Altruisme Dan Agama

Altruisme, orang yang altruis, apa itu?

Seorang altruis adalah orang yang mau mengorbankan (kepentingan) dirinya sendiri demi kebaikan orang lain. Orang yang punya motivasi untuk menolong orang lain dan berbuat kebaikan tanpa pamrih.

Lawan altruisme adalah egoisme, dimana seseorang mengabaikan orang lain demi kepentingan dirinya sendiri.

Ciri utama moralitas altruistik adalah mereka mau berkorban untuk kesungguhan  berjuang membantu orang yang ada di sekeliling mereka. Tidak hanya berkorban, mereka bahkan kadangkala dengan gigih berani menghadapi orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka. Pengorbanan ini bagi sebagian besar orang terasa tidak masuk akal.

Para Altruis Di Sekeliling Kita

Pernah dengar nama Muhammad Kasim Arifin?

Pada tahun 1964 ia adalah mahasiswa IPB yang diberangkatkan KKN di Waimital, Pulau Seram, Maluku. Tugasnya sederhana, penyuluhan Panca Usaha Tani kepada petani di daerah pelosok tersebut.

Tapi apa dikata, disana ia melihat para petani miskin yang tidak mendapatkan hasil memadai dari pertaniannya. Bertani dengan cara sederhana dan pemahaman sederhana. Jauh dari apa yang diketahuinya sebagai mahasiswa pertanian.

Mengajari petani
Mengajari petani

Hatinya tergerak. Tugas KKN tidak lagi penting baginya. Ia terjun membantu para petani itu. Ia ajarkan semua yang ia tahu… bahkan lebih…

Ia memberi contoh menyemai padi, ia mengajarkan strategi irigasi dan mengerjakannya, ia mengukur curah hujan, ia mengajarkan memelihara ternak, ia mengajar baca tulis kepada para anak petani.

Tanpa tugas dari pemerintah ia mengabdi. Tanpa dana dari pemerintah ia membangun.

KKN beberapa bulan tak lagi penting, ijazah sarjana tak lagi penting. Ia membuktikan cintanya pada kemanusiaan. Baginya gelar sarjana tak ada artinya dibanding mengangkat para petani dari kemiskinan.

Utusan orang tua dan kampus yang memintanya pulang, tak ia hiraukan. Baru setelah secara khusus Rektor mengirim sahabatnya untuk menjemput, ia pulang. Itu setelah 15 tahun.

Ia menerima gelar Insinyur Pertanian Istimewa. Bagi kampusnya, ujian kesarjanaan tidak perlu , ia telah membuktikannya 15 tahun. Gelar sarjana hanyalah sampiran tambahan bagi gelar Antua yang disematkan oleh masyarakat desa yang mencintainya.

Sahabatnya, Taufiq Ismail, membacakan sebuah puisi khusus untuk Kasim pada hari wisudanya. Berikut ini penggalan terakhir dari puisi tersebut:

Di Waimital Kasim mencetak harapan
Di kota kita mencetak keluhan

(Aku jadi ingat masa kita diplonco
Dua puluh dua tahun yang lalu)
Dan kemarin, di tepi kali Ciliwung aku berkaca
Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi
Kuludahi bayanganku di air itu karena rasa maluku
Ketika aku mengingatmu, Sim
Di Waimital engkau mencetak harapan
Di kota, kami …

Padahal awan yang tergantung di atas Waimital, adalah
Awan yang tergantung di atas kota juga
Kau kini telah pulang
Kami memelukmu.

Para Altruis, Pahlawan Yang Langka

Dengan kesungguhannya membantu sesamanya, para altruis menjadi sosok yang sangat dihormati di lingkungannya. Mereka menjadi teladan yang dibutuhkan masyarakat.

Sayangnya para altruis langka dimasyarakat dan tidak ada metode yang manjur untuk membentuk para altruis.

Agama, Pengganti Altruisme

Jika inti altruisme adalah berbuat baik kepada sesama walaupun kadang mengorbankan diri sendiri, bukankah itu yang diajarkan agama?

Benar agama mengajarkan kebaikan semacam itu, akan tetapi ada perbedaan prinsip antara kebaikan para altruis dengan kebaikan umat agama yang saleh.

Bantunan kepada 250 anak yatim Aceh
Bantuan ke anak yatim

Para altruis didorong semata-mata oleh kepekaan perasaannya, tidak penting bagi mereka mengenai apa yang akan mereka peroleh kelak.

Agama mendorong tindakan yang sama, akan tetapi dengan memberikan sesuatu sebagai iming-iming. Sebagai contoh:

  • Bersedekahlah, Allah pasti akan membalas dengan berlipat-lipat di dunia (ala Yusuf Mansyur). Kalau tidak dibalas di dunia, kelak di akhirat akan ada ganjaran yang berlipat-lipat.
  • “Saya tidak mengharapkan apa-apa selain dari ridho Allah”. Ya ridho Allah itu iming-imingnya, bukankah jika allah ridho, surga kelak akan jadi milik kita?

Jika para altruis meninggalkan ego mereka demi kebaikan manusia lain, maka dengan agama egoisme ini justru dimanfaatkan untuk mendorong perbuatan baik.

Pada agama, orang di-iming-imingi sesuatu agar mereka memperjuangkan kebaikan bagi sesama. Iming-iming itu adalah balasan kebaikan, pahala, surga, atau ridho Allah.

Hasilnya akhirnya sama, kebaikan bagi masyarakat. Bagi masyarakat, kebaikan ya kebaikan, motivasi kebaikan yang tidak terlihat tidaklah penting.

Bisakah Agama Membangkitkan Altruisme?

Bila kebaikan tertinggi adalah kebaikan tanpa pamrih pribadi, apakah agama bisa mengantarkan pemeluknya menuju kebaikan macam ini?

Alah bisa karena biasa. Witing tresno jalaran soko kulino.

Kebaikan tanpa pamrih pribadi langsung. Bisakah?
Kebaikan tanpa pamrih pribadi langsung. Bisakah?

Dengan mendorong orang berbuat baik, walaupun dengan iming-iming, sebenarnya agama mendorong penganutnya untuk biasa berbuat baik mengutamakan orang lain.

Dengan biasa berbuat baik, kepekaan seseorang kepada kebaikan akan terasah. Bila kepekaan untuk kebaikan ini tinggi, orang akan mau berbuat baik tanpa memikirkan imbalan yang akan diperolehnya kelak, pahala ataupun surga.

Contoh ketulusan ini dapat kita lihat dari para sufi. Bagi mereka Allah adalah sumber kebaikan, dan mereka meleburkan diri dalam kebaikan tanpa perduli lagi apakah pahala yang akan mereka dapat kelak.

Penggalan puisi Rabiah Adawiyah berikut dengan bagus menggambarkan pengabdian kepada kebaikan yang telah melampaui imbalan surga dan neraka:

Ya Allah, apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di dunia ini,
Berikanlah kepada musuh-musuh-Mu
Dan apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di akhirat nanti,
Berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu
Karena Engkau sendiri, cukuplah bagiku

Aku mengabdi kepada Tuhan
bukan karena takut neraka
Bukan pula karena mengharap masuk surga
Tetapi aku mengabdi,
Karena cintaku pada-Nya
Ya Allah, jika aku menyembah-Mu
karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Dan jika aku menyembah-Mu
karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata,
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu
yang abadi padaku

 

Allah adalah kebaikan, rahmat untuk semua. Semoga kita semua bisa menjadi Khalifah (wakil) Allah di dunia ini, dengan memancarkan kebaikan bagi siapapun, dan bukan hanya pemburu iming-iming pahala dan surga.

Baca Juga:


14 komentar

    1. @Puspita Anggrainy: Banyak jalan menuju kebaikan. Ada yang melalui iming-iming dan ancaman, ada yang melalui dongeng, ada yg memang dari panggilan jiwa altruis. Tidak masalah asalkan benar-2 mengantarkan menuju kebaikan bagi masyarakat.
      Terima kasih komentarnya.

  1. kata sumber, mayoritas penduduk Jepang adalah Atheis. Berarti orang Jepang yang baik benar-benar tulus kebaikannya,ya,bang? tapi bener kata Puspita, sih, ga masalah tulus atau setengah tulus yang penting manfaat.

    1. @Edi Susanto: di setiap kelompok selalu ada yang mulia dan bajingan. Kelompok religius dan atheis sama juga.
      Tapi di kelompok religius mau tidak mau timbul prasangka: dia baik karena memang baik atau karena ingin sesuatu dari Tuhannya?

  2. Luarbiasa, judhianto mengemukakan berita yang begitu mengharukan.
    Dibandingkan diriku, jauh api dari panggang, malu hati ku jadinya.
    Padahal IPB merupakan universitas dimana aku mengundurkan diri, tapi aku bangga pada IPB dengan kejadian ini.

    Wassalam

  3. Patut di contoh, membantu tanpa pamrih tidak ada hitung2an seperti yg selalu disampaikan pemuka2 agama surga dan neraka, yang kadang bertolak belakang dengan kebesaranNya. Guyunan : Hidup dah susah untuk mayoritas manusia, mati masuk neraka ( dimana maha pemaafnya tuhan! ). Urip wis rekoso koyo neroko mati masuk neraka lagi hem….gak usah dicipta dong kalau pada akhirnya pesakitan terus,

  4. memang ikhlas gampang di ucapkan ,hanya segelintir orang orang yang bisa memgamalkan.dan yang mengamalkan ikhlas dalam kehidupan ini siap 2 aja di nilai orang yg tak normal.karena orang kebanyakan sekarang adalah orang 2yang ikhlas di mulut doang……termasuk saya….heheheh

    1. @Nor: sepertinya pendidikan kita kurang menekankan unsur kasih sayang atau keluhuran budi untuk landasan berbuat baik dan lebih kepada unsur upah/hukuman yang secara vulgar diwakili oleh surga/neraka.
      🙂

  5. iming2 pahala, zurga, neraka, harap ridho adalah warizan dari utuzan Tuhan. bahkan cara berdoa dan lafadz nya pun zudah ada tuntunannya. bahkan Nabi pun berdoa agar biza berada di zurga, di zizi Tuhannya.
    mmm.. puizi zufi itu kayaknya gambaran imannya zudah level tinggi ya ato malah dikit zombong deh 🙂

    bdw kizah anak kkn itu bikin terzentuh zekali maz judi

Perkaya Tulisan Ini Dengan Pendapat Anda