Wawancara Imajiner Dengan Penghuni Neraka

Ini adalah bagian kedua dari wawancara dengan perwakilan penghuni akhirat.

W (Wartawan): Apa Kabar?
PN (Penghuni Neraka): Alhamdulillah, baik.

W: Bisakah anda memberi gambaran tentang keadaan di Neraka?
PN: Gak ada yang bagus dari kondisi fisik neraka. Asap memedihkan mata dimana-mana, bau busuk, anyir dimana-mana, potongan tubuh berceceran, udara panas pengap membuat kita susah bernafas, suara teriakan-jeritan terdengar selalu.

W: Begitu mengerikan…. bagaimana anda melewati masa-masa itu ketika pertama kali masuk neraka?
PN: Ketika pertama kali sadar di alam kubur, saya benar-benar shock berat. Ternyata kehidupan setelah mati itu ada, saya dulu tak percaya! Kehidupan hedonis saya semuanya berbalik 180o di akhirat. Hantaman demi hantaman saya peroleh, entah berapa kali tubuh saya hancur tercecer-cecer, tapi ajaibnya dalam sekejab tubuh saya kembali utuh untuk menerima hantaman berikutnya.

W: Itu sudah di neraka?
PN: Belum… ketika seseorang yg berpakaian aneh – belakangan saya tahu itu malaikat – mengabarkan bahwa saya akan ke neraka, ketakutan saya memuncak. Saya diantar – tepatnya diseret paksa – ke depan sebuah gerbang membara. Gerbang terbuka dan sebuah martil raksasa menghantam saya dari belakang, melemparkan saya masuk. Sakit sekali, tapi ajaib, saya tidak mati walau kepala saya sempat somplak sebelum utuh lagi.

Gambaran neraka yang terlukis di Katedral Florence Italia

W: Cerita selanjutnya bagaimana?
PN: Tak ada waktu tanpa siksaan. Seluruh tubuh saya pernah satu persatu dihancurkan, mulai dari kepala sampai ujung kaki. Berbagai perlatan siksa pernah mendarat ditubuh saya; pedang, tombak, besi membara, cairan timah, batu segede gajah, pokoknya apa saja.

W: Rasanya sudah cukup kengerian ini. Saya tak ingin mengetahui lebih jauh.
PN: Eit jangan berhenti dulu wawancaranya. Saya punya sesuatu yang berharga untuk disampaikan.

W: Apa itu?
PN: Awalnya saya menyangka saya akan terjebak dalam horor ini selamanya.

W: Bukannya demikian?
PN: Setelah seminggu dalam neraka ada hal baru yang saya sadari. Saya tidak bisa mati, saya tetap bisa berpikir. Sehancur apapun tubuh saya akibat siksaan, saya tetap hidup dan kembali utuh. Siksaan akan datang setiap saat, rasa sakit akan datang setiap saat, akan tetapi saya tahu pasti bahwa saya akan tetap hidup, tetap bisa berpikir.

W: Betapa menyiksanya kehidupan dan pikiran seperti itu…
PN: Saya belum selesai bercerita….

W: Oh maaf….
PN: Saya maafkan…

PN: Setelah mendapat kesadaran tersebut, saya teringat pada laku religius yang saya tertawakan saat masih hidup. Saya teringat pada para Yogi Hindu yang menyangkal realitas di India. Mereka menghabiskan waktu dengan semedi mengabaikan realitas untuk mencapai ketenangan jiwa dan menyatu dengan realitas tertinggi, nirwana. Saya tidak tahu detil kepercayaan mereka, tetapi perlahan-lahan saya menyadari hidup ditempat yang ideal untuk laku religius mereka.

W: Saya tidak mengerti, maaf…
PN: Seberat apapun siksaan yang saya terima, saya sadar dan selalu sadar. saya hidup dan selalu hidup. Realitas dunia saya adalah siksaan, menghadapi relitas adalah menghadapi siksaan.

Seorang Yogi yang mengabaikan realitas dunia untuk mencari nirwana

PN: Kalau para Yogi berjuang untuk mengabaikan realitas yang menarik untuk mencari ketenangan nirwana, suatu hal yang sulit bagi kebanyakan orang karena relitas mereka adalah realitas yang penuh warna. Sulit untuk sama sekali abai terhadap tubuh karena mereka masih butuh makan minum untuk tetap hidup.

Realitas saya adalah siksaan, mengabaikannya menjadi tujuan saya.

Saya mulai tidak memperdulikan semua indra saya, toh tak ada yang indah. Semuanya adalah sakit, semuanya adalah siksa.

Saya mulai tidak memperdulikan cabik-cabik tubuh saya, toh saya tidak bisa mati.

Saya tidak lagi berteriak saat tangan saya dicacah. Saya tidak lagi menangis saat tubuh saya dibelah. Saya tidak lagi perduli.

W: Sangat menarik….
PN: Setelah kira-kira satu tahun, maaf saya tidak tahu tepatnya, saya kehilangan orientasi waktu di neraka. Setelah kira-kira satu tahun, saya benar-benar bisa abai terhadap tubuh saya, terhadap indra saya. Saya benar tidak merasa apa-apa, tidak mendengar apa-apa, tidak melihat apa-apa. Hanya rasa diri yang aneh yang saya rasakan.

W: Apa yang selanjutnya?…
PN: Saya sampai pada realitas yang lain, saya tak bisa menjelaskannya. Mungkin ini yang dimaksud dengan nirwana oleh para Yogi. Perasaan tenang, bahagia sekaligus. Merasa hilang ke-diri-an dan menyatu dengan semesta yang damai.

Saya damai, bahagia. Dan saya senang bisa menikmati itu tanpa batas waktu. Saya abadi dan tidak butuh apapun untuk badan saya. Sungguh luar biasa.

Sampai tiba-tiba saya kembali sadar dan terengut ke wawancara dengan anda. Saya senang bertemu lagi dengan manusia akan tetapi saya juga mendadak kehilangan ketenangan dan kedamaian saya.

W: Maaf saya menggangu kedamaian anda…
PN: Tak apa, saya senang juga bisa menyampaikan kepada anda tentang hidup saya yang menarik.

W: Maaf, yang mana?
PN: Saya puas telah mereguk semua kesenangan dunia dalam kehidupan hedonis saya semasa hidup. Sewaktu hidup saya kaya, dan membeli semuanya dengan kekayaan itu. Kemewahan, kedudukan, aparat, wanita, pesta pora tanpa batas. Dan ketika saya mati Tuhan memberi fasilitas untuk bisa mencapai ketenangan jiwa, kebahagiaan jiwa dalam keabadian. Sepertinya saya berhasil memanfaatkan hidup saya di dunia dan di akhirat ini.

ziiingggg…… sekali lagi, seperti sesi wawancara terdahulu, tiba-tiba Penghuni Neraka menghilang.
e alah…sensor bekerja lagi ….

Saya masih terkenang dengan wajah bosan-muak Penghuni Surga dan wajah tenang-damai Penghuni Neraka, ketika bangun dari tidur.

Para Kiai, Pastor, Bhikku dan lain-lainnya dengan tergesa-gesa bertanya kepada saya: “Bagaimana?”

Tiba-tiba kepala saya pusing tujuh keliling, pingin tidur lagi…..

Tentang penulis

Pencari jawab amatir, bertanya apa saja...