Keputusan Moral Yang Tidak Rasional

Keputusan moral kok tidak rasional?

Yang namanya keputusan moral berarti keputusan yang dilakukan berdasarkan pertimbangan nilai moral. Menimbang nilai moral berarti berpikir, berpikir berarti menggunakan rasio. Jadi keputusan moral pastilah keputusan rasional…. benar nggak?

Immanuel Kant, filsuf Jerman terkemuka, berpendapat bahwa berbuat baik hanyalah konsekuensi dari bertindak rasional. Imoralitas, adalah hasil dari ilogika (illogic).

Konsep ini pula yang mendasari hukum modern, dimana orang yang “rasionalitasnya cacat” tidak dapat dihukum atas perbuatan jahat yang dilakukannya. Orang gila tidaklah layak dihukum karena mereka tidak bisa membedakan antara benar dan salah.

Jadi keputusan moral pastilah hasil dari keputusan rasional.

Benarkah?

Studi Neurosains: Keputusan Moral Adalah Irasional

Pada studi tentang otak dan bagaimana otak mengambil keputusan, para ahli neurosains menemukan fakta yang menarik tentang keputusan moral.

Otak, sumber segala keputusan kita
Otak, sumber segala keputusan kita

Sekelompok orang diberi pertanyaan yang mengharuskan mereka mengambil keputusan moral, sementara para ahli memindai otak mereka untuk melihat wilayah mana yang aktif saat pengambilan keputusan tersebut.

Pada saat menghadapi dilema moral, ternyata yang pertama kali aktif adalah wilayah otak emosional dan kemudian otak rasional menyusul belakangan.

Manakala kita berhadapan dengan dilema etika, alam bawah sadar kita otomatis menciptakan reaksi emosional. Dalam beberapa milidetik saja, otak menghasilkan pikiran: kita tahu mana yang benar dan yang salah.

Insting-insting moral ini tidak rasional. Sirkuit rasional justru aktif setelah keputusan benar-salah sudah kita ambil. Alasan rasional baru muncul setelah keputusan dibuat, bukan sebelum pengambilan keputusan.

Studi Psikologi: Pikiran Sadar, Sang Pengacara

Ada satu studi menarik yang dilakukan Jonathan Haidt pada tahun 2001. Ia meminta pendapat orang-orang tentang cerita dibawah ini:

Julie dan Mark, adik dan kakak, sedang berlibur ke daerah Prancis. Suatu malam, mereka bermalam di pondok kecil dekat pantai. Suasana yang hangat membuat Julie dan Mark ingin berhubungan seks. Julie minum pil antihamil, dan Mark menggunakan kondom. Mereka berdua sangat menikrnati percintaan tersebut, tetapi tak mau mengulangi perbuatan itu lagi. Mereka berjanji untuk merahasiakan peristiwa malam itu dan ternyata di kelak kemudian membuat mereka berdua makin dekat. Apakah perbuatan Julie dan Mark itu salah?

Hampir semua orang yang ditanya mengatakan perbuatan itu immoral.

Iblis dan Malaikat, perlambang sumber penilaian moral
Iblis dan Malaikat, perlambang sumber penilaian moral

Ketika ditanya mengapa? alasan pertama yang muncul adalah hubungan itu secara biologis akan menghasilkan keturunan yang tidak sehat.

Ketika dinyatakan bahwa hubungan itu aman, tidak akan menghasilkan keturunan karena kontrasepsi ganda yang digunakan, alasan kedua muncul: hubungan itu akan merusak persaudaraan mereka.

Ketika diberitahu bahwa mereka justru semakin dekat karena mempunyai rahasia yang harus disimpan bersama, alasan berikutnya muncul. Ketika alasan berikutnya dipatahkan lagi, alasan berikutnya yang lain muncul, dan seterusnya. Ketika tidak ada lagi alasan rasional, beberapa orang mengatakan itu menjijikkan sementara yang lain mengajukan argumen agama.

Haidt menyebut kondisi mental mereka sebagai “akrobat moral” (moral dumbfounding). Mereka tahu bahwa perbuatan itu secara moral salah – tetapi tak seorang pun secara rasional bisa mempertahankan penilaian moral mereka.

Skenario sederhana tentang hubungan seks adik-kakak ini membuktikan dua proses mental yang terpisah ketika kita membuat keputusan moral. Otak emosional mengambil keputusan moral, apa yang salah dan yang benar. Otak rasional kemudian mencari pendukung rasional untuk keputusan itu.

Dalam kasus Julie dan Mark, otak emosional menolak untuk percaya bahwa hubungan seks adik-kakak diizinkan secara moral, betapa pun banyak alat kontrasepsi yang dipakai. Dipihak lain, otak rasional menjelaskan keputusan moral tersebut. Otak rasional memberikan alasan-alasan, tetapi semua alasannya muncul setelah keputusan moral itu diambil, setelah faktanya terjadi.

Proses pengambilan keputusan moral hampir sama dengan proses kita menilai sebuah karya seni. Saat kita melihat sebuah lukisan, kita bisa langsung tahu apakah kita menyukainya atau tidak. Apabila orang lain minta penjelasan kita kenapa kita menyukainya, baru kita mencoba mencari tahu alasannya.

Otak rasional kita bekerjanya hampir seperti pengacara yang dibayar otak emosional. Ia bekerja menyusun argumen dan alibi untuk membela apapun yang telah diputuskan oleh otak emosional.

Psikopat, Rasionalis Tuna Emosi

Dari hasil studi di atas, jelaslah bahwa sebenarnya keputusan moral yang baik adalah keputusan yang tidak didasarkan oleh proses rasional. Sebenarnya emosi kita, atau dalam istilah yang lebih sesuai, hati nurani kitalah yang sebenarnya membimbing kita untuk mengambil keputusan moral. Sedangkan nalar kita hanyalah alat rasional untuk membela keputusan nurani itu.

Hal ini yang menyebabkan mengapa psikopat sangat berbahaya: mereka tak mempunyai emosi yang berfungsi sebagai pembimbing pertama keputusan moral. Otak mereka mempunyai ruang kosong yang berbahaya, yang seharusnya diisi oleh perasaan. Bagi orang-orang psikopat dosa selalu bersifat intelektual, tak pernah emosional. Kesudahannya, psikopat hanya memiliki pengacara rasional di dalam kepalanya, yang bertugas menjustifikasi semua perbuatannya. Psikopat berbuat jahat sebab emosinya tak pernah melarangnya.

Mintalah Fatwa Pada Hatimu

Ada satu hadis Rasulullah yang menarik untuk saya kutip:

Mintalah fatwa pada hatimu.
Kebaikan adalah sesuatu yang membuat hatimu tenang dan keburukan adalah sesuatu yang membuat hatimu gelisah.
[H.R. Ahmad dan al-Dârimî]

Mintalah fatwa pada hatimu
Mintalah fatwa pada hatimu

Seperti kepekaan kita terhadap seni, kepekaan moral kita akan terasah bila kita terbiasa untuk belajar mendengarkannya.

Belajarlah mulai mendengar dan percaya pada nurani anda. Allah meniupkan ruh-Nya pada Adam bukan tanpa alasan.  Dengarkanlah, dan anda akan mendapatkan kedamaian.

Baca Juga:


7 komentar

  1. hemm..ini diambil dari KLUB SAINS FREEDOM INSTITUTE:
    OTAK, SPIRITUALITAS, DAN ALTRUISME ya pak Judhi hehe.. tulisan bapak jauh bisa dimengerti ..terima kasih pak..

    1. @Puspita Anggrainy: memang saya pernah ikut diskusi di Klub Sains Freedom Institue, dan menginspirasi saya berbagi lewat tulisan saya. Terima kasih bila bisa membantu memahami lebih mudah,

Perkaya Tulisan Ini Dengan Pendapat Anda