

    Mukmin: Woy, si Anu lg marah-marah sampe-sampe bawa-bawa golok segala lhoh. Dia ‘kan lg terhasut oleh bisikan syaitan yg menggodanya saat marah2 sambil bawa golok
    Ateis: Alah, bukan syaitan, itu cuman kebawa emosi doank.

    Nah begitulah Ateis, jin dianggap halusinasi, malaikat dianggap imajinasi, Tuhan dianggap imajinasi, & bisikan syaitan dianggap cuman sekedar emosi.
    Ahk, dasar ateis geblek. Sama sekali gak percaya dengan adanya yang ghaib-ghaib. Nya henjor weh ai kahayangna kawas kitu mah. Wilujeng weh jadi Ateis. Cing atoh weh mun silaing dilelepkeun kana jero seuneu naraka Jahannam, heueuh.

    ” Untuk pengalaman bertemu dengan sosok yang telah meninggal, dewa atau bahkan Tuhan, para ahli menduga hal tersebut semacam halusinasi yang terjadi akibat kacaunya kondisi otak pada saat tersebut. Pada kondisi kacau, otak menggambarkan peristiwa yang sesuai dengan latar belakang budaya dan agama dari orang yang mengalaminya. ”

    komentar gw:

    Nah begitulah para makhluk-makhluk ateis. Hal-hal yang ghaib dianggapnya cuman sekedar halusinasi doang. Lebok tah kadinya halusinasi siah. Dasar ateis geblek, hal-hal yang berbau mistis tuh dianggapnya halusinasi doang. Siapa sih pencipta kata Halusinasi?! Orang mana dia?! Kayaknya dia Psikiater Ateis yang sama sekali menyangkal adanya makhluk ghaib.

    ” Penggunaan obat

    Sudah sejak lama obat-obatan semacam marijuana, LSD dan ecstasy memberikan beberapa efek tak terduga, diantaranya adalah perasaan keluar tubuh. Para ahli menemukan efek yang paling kuat ada pada ketamine. Obat ini sangat kuat mengacaukan fungsi penginderaan ruang dan tubuh.

    Pada salah satu percobaan dengan 192 sukarelawan menggunakan ketamine, didapatkan hampir 3/4 dari mereka merasa keluar dari tubuh mereka, melayang-layang dan menyaksikan tubuh mereka yang diam.
    Pemberian medan magnet ke otak

    God Helmet yang sedang diuji cobaMedan magnet yang kuat yang diarahkan ke bagian otak dapat mengacaukan fungsi bagian otak tersebut. Atas dasar inilah pada tahun 2004 dilakukan sebuah percobaan yang mengarahkan sinyal magnet ke bagian tertentu otak.

    Penelitian ini populer dengan sebutan “God Helmet” karena penggunaan semacam helm untuk memancarkan sinyal magnet ke otak dan efek spiritual yang dihasilkannya.

    Sekitar 20 orang yang dicoba menggunakan alat itu merasakan kehadiran Tuhan di ruangan percobaan (sebuah ruangan kedap suara yang kecil). Beberapa diantaranya bahkan dengan jelas melihat Yesus dihadapan mereka (sebagian besar adalah penganut kristen). Beberapa melihat penampakan mahluk gaib dan ada yang mengalami perasaan keluar dari tubuh mereka. ”

    komentar gw:

    Penggunaan obat?! Obat apa?! Obat mabok bukan?! Ya iyalah kalo makan obat mabok bakalan jadi mabok beneran tuh otak. Nah kalo orang mabok iya udah jelas mereka bakalan berhalusinasi krn akal mereka tidak terkontrol. Tapi tidak menutup kemungkinan kalo halusinasi tersebut adalah jelmaan syaitan (alias: jin kafir).

    ” Kita tidak bisa mengecek apa benar akhirat itu seperti yang digambarkan orang yang kembali dari kematian karena memang tidak ada yang pernah ke akhirat. ”

    komentar gw:

    Nah begitulah begonya orang kafir itu. Ga percaya adanya akhirat itu hanya karena kenapa? Hanya karena akhiratnya kagak kelihatan. Woy woy woy, akhirat itu ghaib jadi kagak kelihatan lokasinya. Jadi kalo gitu, yach yang penting imani saje. Ga usah capek-capek ngecek kesono-kemari! Okay?!

    ” Bahkan sempat digagas pembentukan First Earth Batallion dan Project Stargate, yang para prajuritnya dikumpulkan dari orang-orang yang dianggap mempunyai kemampuan paranormal.

    Dalam riset yang memakan biaya 1 juta dolar per tahun, berbagai kemampuan paranormal itu diuji secara ilmiah. ”

    komentar gw:

    Hmm… paranormal!! Makhluk-makhluk ateis mana bisa ngebedain yang mana dukun sakti (sunda: Dukun Lepus) dan mana yang hanya sekedar dukun abal-abal. Prajurit?! Prajurit apaan? Prajurit negara? Alah, prajurit semacam itu mana becus mereka seperti dukun-dukun hebat (dukun lepus) yang setiap harinya mengurus jimat-jimat, mantra-mantra, ajian-ajian khusus, benda-benda pusaka, dengan ilmu-ilmu sihir yang lainnya. Kalo gw pengen, gw bisa aja belajar yang kayak gitu. Tapi gw mah takut dosa, karena menurut Islam, yang kayak gitu tuh gak baik dan musyrik atau syirik.

    ” Salah satu yang diujikan adalah kemampuan melihat jarak jauh dan (ruh) keluar dari tubuh untuk menyelidiki tempat yang asing.

    Hasil uji paranormal tersebut ternyata mengecewakan. Akurasi para paranormal tersebut ternyata hanya 15%, yang dianggap tidak lebih baik dari hasil tebak-tebakan. Para cenayang tersebut ternyata bahkan tidak dapat menebak secara akurat isi ruangan di sebelah ruangan percobaan mereka.

    Pada tahun 1995, semua riset tersebut dihentikan karena hasil yang mengecewakan. ”

    komentar gw:

    Nah sekarang yg jadi pertanyaannya, kata siapa ruh orang yang tdk tidur bisa keluar seenaknya dari dalam jasadnya. Kata elo?! Woy gan, sepanjang gw mempelajari Islam, ruh manusia keluar itu hanya sebatas orang tersebut sedang tertidur atau mati. Kalo lagi bangun yang cuman meditasi doang, ya kagak becus, kenapa? Karena memang kaga ada dalilnya.

    Menurut lo apa? Ngrogo sukmo? Emang Sukmo itu apa sih? Ruh bukan? Owh iya. Sepertinya Sukmo itu kalo menurut bahasa Sunda itu cuman sekedar Pangacian atau Lelembutan (Bhs Indonesia: Pikiran / Jiwa / Memori). Menurut mitos di sunda di daerah gw gitu, klo ada org yg maw mampus itu, dy bakalan bengong, itu tandanya pangaciannya yang mungkin lg diajak ngomong ama malaikat maut. Wkwkwk!!! Kalo menurut gw, Pangacian itu hanya sebatas mental manusia, ga mungkin bisa melayang-layang kesana-kemari ninggalin badan.

    Klo menurut gw, org meditasi, melamun, bengong (apalah bedanya bengong ama melamun, paling-paling cuman beda tipis), itu hanya jiwanya aja yg lg melamun, bukannya sukmo, atau ruh, atau pangaciannya lg keluar dr badan. Akh itu bohong. Kaga masuk akal. Sebab kalo memang seperti itu, kita ga usah nyari informasi lg dr tv tentang keadaan di jakarta -misalkan-, tp cukup aja ngrogo sukmo, suruh ruh kita keluar dari badan buat pergi ke jakarta ngelihat keadaan disana. Nyatanya kaga kan?! Jd yg benernya, ga mungkin bisa ruh, pangacian, lelembutan, sukmo, keluar dr badan manusia. Kecuali selagi manusia tidur dan mampyus, sebab Allah Tabaraka wa Ta’ala sudah menerangkan mengenai hal itu di dalam QS Az-Zumar: 42 yang bermaksud bahwa Allah menggemgam nafs (jiwa) org mati dan jiwa org tidur. Giiituuuu.

    ” bagaimana dengan keberadaan jiwa itu sendiri? apakah jiwa hanya bagian dari ilusi otak? ”

    komentar gw:

    Dasar makhluk Ateis. Ayo terus sangkal terus semua hal-hal yang ghaib, men. Sekalian sangkal juga tuh wujudnya burung garuda, sebab sampai detik ini gw ga pernah taw wujud burung garuda seperti apa. Di kebon binatang pun gw ga pernah ngelihat adanya burung garuda Hahahah 😀 ..

    Iya memank otak manusia yg lebih banyak berperan penting bagi fisik dan mental manusia. Gw jg ga bego. Gw jg taw gan, klo otak manusia memiliki rangsangan sensorik, otak kiri, otak kanan, otak tengah, batang otak. Gw jg taw, gerak tubuh manusia itu diatur otak. Gw jg taw dgn adanya memori otak, gw jg tau klo mental manusia itu dibagi menjadi: pikiran; perasaan insting; ingatan; kesadaran. Iya tentu aja gw jg taw tentang itu. Tp ga mungkin dgn gara-gara itu, gw menyangkal adanya ruh.

    Rasulullah SAW bersabda: “Ar-riihu min ruhillahi (Angin itu berasal dari ruh [yang telah diciptakan] Allah)” (HR Bukhari & Muslim). Klo melihat dr bahasa arab, Ar-Ruwh itu berarti angin. Dan tentunya gw yakin dan percaya 100% kalo dalam jasad manusia dan hewan ada ruh sehingga dy bisa hidup.

    1. @GW: komentar anda panjang, tapi intinya satu:

      Ruh, jiwa atau segala yang ghaib itu nyata karena ada dalam Qur’an. Perkara gak bisa dibuktikan atau berlawanan dengan bukti, bagi anda tak penting, yang penting Qur’an bilang apa.

      Bagi saya, yang nyata adalah yang bisa dibuktikan dan diverifikasi. Ya sudah kalau anda nyaman hidup dalam dunia dongeng …
      🙂

      1. @Judhianto,

        Berandai-andai, misalkan sekarang ini gw punya pacar yg sedang ada di luar negri. Gw khawatir pacar gw takutnya selingkuh dr gw. Kemudian gw nelpon dy dan menanyakan kabarnya, lalu gw menanyakan: “Apakah kamu masih cinta sama aku, yank??” Pacar gw menjawab: “Walaupun kita berjauhan lokasi kita dimana tinggal, tapi aku ga pernah berpaling pada yang lain, dan PERCAYALAH (alias: yang penting imani saja) bahwa cintaku hanya untukmu”.

        Apa yg musti gw lakukan??? Ya yang penting percaya saja (imani saja) ucapan pacar gw, krn gw yakin klo dy itu ga mungkin mendua dr gw. Karena klo gw harus mencek, gimana caranya, sementara gw ga punya duit sedikitpun utk ke luar negri, ga punya temen disana, ditambah pacar gw pun blom ada kesempatan utk pulang ke hadapan gw. Jd yg hrs gw lakukan adalah percaya saja (imani saja) apa yg dy bilang.

        Begitu juga mata gw kaga ngelihat Allah SWT, seluruh panca indra gw kaga menjangkau Allah SWT. Gw kagak bisa mengecek eksistensi dzat Allah dikarenakan dy ghaib diluar jangkuan indra dan akal gw. Terus Nabi Muhammad SAW yang dipercaya membawa firman dan ajaran Allah berupa Al-Qur’an dan Al-Islam, ya gw maw ga maw kudu percaya apa kata Nabi Muhammad SAW. Misalkan, kata Allah SWT dalam kitab-Nya, ini begini atau itu begitu, ya maw ga maw gw yang penting percaya saja (yg penting imani saja), krn memank logika gw ga mampu mengecek tentang dia yang maha kuasa atas segala sesuatu. Inallaha ‘ala kuli syai’in qodir.

        Kecuali kalo gw nya keik lo, gan, yg kafir kepada Allah SWT dan Nabi-Nya SAW, ya itu baru gw bakalan menyangkal firman-Nya. Gw jg taw sih gan, hati lo jg sebenernya pasti takut sama tuhan, apalagi jika lo melihat cemeti azab-Nya (ayo ngaku aja). Cuman hanya karena tuhannya ga kelihatan, jd lo berani jingkrak-jingkrak menentang tuhan di muka bumi ini, iya toh?! (Gak pa pa koq ga jujur jg). Eh bukan gitu sich, gan, sebenernya yg lo tentang bukan tuhan, tp Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Because kluw seandainya lo sudah mendapatkan bukti nyata & fakta & realita yg terpampang di logika lo bahwa Nabi Muhammad SAW itu benar-benar utusan Tuhan, pasti jg lo langsung bersujud memohon ampunan dari-Nya karena sudah menyangkal dan kafir kepada-Nya.

        Ya semoga ajalah bentar lagi hidayah (petunjuk) dan inayah (pertolongan) dari Allah dihadirkan kepada lo biar lo jd org yg masuk Islam, taubatan nasuhan, serta menjadi sang pecinta ahlussunnah wal jama’ah. Amin!

        1. @Gw: benar kan, anda sama sekali tidak bisa berbicara dengan bahasa dunia nyata, yaitu dengan bukti dan logika. Sebagai gantinya anda sibuk dengan dunia khayalan/dongeng yang hanya bisa dijelaskan dengan berandai-andai memakai perumpamaan dan berkhayal.

          Tahukah anda jika yang anda percayai cuma bisa dijelaskan dengan berandai-andai, apa bedanya keberadaan yang anda percayai dengan keberadaan Dewa Zeus, Dewa Thor, Dewa Marduk, Dewa Latta, Dewa Uzza dan segala macam dewa dan tokoh dongeng?

          Anda mendo’akan saya hidayah? terima kasih. Rasanya gak sopan kalau saya gak balas mendo’akan anda balik.

          Semoga anda diberi wawasan luas, kemampuan berpikir rasional dan tentunya keberanian berpikir bebas.

          🙂

          1. Gan, jd maksud lo, gw kudu becus mempertontonkan Allah SWT di depan publik gitu, gan??? Gw kudu becus mengujicoba para malaikat di ruangan Laboratorium untuk dieksperimenkan gitu, gan??? Aduuuh, ya ampyun, kenapa sih lo kaga ngerti-ngerti. Itu tuh ghaib coooooy GHAIB (Print kata ghaibnya, terus tempel di jidat lo, biar ga lupa ckckckckckckckckckck 😛 😛 😛 😛 😛 ).

            Sekarang gw maw nanya, lo punya mental ga??? Punya ‘kan??? Coba ronsen, terus aplod foto mental lo itu ke blog lo ini, gw pengen lihat!!!

            Iya terimakasih n tengkyu udah mendoakan kebaikan ke gw. Semoga lo dikasih hidayah sama Yang Di Atas supaya bersedia untuk memeluk agama Islam sebelom lo mati! Amin!

          2. @Gw: tunjukkan saja bukti yang bisa diverifikasi siapa saja.

            Kalau tak ada bukti tersebut, maka apa bedanya Allah dengan Dewa Zeus, Dewa Odin, Dewa Thor, Sinterklas, Kuda sembrani, Naga penyembur api, Suster Ngesot, Suster Keramas dan segala macam.

            Tentang mental, silakan saja tanya ahli jiwa bagaimana membuktikan dan memverifikasikannya. Tentu bukan dengan difoto 😀 😀 😀

            Oh ya arti ghaib itu berarti tidak terlihat = tidak bisa dibuktikan, yang bagi saya sama dengan omong kosong = khayalan.
            🙂

  8. Udahlah, Judhi, gw rekomendasikan, lebih baik tobatlah gan! Buka mata buka hati, hidup agan ini sia-sia jika agan ateis. Berarti sama dengan hewan, lihatlah hewan, mereka tak mempercayai adanya tuhan karena memang mereka tak tahu-menahu tentang ilah yang patut disembah.

    Udahlah, jika lo punya otak, harap berfikirlah dengan logika yang jernih. Masuklah Islam, itulah saran gw.

    Klo agan pengen gw membuktikan adanya makhluk halus, ya agan kudu pergi ke dukun juga ke tempat angker gan. Klo agan minta gw yg suruh buktiin, ya ga becuslah krn gw kan jauh dgn agan. Tolonglah jangan ngaco gan!!!

    Apalagi agan sehari-hari hidup di tempat yang ramai atau banyak orang (misalkan), sedangkan jin itu sukanya tinggal di tempat angker, yang sunyi sepi and jauh dari keramaian manusia. Gimana caranya agan bisa ngebuktiin adanya jin klo gitu, sedangkan agan sendiri klo tiap malem tuh suka molor dan ga mau pergi ke tempat angker, sedangkan jin adanya di tempat angker.

    1. @Gw: bagaimana sih anda?
      Menjelaskan ke saya dengan logis tentang apa yang anda percayai saja gak sanggup, menyajikan satu bukti saja gak mampu, kok maksa-maksa percaya pada anda? Berlogika saja gak mampu kok maksa orang nuruti logikanya?

      Banyak berlatih berpikir saja dulu, mungkin yang di dalam kepala itu sudah beku kebanyakan mikirin jin ifrit dan suster nyungsep…

      🙂

  9. @GW:Ternyata anda belum tau apa itu TUHAN? TUHAN adalah sesuatu yang di puja puja atau di agung agungkan.Jadi yang namanya TUHAN itu bisa kucing,monyet,marduk,syiwa,yesus atau ALLAH,bahkan logikapun bisa jadi TUHAN.Jadi yang namanya orang ateis itu tidak ada.Ngaji lagi ya dik kalau bisa sampai S3 sampai doktoral,baru nanti adik akan tau bahwa agama kita ini perlu banyak revisi karena sudah tidak berguna bagi masyarakat,semoga adik dapat hidayah.

Perkaya Tulisan Ini Dengan Pendapat Anda