Wawancara Imajiner Dengan Penghuni Neraka

ApiNeraka-630x300

Ini adalah bagian kedua dari wawancara dengan perwakilan penghuni Akhirat. Kali ini saya bertemu dengan wakil penghuni Neraka.

W (Wartawan): Apa Kabar?
PN (Penghuni Neraka): Alhamdulillah, baik.

W: Bisakah anda memberi gambaran tentang keadaan di Neraka?
PN: Gak ada yang bagus dari kondisi fisik neraka. Asap memedihkan mata dimana-mana, bau busuk, anyir dimana-mana, potongan tubuh berceceran, udara panas pengap membuat kita susah bernafas, suara teriakan-jeritan terdengar selalu.

W: Begitu mengerikan…. bagaimana anda melewati masa-masa itu ketika pertama kali masuk neraka?
PN: Ketika pertama kali sadar di alam kubur, saya benar-benar shock berat. Ternyata kehidupan setelah mati itu ada, saya dulu tak percaya! Kehidupan hedonis saya semuanya berbalik 180o di akhirat. Hantaman demi hantaman saya peroleh, entah berapa kali tubuh saya hancur tercecer-cecer, tapi ajaibnya dalam sekejab tubuh saya kembali utuh untuk menerima hantaman berikutnya.

W: Itu sudah di neraka?
PN: Belum… ketika seseorang yg berpakaian aneh – belakangan saya tahu itu malaikat – mengabarkan bahwa saya akan ke neraka, ketakutan saya memuncak. Saya diantar – tepatnya diseret paksa – ke depan sebuah gerbang membara. Gerbang terbuka dan sebuah martil raksasa menghantam saya dari belakang, melemparkan saya masuk. Sakit sekali, tapi ajaib, saya tidak mati walau kepala saya sempat somplak sebelum utuh lagi.

Gambaran neraka yang terlukis di Katedral Florence Italia
Gambaran neraka yang terlukis di Katedral Florence Italia

W: Cerita selanjutnya bagaimana?
PN: Tak ada waktu tanpa siksaan. Seluruh tubuh saya pernah satu persatu dihancurkan, mulai dari kepala sampai ujung kaki. Berbagai perlatan siksa pernah mendarat ditubuh saya; pedang, tombak, besi membara, cairan timah, batu segede gajah, pokoknya apa saja.

W: Rasanya sudah cukup kengerian ini. Saya tak ingin mengetahui lebih jauh.
PN: Eit jangan berhenti dulu wawancaranya. Saya punya sesuatu yang berharga untuk disampaikan.

W: Apa itu?
PN: Awalnya saya menyangka saya akan terjebak dalam horor ini selamanya.

W: Bukannya demikian?
PN: Setelah seminggu dalam neraka ada hal baru yang saya sadari. Saya tidak bisa mati, saya tetap bisa berpikir. Sehancur apapun tubuh saya akibat siksaan, saya tetap hidup dan kembali utuh. Siksaan akan datang setiap saat, rasa sakit akan datang setiap saat, akan tetapi saya tahu pasti bahwa saya akan tetap hidup, tetap bisa berpikir.

W: Betapa menyiksanya kehidupan dan pikiran seperti itu…
PN: Saya belum selesai bercerita….

W: Oh maaf….
PN: Saya maafkan…

PN: Setelah mendapat kesadaran tersebut, saya teringat pada laku religius yang saya tertawakan saat masih hidup. Saya teringat pada para Yogi Hindu yang menyangkal realitas di India. Mereka menghabiskan waktu dengan semedi mengabaikan realitas untuk mencapai ketenangan jiwa dan menyatu dengan realitas tertinggi, nirwana. Saya tidak tahu detil kepercayaan mereka, tetapi perlahan-lahan saya menyadari hidup ditempat yang ideal untuk laku religius mereka.

W: Saya tidak mengerti, maaf…
PN: Seberat apapun siksaan yang saya terima, saya sadar dan selalu sadar. saya hidup dan selalu hidup. Realitas dunia saya adalah siksaan, menghadapi relitas adalah menghadapi siksaan.

Seorang Yogi yang mengabaikan realitas dunia untuk mencari nirwana
Seorang Yogi yang mengabaikan realitas dunia untuk mencari nirwana

PN: Kalau para Yogi berjuang untuk mengabaikan realitas yang menarik untuk mencari ketenangan nirwana, suatu hal yang sulit bagi kebanyakan orang karena relitas mereka adalah realitas yang penuh warna. Sulit untuk sama sekali abai terhadap tubuh karena mereka masih butuh makan minum untuk tetap hidup.

Realitas saya adalah siksaan, mengabaikannya menjadi tujuan saya.

Saya mulai tidak memperdulikan semua indra saya, toh tak ada yang indah. Semuanya adalah sakit, semuanya adalah siksa.

Saya mulai tidak memperdulikan cabik-cabik tubuh saya, toh saya tidak bisa mati.

Saya tidak lagi berteriak saat tangan saya dicacah. Saya tidak lagi menangis saat tubuh saya dibelah. Saya tidak lagi perduli.

W: Sangat menarik….
PN: Setelah kira-kira satu tahun, maaf saya tidak tahu tepatnya, saya kehilangan orientasi waktu di neraka. Setelah kira-kira satu tahun, saya benar-benar bisa abai terhadap tubuh saya, terhadap indra saya. Saya benar tidak merasa apa-apa, tidak mendengar apa-apa, tidak melihat apa-apa. Hanya rasa diri yang aneh yang saya rasakan.

W: Apa yang selanjutnya?…
PN: Saya sampai pada realitas yang lain, saya tak bisa menjelaskannya. Mungkin ini yang dimaksud dengan nirwana oleh para Yogi. Perasaan tenang, bahagia sekaligus. Merasa hilang ke-diri-an dan menyatu dengan semesta yang damai.

Saya damai, bahagia. Dan saya senang bisa menikmati itu tanpa batas waktu. Saya abadi dan tidak butuh apapun untuk badan saya. Sungguh luar biasa.

Sampai tiba-tiba saya kembali sadar dan terengut ke wawancara dengan anda. Saya senang bertemu lagi dengan manusia akan tetapi saya juga mendadak kehilangan ketenangan dan kedamaian saya.

W: Maaf saya menggangu kedamaian anda…
PN: Tak apa, saya senang juga bisa menyampaikan kepada anda tentang hidup saya yang menarik.

W: Maaf, yang mana?
PN: Saya puas telah mereguk semua kesenangan dunia dalam kehidupan hedonis saya semasa hidup. Sewaktu hidup saya kaya, dan membeli semuanya dengan kekayaan itu. Kemewahan, kedudukan, aparat, wanita, pesta pora tanpa batas. Dan ketika saya mati Tuhan memberi fasilitas untuk bisa mencapai ketenangan jiwa, kebahagiaan jiwa dalam keabadian. Sepertinya saya berhasil memanfaatkan hidup saya di dunia dan di akhirat ini.

ziiingggg…… sekali lagi, seperti sesi wawancara terdahulu, tiba-tiba Penghuni Neraka menghilang.
e alah…sensor bekerja lagi ….

Saya masih terkenang dengan wajah bosan-muak Penghuni Surga dan wajah tenang-damai Penghuni Neraka, ketika bangun dari tidur.

Para Kiai, Pastor, Bhikku dan lain-lainnya dengan tergesa-gesa bertanya kepada saya: “Bagaimana?”

Tiba-tiba kepala saya pusing tujuh keliling, pingin tidur lagi…..

Baca Juga:

33 komentar

  1. Penonton Reply

    Tulisan anda nakal, tidak takut dengan aturan yang diciptakan untuk menakuti anda.
    Saya senang dengan kenakalan anda, pada akhirnya waktu yang akan menjadikan anda dewasa.
    Teruslah mencari karena anda mempunyai pikiran dan hati.

      • Penonton Reply

        Dewasa yang saya maksud adalah bila kita sudah bisa menjadi penonton yang baik. Seperti nama web anda Menonton Dunia.
        Tidak usah mengejek Dunia dan menertawakan dunia berlebihan, cukup dengan senyum pengertian, karena semua itu ciptaan Tuhan semuanya tidak ada yang salah termasuk diri anda, jadi teruslah menulis, jangan takut dengan predikat apapun

  2. edi Reply

    Tulisan anda keblinger. Saya sarankan anda melakukan eksperimen pribadi kehidupan neraka agar anda tahu lebih persis kehidupannya. sehingga anda tau kenikmatan atau kedamaian hidup di neraka. menurut anda. Misalnya, celupkan telunjuk anda ke air panas mendidih, bila anda merasa kesakitan, ketahuilah di neraka beribu-ribu kali lebih menyakitkan. Atau anda minta teman anda mencelupkan kepala anda ke air hingga anda gelegepan tak bisa nafas, jika pingsan tarik lagi keatas, dan bila sadar lagi masukin lagi kepala anda ke air, begitu seterusnya hingga anda menemukan kedamaian. Begitulah seterusnya. Sanggup??

    • Judhianto Post authorReply

      Wah ide Edi sangat brillian.
      Saya yakin nasihat terbaik adalah dari orang yang pernah menjalankan sendiri nasehatnya.
      Saya bayangkan anda sebagai manusia tak berjari dan berpengalaman ditenggelamkan teman anda. Salut deh….
      Atau anda hanya tukang nasehat gombal yang tak bertanggung jawab? seorang masokis yang tergila-gila kekejaman?

  3. abeutthank Reply

    wahhh zaya mengikuti wawancara anda dengan penghuni zurga dan neraka
    amazing (pinjam iztilah tukul)
    tapi zaya agak bingung
    bingung1: yang di mazuk zurga/neraka kazarnya ato haluznya manuzia [jazad/roh]

    bingung2: yang meraza zakit, zenang, damai, itu hati, otak, atau indera laen [yang bangkit kembali itu jazad/roh]

    bingung3: ok anggap zaja orang mati mazih biza mati, orang mati mazi biza raza zakit. truz dia biza cuek dengan penderitaanya. nahh kalo zakit yang diraza berupa deret fibonacci (zakit zikzaan ini adalah totalan zakit zebelumnya] jadi ketika di bangkitkan [di utuhkan lagi] zakit zebelum2nya mazih teraza… mazi biza capai nirwana?

    bingung4: konzep akhirat zekarang kalo di zezuaikan dengan kebudayaan/peradaban zekarang baguznya zeperti apa?

    zaya udah lama ngintip2 blog zodara. nice. cuman yang koment kayaknya naek tanduk duluan. tapi itu yang bikin zaya kagum dan blog ini menarik..

    • Judhianto Post authorReply

      @Abeutthank: karena surga/neraka bukan hal yg pernah terbukti secara empiris (blm ada yg pernah kembali dr sana, kecuali klaim), maka setiap penjabaran, bobotnya akan sama saja – tak bisa dibuktikan.

      Gambaran yg sesuai untuk sekarang? Entahlah. Mungkin bagi bbrp org, tidak butuh surga/neraka untuk jadi org baik.

      Terima kasih kunjungannya, walau obsesi anda pada Z, agak membingungkan.
      🙂

      • Udin Reply

        Bagi org dengan otak sederhana seperti saya, cerita surga dan neraka tetap sebuah motivasi untuk melakukan hal-hal baik semasa hidup didunia, dan saya yakin org seperti saya sangat banyak didunia ini, apalagi di Indonesia. Bagi saya kalimat “tidak butuh surga/neraka untuk jadi org baik” agak terdengar aneh, karena kalau memang tidak ada surga/neraka, saya akan memilih yg enak-enak saja seperti meniduri cewek cewek seksi dan kalo mereka gak mau ya diperkosa saja, mencuri apa yg bisa dicuri, membunuh orang yang tidak saya suka dll.

        • Judhianto Post authorReply

          @Udin: kalau standard pribadi anda membolehkan mencuri, memperkosa dan membunuh orang lain, ya memang benar anda memang anda butuh agama untuk membuat anda jadi orang baik dan bermoral.

          Tapi tentunya berkaca dari negara-negara yang mayoritas warganya atheis seperti Finlandia, Swedia, Norwegia dan negara-negara skandinavia lainnya yang sejahtera dan tingkat kriminalitasnya rendah, serta bercermin dari justru hancurnya negara-negara yang mayoritas warganya religius di Timur Tengah; sepertinya secara statistik kewarasan dan moral manusia justru lebih baik di masyarakat atheis.

  4. panggil aja indra Reply

    hahaha,,,saya terkesan dengan tulisan di komentar anda yang berbunyi “mungkin bagi beberapa orang,tidak butuh surga atau neraka untuk menjadi orang baik “. Karena itu satu pemikiran dengan saya (subyektif banget ya??hehe). Ya,,,intinya sih,setelah saya baca2 beberapa artkel2 yang menurut saya cukup mengena (#jleb moment kalo kata ABG sekarang) nikmatnya beribadah itu bukan pada surga atau neraka yang kita sama2 tau kalau itu masih ghoib karena belum ada bukti empirisnya. Tapi kenikmatan yang terdalam menurut pengalaman saya pribadi adalah ketika kita bisa merasakan sifat Tuhan yang ada pada diri kita (saling mengasihi,,menyayangi,pemaaf,pemurah,dan sebagainya,semuanya tanpa Maha,hehe). Dan memang benar,,semua terjadi karena pengalaman dan pencarian atas ketidakpuasan batin. Maaf,,saya hanya pembaca, dan bukan penulis yang baik. Semoga bisa diterima walaupun komentar saya ini tanpa dasar keilmuan sama sekali,hanya menuruti naluri.salam

    • Judhianto Post authorReply

      @Indra: Subyektif? kenapa tidak, lha wong kebahagiaan dan kesedihan yang penting sekali bagi kita itu juga sangat subyektif sekali. Kenapa percaya kepada Tuhan dan beragama tidak boleh dengan subyektifitas kita masing-masing?
      Terima kasih komentarnya

  5. Mokhamad Khozin Reply

    jujur tulisan anda banyak mengubah pandangan saya tentang konsep surga dan neraka… ,,
    saya selalu menanamkan dalam pikiran saya, bahwa surga-neraka tidak boleh dipikirkan dan diotak-atik dengan logika dan akal….
    saya menerima dan mayakini begitu saja konsep surga-neraka dari para ustadz, kyai, maupun kitab2 kuno tepat seperti apa yang anda gambarkan di AWAL tulisan anda…

    tapi setelah membaca artikel ini saya menyadari,, memang absurd jika konsep surga-neraka sangat sederhana seperti dogma yang selama ini saya terima begitu saja tanpa pernah saya renungkan kembali….

    tulisan ini bener-bener merekonstruksi pandangan saya…,, saya mulai berpikir kembali…
    tentang mengabdi kepada Tuhan dengan pengabdian yang total…,,, bukan melakukan sebuah pengabdian kepada Tuhan karena tertarik dengan iming-iming surga dan takut dengan ancaman neraka….

    tapi bagaimanpun saya manusia yang masih sangat bodoh… manusia yang masih sangat lemah….
    jika saya tidak lagi tertarik dengan iming-iming surga dan takut dengan ancaman neraka,,, maka yang ada bukanlah sebuah pengabdian dan kepasrahan total kepada tuhan…
    sebaliknya,, pembangkangan lah yang akan saya lakukan….

    saya masih harus banyak menonton, mengamati, dan belajar tentang kehidupan ini…,, agar kelak saya bisa mengabdi dan pasrah kepada Tuhan dengan pengabdian dan kepasrahan yang total….

    • Judhianto Post authorReply

      @Mokhamad Khozin: banyak cara beragama.
      Memilih berserah pada Allah dan menjadi rahmat bagi semua tanpa hitung-hitungan sebagaimana kebaikan Allah yang tanpa hitung-hitungan; akan menjadi pilihan yang sangat mulia.

  6. thomaspras Reply

    Senada dengan yang disampaikan oleh Bung PENONTON di atas,
    menyambung ke soal takdir di tulisan ini,
    Mungkin takdir Anda adalah Kurang Ajar …
    Dan saya cukup menikmati kekurangajaran tulisan Anda.

    Teruslah kurang ajar, sebab itu mungkin takdir Anda Bung Judhianto …
    Sebab apa sih yang luput dari kontrolNYA ?

    Ha ha 😛

  7. aninditya Reply

    Wis panjang lebar tulis ternyata error. Mau ngulang panjang lebar dah lupa. Jadinya barusan ngrasain neraka deh he.,he..ditunggu topik berikutnya

    • Judhianto Post authorReply

      @Aninditya: waduh mohon diper-sorry, semoga gak kapok… saya tunggu

  8. H. Bebey Reply

    Weleh weleh, jadi aku teringat pada babak akhir perang beratayudha, dimana pendawa lima hanya tinggal mas yudhianto eehhh salah mas yudhistira di temenin seekor anjing menuju sorgaloka, yang lain secara berunut meninggal engga tahan dalam pendakian ke sorgaloka itu. Kacaritakeun anjing itu ternyata bertara darma, dan masuklah beliau ke sorgaloka, tapi dia komplain kok adik-adiknya tidak ada (ternyata ada di neraka), dia engga mau menuruskan langkahnya dan berbalik menuju neraka ingin bersama-sama menderita seperti adik-adiknya. Akhirnya Sang Hiang Tunggal mengabulkan permintaan yudhistira, untuk hidup bersama adik-adiknya di sorgaloka hheeehhheee
    Jadi di neraka itu tidak langgeng, ujung-ujungnya ‘menyatu dengan cahaya Allah’

  9. supriyatno Reply

    Mas Judhianto, tulisan-tulisan anda di web ini sungguh-sungguh menggiurkan untuk di baca, comment & balas lagi.
    Entah kenapa saya merasa ada kecocokan dengan hampir semua tulisan Mas Judhi.
    Disini kita meyakinkan bahwa sebenarnya bukan Tuhan yg membawa kita ke neraka atau surga, akan tetapi diri kita sendirilah yg menggiring kita menuju 2 tempat tersebut.
    Bukan karena isi dalam al-quran & kitab suci, tulisan-tulisan si penyalin kitab & ahli tafsir, ataupun teriakan-teriakan si pemuka-pemuka agama.

  10. orang awam Reply

    Gc tw deh mana dan salah..
    Mw nanya gc tw m cf..

    Tpi yg jelas setiap orang mempunyai pendapat yg berbeda-beda…

    Saya harap saya benar2 mendapat kebenaran yg sesungguhnya..

    • Judhianto Post authorReply

      @Orang Awam: tiap orang bisa punya pendapat beda.

      Mana yg benar?

      Kalau menyangkut hal yg bisa dibuktikan, ya ikuti saja fakta-fakta membawa kita. Pendapat yg terbenar adalah yg paling banyak didukung fakta.

      Kalau menyangkut hal yg tak bisa dibuktikan, pilih saja pendapat yg paling cocok menurut kita. Kalau pede, buat saja pendapat sendiri, kan semua pendapat itu akhirnya sama saja -> tak ada buktinya.

  11. Prasadya Reply

    Bagian terbiasa dengan siksaan yang terus berulang hampir sama seperti imajinasi saya ketika remaja saat sering lihat adegan2 horor, gore, sadis baik itu film, music video, atau artwork bertemakan gore, yang ternyata saya sedikit menyukai scene2 seperti itu dilihat dari segi estetika (keindahan itu relatif) serta membayangkan jika neraka benar ada “peduli amat kayanya ya tangan lepas, usus berserakan toh nanti kembali lagi dan terulang, dan gak ada yang harus ditakuti bakal cacat atau mati, ntar jg bakal terbiasa seperti para penikmat rasa sakit” terus bgaimana bagi mereka sebagai penikmat horor atau penggemar neraka sebagai sudut pandang keindahan bagi mereka, mungkin mereka tidak takut dengan konsep neraka dan lebih senang masuk neraka bahkan mendambakannya.. Sama seperti penegak hukum yang membuat hukuman bagi pelanggar, eh bukannya takut kena hukuman si pelanggar malah kesenengan.. Tepok jidad lahhh Hehe just sayin

  12. sastro Reply

    Interprestasi sorga neraka yg sangat inspiratif… menggambarkan kedewasaan berpikir.. dipaksa utk memaknai bahwa sorga neraka itu adalah dimensi situasi bukan dimensi tempat seperti yg selama ini diarahkan. Mengarahkan pemahaman sorga neraka seperti dimensi tempat juga tidak salah… karena daya nalar dan derajat kedewasaan tiap orang berbeda. Jadi tinggal pilih saja gambaran yg sesuai dg nalar masing-masing..

Perkaya Tulisan Ini Dengan Pendapat Anda