Khilafah, Negara Islam Dalam Sejarah

Anda kenal Sistem Khilafah?

Ini adalah magnet luar biasa bagi banyak kelompok Islam untuk mendapatkan dukungan dari para muslimin di Indonesia. Mulai dari mereka yang benar-benar melakukan gerakan nyata mewujudkannya seperti DI/TII, JI, NII, Hizbut Tahrir atau yang secara tidak langsung mendukungnya seperti FPI, FUI, MUI dan PKS.

Demonstrasi menyerukan pendirian khilafah oleh Hizbut Tahrir Indonesia
Demonstrasi menyerukan pendirian khilafah oleh Hizbut Tahrir Indonesia

Bagi mereka, hukum Islam yang datang dari Allah dan ditegakkan dalam negara Khilafah adalah superior diatas semua hukum manusia. Jadi bila Indonesia menerapkan sistem khilafah, pasti semua permasalahan di negeri ini akan teratasi. Detilnya bagaimana? tidak jelas..

Sudahlah, saya tidak membahas lebih lanjut tentang detil negara khilafah dan bagaimana bisa diterapkan di Indonesia. Saya akan menuliskan bagaimana Negara Khilafah dalam catatan sejarah dunia.

Khilafah di Masa Rasulullah

Negara Islam secara efektif berdiri setelah Nabi berhijrah dan membentuk pemerintahan di kota Madinah.

Bagaimana struktur pemerintahannya?

Nabi tinggal di samping masjid, salah satu kegiatan rutin beliau adalah memberi pengajian di masjid dengan audience-nya adalah jamaah muslim yang ada. Bila ada masalah kenegaraan, Nabi dan para sahabat membahasnya ditempat itu juga dengan audience yang sama. Nabi menerima laporan dan memberikan perintah negara di masjid beliau.

Menjadi kepala negara sepertinya adalah pekerjaan sambilan Nabi. Nabi tidak memusatkan perhatiannya untuk membangun institusi kenegaraan yang mengurus negara. Tidak ada pos-pos kementrian, tidak ada organisasi militer, tidak ada tentara dan aparat yang digaji negara.

Pengurusan negara dilakukan seperti sebuah kepanitiaan. Jika ada suatu proyek negara, misalnya perang, pengumpulan zakat dan lain-lain, nabi menunjuk seorang sahabat untuk memimpinnya, sedangkan sahabat yang lain akan membantunya dalam struktur yang lepas. Semuanya dilakukan secara sukarela, tidak ada gaji, tetapi bila ada keuntungan (misalnya pampasan perang) mereka akan mendapat bagiannya.

Pusat pemerintahan adalah Nabi, beliau memegang kekuasaan eksekutif, yudikatif dan legislatif. Jika Nabi telah memutuskan, maka “sami’na wa ato’na” – dengarkan dan laksanakan. Tidak ada lembaga kontrol. Jika Nabi salah, Allah sendiri yang akan menegur melalui wahyunya atau malaikat. Kontrol dari Allah.

Sebelum mengambil keputusan, beliau kadang meminta pendapat para sahabat. Akan tetapi keputusan terakhir mutlak ditangan Nabi, beliau tidak terikat dengan masukan dari sahabat. Bisa jadi keputusan Nabi berbeda dengan masukan sahabat, tetapi setelah nabi menetapkan, wajib bagi umat Islam untuk taat kepada keputusan Nabi.

Pemerintahan yang berpusat pada Nabi ini kacau saat Nabi wafat. Terjadi kebingungan, kepanikan diantara para sahabat. Nabi tidak pernah menentukan siapa penggantinya, dengan cara bagaimana penggantinya dipilih dan apa saja wewenang penggantinya.

Akibat kebingungan ini, jenazah nabi baru dikuburkan tiga hari setelah Nabi wafat.

Suatu ironi, mengingat semasa hidupnya Nabi selalu memerintahkan penguburan sesegera mungkin umatnya yang meninggal.

Khilafah di Masa Khulafaur Rasyidin (631M – 661M)

Khalifah pertama setelah Nabi adalah Abu Bakar, beliau dipilih dari hasil musyawarah para sahabat.

Suksesi pertama ini adalah terobosan besar umat Islam dalam berpolitik yang belum ada contohnya di berbagai kebudayaan lainnya. Ketika dunia masih memilih seorang Raja/Kaisar karena ia adalah anak dari Raja/Kaisar sebelumnya, umat Islam memilih pemimpin karena kualitas dan kapasitas pribadi pemimpin tersebut.

Prinsip suksesi ini terulang dalam periode Khulafaur Rasyidin ini, walau dengan metode yang berbeda-beda. Berikut ini daftar Khalifah dalam periode ini beserta metode pemilihannya:

  1. Abu Bakar, dipilih dalam musyawarah para sahabat.
  2. Umar Bin Khatab, ditunjuk Abu Bakar sebelum beliau meninggal.
  3. Usman Bin Affan, dipilih oleh tim formatur yang dibentuk Umar.
  4. Ali bin Abi Thalib, dipilih dalam musyawarah para sahabat.

Dalam organisasi pemerintahan, para sahabat mulai membangun struktur pemerintah secara profesional. Mulai dibentuk tentara profesional dan aparat negara yang digaji negara, dibentuk semacam kementrian untuk lebih fokus mengurusi kepentingan negara.

Dalam pengambilan keputusan, mereka meniru apa yang dijalankan Nabi yaitu pemusatan semua kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif ditangan pemimpin tertinggi, yaitu Khalifah.

Tidak ada lembaga kontrol. Jika Khalifah dianggap salah, para sahabat senior akan menegur Khalifah, akan tetapi hal itu tidak mengikat Khalifah. Kekuasaan Khalifah adalah mutlak.

Perbedaan pendapat akan selalu ada di sistem manapun. Dan dimana tidak ada mekanisme kontrol untuk kepala negara, perbedaan pendapat bisa menjadi suatu hal yang berbahaya.

Dari 4 orang Khalifah, 3 orang meninggal dibunuh oleh lawan politiknya. Hanya Abu Bakar yang meninggal wajar. Suatu sistem yang berbahaya atau bisa dikatakan kacau, dimana 75% kepala negaranya dibunuh karena konflik kepentingan.

Pada akhir masa Khulafaur Rasyidin, Negara Islam telah menjelma menjadi imperium raksasa, menelan imperium Romawi dan Persia yang ada sebelumnya.

Kekuatan militer menjadi unsur penentu untuk penguasaan wilayah yang luas tersebut.

Muawiyah yang secara de-facto menguasai sebagian besar militer negara dan berseberangan secara politik dengan Ali, mengambil kesempatan saat Ali tewas dibunuh.

Ia mengangkat diri menjadi Khalifah. Ia mengakhiri tradisi suksesi pada periode Khulafaur Rasyidin, yaitu pemimpin dipilih berdasarkan kapasitas pribadinya.

Ia memulai periode dimana jabatan Khalifah direbut oleh kekuatan militer dan diwariskan secara turun-menurun.

Khilafah di Masa Dinasti Keluarga (661 M – 1924 M)

Pada periode ini negara Islam berkembang pesat dalam penguasaan wilayah dan penguasaan ilmu dan teknologi. Dari banyak wilayah barunya, Islam banyak menyerap banyak pengetahuan yang ada di sana. Tradisi intelektual Yunani, teknologi dan birokrasi Persia dan Romawi diserap dan dikembangkan lebih lanjut dalam bendera Islam.

Dalam masa ini berbagai macam ilmu berkembang pesat. Kemakmuran meningkat. Islam tumbuh menjadi superpower dunia, pusat peradaban dunia. Banyak kitab-kitab hukum, ilmu pengetahuan, kedokteran dan filsafat disusun dan menjadi rujukan utama sepanjang masa bagi umat Islam.

Wilayah Khilafah Islam pada tahun 1683
Wilayah Khilafah Islam pada tahun 1683

Dalam sistem pemerintahan, Islam mengadopsi sistem yang terbukti stabil, yaitu sistem kerajaan.

Khalifah adalah Raja/Kaisar versi Islam, ia menjadi Khalifah karena mewarisi jabatan ini dari ayahnya yang Khalifah. Para bangsawan ditempatkan dalam posisi-posisi strategis untuk melanggengkan kepentingan keluarga.

Dalam pemerintahan, Khalifah adalah memegang kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Ia mungkin mengangkat beberapa ulama terkemuka sebagai penasehatnya, akan tetapi kekuasaan mutlak ada di tangan Khalifah, is tidak bisa dikontrol oleh apapun.

Dalam sejarah tercatat beberapa Dinasti berkuasa. Ceritanya sama, para pendiri dinasti adalah tokoh kuat yang merebut kekuasaan dari penguasa sebelumnya dan kemudian mewariskan kekuasaan itu ke keturunannya.

Berakhirnya Era Para  Raja, Berakhirnya Khilafah Islam

Api pengetahuan filsafat dan pengetahuan yang dinyalakan Islam, pada saatnya sampai pula di dataran Eropa. Renaissance timbul di Eropa, Eropa yang Kristen mengejar ketertinggalan mereka dari dunia Islam. Berbagai ilmu berkembang pesat.

Armada kapal perang Khilafah Islam saat Perang Dunia I
Armada kapal perang Khilafah Islam saat Perang Dunia I

Salah satu hal penting yang bangkit di Eropa adalah kesadaran bahwa tidak ada hak istimewa kaum bangsawan dalam menguasai negara, bahwa dengan pendidikan, semua orang bisa mempunyai kapasitas yang diperlukan untuk memimpin. Bahwa negara berdiri berdiri untuk mewakili kepentingan warganya dan bukan hanya kepentingan raja dan kelompok bangsawan.

Negara bangsa muncul, revolusi Perancis memulai disingkirkannya hak-hak istimewa Raja dan bangsawan. Berbagai negara bangsa muncul menggantikan kerajaan.

Kerajaan yang tertinggal mulai membatasi hak-hak Raja dengan beralih menjadi Monarki-Konstitusional.

Kekhalifahan Ottoman adalah satu dari segelintir imperium yang bertahan dengan Monarki–Absolut, dimana kekuasaan Raja/Khalifah adalah absolut. Khilafah Islam adalah salah satu benteng terakhir era negara para Raja.

Perang Dunia I mengoyak Eropa, menghancurkan dan menuliskan ulang batas-batas negara.

Perang ini begitu hebat, belum ada skalanya dalam sejarah. 40 juta orang mati, 4 imperium yang mempunyai akar hingga perang salib terhapus: Kekhalifahan Ottoman (Islam), Kekaisaran Jerman (Kristen), Tsar Rusia (Kristen), dan Imperium Austro-Hongarian (Kristen). Belasan negara bangsa baru muncul di bekas imperium tersebut. Tak ada lagi Monarki-Absolut di Eropa yang ada yang tersisa adalah Monarki-Konstitusional.

Khalifah terakhir saat meninggalkan Istana
Khalifah terakhir saat meninggalkan Istana

Benang Merah Sistem Khilafah

Dari tiga era Khilafah Islam ada benang merah yang bisa ditarik sebagai berikut:

  1. Khalifah adalah Muslim dan memerintah berdasarkan hukum yang ditafsirkan dari Qur’an & Hadits. Penafsiran dilakukan oleh ulama yang dianggap menguasai ilmu agama. Kondisi dan aspirasi rakyat dianggap dapat diwakilkan dengan pertimbangan ulama.
  2. Warga non muslim diakomodasi dalam negara, akan tetapi tidak mempunyai hak untuk dipilih sebagai pimpinan lembaga yang strategis.
  3. Khalifah memegang kekuasaan Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif.
  4. Khalifah berkuasa seumur hidup dan tidak ada lembaga yang bisa menurunkan Khalifah ditengah masa jabatannya.
  5. Tidak ada manusia atau lembaga yang bisa mengontrol Khalifah. Khalifah mungkin membentuk lembaga penasehat atau meminta masukan ulama, akan tetapi keputusan terakhir ada ditangan Khalifah. Diantara para Khalifah, hanya Nabi yang mempunyai kontrol, yaitu Allah yang bisa menegur dan memerintahakan Nabi untuk memperbaiki kesalahannya.
  6. Pendapat atau kepentingan rakyat dan siapapun tidak penting, karena sifatnya adalah masukan dan tidak mengikat Khalifah. Rakyat hanya boleh berharap kemurahan hati sang Khalifah.

Jadi

Apakah layak mengganti sistem demokrasi di Indonesia dengan sistem otoriter yang bernama Khilafah? Anda pilih sendiri jawabannya…


Bacaan:

 

Baca Juga:


132 komentar

    1. Saya sudah kunjungi site anda, tapi sayang site anda hanya menyediakan informasi satu arah dan tidak menerima feedback.
      Dari site anda sepertinya anda aktivis Hizbut Tahrir, atau paling tidak simpatisannya.
      Saya mencatat point-point penting yang anda utarakan tentang sistem khilafah anda:
      a. Khalifah dipilih oleh rakyat
      b. Rakyat berhak bahkan wajib mengkoreksi Khalifah
      c. Khilafah adalah negara hukum
      d. Khalifah adalah pengurus rakyat
      Satu hal simpel yang saya tanyakan: Bisa anda tunjukkan contoh implementasinya dalam sejarah? Khalifah yang mana?
      Jika anda menganggap sistem khilafah adalah tuntutan Islam, tentunya contoh terbaik adalah Rasul sendiri atau paling tidak Khulafaur Rasyidin.

      Btw. Terima kasih mau meninggalkan komentar, serta menitipkan link anda tentang sistem khilafah.

      1. Contohnya:
        Pada saat diserang oleh org2 tartar(mongol), Khalifah Ummat Islam terbunuh lalu terjadilah Vacum Kekuasaan selama sekitar 2 tahun. Dan kejayaan kembali muncul setelah tentara Saifuddin Qutuz memukul mundur tentara Mongol (Tetapi sisa2 kekuasaan Mongol masih berkuasa). Dan kemudian berdirilah Dinasti Abbasiyyah 2 di Mesir dengan Khalifah pertama Al-Mustanshir.
        Bila bukan karena tuntutan Islam, buat apa umat Islam merelakan harta, keluarga, dan nyawanya melayang untuk menegakkan Khilafah?

        1. @MuhammadAzzuhair: membela kemerdekaan itu universal. Tidak ada hubungannya dgn khilafah.

          Anda bisa tanya pendahulu kita untuk apa melawan Belanda yang kuat? Anda juga bisa tanya rakyat negara non muslim kenapa mereka mau berkorban rebut kemerdekaan?

          Kebetulan saja khilafah menjadi pilihan saat itu di Mesir.

          Saat ini terulang hal yg sama di Mesir, Tunisia, Libya dan Suriah ; mereka bukan berjuang untuk khilafah tapi kebebasan dan pemerintah yg adil.

    2. Saya hanya ingin meluruskan kesimpulan Anda mengenai bahwa khilafah bersifat otoriter… ini saya kira yang perlu dipahami, khalifah tidak bersifat otoriter karena dia harus memimpin berdasarkan hukum syariat… dan dalam syariat tidak ada aturan yang otoriter… lagi pula kalau dalam perjalanannya khalifah itu kan juga manusia, bisa salah dan bisa menyalahi syariat, jadi masih tetap bisa dikontrol oleh rakyat dan kelompok partai/kelompok dakwah yang memang sudah terkondisikan mengerti syariat Islam

      1. @Jahar Hart: terima kasih.
        Agar tak hanya teori normatif, bisakah anda beri contoh nyata? Khalifah siapa? Tahun berapa? Yg melakukan kontrol siapa? Untuk alasan apa?

  1. Banyak2lah membaca agar anda mengerti dan tidak asal nulis serta dapat mempertanggungjawabkan tulisan anda
    misalnya tentang peristiwa setelah meninggalnya Nabi SAW
    kenapa para sahabat lebih mendahulukan memilih pemimpin Kaum muslimin dari pada mendahulukan memakamkan jenazah Nabi Muhammad SAW, memang Nabi SAW memerintahkan menyegerakan untuk mengubur jenazah tapi juga Nabi memerintahkan untuk memilih seorang pemimpin, bahkan kalo ada orang muslim bertiga maka harus memilih salah satunya sebagai pemimpin, lalu bagaimana Kaum muslimin yang kehilangan pemimpin saat itu?
    Dan perbuatan sahabat yang lebih mendahulukan mengangkat pemimpin/khalifah dari pada mengubur jenazah nabi tidak ada seorang sahabatpun yang mengingkari artinya merupakan Ijma' sahabat Yang merupakan salah satu sumber dalil dalam Islam

    Dan kayaknya perlu banyak sebenarnya tulisan anda yang "bermasalah" 🙂
    Pesan saya lagi, banyak2lah membaca, kalo dirasa masih kurang belajarlah/ngajilah sama orang yang ahli agama
    Terimakasih

    1. Nur: Saat Nabi wafat, ada tanda-2 perpecahan kaum muslim.
      * Golongan Anshar melakukan pertemuan sendiri
      * Golongan Muhajirin melakukan pertemuan sendiri,
      * Beberapa yg lain menyendiri di rumah Fatimah
      untuk mencegah perpecahan lebih lanjut, Abu Bakar & Umar berkeliling ke kelompok-2 tersebut untuk menenangkan mereka.
      Hasil diplomasi Abu Bakar & Umar yg mencegah perselisihan lebih lanjut mengenai siapa yg harus menjadi pemimpin.

      Oh ya, yang bermasalah yg mana ya? kok anda tidak mengutarakan dgn jelas…
      bisa kita bahas bersama…

  2. anda telah mamaparkan sebagian kecacatan sebuah negaran islam dalam rentetan sejarah. tapi sedikitpun anda tidak memaparkan kebaikan didalamnya. anda tentu pernah mendengar bahwa ahli kitab ketika itu lebih memilih berada dibawah pendudukan orang islam dari pada dibawah romawi yang zalim dan menindas, secara tekstual islam tidak menyuruh untuk mendirikan negara islam, tapi dalam islam ada ajaran yang universal, disana ada ajaran dan rambu-rambu telah Allah siapkan untuk kebaikan ummat manusia. dinataranya adalah nilai keadilan, kesetaraan, persaudaraan, kesatuan, dll. kita menginginkan nilai nilai ini tegak di atas bumi, termasuk di Indonesia.iklim demokrasi lebih mempunyai peluang untuk tujuan itu, dengan cara mengantarkan sekurang kurangnya 3/4suara umat islam (yang punya cita-cita ini) ke parlemen, saya sebagai orang islam sangat yakin jika tuntunan dalam al-qur’an diaplikasikan dalam kehidupan maka akan banyak kebaikan dan kemaslahatan bagi sekalian alam. hanya orang yang malas dan tidak punya keyakinan kepada Allah saja yang mangatakan “Negara Islam hanya mimpi” atau “Islam tidak relevan dengan zaman”..

    1. @Ramadan: Anda tepat sekali menggambarkan harapan banyak muslim yg yakin Islam meliputi juga sistem negara yg sempurna.
      Tetapi beda harapan dgn realitas. Realitas sistem negara Islam adalah sbb:

      Tidak ada aturan organisasi negara Islam
      # Nabi memimpin negara tidak menggunaka organisasi negara yg terstruktur dan dgn aturan yg jelas. Semua ada dikepala Nabi.
      # Organisasi kenegaraan dan aturannya dirumuskan setelah nabi wafat.
      Adopsi sistem luar tidak masalah
      # Sistem kerajaan bukan inovasi Islam, tetapi diadopsi dab digunakan sdelama 1200 tahun khilafah Islam.
      Kenapa anti demokrasi, jika Islam juga pakai kerajaan lebih dari seribu tahun?
      # Sebagian muslim anti demokrasi karena itu temuan barat yg kristen, tapi mereka lupa bahwa lebih dari seribu tahun mereka menerima kerajaan yg juga temuan peradaban non-muslim
      # Jika memang punya solusi lebih baik, rumuskan dgn jelas bgaimana struktur dan aturannya bukan hanya jargon2 tanpa detil, itupun bila ada tidak dapat disebut sistem islam, yg tepat adalah sistem yg disumuskan org Islam krn bisa jadi ada sistem ala Nu ala Muhammadiyah, ala Hti dan lain2 – krn yg ala nabi tidak ada.

      1. untuk kondisi sekarang, mungkin kita bisa menerima konsep daulah islam ala NU, al Muhammadiyah, ala HTI, ala salafi, ala tabligh, ala IM, ala demokrasi, atau ala PKS, ala PPP, ala PBB, atau ala malaysia, ala turki, ala mesir bahkan ala saudi.
        ini hasil ijtihad ulama mereka masing-masing dengan mempertimbangkan kondisi setempat.
        tapi kita tidak berpandukan itu selama-lamanya, karena itu hanya ijtihad, bisa tepat dan juga tidak tepat.
        ketika kesadaan umat islam dimana-mana telah bangkit dan menginginkan sebuah sistem yang dapat menyatukan mereka, maka tuntutannya adalah bagai mana ulama, pemimpin dan pemikir ketika itu dapat membuat sistem yang tepat dan memayungi semuanya. yaitu kepemimpinan diatas manhaj nubuwwah. khilafah diatas manhaj nubuwah ini telah di janjikan oleh nabi akan terjadi.
        saya rasa bukan tugas kita untuk memikirkan seperti apa konsepnya dan realitas sistemnya. bukan sekaliber kita. sekali lagi tugas ini kita serahkan kepada pakarnya.
        kalau orang barat aja bisa membuat sistem demokrasi, kapitalis, sosialis, maka saya lebih yakin ulama kita lebih pinter dari mereka.
        kongkritnya yang menjadi tugas kita sekarang adalah menjadi agen kecil-kecilan untuk menghimpun hati dan ruh kaum muslimin rapuh dan hinggapi oleh fanatisme, obsesi dunia, dll.
        thanks telah menerima komen saya

        1. @Ramadan: Saya setuju klo memang kelompok2 Islam mulai merumuskan dgn jelas sistem yg mereka anggap Islami.
          Bila memang konsep yg matang siap, silakan lemparkan ke masyarakat biar dinilai, mendapat feedback dan bersaing dgn sistem sekuler.
          Tapi satu hal yg perlu diingat, pendidikan masy sekarang sudah tinggi, mrk tidak mau sesuatu yg top-down yaitu dirumuskan kelompok elit dan diterapkan atas nama Islam.
          Satu hal yg penting, ulama bukan bukanlah sosok serba-tahu, sangat naif kalau dengan pongah kita mengatakan “ulama kita lebih pinter dari mereka”. Dibidang apa penilaian ini? kalau menyangkut hapalan ayat dan hadis memang benar, tapi di bidang politik, sosiologi dan ketata-negaraan, lebih banyak ulama kita yg pengetahuannya terperangkap pandangan kuno seribu tahun lalu.
          Saya sendiri sih ogah mengkampanyekan fanatisme Islam dengan obsesi paling benar, paling unggul. Lha wong yg dijual cuma jargon omong kosong gak ada isi kongkretnya.

          1. dalam komen saya sebelum ini, saya tidak hanya mengandalkan kepintaran ulama saja, tapi saya katakan selain ulama, pemimpin dan pemikir. sehingga bisa sinergikan antara tugas mereka masing masing.

            kenapa kita libatkan ulama, sebab kita menginginkan sebuah sitem yang holistik, bertujuan untuk meninggikan agama Allah dengan berbagai kelebihan-kelebihan yang telah saya sebutkan sebelumnya. kemudian kenapa kita libatkan kaum pemikir, agar nilai-nilai dalam al-Qur’an dan sunnah dapar sesuai dengan realitas yang ada dan tidak keluar konsep yang tidak nyambung dengan zamannya. kenapa kita libatkan pemimpin, agar konsep itu memiliki legalitas dan kekuatan yang resmi menjadi pedoman kehidupan, oprasionalnya dikawal oleh penguasa.

            pendekatan yang sesui menurut saya adalah dengan cara menyadarkan setiap peribadi muslim agar kembali ke islam secara sempurna, targetnya adalah seorang muslim meyakini bahwa islam adalah way of life, dan solusi. seorang muslim bangga dengan ajaran agamanya. sehingga dia akan menerapkan islam dalam hidupnya sehari-hari.

            ini kongkritnya bung!!!!

            satu hal yang perlu kita ketahui, ulama dahulu seperti al mawardi, ibnu taymiyyah, al ghazali, sampai ulama kontemporer seperti afghani, muhammad abduh, rasyid ridha, hasan al banna, al qardhawi, telah merumuskan konsep yang anda inginkan dan anda bilang omong kosong.

            disebabkan zaman penjajahan yang memecah umat islam menjadi negara-negara kecil, kemudian di hembuskan lagi nasionalisme buta, fanatik terhadap golongan masing-masing, sehingga konsep sekuler bebas memainkan peranannya diatas kerapuhan perpecahan dan kelemahan umat islam.

            sekarang, kenapa hamas yang ingin menerapkan islam di palestina di anggap teroris?, padahal itu hak mereka dan warganya

            hemat saya SELAMA UMAT ISLAM SELURU DUNIA BELUM MEMILIKI KEINGINAN UNTUK BERSATU BERHIMPUN UNTUK MEMBENTUK EMPAYER ISLAM, MAKA SIA-SIA SAJA KONSEP KHILAFAH DIGULIRKAN.

          2. @Ramadan: terima kasih atas semangat anda untuk terus berkomentar.
            Beberapa prinsip yg perlu diperhatikan adalah:
            1. Islam milik semua.
            Umat Islam beragam, ada ulama ada orang awam agama. Islam berasal dari 1500 tahun yg lalu, ketika hidup masih sederhana, ketika masyarakat hidup dalam budaya kesukuan & kerajaan. Islam tidak berlaku sekarang ini kecuali dengan penafsiran ulang. Dalam Islam tidak ada rahbaniyah (kerahiban) yaitu ada kelompok yg punya otoritas menafsirkan Islam. Di kening bapak2 tukang fatwa MUI tidak ada stempel dari Allah yg mengatakan mereka wajib diikuti. Semua orang akan dimintai tanggung jawabnya diakhirat secara pribadi. MUI, HTI, NU, Muhammadiyah dan lain-2 tidak laku di akhirat nanti.
            Jadi tidak ada organisasi apapun yg berhak mengatakan "berdasarkan Islam" karena mereka bukan nabi yang dijamin Allah, mereka hanya boleh mengatakan "berdasarkan MUI atau Muhammadiyah atau NU atau lain2".
            Jadi suara umat Islam Indonesia tidak berdasarkan suara organisasi-2 itu, akan tetapi suara 200 juta orang Islam di Indonesia.
            2. Siapa wakil umat Islam?
            Jika tidak ada yg berhak memonopoli Islam dan tidak ada yang berhak mendapatkan hak diistimewakan, maka sistem demokrasi adalah satu-satunya wadah mewakili semua aspirasi warga negara (yg didalamnya ada umat Islam). Partai apapun yang unggul dalam pemilu berarti itu adalah wakil umat Islam, karena mayoritas warga Indonesia adalah Islam.
            Tidak ada kelompok yg berhak mewakili Islam karena tidak ada mandat baru dari Allah setelah tidak ada nabi baru. Mereka hanya berhak mengatakan mewakili umat Islam. Itu juga bisa dipertanyakan bilamana mereka ternyata kalah dalam Pemilu, karena yg memilih adalah umat Islam, bila tak terpilih berarti mereka tidak dipilih umat Islam, jadi ternyata mereka hanya mewakili kelompoknya sendiri.
            3. Kesetaraan kewajiban dan hak warganegara:
            Semua warganegara mempunyai kewajiban yg sama. Saat perang semua wajib turut bela negara. Untuk operasional negara semua wajib bayar pajak. Untuk bangun negara semua wajib berpartisipasi. Untuk jaga lingkungan semua wajib berpartisipasi.
            Jika semua mempunyai kesetaraan kewajiban terhadap negara, maka tidak ada alasan mereka dibeda-bedakan haknya.
            Dalam mengatur negara setiap warga berhak diperhatikan suaranya dengan setara. Tidak ada bedanya antara ilmuwan atau karyawan, tidak ada bedanya antara ulama dan bukan ulama, tidak ada bedanya antara muslim dan non muslim; karena jika diminta mempertaruhkan jiwa untuk membela negara mereka mereka tidak dibeda-bedakan.

          3. Untuk kongkritnya, saya tidak akan utarakan jargon indah seperti anda, akan tetapi saya bandingkan khilafah dalam sejarah dgn sistem-2 yg selama ini ada:
            Hak kepemimpinan:
            Apartheid – Hanya kaum putih yg bisa menjadi pemimpin negara/wilayah
            Khilafah – Hanya orang Islam laki-laki yg bisa menjadi pemimpin negara
            Kerajaan – Hanya anak raja yg bisa jadi raja — praktek ini dipakai juga dalam sejarah khilafah
            Demokrasi – Semua orang berhak menjadi pemimpin
            Kesatuan hukum:
            Apartheid – Hukum berbeda antara kaum putih dan kaum hitam
            Khilafah – Islam hukum negara, untuk non muslim bisa memakai hukum sendiri
            Kerajaan – Raja penentu hukum, terserah dia saja mau apa sistemnya
            Demokrasi – Satu hukum, semua warga mempunyai persamaan kedudukan didepan hukum
            Kedudukan dimata hukum:
            Apartheid – kaum putih diatas kaum hitam
            Khilafah – ada hirarki sbb: Islam laki-2, Islam perempuan, Non-muslim, Budak
            Demokrasi – tidak ada hirarki, semua warga mempunyai persamaan kedudukan didepan hukum
            Pemegang kekuasaan tertinggi:
            Komunis – Politbiro
            Khilafah – Khalifah
            Kerajaan – Raja
            Demokrasi – Rakyat melalui parlemen dan mekanisme pemilu
            Pembatasan kekuasaan eksekutif:
            Komunis – Politbiro mempunyai kekuasaan tak terbatas > memegang kekuasaan eksekutif, legislatif, yudikatif
            Khilafah – Khalifah mempunyai kekuasaan tak terbatas > mempunyai kekuasaan eksekutif, legislatif, yudikatif seumur hidup
            Kerajaan – Raja mempunyai kekuasaan tak terbatas > mempunyai kekuasaan eksekutif, legislatif, yudikatif seumur hidup
            Demokrasi – Presiden/Perdana Menteri hanya memegang kekuasaan eksekutif, dalam periode terbatas (Indonesia: 5 tahun, 2 kali jabatan). Yudikatif dan Legislatif dipegang lembaga lain untuk saling kontrol.
            Jika eksekutif menyeleweng:
            Komunis – teoritis politbiro bisa mengganti, tetapi umumnya politbiro anggotanya adalah kroni penguasa, jadi apeslah warga. Solusi: revolusi yg bisa berdarah-darah dan makan jutaan nyawa rakyat
            Khilafah – teoritis mahkamah madzalim bisa koreksi, tetapi anggota lembaga ini dipilih khalifah dan kedudukannya dibawah khalifah – jadi kalau khalifah bilang “prekk…” ya gak bisa apa-2. Solusi: revolusi yg bisa berdarah-darah dan makan jutaan nyawa rakyat
            Kerajaan – rakyat gak bisa apa-2. Solusi: revolusi yg bisa berdarah-darah dan makan jutaan nyawa rakyat
            Demokrasi – parlemen bisa melakukan mosi tidak percaya dan menurunkan presiden/perdana mentri, rakyat pilih lagi pemimpin yg lain, atau kalau mosi tidak cukup kuat rakyat tidak usah pilih lagi pada masa jabatan berikutnya. Gak ada darah tertumpah untuk ganti pemimpin.
            Kebebasan berorganisasi/berekspresi:
            Komunis – berangus semua paham berbeda, seragamkan warga. Expresi seni terbatas
            Khilafah – berangus semua paham berbeda, seragamkan warga (misal: jilbab untuk wanita, seragam berbeda untuk non-muslim -> ketentuan Umar bin Khatab). Expresi seni terbatas
            Demokrasi – semua paham boleh hidup, baru ditindak bila melanggar pidana, tidak ada seragam warga. Expresi seni berkembang -> penyumbang pendapatan negara
            Partisipasi warga dalam perundangan:
            Komunis – semua perundangan dibuat oleh politbiro, suara rakyat tak digubris
            Khilafah – semua perundangan dibuat oleh majelis hukum dibawah khalifah, masukan dari ulama, suara rakyat gak penting.
            Demokrasi – perundangan dibawah kontrol rakyat melalui mekanisme perwakilan.

  3. Assalamualaikum…
    baca lagi mas baca lagi… mari kita mencari informasi faktual sebanyak banyaknya lalu menilai sistem kenegaraan islam itu matang ataupun tidak.. jangan takut bertanya kepada para ulama pengusung khilafah.. jangan kita hanya terikat pada bacaan umum di toko buku, sebab buku mengenai fakta utuh sistem pemerintahan islam sangat dilarang di toko-toko buku umum. Termasuk juga di media pembelajaran resmi seperti sekolah dan universitas baik di indonesia maupun negara” di timur tengah, hampir semua menutupi sistem kenegaraan islam yang utuh. itu adalah agenda penghapusan fakta sejarah dan penghapusan pemahaman ideologi islam dari para pengusung sekularis dan bangsa barat musuh islam. Ada bisa dowload bacaan mengenai sistem Khilafah di http://www.hizbut-tahrir.or.id
    My recent post Mengangkat Seorang Khalifah Fardhu atas Seluruh Kaum Muslim

    1. @ghazi: yg saya ungkap adalah fakta sejarah yg bisa anda peroleh dari sumber islam atau non islam.
      Kalau anda punya versi sejarah lain, tolong tunjukkan di poin yg mana kita berbeda. Saya senang membahasnya dengan anda.
      Terima kasih untuk komentarnya.

  4. paparannya bagus semua, refrensinya pun lengkap, tapi yg membedakan masing-masing kita adalah cara memahami dan meyakininya kemudian mengimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Saya mau berbagi menurut pemahaman saya sampai saat ini, jika konsepnya memahami khilafah=negara Islam dengan sistem politik sebagai acuannya maka konsep khilafah yang sebenarnya akan disamakan dengan sistem negara dan ideologi manusia lainnya.

  5. Sekedar mampir,

    Saya setuju dengan Ramadan. Kalau anda memang berpegang pada realitas, maka seharusnya anda juga memaparkan realitas dari sisi positif KeKhilafahan. Atau lebih baik paparkan pula Realitas Demokrasi dalam Sejarah. Baru tanyakan pada audiens, layak atau tidak bila demokrasi diganti oleh Khilafah. Bukankah begitu?

    Sebab dari perbandingan anda mengenai khilafah dan demokrasi (serta sistem pemerintahan lain), apakah benar dalam demokrasi realitasnya semua sama kedudukannya dalam hukum? ataukah yang memiliki kedudukan atau uang yang memiliki hukum?
    Atau kebebasan berpendapat berekspresi dalam realitas demokrasi, apakah betul kebebasan eksperesi benar-benar dijamin? Karena saya baru dapat fakta, realitas mengatakan baru-baru ini bahwa konferensi Khilafah di Belgia di batalkan secara sepihak oleh pemerintah setempat. Atau apakah kebebasan berekspresi akan dijamin, asalkan tidak mengekspresikan pendapat Islam?
    Atau tentang eksekutif, jika eksekutif ‘menyeleweng’, bagaimana realitasnya dalam sejarah dan dampak demokrasi pada dunia? betulkah tidak ada aksi berdarah-darah??

    Rasulullah saw.bersabda:
    “Masa kenabian itu ada ditengah-tengah kalian, atas izin Allah ia tetap ada, lalu Allah akan mengangkatnya jika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian (Khilafah ‘alaa Minhajin Nubuwwah). Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) yang dlalim (Mulkan ‘Adhan) ; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) diktator yang menyengsarakan (Mulkan Jabariyah) ; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Kemudian akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian (Khilafah ‘alaa Minhajin Nubuwwah), Beliau kemudian diam” (Hr. Ahmad)

    Setuju atau tidak, jika Rasulullah Muhammad saw-al Amin-, telah mengatakan demikian, maka yang dikatakan beliau sudah Pasti akan Terjadi.
    Namun seperti yang anda katakan, ini tetaplah pilihan diri. Toh apapun pilihannya, khilafah nanti tetap akan tegak. Hadits Rasulullah ini suatu saat tetap akan terbukti kebenarannya. Kita hanya tidak tahu, kapan dan dimana pertolongan Allah ini akan diturunkan. Apakah di Indonesia, atau dimanapun.

    Oh satu lagi. Dari tulisan anda ini serta sekilas melihat judul tulisan anda yang lain “wawancara imajiner dengan khalifah indonesia pertama”, tampaknya anda salah anggapan, dan mengira bahwa Khilafah sama dengan bentuk-bentuk negara yang ada sekarang. Bentuk negara Khilafah berbeda dengan bentuk-bentuk negara yang ada saat ini. Khilafah adalah kepemimpinan umum kaum Muslim seluruh dunia. Khilafah bukanlah negara bangsa (nation state) seperti ‘negara’ yang ada saat ini, bukan pula federasi, melainkan negara dunia (global state); kaum Muslim di seluruh dunia hanya memiliki satu negara. Jadi tidak tepat jika anda mengatakan kata “Khalifah Indonesia”.

    Ini silakan dibaca http://hizbut-tahrir.or.id/2011/03/02/khilafah-negara-kesatuan/

    1. @Rizka: terima kasih untuk mampir dan menyumbang komentar.
      Tulisan saya mencatat apa yang terjadi dalam konteks tatanegara.
      Ada banyak pencapaian positif dan banyak juga kasus negatif dalam masa khilafah berlangsung, tetapi itu tidak relevan dalam pembahasan tatanegara sebagai fokus tulisan saya.
      Saya tidak menuliskan gemilangnya pencapaian teknologi, budaya dan lain-lain sebagaimana saya juga tidak menuliskan mengenai perebutan tahta berdarah-darah yg pernah terjadi dimasa itu.

      Mengenai kelemahan demokrasi, tentu ada, karena tidak akan ada sistem yang sempurna.
      Hal buruk yang terjadi pada demokrasi adalah:
      # Karena keputusan berdasarkan pada suara terbanyak, seseorang bisa menggunakan kekayaannya untuk membeli suara. Anda bisa membeli suara dalam suatu periode tertentu, akan tetapi tidak untuk selamanya. Kebijakan buruk akhirnya akan terasakan akibatnya rakyat, dan bila itu terjadi harta sebanyak apapun tak akan mampu lagi membeli suara seluruh rakyat. Inilah nilai plus demokrasi – akan ada koreksi walaupun mungkin lama.

      Mengenai apakah benar dalam realitanya semua berkedudukan sama didepan hukum?
      Tentu anda sadar bahwa tak ada realitas yang sempurna. Penyelewengan akan selalu ada di sistem manapun. Akan tetapi jika yang diatur dengan adil saja bisa diselewengkan menjadi tidak adil, apalagi memakai hukum yang secara tertulis sudah tidak adil. Tentu semakin parah ketidak adilan yang dihasilkan bila itu diselewengkan.

      Mengenai global state, satu negara khilafah untuk seluruh dunia
      Saya tidak menganggap penting apakah khilafah berlaku lokal atau global. Kalau sistemnya buruk, di tingkat kota saja tidak akan laku apalagi tingkat dunia.

      Mengenai tulisan hizbut-tahrir, saya tidak tertarik
      Bagi saya HT adalah gerakan politik karena berjuang untuk memegang kekuasaan mengatur negara.
      Ada gelanggang yang sudah tersedia yaitu pemilu. Menang atau kalah bisa diuji disana, silakan HT masuk gelanggang.
      Saat ini HT seperti pemain yang ingin menang tapi takut bertanding. HT hanya berteriak-teriak dipinggir minta menang sambil memaparkan keburukan peserta yang bertanding, serta mengecam aturan pertandingan.

  6. Menurut saya…orang beriman yang beralih ke visi sains dan teknologi seperti Mas Judhianto..dapat diibaratkan seperti gen yang bermutasi sembari say good bye kepada kepada jenis pemikiran agama yang konvensional. Seperti evolusi, pemikiran konvensional akan mati dan menjadi fosil…yang tetap hidup dan berkembangbiak hanya yang mampu bermutasi …
    Salam !

    1. @Sulaeman Suparman: saya setuju.
      Manusia membutuhkan sains dan teknologi untuk menaklukkan dunia, akan tetapi dunia tersebut akan menjadi omong kosong tanpa seni, cinta, agama dan Tuhan.

      Saya yakin Tuhan dan Agama tidak akan pernah tergusur sama sekali oleh sains dan teknologi. Tetapi agama perlu berevolusi agar tetap dapat memenuhi kebutuhan manusia.

      Dalam tradisi sufi, Agama hanyalah wasilah (jalan) dan bukan ghayah (tujuan) sebagaimana Tuhan itu sendiri.

  7. saya sangat menikmati diskusi di atas…saya cuma ingin berkata bahwa;tertumbuknya mata kita realita jangan sampai membuat kita antipati dgn konsep ideal, sebaliknya kerinduan kt pada hal2 yg ideal jangan smp kita lupa di dunia mana kt berpijak…itu saja,selamat berpolemik

    1. @Penyuka Sejarah: jika yang dinamakan sistem ideal adalah sistem yang bisa berlaku untuk semua jaman dan budaya, maka kita tak akan pernah bisa menemukannya. Setiap jaman dan budaya memiliki tantangan dan bekal masing-masing yang unik dan itu berarti tidak akan bisa dipenuhi oleh satu sistem yang sama.

      1. sistem ideal tdk selamanya yg pernah berlaku disetiap zman,tapi dilandasi nilai2 ideal yg pernah diamalkan dan dipraktekkan oleh generasi terbaik. bagi saya, maqashid as Syariah dlm penegakn kehidupan bernegara menjadi prioritas,tapi itu tidak berarti nilai2 dasar paten yg baku diabaikn samasekali; seperti kwajiban mengngkt seorng muslim sbg pmimpin

        1. @Penyuka Sejarah: Prinsipnya adalah negara ada itu untuk siapa?

          Jika negara ada untuk keperluan agama, ya silakan para ulama yang merumuskannya dan membentuknya. Tapi ya jangan ajak-ajak rakyat untuk ikut mereka, mereka punya kepentingan sendiri.

          Jika negara ada untuk keperluan rakyat, ya silakan dirumuskan sistem yang bisa menjamin kesejahteraan dan keamanan rakyat, menjamin hak berbeda, berserikat dan berkumpul, memberi peluang rakyat untuk ikut serta mengelola negara.

          Pemimpin harus Muslim atau tidak? tidak penting, yang penting tidak korupsi, menjamin hak rakyat dan bisa memajukan negara.

          1. dalam islam,negara ada likhidmati jami’ (untuk melayani seluruh lapisan masyarakat) tanpa memandang agama,suku,warna kulit dll. masalahnya memang kemudian,dibumi mana negara itu mau dibangun.
            Nah, di tengah2 masyarakat muslim seperti indonesia ini,idealnya memang mereka siap diatur oleh nilai2 islam. tapi realita mengatakn bahwa mayoritas ummat belum tau banyak tentang syariat islam serta konsep ideal dlm bernegara, tapi bukan berarti mereka tidak mau menerima. sebab tdk sedikit yg menolak krn keawaman mereka tentang syariat ini
            maka silahkan kita berlomba menebar ide, wacana di tengah2 ummat ini. siapa yg sigap, cepat, punya kekuatan untuk itu, maka ia pasti memenangkn wacana.
            kebanyakn kita hanya berada dimenara gading, berbicara ttg berbagai konsep2 indah..tapi siapa diantara kita yg turun gunung memberi pelayanan sigap meski sederhana, berempati walau sekedar 1 dos mie instan, atau menghibur mereka dengan tablet vitamin yg menghilangkan stres mereka?
            dalam waktu dekat realita akan bertutur (insyaAllah) bahw para pendamba tegaknya sistem islam akan menuai apa yg mereka tanam,mrk akan memetik keras mereka selama ini
            kalau kaum komunis bisa punya negara, kaum liberal punya wilayah,kenapa umat islam tdk bisa seperti itu?

          2. @Penyuka sejarah: masyarakat modern lebih pragmatis dibanding masyarakat jaman dulu yg ideologis. Suatu sistem dipilih karena terbukti berhasil atau menjanjikan perbaikan bagi mereka, tidak perduli apa landasannya.

            Selama ini yang namanya sistem Islam hanya sibuk memperjuangkan nilai-nilai Islam yang entah apa gunanya dan lalai memikirkan keadilan, HAM, sistem yg bersih, partisipasi rakyat, hak bagi minoritas.

            Contoh kecil dari daerah2 yg sibuk perjuangkan syariat Islam adalah: tes ngaji untuk walikota yg sama sekali gak ada gunanya dibandingkan memastikan mereka bebas korupsi di masa lalu. Sibuk urusi baju wanita dibanding tumpas birokrasi yg berbelit-belit. Sibuk larang bangun gereja dibanding urusi pungli. Belum lagi preman2 FPI yg merajalela.

            Apa untungnya sistem Islam bagi masyarakat?

            Untuk luar negeri, mana negara yg maju karena syariat?

            Bukankah kita justru melihat Somalia yg dalam konstitusinya mencantumkan syariat Islam adalah rangking 1 negara gagal dunia? Dimana bajak laut dan perompak merajalela?

            Terima kasih.

  8. tidak nyangka anda termasuk korban belitan berita media, sorotan anda tertuju pada hal2 remeh yg diangkat media. Anda gagal merangkum semua capaian2 subtansial dari tokoh2 yg mewakili tokoh2 pergerakan islam. anda gagal mencari dan menggali informasi dimensi lain dari mereka yg naik panggung kekuasaan dn merupakan tokoh islam. sebut saja misalnya;Ahmad Heriyawan dgn berbagai macam penghargaan yg diterimanya,apa kita masih mau menyangkl bahwa ia tdk merepresentasikan islam dan kekuasaan islam. bahwa tokoh2 dan pjbat muslim yg sibuk tes mengaji ya, tapi itu adalah langkah awal untuk capaian yg lebih besar
    setahu saya yg awam ini, seoarang akademisi mesti jujur dalam membri penilaian, obyektif dan mampu memilah masalah secara jeli.
    anda tdk adil pd daerah yg beraspirasi menegakkan syariat. tapi anda tdk mmberi mereka waktu utk bekerja, harap tdk mmberi kesimpuln tuk hal2 yg kelihatannya sepele
    anda tdk fair saat menilai FPI sbg preman jalanan,tp anda tdk mengusut semua latar blakang masalah yg membuat fpi lahir. mungkin anda lupa bahwa ormas yg anda premankan disukai penduduk jakarta terutama yg ingin kotax aman dari maksiat
    anda tidak balance saat merangkat somalia sebagai negara islam gagal dan kacau,tapi lupa mengangkat saudi arabia sbg negara islam .meski negara ini punya berbagai kekurangnnya,namun taukah anda saudi arabia adalah negara dgn angka kriminal paling rendah didunia
    kegagalan satu negara menerapkan sistem islam,bukanlah cerminan lemahnya sistem islam dan alasan menjeneralisir mslh…sy persilahkn anda mencermti faktor2 eksternal dan internal kenapa mereka gagal
    harap anda menggali dan mncermati maslh dari semua aspek.mengklaim tanpa data, adlh sesuatu yg sangat naif bg seorang akademisi…

    1. @Penyuka sejarah: suatu kesimpulan yang fair adalah yang berdasarkan fakta, bukan asumsi. Dan di era keterbukaan informasi yg namanya fakta adalah hasil survey atau data dgn parameter terukur.

      Untuk bicara fair, tolong tunjukkan kesalahan argumen saya dgn data dan fakta, bukan kalimat tak terukur semacam: termakan media, menggeneralisir masalah, dll.

      Untuk Saudi sebagai contoh, sy tak mengerti kalau pelecehan majikan thd TKI kita yg tertinggi di antara semua ngr tujuan TKI tdk dihitung kejahatan. Dimana atas kejahatan tsb tdk diberlakukan hukum yg setimbang > berapa banyak TKI kita dipancung krn beladiri dan kehormatan, sementara tak satupun majikan dipancung untuk pembunuhan yg mrk lakukan? Anda bisa cek angka TKI yg terancam pancung di lembaga independent smacam Migran Care.

      Sebagai negara, Saudi bertahan krn minyaknya dan industri haji. Tak ada hasil tani, industri atau karya kreatif disana. Jika minyak habis, mrk akan kolaps dalam bbrp dekade saja.

      Masyarakatnya pasif krn represi habis2an penguasanya. Oposisi kalau tdk dieksekusi ya lari ke LN.

      Untuk FPI, mrk jelas kriminal krn melakukan kekerasan. Hukum bergerak atas fakta, bukan alasan.

  9. Khilafah bukanlah kerajaan, & kerajaan bukanlah khilafah
    Khilafah bukanlah kekaisaran, & kekaisaran bukanlah Khilafah
    Khalifah dipilih oleh rakyat, dapat diturunkan jika ia melanggar syari’at.
    Khalifah memang tidak boleh diatur/dikontrol selain oleh hukum yg telah ditetapkan Allah SWT
    Pendapat rakyat dan siapa saja dapat diterima bila sesuai dengan Syari’at
    Sedangkan semua kitab2 hukum, ilmu pengetahuan, dan filsafat bukan hanya digunakan oleh umat Islam!
    tapi umat manusia. Jadi jangan mengurang-ngurangkan & jangan pula melebih-lebihkan.
    Cukuplah fakta, tapi fakta yg benar & dapat dipertanggung jawabkan.
    Bila anda mengatakan sumber dari http://www.khilafah.tk/2010/11/mengenal-sistem-khilafah-islamiyyah.html adalah sumber sepihak, maka saya dapat mengatakan anda takut menuliskan bahwa itu sumber yg anda musuhi.
    Sekian,

    1. @MuhammadAzzuhair: khilafah bukan kerajaan? Memang ada khilafah yg bukan diturunkan.
      Akan tetapi, biar tidak mengurang ngurangi atau melebih lebihkan, kita bisa melihat melalui metode statistik, bukan klaim.

      Dari jumlah khilafah yg pernah ada bisa dilihat berapa yang mewarisi jabatan dari ayahnya, berapa yang merebut paksa, berapa yang dipilih?

      Untuk pendapat rakyat, bisa beri contoh yang nyata? Berapa banyak contohnya? Apakah contoh itu mewakili sistem khilafah atau hanya kebaikan khalifah?

      Takut pada sumber HT? Tidak, saya hanya tidak ingin mengutip kumpulan klaim tanpa bukti statistik yang bisa diandalkan.

      Terima kasih

  10. Tulisan di blog ini memang yahud, pemikiran tentang islam yang fresh dan akan memberikan pemikiran baru bagi umat muslim yang radikal, maju terus bung… saya sbg non muslim saja sangat senang membaca tulisan dan jawaban logis dari pemilik blog cerdas…

  11. Pernyataan bahwa sistem khilafah tanpa kontrol menurut sy adalah tdk tepat. Seorang Khalifah diangkat utk menjalankan hukum Allah yg bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Itulah yg menjadi batasan beliau dlm menjalankan pemerintahan. Jadi kontrolnya sangat jelas yakni melanggar or tdk dgn apa yg tertulis dlm Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Sehingga seorang khalifah bisa diturunkan jika terbukti melanggar dua hal itu. Sementara jika dikatakan di zaman Nabi gak ada kontrol kecuali dari Allah, menurut sy itu jelas krn Nabi adalah sosok utama dan teladan dalam Islam. Nabi maksum dari dosa sehingga tdk mungkin menyeleweng sebagai kepada negara. Jika mas Judhianto tdk setuju berarti memang sulit utk berdiskusi. Krn keyakinan terhadap Nabi dlm Islam adalah bagian dari rukun Iman. Berarti diskusi hrs diarahkan kepada masalah iman dulu baru bicara yg lain.

    1. @Fachri Al-Fatih: anda harus mengerti makna kontrol.

      Sebagai omong kosong, orang boleh bilang “Qur’an & Hadis sebagai kontrol”

      Faktanya Qur’an & Hadis hanyalah tulisan. Jika khalifah mengencinginya keduanya tidak bisa protes.

      Yang bisa protes hanya manusia atau kelompok manusia, jika khalifah terletak di puncak kekuasaan, ia bisa membungkam semua kontrol dan protes. Artinya ia tak terkontrol.

      Beberapa fakta sejarah berikut bisa kita jadikan contoh betapa kekejian para khalifah yg tak bisa di’kontrol’ oleh tulisan yang mati:
      * Khalifah yg diturunkan ditengah masa jabatannya alasannya cuma satu: kudeta oleh yg menggantinya.
      * Betapa banyak ulama yg dihukum mati karena pandangannya beda dg pandangan yg diyakini khalifah
      * Pada kudeta pada khilafah bani Umayah oleh bani Abassiyah, terjadi pembasmian besar2 an keluarga besar khalifah terdahulu dan pengikutnya
      * Pada khilafah Usmani Turki, ada kebiasaan khalifah baru untuk membunuh semua saudaranya sendiri guna menghindari perebutan tahta kelak.

      Yang saya sebut adalah fakta yang sudah terjadi, jika tak setuju, tolong tunjukkan fakta pembandingnya, bukan sekedar teori normatif tanpa bukti.

      Anda berlebihan mengatakan yg tak setuju anda berarti tak mau diskusi.

      Ujung diskusi itu dua, yaitu bersepakat pada satu pendapat atau bersepakat untuk menghormati pendapat masing2 yg berbeda.

      1. bismillah….. artikel ini menurut saya (bca;pendapat:mungkin benar,mungkin salah) adalah situs yg brmanfaat. Mengapa dmikian ? krn menambah pengetahuan skaligus mengasah kmampuan kita dlm berdiskusi (pendapat). Apresiasi sy untuk Pak Judhianto.

        1. @FaisalAli13: terima kasih.
          Tak ada seorangpun yang memegang kebenaran mutlak. Jadi masing-masing berhak menyampaikan pendapatnya berdasarkan fakta dan pengetahuan yang dimilikinya.

      2. maju terus mas Judhianto, ulasannya menarik buat saya meskipun non muslim, karena berdasarkan sejarah dari beberapa sumber. dan saya terhibur dan lumayan geli liat komen2 yang menyarankan mas untuk baca lagi dan melampirkan kalimat puitis sehingga orang bodo kaya saya jadi ngga ngerti. ironis sekali karena yg komen kaya gitu itu saya liat sumber bacaan mereka cuma satu, yang mas tentunya sudah tau apa, hehehe

  12. mantap mas jud… benar2 pukulan telak
    inti yg saya tarik dr tulisan2 mas jud, yang abadi di dunia adalah kebaikan yg universalah yang menciptakan keadilan & kesejahteraan umat manusia..

  13. Paparannya Sip mas. Terbukti partai politik yang berbasis islam tidak pernah menang di pemilu lawong misinya cuma surga neraka. Bukan program nyata buat masyarakat yang didunia. Lembaga keuangan syariah apa seramai lembaga keuangan pada umumnya? semua hanya akal2an penyebutan dan teknik akuntansinya aja ujung2nya cuma disitu disisipkan surga dan neraka lagi. Hukum syariah di Aceh menurut saya sadis dan tidak zamannya hukuman fisik tekecuali pelanggaran hukum yang berat sekalian aja hukum mati (korupsi). Wis-wis gak jaman hukum islam atau syariah diterapkan di jaman modern ini. Biarpun ada sebagian orang yang optimis dan bersikukuh, saya hargai itu (udah terlanjur diyakini dan tidak perlu dipikirkan lagi kedepannya). Lanjut mas.

  14. Diskusi yang menarik. Tebukti partai2 islam di indonesia tidak pernah memimpin biarun selalu digembar gemborkan indonesia berpenduduk muslim hampir 3/4nya. Bank maupun pegadaian berbasis syariah apa seramai bank umum pada umumnya tidak. Kalau ada komentar karena mereka tidak memahami hukum islam dengan baik ( saya hargai itu dan tidak salah) fakta yang membuktikan. Sip mas pemaparan yang bagus dan rasional.

  15. @Aninditya: pada beberapa orang, dogma menempati posisi lebih tinggi dari kenyataan.
    Mereka menolak menerima kenyataan, manakala kenyataan itu tidak sejalan dengan dogma mereka, bahkan mereka rela menukar kehidupan nyata ini dengan dunia khayal dogma-dogma tersebut. 🙂

  16. numpang nimbrung boss,.seandainya lautan jadi tinta dan seluruh pohon di hutan jadi pensil tak akan cukup untuk menuliskan ilmu Allah, menurut pandangan saya,masih banyak ilmu Allah yang belum tercakup di Alquran, itulah gunanya nafsu dan akal manusia ada,untuk menggali dan mengkaji pengetahuan di semesta yg luas ini,mudah 2 an perdebatan di atas mendorong semua pihak untuk menggali terus ilmu nya masing 2 hingga menghantarkan kita menjadi manusia yang arif dan bijak untuk mewujudkan kedamaian dan ketentraman bagi mahluk di dunia ini.amin

  17. Judhianto otakMu 90% udah terkotaminasil oleh racun Sekuler,, Khalifah Tidak ada yg Namanya otoliter karena Hukum dipegang Oleh kadi jangan memutar balikkan fakta kamu, kadi ambil hukum Qur-an dan hadis sehingga hukum sama dihadapan kadi apakah pemulung ataukah raja baca toh Abu Syam mah anak Saidina Umar wkt ia Khalifah… baca lagi Simirah Pupok Khalifah Iskandar muda DiAceh<<< kenapa kamu bodoh amat…

    1. @Sayed Al-qadri: jika yang dinamakan sekuler adalah membedakan antara realitas dan dogma, berpegang pada logika dan bukan khayalan, bersikap jujur dalam mengambil kesimpulan, menghormati lawan diskusi, maka saya senang sekali dikatakan sebagai seorang sekular.

      Silakan berkomentar lagi dengan bahasa yang jelas dan santun, maaf komentar anda yang ini tidak saya tanggapi dulu.

  18. Bapak Judhianto sangat pintar sekali,
    pintar dan jeli sekali melihat kejelekan di gaya kepemimpinan para Kahalifah,
    atau hanya sekedar ingin menjelekkan aja kali ya …
    tapi anda tidak adil juga karena tidak menulis sisi baik dari para Khalifah,
    bapak Judhianto, Nabi Muhammad SAW dan 4 khalifah sesudahnya dijamin Alloh SWT Masuk surga, jadi saya lebih percaya kepada Rosullulloh dan khalifah Abu bakar, UMar, Usman dan Ali.
    kalo bapak Judhianto tidak suka pada mereka atau bapak tidak percaya kalo Beliau2 dijamin masuk surga,
    kita Buktikan nanti di Hari Kiamat, hari dimana saya meyakini bahwa hari itu akan datang. Hari dimana dibalasnya amal perbuatan manusia selama dia hidup didunia (baik amal sholeh atau amal buruk).

    bapak Judhianto pintar sekali, tapi sayang kepintaran bapak kelihatannya digunakan untuk menghasut orang lain.

    Astagfirulloh,saya mohon ampun kepada Alloh atas dosa dosa saya, dan saya minta maaf jika menyinggung bapak Judhianto.

    1. @Adhi: saya mengungkapkan fakta yang bisa dicek di sejarah.
      Kalau anda tidak sependapat, silakan ditunjukkan fakta yang salah dalam tulisan saya. Saya senang membahasnya.

      1. Fakta??
        oya??
        fakta yang mana? sejarah yang mana?
        anda sangat luar biasa,
        segeralah bertobat sodaraku
        semoga hidayah Alloh mengalir kepadamu
        dan mari bersama-sama menegakkan hukum2 Alloh dimuka bumi ini
        semoga kita dikumpulkan bersama sama Rosululloh dan para sahabatnya di Akhirat nanti
        Amiin

        1. @Adhi, koq anda bertanya fakta yang mana? mbok dibaca dulu artikel yang ditulis mas Judhi. Paparkan dengan jelas ketidak setujuan anda dengan referensi atau data yang jelas. jangan ujug ujug bilang “tobat mas, tobat”..

  19. sejarah yang mana ya?
    siapa yang menulisnya?
    lalu seberapa besar penulis mengetahu fakta sejarah?

    fakta sejarah banyak menceritakan kejayaan dimasa khalifah.
    bagaimana perkembangan dunia saat ini banyak dipengaruhi oleh para intelektual islam masa itu, saya ambil contoh ilmu kedoteran, matematika, fisika, ilmu astronomi, dll, akhir akhir ini saya baru ketahui bahwa kamera foto pertama kali ditemukan oleh seorang muslim.
    sedang anda menceritaan hal yang berbeda, jadi saya bingung dengan anda.

    1. @Adhi: simpel kok, kalau anda punya fakta sejarah yang beda, silakan tunjukkan di poin mana saya salah dan tunjukkan fakta menurut sejarah anda. Silakan…

      1. saya mulai membaca kemana anda mengajak saya.
        tapi anda belum menjawab pertanyaan saya di thread sebelah, tentang agama anda, ini penting buat saya supaya saya bisa menghargai anda.
        saya bisa menyaring kata2 saya jika anda non muslim, dan saya bisa lebih terbuka jika anda adalah muslim, barangkali juga kita bisa bertemu bertatap muka untuk membahas masalah2 islam dan kehidupannya untuk menambah wawasan saya tentang islam.
        jika anda non muslin saya bisa belajar dengan anda tentang pengalaman hidup anda.

        1. @Adhi: untuk memberi kesempatan yg lain, mohon beri komentar dengan to-the-point, ringkas dan padat (juga ada isinya).
          Untuk prasangka-2 atau komentar tak relevan, tidak saya tanggapi.

    2. @adhi, kalo anda bilang tentang kemajuan dunia secara general, itu collective intellegent. dari sejak belum ada agama, dari zaman homo itu masih ada beberapa spesies; wajakensis, sapiens sampe ada paganisme dan agama baru yaitu hindhu, budha, jewish, kristen, sampe sekarang ada aliran baru; atheis, agonis, scientology, alientology, etctology hehe. ga bisa lah mengklaim itu milik islam semata. yang lebih cocok itu terjadi gara2 collective intellegent, manusia membangun ide baru berdasarkan ide yang sudah ada. (tolong google kalo ingin tahu lebih lanjut). mengapa ide lama terus dirubah, termasuk point anda tentang khalifah, ya dengan tujuan ide lama itu diperbaharui untuk menjadi lebih relevan untuk manusia modern jaman sekarang. ada benarnya anda bilang tulisan mas Judhi lebih condong untuk membahas tentang buruknya sistem khalifah. saya melihat ada poin yang mulia disitu, karena sebagai manusia yang intelek, kita wajib fokus pada keburukan suatu ideologi, jadi kita bisa membahas dan mencari solusi untuk memperbaikinya. yang sudah baik untuk sekarang biarkanlah begitu, ga perlu menghabiskan tenaga untuk membahas sesuatu yang sudah baik toh?

  20. judhianto_ wah luas pengetahuannya dan dalam analisana…
    kalo anda bisa menjelaskan fakta fakta hitam khalifah… tentunya anda bisa mengutarakan juga fakta tinta emas khalifah… mohon di jabarkan bos.

    1. @Wirosembodo: di ruang komentar ini, saya merespon komentar para pembaca mengenai tulisan saya.
      Untuk catatan emas kekhalifahan, banyak sekali tulisan yang membahasnya dengan baik.

  21. owh begitu ya bos… yaa namanya dunia pasti ada min plus nya..
    saya kira tak kan ada dominasi/ kemenangan (sistem ekonomi, politik atau pun agama) yang terjadi tanpa adanya pengorbanan darah dan air mata..sistem pemerintah kerajaan,sultan, demokrasi, nazi, komunis ataupun komunal. juga yahudi, kristen, islam atau apapun itu.
    tinggal hitung hitungannya bangaimana minimalisir dampak massif yang ditimbulkannya.. dan kesiapan fundamental dalam mewujudkannya.. ///

  22. saya kira suatu dominasi /kemenangan (baik sistem pemerintahan, ekonomi maupun agama) tak kan pernah eksis tanpa adanya pengorbanan darah dan air mata..
    kekhalifahan memunculkan banyak tragedi, begitu juga demokrasi, komunis, kapitalis, sosiais, begitu juga yahudi, kristen dan islam…. munculnya mereka tentunya banyak harta benda, nyawa yang di korbankan…
    begitu juga kawan kita HT yang mempunyai cita tinggi… boleh lah.. asal dampak destruktif yang akan terjadi harus antisipasi, alias persiapan fndamantal harus terencana sistematis.
    jangan sampai kempes ditengah jalan….

    1. @Wirosembodo: kita saat ini hidup di era yang jauh berbeda dengan masa lalu. Pembeda utama adalah akses informasi yang tak bisa lagi dibatasi. Dengan akses informasi yang tak lagi dimonopoli oleh golongan elit, rakyat bisa tahu realitas nyata yang mereka hadapi tanpa perlu lagi filter dari “departmen penerangan” atau juru propaganda kelompok elit.

      Dengan sempitnya jurang informasi antara rakyat dan kelompok elit, hampir mustahil ada sistem pemerintahan yang hanya dimonopoli oleh sekelompok elit dengan mengabaikan rakyat. Tidak akan lagi rakyat dapat ditipu berlama-lama dengan omong kosong “darah biru”, “revolusi”, “patriotisme”, “nilai luhur bangsa”, “jalan Tuhan”, “imperialisme asing”, “konspirasi yahudi”, “demi rakyat”, “surga” atau “neraka”. Mereka bisa dengan cepat membandingkan output pemerintahan mereka dengan negara lain sebagai pembanding.

      Dengan terbukanya informasi, rakyat tahu betapa partai yang anggotanya penuh dengan jargon kesucian, wajah saleh, sikap santun ternyata wakilnya di parlemen sibuk nonton gambar porno dan pimpinan tertingginya ternyata maling sapi.
      Rakyat juga tahu, ketika satu propinsi diberi kesempatan menerapkan aturan agama dalam pemerintahannya, hasilnya adalah pemerintahan daerah yang sibuk melahirkan undang-undang dan aturan bodoh, sambil tetap mengamalkan korupsi dan mengabaikan rakyatnya.

      Ketersediaan pekerjaan, harga yang terjangkau, tingkat korupsi, hukum yang adil, tingkat keamanan, pelayanan umum, kebebasan berekspresi, fasilitas pendidikan dan kesehatan –> itu semua output yang langsung mereka nilai. Sistem yang terbukti bisa menghasilkan skor tinggi dalam ukuran-2 tersebut yang akan mereka pilih.

      Jadi ukurannya tidak lagi sistem sekuler atau agama, melainkan berguna atau tidak sistem itu bagi hidup rakyat.

  23. Saya baru pernah menemukan bacaan berkualitas dengan Judhianto penulisnya. Jika ada ulama Indonesia yang mampu berpikiran netral seperti Judhianto ini, waaw asiiik.. Ulama yang pernah saya dapati selama ini selalu berlindung dibalik hapalan ayat-ayat Quran sebagai senjatanya. Dengan prilaku-prilaku yang tidak sesuai dengan ilmu yang mereka peroleh. Okelah Judhianto (maaf saya panggil nama begitu), saya lanjutkan untuk membaca lagi tulisan anda. Thanks

  24. muaranya : orang hidup itu cuma ada tiga : Anda milih untuk ijtihad (inovatif dan kreatif), ittiba’ (mengikuti sesuatu yang dipahami), atau taqlid (anut grubyuk, pokoke melok).”

    dan tiga options tersebut dapat dikatakan bermanfaat jika mendekatkan makhluk pada Sang Pencipta bukan malah menjauhkan dalam kegiatan hidup makhluk terhadap Penciptanya….

    bos,, tulisan barunya koq belum muncul juga,, di tunggu nih

    1. @Wirosembodo: setuju dengan tiga opsi anda.

      Memasarkan pandangan agama dapat kita lihat seperti memasarkan produk di pasar terbuka.

      Kondisi ideal akan tercapai manakala terjadi persaingan yang fair. Semua penjaja (produk atau pandangan) menyajikan kelebihan apa yang mereka pasarkan dengan jujur, tidak mengintimidasi penjaja yang berjualan produk lain, dam tidak mengintimidasi pembeli produk lain atau mengintimidasi pelanggan yang hendak beralih produk.

      Dengan persaingan fair, pembeli/penganut tentu bisa membanding-bandingkan sebelum mengambil pilihan, sedangkan para penjaja akan terpacu untuk memperbaiki penyajian jualannya.

      Tulisan baru?
      He he.. masih belum sempat. Saya usahakan minggu ini bisa keluarkan tulisan baru.
      🙂

  25. artikel-artikelnya bermutu bagus,
    tapi sayang, banyak komentar pengunjung yang kurang bermutu dan nampak lebih mengedepankan emosional semata yang kadang malah bikin pusing…

    1. @Jakfisio: banyaknya variasi sikap, wawasan dan tingkat emosi para komentator tentu juga menambah kematangan kita.
      🙂

  26. sekarang kita ada di era demokrasi mas,
    tapi tetap tidak ada perubahan bangsa ini malah semakin terpecah belah
    sistem pemerintahan yg kacau balau
    yg kaya makin kaya dan yg miskin ttp miskin
    jadi utk apa juga kita menerapkan sistem demokrasi kalau yg dihasilkan hanya spt itu
    ujung ujung nya duit juga (uud)
    sementara tetangga sebelah yg menerapkan sistem syariah kelihatannya lebih maju, adem, damai sejahtera
    dari pada kita
    jadi bagaimana sikap kita sebaiknya kalau begitu….?

    1. @Salomon: untuk fair, kita tak bisa sekedar menggunakan perasaan, melainkan harus menggunakan ukuran yang jelas dan bisa dibandingkan dengan jelas.

      Salah satu metode yang digunakan PBB untuk mengukur kemajuan negara adalah Human Development Index. Didalamnya ada masalah pendidikan, perlindungan hukum, kesempatan kerja, hak-hak warga, kebebasan berpendapat, tingkat pendapatan dan konsumsi serta hal lain yang bisa diukur. Untuk rangking negara dunia berdasarkan index ini dapat dilihat di: http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_countries_by_Human_Development_Index

      Dari daftar tersebut, ternyata negara demokrasi mengisi semua posisi atas daftar tersebut, dan kalau melihat penghuni rangking terbawah daftar tersebut ada Sudan dan Somalia. Kedua negara ini adalah negara gagal yang menggunakan Syariah Islam dalam pemerintahannya.

      Jadi anda melihat melalui ukuran apa syariah lebih unggul dari demokrasi?

      Saat ini Indonesia baru menjalankan demokrasi prosedural, sedangkan secara mental kita masih terikat pada pola pikir yang menyerahkan segalanya pada penguasa. Saya pikir masih perlu 20 tahunan lagi agar esensi demokrasi bisa membawa kemajuan lebih pesat dan merata.

      1. Tulisan yang luar biasa, sangat menonjok,
        berani meihat dari sudut pandang yang berbeda
        semoga anda tidak dipenjara mas, seperti anand krisnha hehehe

  27. Di penjara! Gendeng itu. Jeleknya pemerintah indonesia kalah sama kelompok fundamentalis penghafal quran. Sya masih ingat kasus arswendo atmowilopo membuat poling tokoh idola ternyata muhamad kalah oleh suharto eh..eh.. Kok monitor ditutup. Arswendo di penjara edanntenan. Emang siapa muhammad kok cuma gara2 gitu aja ambil tindakan yang gak bermutu. Pokoke lucu kenjadian di pemerintah ini kalau menyangkut keyakinan.

  28. Dasar aku ini engga tau lagi gimana cara berpartisipasi dalam diskusi ini, aku coba-cobalah, alhamdulilah bisa juga masuk mas.
    Pokoknya selamat yah mas, teruskan pemberian informasi seperti yang ada ditulisan tersebut pada masyarakat kita, agar tidak terus dibohongi dengan janji masuk surga.
    Ternyata mas, ada agama di nusantara ini yang lebih bijak, yang berkembang di tanah jawa.
    Tidak menuntut harus mengikuti dogma maupun iman (yang dilarang untuk ditanyakan), dan yang penting dapat langsung, tanpa perantara, berusaha berkomunikasi langsung dengan Gusti Allah, hehhheeehhh
    Wassalam

    H. Bebey

  29. Weleh weleh, ku coba lagi, mudah2an berhasil bergabung di nonton dunia.
    Memang luar biasa mas yuhi ini, bisa mengemukakan halhal yang sebenarnya terang dengan menggunakan nalar/rasio ini. Terus perjuangan anda, guna memberikan informasi yang benar sesuai fakta yang ada, tanpa berniat terus membuat kebohongan2 baru yang selalu dilakukan oleh mereka.
    Wassalam

    H. Bebey

    1. @H. Bebey: kalau email yang digunakan berkomentar berbeda dengan yang sebelumnya, maka akan dianggap komentator baru yang butuh approval dulu.
      Silakan berpartisipasi… 🙂

      1. Iya mas, kemungkinan aku dihalangi untuk berpartisipasi, ada saja flashnya jadi bermasalah, terpotonglah, atau mungkin sudah ada perubahan misalnya harus ngirim fee, itupun aku tidak tau gimana caranya.
        Sebab sebelumnya aku selalu diberi tahu kalau ada tulisan baru, tapi sekarang e-mail ku tertutup atau terhalangi sesuatu.
        Pokoknya selamat berkarya terus, aku setuju banget apa yang ditulis itu.
        Wassalam

        H. Bebey

    1. @Dukun Tulang: saya setuju. Saya sudah membaca beberapa bukunya, Karen Armstrong seorang penutur yang sangat baik dan mengasyikkan saat bercerita tentang Tuhan, agama dalam bingkai sejarah.

  30. Tulisan yg menarik saudara. kesimpulannya saya cuma mau tanya satu hal saja, Apakah anda meyakini/mengimani jika kelak Khilafah min hajnubuwah akan tegak kembali di bumi Allah ini? trims

    1. @Duimaulana: ada problem mendasar dari sistem khilafah yg diperjuangkan kelompok Islamis, yaitu ketakutan pada kebebasan.

      Kelompok ini alergi pada kebebasan berpendapat, berekspresi, kesetaraan hak wanita dan kesetaraan hak non muslim.

      Ideologi ini tidak akan laku dijual pada masyarakat yang sudah mengenal kebebasan.

      Dengan merebut kekuasaan atau berpura-pura demokratis, khilafah mungkin bisa ditegakkan.

      Namun begitu mereka menyensor pers, twitter, facebook, mengatur pakaian wanita, melarang faham Islam yg lain dan mengharamkan demokrasi, khilafah ini akan kehilangan simpati setiap orang dan membusuk dengan sendirinya. Tinggal menunggu waktu saja untuk dibuang ke tong sampah.

      Saya tidak percaya sistem ini bisa berdiri dan sukses di masa modern ini. Saya tak ingin hidup dinegara yang lebih perduli pada ayat-ayat dibanding rakyatnya, akal sehat dan nilai kemanusiaan.

  31. Boleh saya mengambil contoh dari agama lain? Kita tahu bahwa agama Katholik memiliki sosok Paus dan agama Budha memiliki sosok Dalai Lama. Keduanya adalah pemegang otoritas tertinggi dalam struktur agama masing-masing. Lantas kenapa kaum Muslim tidak boleh memiliki sosok pemegang otoritas tertinggi seperti kedua agama tersebut?

    1. @Ryan M.: Islam adalah agama egaliter, tiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya secara pribadi langsung kepada Allah, tidak melalui hirarki.

      Selain Rasul, tidak ada yang maksum (bebas salah) dalam menafsirkan agama, jadi MUI, NU, Muhammadiyah hanyalah konsultan kita yang boleh kita ikuti boleh tidak. Di akhirat, Allah tidak akan menerima alasan “karena menurut MUI, NU atau Muhammadiyah”. Allah hanya tanya alasan pribadi anda berbuat ini-itu, bukan alasan MUI.

      Jadi kalau Allah sendiri berkenan menerima kita sendiri tanpa hirarki, kenapa kita hendak mengangkat perantara antara kita dan Allah?

      Ada satu hal penting, alih-alih menginginkan satu otoritas tunggal agama Islam, kita justru lebih butuh banyak konsultan Islam (penjaja tafsir Islam).

      Dengan kemudahan mengakses informasi, silakan para penjaja tafsir itu membuka semua tafsir jualan mereka, langkah mereka, dan sumbangan mereka pada masalah kontemporer di masyarakat.

      Biarlah orang tahu dan menilai sendiri MUI, NU, Muhammadiyah, HTI, JIL, Syiah, Ahmadiyah dan sebagainya.

      Biarlah orang menilai dan mengambil yg bermanfaat tanpa perlu saling mengkafirkan. Toh semua kelompok itu tak laku diakhirat, Allah mendengar kita sebagai pribadi.

  32. Saya suka komentar Mas, “Islam adalah agama egaliter”. Namun begitu saya juga berpandangan bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah contoh bagaimana seharusnya manusia bersikap dalam kehidupan sehari-hari. Jika Allah tidak menghendaki adanya pemimpin diantara umat manusia, tentu Muhammad tidak akan menjadi khilafah. Lagipulah bukankah kekhalifahan adalah sebuah sistem bernegara dan bermasyarakat? Khalifah bukan perantara antara kita dengan Sang Pencipta. Secara alamiah, semua makhluk hidup memerlukan kepemimpinan untuk bersama-sama bisa bergerak ke satu arah. Bukankah dalam rumah tangga ada kepala keluarga? Bukankah ketika kita shalat pun ada yang bertindak sebagai imam? Lalu apakah salah ketika kita memilih sistem kekhalifahan?

    1. @Ryan M.: manusia selain sebagai individu, juga mahluk sosial. Mereka bertemu berkumpul dan berorganisasi. Dalam skala kecil keluarga, dalam skala besar negara.

      Untuk apa mereka berorganisasi? untuk mengatur kepentingan mereka bersama, mengatasi konflik diantara mereka dan bekerja sama menggabungkan nilai tambah tiap anggotanya untuk mencapai sesuatu yang tak mungkin mereka hadapi secara individu.

      Apa yang dihadapi negara? memastikan warganya bisa makan, berpakaian, sekolah, punya kesempatan kerja, terjamin keamanannya, penegakan hukum yang adil dan sebagainya. Agama juga termasuk yang mungkin perlu diperjuangkan negara. Kenapa mungkin? karena agama bukan yang vital.

      Tanpa kecukupan makan dan pakaian, negara bisa kacau, bisa bubar.
      Tanpa sekolah dan kesempatan kerja, dengan cepat negara tersebut kalah bersaing dan bangkrut.
      Tanpa keamanan dan penegakan hukum yang adil, kejahatan dan penindasan meraja, bisa bubar negara.

      Tanpa agama? keadaan jadi beda, tapi hidup akan tetap berjalan, negara tetap berlangsung.

      Agama mungkin bagian hidup yang penting bagi individu, tapi bukan bagi negara. Negara nggak urus kebutuhan agama akan aman-aman saja, sedangkan negara nggak urus kebutuhan pangan akan segera runtuh. Agama hanyalah hal kecil dan dan gak penting bagi negara.

      Agama tidak menyediakan rumus tentang berapa persen anggaran untuk pangan, pendidikan, riset, penegakan hukum, tentara dan lain-lain. Anda tidak akan menemukannya dalam kitab suci manapun. Kalaupun ada yang bilang ada aturan dalam Islam, sebenarnya itu hanya stempel atas ijtihad orang Islam dan bukan solusi dari Qur’an.

      Jika agama tak tahu caranya mengatur fiscal, neraca perdagangan, pengadaan pangan, riset kelautan, strategi perang, ujian nasional, pembangunan infrastruktur; maka untuk apa menempatkan agama sebagai acuan bernegara?
      Apakah hanya untuk menggenapi sabda Nabi: hancurlah segala sesuatu bila diserahkan kepada yang tidak kompeten? (lihat peringkat tertinggi negara gagal dunia yang di pegang Somalia yang mendeklarasikan diri sebagai negara syariah)

      Jadi bernegara adalah menghadapi masalah kongkrit semua warga negara, untuk itu dibutuhkan solusi kongkrit tepat guna. Dan itu tak ada dalam agama (dalam versi Islam: khilafah).

  33. Setuju setuju mas judi. aku cerita sedikit setelah muter beberapa negara. ternyata pemimpin yang paling hebat adalah Indonesia (Soekarno) bukan muhammad. SAW. pemimpin ini bisa menyatukan berbagai suku,bahasa, kepulauan bahkan latar belakang agama dan budaya. dia tidak menggunakan versi khllafah (Iso bubar dan perang nanati semua di suruh beragama islam. islam sendiri pecah morat marit dan gelut dewe2 dengan membawa kebenarannya masing2) jadi tetap saya anggap kalau negara menggunakan sistim khilafah kembali ke zaman purba dan bar-bar

  34. Mas Judhi yth,

    Sy jadi kepikiran juga tentang bgmn cara saudara2 kita di HTI dan lain2 yg setiap hari ngomongin khilafah2 terus, utk mewujudkan cita2nya itu? 
    Mereka tdk membuat suatu partai resmi, hanya berkoar2 tdk terarah.  Apakah mereka berpikir utk merebut kekuasaan dengan kekerasan/jihad?

    Kalau mmg itu rencananya, saya menentang dengan keras. Hidup di Indonesia masih jauh lebih menyenangkan drpd di Timur Tengah dimana nyawa tdk ada harganya.  Di sini sy sewaktu kecil dulu masih bisa bercita2 utk jadi apa nanti kalau sudah besar. Dan sy msh bisa menanya anak2 sy mereka mau jadi apa nantinya. Tdk terbayangkan Indonesia akan jd lautan darah dgn teror bom/pistol/pedang tiap hari spt Libya, Irak, Suriah dll (jujur sy paling ngeri dgn pedang itu..)

    Saudara2 sebangsa, kawan2 semua. Sy hanya bisa menghela nafas panjang setiap hari melihat nafsu berkuasa org2 “Islam” spt itu. Sulit mmg membuka mata dan hati org2 yg ktnya telah memegang kebenaran..

    Sy sangat menghargai upaya Mas Judhi berupa tulisan2 yg sangat mencerahkan ini. Mau rasanya saya buat billboard di jalan2 “BACALAH NONTONDUNIA BERAMAI2..” agar satu dua kawan2 itu terketuk dan melembut hatinya.

    Bravo Mas, lanjutkan..

    1. @Dodi_StartAllOverAgain: terima kasih atas dukungannya…

      Salah satu dogma kelompok ini adalah: Demokrasi dan HAM adalah sistem kufur, haram mengambil, menerapkan, dan mempropagandakannya.

      Dengan alasan itu, mereka tidak mau membentuk partai politik untuk bersaing dalam pemilu – itu sistem haram bagi mereka.

      Karena prinsip itulah, mereka bersemangat sekali setiap melihat ada yang salah dengan pemerintah. Mereka tidak hendak membantu memberikan solusi, melainkan berusaha sekuat tenaga meyakinkan orang lain bahwa sistem yang sekarang bobrok dan tak bisa diharapkan, sebagai gantinya adalah menyerahkan kuasa ke tangan mereka (dengan Khilafah) agar semuanya beres.

      Kalau toh terpaksa untuk menerima sistem demokrasi dan HAM; mereka menganggapnya sebagai hal yang darurat, sebagai taktik. Begitu mereka berkuasa mereka segera menggantikannya dengan sistem otoriter syariah.

      Sikap senada bisa kita lihat dari pernyataan salah satu Ketua MUI tentang demokrasi dan Pancasila sebagai berikut:
      http://asdinurkholis.wordpress.com/boleh-dibaca/pancasila/kh-cholil-ridwan-demokrasi-pancasila-sebagai-tumpangan-sementara/

      Untuk menangkalnya?
      Gak usah melarang mereka, kita hanya perlu membuka fakta-fakta sejarah dan memberi alternatif pemikiran kepada kelompok muda…
      Biarkan mereka dengan kecerdasannya bisa memilih yang terbaik.

  35. Sederhana aja pemikiran saya, jelas namanya hukum syariah yang di sadur dari salah satu agama/keyakinan , implementasi di lapangan jelas akan mendiskriditkan keyakinan minoritas (sudah bisa dipastikan itu). Karena sumbernya dari salah satu keyakinan, yang beda keyakinan jelas di anggap melenceng atau salah, bahkan membangkang. Sudah bisa dipastikan juga disini akan hilang toleransi dan saling hormat menghormati. Contoh di lapangan dilarang mengucapkan hari besar keyakinan lain, di larang merayakan hari besar selain hari besar keyakinannya dan di anggap kegiatan yang di luar keyakinannya melanggar hukumnya. Di aceh non muslim disuruh menhormati mayoritas dengan menyarankan mengunakan jilbab (jelas pelanggaran berat itu) biarpun menyarankan, tapi tidak pantas untuk disampekan, laki2 tidak boleh mengenakan celana pendek menurut syariah islam yang di terapkan di aceh, waduh kok jadi rumit banget hukum syariah ini. Bunga bank riba, kalau bank syariah tidak, apa2an ini hanya beda menyebut dan teknik pembukuan. Kalau demokasi saya menganggap sangat relevan karna kesetaraan dan kebebasan individu dihormati, cuma dikarenakan tidak patuhnya pemegang kekuasaan atau kedisiplinan aparat, tejadi kebocoran ketidakadilan. yang kaya selalu dibela karna mampu membayar. Tapi kalau semuanya disiplin dengan kesepakatan demokrasi tadi, jelas demokrasi lebih baik dan lebih manusiawi.

    1. @Audrey: Setuju!

      Kita juga bisa lihat sejarah. Betapa masyarakat Eropa membuang negara agama (Islam dan Kristen) karena terbukti kalah bersaing dengan negara sekuler dalam memajukan masyarakatnya.

      Kita perlu bersyukur juga bahwa ada Aceh yang menjadi etalase sistem syariah. Yang gak mau belajar dari sejarah biar bisa melihat sendiri betapa tidak ada sama sekali manfaatnya bila agama ikut campur dalam pemerintahan.

  36. Contoh syariah, denda 21 milyar, ada yang mau menerapkan monggo, gak ada bedanya ini huku m adat ala papua gak rasional dan aji mumpung, kalau ada orang membagakan hukum syariah, baca dulu apa syariah itu biar lebih jelas dan tau secara gamblang apa yg di maksud syariah dan kelanjutannya. Gak ada bedanya hukum asal2an (hukum adat arab yang dibungkus agama)banyak nipunya itu. jangan percaya ekonom muslim (biarpun aku muslim) gak percaya implementasi dilapangannya. Kebanyakan yang ngomong karena ada kepentingannya di hukum syariah tersebut. Dan masih bayak lagi. Contoh aj adi aceh selama 11 tahun mana keefektifan hukum syariah? gak efektif banget dan membodohkan masyarakatnya, gak ada kepastian hukumnya, masak tuhan membolehkan membunuh/mancung orang, , tuhan suruh potong tangan, cambuk dll. Lucuuuuuuuu! !!! jadi negara yg pakai syariah gak bedanya badut2 lagi beratraksi

    1. @WISYA… SETUBUH EHHH sori setuju sekali… saya juga muslim keturunan… tidak telan mentah mentah khotbah para preman surga.. jiwa dan raga tetap indonesia harga mati mengalir deras dalam tiap inci urat nadi hehehe… kalo hukum syariah atau khalifah di tegakan di indonesia berarti raga kita… ulangi hanya RAGA kita milik indonesia… tapi jiwa dan hati kecil sudah menjadi budak arab dan mungkin tiap RT atau RW sebagian anak muda yang sering begadang sudah tidak bisa melambaikan tangan atau berjabat tangan..

  37. tidak ada yang lebih berhak kecuali hukum allah, semua sistem akan berputar dan hilang kecuali hukum sang pencipta, saya mendukung khalifah karena dibawah kekhalifahan maka hukum allah lah yang tegak allahu akbar

    1. @Yani: kalau sekedar mengklaim ya silakan saja. Hitler juga klaim ras Arya adalah ras tertinggi, ada yg klaim batu akiknya bisa bawa rejeki.

      Tapi kalau bicara fakta, khilafah ala nabi sudah habis saat nabi wafat, khilafah ala khulafaur rasyidin habis saat Ali dibunuh, khilafah ala kerajaan habis saat Turki berevolusi. Saat ini ada khilafah ala Taliban, ISIS, Boko Haram – yang juga bakal habis karena tak ada yg mau dukung kebiadabannya.

      Yang abadi itu hukum alam saja kok 🙂

  38. Assalamualaikum Wr. Wb.
    Sobat yang insyaAllah dirahmati Allah Swt. Yuk mari kita berdiskusi dan shearing terkait akar dari perpecahan umat islam sepeninggal Nabi Muhammad SAW meninggal yakni adalah tiada lain karena masalah perebutan kekhilafahan atau kepemimpinan. Sebagaimana dari setiap kepemimpinan itu memiliki peraturan-peraturan khas dan hal itu terus berubah-ubah dari zaman ke zaman hingga sampailah islam pada generasi sekarang ini yang banyak macamnya.
    Tujuannya adalah tiada lain mencari informasi untuk islam yang benar-benar original dan yang belum tercacati.
    1. Pertama, kita faham bagaimanakah hukumnya mengurus jenazah seorang muslim yg meninggal adalah fardhu kifayah yakni artinya jika sudah ada yang mengurusnya (jenazah tersebut) maka gugur sudah kewajiban yang lainnya.

    Kedua, apakah hukumnya tentang khilafah? Apakah fardu a’in ataukah fardu kifayah?
    Ketiga, manakah yang lebih penting dan utama dari hukum fardhu kifayah dan fardhu a’in? Ya tentu, jawabnya adalah fardhu a’in karena setiap muslim berkewajiban atasnya.
    Keempat, jika khilafah hukumnya adalah fardhu a’in artinya hal ini sangat teramat penting. Analoginya adalah apakah mungkin sesosok nabi Agung Muhammad SAW sebagai penutup atau penyempurna kenabian yang dengannya membiarkan hal ini terjadi tanpa suatu KEJELASAN YANG PASTI sehingga umat islam ini tidak akan PECAH??? mungkinkah sosok beliau (SAW) yang telah mengajarkan cara mengurus jenazah secara jelas kepada umatnya yang hukumnya fardhu kifayah, namun lalai dan gagal mengurus khilafah yang teramat penting sepeninggal beliau. JAWABNYA, “TENTU ITU TIDAK MUNGKIN SAUDARA”!!! Nabi Muhammad SAW adalah orang yang tidak akan berkata dan berbuat sesuatu melainkan hal itu adalah dari Allah Swt dan karena Allah SWt..
    Jawabnya: Nabi Muhammad SAW, PASTI dan SUDAH menyampaikan masalah penting ini dengan SANGAT JELAS kpd umatnya.. Sehingga umat tidak akan terpecah karenanya.
    Lalu sebenarnya siapakah ahli orang2 yang sebenarnya ditunjuk dan dipercaya oleh Allah dan nabi SAW untuk umatnya sepeninggal beliau???
    Silahkan kepada sobat-sobat mohon ditanggapi dan utamakan dalilnya.
    Jazakalloh Khoiran Katsir.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    1. @Anas Wafiq: tulisan saya ini mengenai apa yang sudah terjadi.
      Kalau anda punya dalil-dalil mengenai apa yang terjadi, ya silakan saja disampaikan. Tolong menyampaikannya dengan jelas, tak perlu banyak basa-basi yang tak perlu.

  39. Bolehlah tulisannya. Yang jelas membuka cakrawala berfikir. Kalau ummat islam memiliki khalifah saat ini, kita bisa berbaiat. Mudah mudahan bisa melindungi ummat islam dan menyampaikan islam ke seluruh dunia. Kalau kejadiannya tidak ada khalifah seperti sekarang, jalankan syariat islam semampunya. Mulai dari diri sendiri dan keluarga, mulai dari yang wajib dan mulai sekarang juga.

    1. @Dini Ahmad: lah anda kemana saja selama ini? saat ini sudah ada 2 khilafah di dunia Islam.

      Yaag pertama adalah Khalifah Ahmadiyah ke V, Hazrat Mirza Masroor Ahmad yang sudah menjabat sejak 2003. Khilafah Ahmadiyah bersifat dakwah, bukan kekuasaan politik, tujuannya adalah memimpin gerakan dakwah jamaah Ahmadiyah dunia.

      Yang ke dua adalah Khalifah versi ISIS – Abu Bakar Al Baghdadi yang menjabat sejak Juni 2014. Khalifah ini ini memiliki kekuasaan politik dan wilayah negara yang nyata, yaitu di seputaran Suriah dan Irak.

      Anda mau berbaiat? silakan saja pilih mereka. Saya sih emoh.

      1. Terimakasih pak judhianto atas infonya mengenai dua khalifah. Saya sih punya kriteria dalam berbaiat. Khalifah haruslah yang menjadi pelindung masjidil haroom, berdiri diatas kebenaran dan memang terbukti mampu melindungi ummat islam.

        Saya juga menunggu tulisan pak judhianto yang akan menafsirkan ulang islam. Kalau bisa digarap serius pak seperti ulama ulama terdahulu.

        1. @Dini Ahmad: kalau melihat rencana jangka panjang ISIS, mereka bermaksud melebarkan wilayah kekuasaannya ke semua negara dengan populasi muslim. Saudi yang Mekah di dalamnya, serta Indonesia yang memiliki muslim terbanyak bakal menjadi bagian dari khilafah ISIS. Masih bakal berbaiat pada penguasa masjidil haam itu? saya tetap enggak.

  40. Artikel artikelnya menarik semua dan sejalan dengan cara pandang saya selama ini. Artikelnya sangat logis, humanis dan realistis.serta berani kontroversial. Mas judhianto bahkan mampu menanggapi komentator dengan cerdas,dan bisa mengelola emosi. Salut aku mas.

    Cara berpikir Orang seperti mas Judhianto inilah yg diperlukan oleh rakyat Indonesia yg sangat beragam ini, agar Indonesia damai dan tidak terjebak pada klaim kebenaran kelompok tertentu yg ingin memaksakan kebenarnya pada pihak yg berbeda.

    Dunia ini akan damai kalau saling menghargai perbedaan, tapi sebaliknya akan konflik berkepanjangan bila terjadi pemaksaan kebenarannya sendiri.Karena itu kalau Indonesia ini dikuasai oleh kelompok tertentu saja dan memaksakan aturan versinya, saya kawatir Indonesia akan bergolak seperti di Timur Tengah.

    Kelompok minoritas pasti akan protes, karena Indonesia ini dibentuk atas dasar keberagaman. Para tokoh negara dan tokoh ulama sudah sepakat untuk saling menghargai kebhinekaan saat negara ini dibentuk.. Jangan anggap protes kelompok minoritas mudah untuk diatasi, kalau terdesak mereka juga akan minta bantuan negara lain, yg akan menambah keruh yg terjadi.
    Inilah yg saya khawatirkan terjadi.

    Kalau saya tanya teman teman,, baik yg Islam maupun non islam, mereka kebanyakan tidak setuju negara berdasarkan agama. Tapi kalau lihat tulisan tulisan dan komentar komentar di dunia maya, banyak sekali yg ingin Indonesia menjadi Khilafah. Saya jadi bertanya tanya, mana yg fakta dan mana yg semu ?

  41. Mas Santo , mas Judhi ….para sesepuh dan bapak bangsa sudah dengan penuh kearifan menerima segala perbedaan yg merupakan kenyataan yg hidup dan menjadi kekayaan bangsa ini.Shg semboyan BHINNEKA TUNGGAL IKA ….TAN HANA DHARMA MANGRWA dalam serat SUTASOMA kita jadikan semboyan, dan PANCASILA kita jadikan dasar negara.Mari kita isi kemerdekaan ini dengan baik utk kita wariskan kpd anak cucu kita, negara yg kita impikan ,adil, makmur, aman dan sejahtera.Semua golongan, yg beragam suku. agama, kepercayaan, punya kontribusi terbentuknya NKRI ini.NKRI tidak lahir begitu saja jatuh dari langit seperti yg kita lihat skr ini.Dia merupakan suatu proses yg panjang dari Jaman SRIWIJAYA , yg Buddhist, Majapahit yang HINDU dengan sumpah PALAPA nya GAJAH MADA mempersatukan NUSANTARA…diikuti runtuhnya MAJAPAHIT….kmd munculnya KESULTANAN2 tersebar di mana mana…tidak lagi ada kesatuan NUSANTARA dibawah satu pusat pemerintahan spt jaman MAJAPAHIT ,SIRNA HILANG KERTANING BHUMI, sampai Belanda dengan VOC nya datang selama 350 tahun menjajah kita , yang membangkitkan rasa kebangsaan untuk mengusir BELANDA….muncul Budi UTOMO 1908…..JONG ini JONG itu , puncaknya SUMPAH PEMUDA…1928…kita sudah berbaiat SATU NUSA, SATU BANGSA,SATU BAHASA INDONESIA , yg mempersatukan kita utk meminta kembali wilayah NUSANTARA dari BELANDA dan tentunya JEPANG yg sempat 3 tahun menjajah kita….dan pada 17 Agustus 1945 kita merdeka dst dst dengan segala dinamika pasang surutnya hingga sampai skr kita menikmati reformasi dan demokrasi ….dimana perbedaan pendapat adalah rahmat, kita terus sempurnakan demokrasi ini shg semua anak bangsa ini mendapat kesempatan yg sama utk kiprah memajukan bangsa.
    Mohon jangan lagi kita membuat eksperimen dan melakukan TRIAL and ERROR memimpikan suatu bentuk negara diluar koridor yg sudah disepakati oleh para pendahulu kita ….ongkosnya nanti sangat muuaahaal sekali , very costly. Pepatah mengatakan : SESAL DAHULU PENDAPATAN SESAL KEMUDIAN TIDAK BERGUNA.

    CRAH AGAWE BUBRAH RUKUN AGAWE SANTOSO…..mari kita bersama sama MAMAYU AYUNING NUSWANTARA…MAMAYU AYUNING BAWONO.

  42. Boleh juga di coba nih Negara Khilafah, karena kalau tidak dicoba, belum ketahuan di mana kelemahannya, kalau ada kejelekannya lalu diperbaiki hingga menemukan yang terbaik dan optimal. Terbaik untuk umat minoritas dan mayoritas. Karena selama ini menurut pengalaman negara tambah miskin dan tidak mandiri. setelah Presiden Sukarno hutang negara 89 triliun, dan hingga Nopember 2015 menurut Bank Indonesia hutang negara kita sudah 4.234 triliun. Salam dari profesorcilik.wordpress.com

    1. @Maliku45: Negara khalifah belum dicoba? waduh, anda kok seperti gak pernah baca sejarah dan melihat fakta.

      Islam sudah menggunakan system khilafah selama 1200 tahun dan berakhir ketika dibuang oleh rakyat Turki karena gak mampu menghadapi perubahan jaman.

      Inti system khilafah adalah penerapan syariah Islam sebagai hukum negara. Saat ini ada dua macam Negara syariah yang ada di dunia. Yang pertama adalah Negara syariah dalam wadah kerajaan, ada Saudi Arabia, kerajaan2 di wilayah Arab dan Afrika serta Brunei Darusalam. Yang kedua adalah syariah dalam Negara demokrasi seperti Iran dan Pakistan.

      Selain itu ada juga yang sedang memperjuangkan berdirinya Khilafah dengan merebut wilayah Negara berdaulat lain seperti ISIS, Boko Haram, Jabal Al Nusra, al-Qaeda. Ada juga yang cuma sebatas demo-demo dan promosi di sana-sini seperti Hizbut Tahrir.

      Di skala propinsi ada juga Aceh.

      Hasilnya? pemerintahan yang otoriter, tak transparan, korup, gagal memajukan rakyatnya, sadis dan dipenuhi hukum-hukum konyol.

      Anda mau mencoba system seperti ini? saya sih emoh …

  43. Pemerintahan yang otoriter juga dilakukan di masa Nazi, Musolini, dan Korut sekarang. Bukankah mereka bukan negara syariah. Pemerintahan tak transparan dan korup, gagal memajukkan juga ada di Indonesia (buktinya banyak yang masuk KPK). Ini juga bukan negara syariah. Negara sadis yang banyak melakukan penembakan oleh warga sipil terhadap warga lain juga dilakukan oleh Amerka, seperti penembakan di sekolah, kampus. Hal ini akan terjadi terus penembakan beribu-ribu kali jika hukumnya bukan hukum “yang membunuh dengan sengaja harus dihukum bunuh juga’ atau “yang mencuri di hukum potong tangan’. Banyaknya penembakan sadis Ini juga bukan negara syariah. Coba anda beli buku tentang Umar Bin Abdul Aziz, ia pemimpin yang sederhana yang berhasil membuat sejahtera semua rakyatnya, sehingga tidak ada yang miskin di negaranya. Keadaan hasil negatif yang anda sebutkan dihasilkan oleh pemimpin yang cinta dunia dan tajut mati. dan juga pemimpin yang tidak mau mengikuti perubahan jaman. buktinya, Yunani yang bukan negara syariah juga bangkrut.

    1. @Maliku45: saya coba ambil poin komentar anda

      • Pemerintahan yang otoriter itu buruk
        Saya setuju. Dengan sistem otoriter, kekuasaan berpusat pada pemimpin tertinggi, sehingga tidak ada kontrol (apalagi dari rakyat) bila penguasa menjadi korup atau menindas rakyatnya. Anda menunjuk pada Hitler, Musolini atau penguasa Korut sekarang.

        Pada sistem otoriter, nasib rakyat seolah dipertaruhkan sepenuhnya pada kualitas penguasanya. Jika beruntung akan dapat orang seperti Nabi, Umar bin Abdul Aziz atau banyak pemimpin otoriter yang dicintai rakyatnya. Namun jika apes bisa dapat Kim Jong Un, Hitler, Khalifah Yazid yang pemabok dan gila seks atau Khalifah Usman bin Affan yang menggemukkan kroninya hingga dikudeta rakyatnya.

        Bagaimana mencegah penguasa menjadi otoriter, peradaban manusia telah menemukan pemisahan dan pembatasan kekuasaan penguasa dan menjadikan rakyat sebagai pengendali tertinggi negara. Kongkritnya ada dalah sistem Trias Politika dan Demokrasi.

        Dalam negara demokrasi orang buruk yang bisa menipu rakyatnya dengan citra yang bagus bisa terpilih, namun tidak akan bisa berkuasa selamanya. Di negara kita, kita bisa dapat presiden seorang Jendral Prihatin yang tak berbuat apa-apa selama menjabat, tapi ia maksimal cuma bertahan selama 10 tahun, karena itu jangka maksimal ia bisa berkuasa. Bandingkan dengan negara otoriter yang memungkinkan seorang pemabok jahat semacam Yazid atau psikopat Kim Jong-Un bisa berkuasa seumur hidup.

        Jadi bagi saya Indonesia sudah menuju arah yang benar dengan menggunakan demokrasi. Balik ke sistem otoriter? baik yang disebut kerajaan, kekaisaran atau kekhalifahan? apa kita mau mempertaruhkan nasib rakyat kualitas satu orang tang tak bisa lagi dikontrol? bodoh dan tolol sekali.

      • Kasus-kasus buruk
        Anda menyebut banyaknya pejabat yang ditangkap KPK sebagai kegagalan Indonesia? Anda yakin kalau sebelum ini mereka gak korup, atau gak ada koruptor di Indonesia?

        Bagi saya ini adalah sinyal kemajuan Indonesia. Selama ini kita hidup di negara maling, dimana semua orang, bahkan agamawan ikut jadi maling. Jika sekarang banyak yang ketahuan korup, itu hanya karena sebelumnya belum ada lembaga sekuat KPK yang mampu menangkap koruptor.

        Bagaimana kekerasan senjata di AS? kok kita bisa tahu? karena ada pers bebas di sana, setiap cacat cela pemerintah pasti diberitakan dengan bebas. Manfaatnya? karena masalah jadi terbuka dan tiap orang tahu, maka pemerintah dituntut bekerja keras untuk mencari jalan keluar. Bisa jadi solusinya cepat tapi bisa jadi lama, tapi akan ada proses perbaikan, kalau tidak pemerintah bisa kehilangan dukungan warganya karena tak becus.

        Bagaimana kejahatan di Saudi atau negara-2 syariah? gak ada yang tahu karena tidak ada pers bebas di sana. Yang kita tahu hanya dari laporan pihak asing yang sembunyi-sembunyi meliput di sana. Apakah tidak ada kejahatan? wah, dari TKW kita bisa tahu bahwa pelecehan wanita terutama kepada pekerja asing sesuatu yang berlimpah di sana. Apakah akan ada perbaikan? sepertinya tidak, karena secara resmi mereka mengelak mengakuinya.

        Apakah di Korut tidak ada penindasan? kalau baca koran Korut atau informasi resmi pemerintah, pasti tak ada. Kim Jong-Un itu citranya seperti dewa yang tanpa ada cacat cela. Apakah kita bisa berharap ada perbaikan, jika model pemerintah Korut yang seperti itu dipertahankan? tidak bisa.

        Jadi di negara terbuka (pers bebas adalah syarat demokrasi), buruknya pemerintah akan segera terekspos kemana-mana karena pemerintah tidak boleh membatasi informasi, karena dengan bebasnya informasi, rakyat bisa menilai penguasanya sendiri secara fair. Sedangkan di negara otoriter seperti Saudi, Korut, ISIS atau RI (diera Soeharto), penguasa selalu baik karena yang buruk dilarang diberitakan. Hasilnya? penindasan apapun akan dikatakan baik, karena itu “demi pembangunan”, “demi revolusi” atau “demi kejayaan Islam”

      Anda mau pilih Khilafah? Saya enggak

      1. Kalau gitu kasih saran dong, supaya negara ini lebih baik, karena banyak yang aneh, misalnya jurang yang kaya dan miskin semakin lebar, banyaknya kasus perkosaan diakibatkan pornografi/pornoaksi dari kebebasan pers/internet, karyawan kontrak yang bisa di PHK setiap saat, banjir setiap tahun, kemacetan semakin parah, pengangguran semakin banyak, penipuan lewat sms dan sejenisnya, pendidikan yang mahal, kesehatan yang mahal, begal dan kejahatan serta kriminal yang selalu berulang, penguasa/pejabat yang memihak pengusaha (contohnya reklamasi Jakarta).

        1. @Maliku45: anda kurang lengkap menyebutkan problem-problem bangsa ini. Ada terorisme, main hakim sendiri, penindasan kelompok minoritas, fitnah-fitnah di media sosial yang bila dirunut akarnya dari mabuk agama.

          Kasih saran? ini yang saya lakukan lewat web ini atau akun media sosial saya. Mengajak untuk mengkritisi agama sehingga beragama dengan nalar dan kemanusiaan. Anda sudah kasih saran apa?

          Aksi lainnya? mendukung pemerintah yang bersih, transparan dan bisa bekerja dengan efektif. Dengan pemerintah yang bersih dan efisien, ada harapan berbagai kasus yang anda sebut bisa satu-satu diatasi.

          🙂

          1. terorisme bukan ajaran islam, karena dalam islam orang yang mencuri harus dipotong tangannya. Orang yang membunuh dengan sengaja harus dihukum bunuh atau denda sesuai permintaan keluarga korban. main hakim sendiri juga bukan ajaran Islam, yang berhak menghukum ya hakim setelah ditemukan bukti-bukti yang kuat, penindasan kelompok minoritas juga buka dari islam. Nabi Muhammad berkata, barang siapa menggangu atau memusuhi orang lain akan menjadi lawan Aku di akhirat, islam juga nggak mengajarkan fitnahn islam mengajarkan kasih sayang. Misalnya Tidak boleh berkata Ah kepada orang tua atau membentaknya. Adanya penyimpangan dari orang islam karena mereka tidak membaca Al-Quran dan memahaminya lalu menjalankannya.

            Liberalisme telah masuk ke dalam semua kelompok masyarakat manusia. Tidak terkecuali kaum muslimin. Indonesia sebagai Negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam pun demikian. Pengaruh liberalisme telah merasuk ke dalam semua lini kehidupan banyak masyarakat kaum muslimin di negeri ini.
            Selain faktor internal kaum muslimin yang lemah dari sisi komitmen mereka terhadap agamanya, terutama persoalan yang berkaitan dengan akidah, tersebarnya aliran pemikiran liberalisme tidak lepas dari peran Barat yang sangat giat menyebarkannya melalui kekuatan politik, ekonomi dan teknologi informasi yang mereka miliki. Dan disinyalir, kaum muslimin adalah sasaran utama dari invansi pemikiran ini. Karena, sebagaimana yang dikatakan oleh Samuel P. Huntington dalam bukunya yang berjudul “Clash Of Civilization” (Benturan Peradaban), setelah jatuhnya aliran Komunisme, maka tantangan Barat selanjutnya adalah Islam. Menurutnya, “bahaya Islam” lebih berat dari peradaban-peradaban yang lain seperti Cina, Jepang dan negeri-negeri Asia Utara yang lain.
            Selain itu, keyakinan Barat terhadap konsep liberal di antaranya juga diinspirasi oleh tesis Francis Fukuyama dalam “The End Of History” (Akhir Sejarah) yang menyebutkan bahwa demokrasi liberal adalah titik akhir dari evolusi sosial budaya dan bentuk pemerintahan manusia.
            Sebagai umat Islam, tentu kita tidak ingin peradaban Islam yang di bangun diatas akidah dan nilai-nilai agama Allah ini dirusak oleh orang-orang kafir dengan pemikiran-pemikiran luar itu. Islam adalah agama yang sempurna dengan ajaran yang bersumber dari wahyu Allah, Pencipta yang Mahamengetahui segala kebutuhan makhluk-makhluk-Nya. Karenanya Islam tidak membutuhkan isme-isme dan ideologi dari luar. Allah berfirman:
            “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Maidah [5]: 3)

            Sejarah Liberalisme
            Sejarah kemunculan liberalisme terbentang dari sejak abad ke-15, saat Eropa memulai era kebangkitan (Renaissance) mereka sampai sekitar abad ke-18 masehi, setelah sebelumnya dari sejak abad ke-5, orang-orang Eropa hidup dalam era kegelapan (Dark Ages).
            Dr. Abdurrahim Shamâyil mengatakan, “Liberalisme secara teori politik, ekonomi dan sosial tidak terbentuk dalam satu waktu dan oleh satu tokoh pemikir, akan tetapi ia dibentuk oleh sejumlah pemikir. Liberalisme bukan pemikiran John Luke (w 1704), bukan pemikiran Rousseau (1778), atau pemikiran John Stuart Mill (w 1873), akan tetapi setiap dari mereka memberikan konstribusi yang sangat berarti untuk ideologi liberalisme.”

            Sejarah liberalisme dimulai sebagai reaksi atas hegemoni kaum feodal pada abad pertengahan di Eropa. Sebagaimana diketahui, Kristen adalah agama yang telah mengalami perubahan dan penyimpangan ajaran. Pada tahun 325 M, Imperium Romawi mulai memeluk agama Kristen yang telah mengalami perubahan tersebut, yaitu setelah agama Kristen merubah keyakinan tauhid menjadi trinitas dan penyimpangan-penyimpangan yang lainnya.
            Pada saat yang sama, sistem politik yang dianut oleh penguasa untuk memerintah rakyatnya ketika itu adalah feodalisme; sistem otoriter yang zalim, menekan dan memasung kebebasan masyarakat. Sistem feodal berada pada puncaknya di abad ke-9 Masehi ditandai dengan munculnya kerajaan-kerajaan dan hilangnya pemerintahan pusat. Kaum feodal terbagi menjadi tiga unsur ketika itu; (1) intitusi gereja, (2) kaum bangsawan dan (3) para raja. Semuanya memperlakukan rakyat yang bermata pencaharian sebagai petani dengan otoriter, zalim dan sewenang-wenang.
            Kehidupan beragama dibawah institusi gereja juga sarat dengan penyimpangan. Tersebarnya peribadatan yang tidak memiliki landasan dalam kitab suci dan merebaknya surat pengampunan dosa adalah diantaranya. Paus Roma, ketika mereka membutuhkan dana untuk membiayai aktifitas Gereja, mereka menerbitkan surat pengampunan dosa dan menghimbau masyarakat untuk membelinya dengan iming-iming masuk surga. Pendapat-pendapat tokoh agama pun bersifat absolut dan tidak boleh digugat. Alquran juga menyebutkan di antara penyimpangan mereka:
            “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At Taubah [9]: 31)

            “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” (QS. At Taubah [9]: 34)
            Penyimpangan keyakinan, ditambah dengan sistem politik otoriter inilah faktor utama yang kemudian melahirkan pemikiran liberal. Saat masyarakat tertekan dan hidup dalam kezaliman, muncullah reaksi yang bertujuan kepada kebebasan hidup. Hal yang telah menjadi sunnatullah.
            Kesadaran masyarakat Eropa yang ingin bebas dari segala bentuk tekanan itu mengharuskan mereka untuk melakukan tranformasi pemikiran. Diantara proses transformasi pemikiran ini adalah reformasi agama. Pada akhir abad ke-15, muncul seorang tokoh Gereja asal Jerman bernama Martin Luther (w 1546), kemudian diikuti oleh John Calvin (w 1564), lalu John Nouks (w 1572). Mereka melakukan perlawanan terhadap Gereja Katolik yang kemudian mereka beri nama Protestan.
            Gerakan reformasi agama yang dilakukan oleh Luther ini memiliki pengaruh besar dalam sejarah liberalisme selanjutnya. Rumusan pemikiran Luther dapat disimpulkan menjadi beberapa poin berikut:
            1. Otoritas agama satu-satunya adalah teks-teks Bible dan bukan pendapat tokoh-tokoh agama.
            2. Pengingkaran terhadap sistem kepausan gereja yang berposisi sebagai khalifah almasih.
            3. Menegasikan keyakinan pengampunan atau tidak diampuni (dari institusi geraja).
            4. Ajakan kepada liberalisasi pemikiran, keluar dari tirani tokoh agama dan monopoli mereka dalam memahami kitab suci, klaim rahasia suci serta pengabaian peran akal atas nama agama.
            Gerakan ini disebut sebagai gerakan liberal karena ia bersandar kepada kebebasan berfikir dan rasionalisme dalam menafsirkan teks-teks agama.
            Perlawanan terhadap gereja dan feodalisme terus berlanjut di Eropa. Runtuhnya feodalisme menutup abad pertengahan dan abad selanjutnya disebut dengan abad pencerahan (Enlightment). Beberapa tokoh pemikiran muncul. Di Perancis, Jean Jacues Rousseau (w 1778) dan Voltaire (w 1778) adalah diantara pemikir yang perannya sangat berpengaruh. Karya-karya mereka berdua menjadi inspirasi gerakan politik Revolusi Perancis pada tahun 1789, puncak dari perlawanan terhadap hegemoni feodal.
            Namun, gerakan yang tadinya sebagai reformasi agama, pada perkembangan selanjutnya perlawanan terhadap gereja mengarah kepada atheisme. Para pemikir dan filusuf Perancis rata-rata adalah para atheis yang tidak mengakui keberadaan agama. Sejarah panjang agama Kristen dari sejak penyimpangan dan perubahan ajaran hingga perang agama yang meletus akibat reformasi Luther memunculkan kejenuhan yang berakibat hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap agama. Kebebasan rasional (akal) secara mutlak akhirnya menjadi ciri utama dari gerakan ini.
            Dr. Abdulaziz al Tharify mengatakan, “Pengagungan terhadap akal semakin nampak pada waktu-waktu revolusi. Mereka mengangkatnya dan mempertuhankannya. Sebagian mereka bahkan mengatakan bahwa ini adalah penyembahan terhadap akal. Para tokoh revolusi mengajak orang-orang untuk meninggalkan agama, terkhusus agama katolik, mereka memutuskan hubungan Perancis dengan Vatikan. Dan pada tanggal 24 November 1793 M, mereka menutup gereja-gereja di Paris, merubah sekitar 2400 fungsi gereja menjadi markaz-markaz rasionalisme dan untuk pertama kalinya digagas soal kebebasan kaum wanita.”
            Intinya, titik tolak liberalisme berangkat dari perlawanan terhadap penguasa absolut raja dan institusi gereja yang mengekang kebebasan masyarakat.
            Pengertian Liberalisme
            Secara etimologi, Liberalisme (dalam bahasa inggris Liberalism) adalah derivasi dari kata liberty (dalam bahasa inggris) atau liberte (dalam bahasa Perancis) yang berarti “bebas”. Adapun secara terminologi, para peneliti mengemukakan bahwa Liberalisme adalah terminologi yang cukup sulit untuk didefinisikan. Hal itu karena konsep liberalisme yang terbentuk tidak hanya dalam satu generasi, dengan tokoh pemikiran yang bermacam-macam dan orientasi yang berbeda-beda.
            Dalam al Mawsû’ah al ‘Arabiyyah al Âlamiyyah dikatakan, “Liberalisme termasuk terminologi yang samar, karena makna dan penegasannya senantiasa berubah-ubah dalam bentuk yang berbeda dalam sepanjang sejarahnya.”
            Namun demikian, liberalisme memiliki esensi yang disepakati oleh seluruh pemikir liberal pada setiap zaman, dengan perbedaan-perbedaan trend pemikiran dan penerapannya, sebagai cara untuk melakukan reformasi dan menciptakan produktifitas. Esensi ini adalah, bahwa liberalisme meyakini kebebasan sebagai prinsip dan orientasi, motivasi dan tujuan, pokok dan hasil dalam kehidupan manusia. Ia adalah satu-satunya sistem pemikiran yang hanya menghendaki untuk mensifati kegiatan manusia yang bebas, menjelaskan dan mengomentarinya.
            Dr. Sulaiman al Khurasyi mengatakan, “Liberalisme adalah aliran pemikiran yang berorientasi kepada kebebasan individu, berpandangan wajibnya menghormati kemerdekaan setiap orang, meyakini bahwa tugas pokok negara adalah melindungi kebebasan warganya seperti kebebasan berfikir dan berekspresi, kepemilikan swasta dan yang lainnya. Aliran pemikiran ini membatasi peran penguasa dan menjauhkan pemerintah dari kegiatan pasar. Aliran ini juga dibangun diatas prinsip sekuler yang mengagungkan kemanusiaan dan berpandangan bahwa manusia dapat dengan sendirinya mengetahui segala kebutuhan hidupnya.
            Dalam Acodemik American Ensiclopedia dikatakan, “Sistem liberal yang baru (yang termanifestasi dalam pemikiran abad pencerahan) memposisikan manusia sebagai tuhan dalam segala hal. Ia memandang bahwa manusia dengan seluruh akalnya mampu memahami segala sesuatu. Mereka dapat mengembangkan diri dan masyarakatnya melalui kegiatan rasional dan bebas.”
            Karakteristik Liberalisme
            Walaupun liberalisme bukan terdiri dari satu trend pemikiran, namun kita dapat mengenali aliran ini dengan karakteristik khusus. Karakter paling kuat yang ada dalam aliran ini adalah:
            – Kebebasan Individu
            Setiap orang bebas berbuat apa saja tanpa campur tangan siapa pun, termasuk negara. Fungsi negara adalah melindungi dan menjamin kebebasan tersebut dari siapapun yang mencoba untuk merusaknya. Oleh karena itu, liberalisme sangat mementingkan kebebasan dengan semua jenisnya. Kekebasan berkreasi, berpendapat, menyampaikan gagasan, berbuat dan bertindak, bahkan kebebasan berkeyakinan adalah tema yang mereka ingin wujudkan dalam kehidupan ini.
            Kebebasan dalam pandangan mereka tidak berbatas, selama tidak merugikan dan bertabrakan dengan kebebasan orang lain. Kaidah kebebasan mereka berbunyi, “Kebebasan Anda berakhir pada permulaan kebebasaan orang lain.”
            – Rasionalisme
            Penganut liberalisme meyakini bahwa akal manusia mampu mencapai segala kemaslahatan hidup yang dikehendaki. Standar kebenaran adalah akal atau rasio. Karakter ini sangat kentara dalam pemikiran liberal. Rasionalisme diantaranya nampak pada:
            Pertama, keyakinan bahwa hak setiap orang bersandar kepada hukum alam. Sementara hukum alam tidak dapat diketahui kecuali dengan akal melalui media indera/materi atau eksperimen. Dari sini kita mengenal aliran filsafat materialisme (aliran filsafat yang mengukur setiap kebenaran melalui materi) dan empirisme (aliran filsafat yang menguji setiap kebenaran melalui eksperimen).
            Kedua, negara harus bersikap netral terhadap semua agama. Karena tidak ada kebenaran yang bersifat yakin atau absolut, yang ada adalah kebenaran yang bersifat relatif. Ini yang dikenal dengan “relatifisme kebenaran”.
            Ketiga, perundang-undangan yang mengatur kebebasan ini semata-mata hasil dari pemikiran manusia, bukan syariat agama.
            Perspektif Islam
            Dari latar belakang sejarah liberalisme yang telah dipaparkan di atas, kita dapat menilai bahwa liberalisme jelas sangat bertolak belakang dengan ajaran Islam. Sejarah kemunculannya yang sangat dipengaruhi oleh situasi sosial-politik dan problem teologi Kristen ketika itu dapat kita jadikan alasan bahwa Islam tidak perlu, dan tidak akan perlu menerima liberalisme. Karena sepanjang sejarahnya, Islam tidak pernah mengalami problem sebagaimana yang dialami oleh agama Kristen. Oleh karena itu, tidak ada alasan mendasar bagi Islam untuk menerima konsep liberalisme dengan semua bentuknya.
            Apalagi jika ditilik dari konsep pokoknya, pemikiran liberalisme sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Kebebasan mutlak ala liberalisme adalah kebebasan yang mencederai akidah Islam, ajaran paling pokok dalam agama ini. Liberalisme mengajarkan kebebasan menuruti semua keinginan manusia, sementara Islam mengajarkan untuk menahannya agar tidak keluar dari ketundukan kepada Allah. Hakikat kebebasan dalam ajaran Islam adalah, bahwa Islam membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk, kepada penghambaan kepada Rabb makhluk.
            Begitu pun dengan otoritas akal sebagai sumber nilai dan kebenaran dalam ‘ajaran’ liberalisme. Sumber kebenaran dalam Islam adalah wahyu, bukan akal manusia yang terbatas dalam mengetahui kebenaran. Dengan demikian, menerima liberalisme berarti menolak Islam, dan tunduk kepada Islam berkonsekwensi menanggalkan faham liberal.

          2. @Maliku45: anda menjelaskan panjang lebar, untuk membantu pembaca yang lain, saya coba sederhanakan beberapa poin pentingnya:

            • 1. Terorisme bukan ajaran Islam dan main hakim sendiri bukan ajaran Islam.
            • 2. Liberalisme adalah aliran pemikiran yang berorientasi kepada kebebasan individu, berpandangan wajibnya menghormati kemerdekaan setiap orang, meyakini bahwa tugas pokok negara adalah melindungi kebebasan warganya seperti kebebasan berfikir dan berekspresi, kepemilikan swasta dan yang lainnya. Aliran pemikiran ini membatasi peran penguasa dan menjauhkan pemerintah dari kegiatan pasar. Aliran ini juga dibangun diatas prinsip sekuler yang mengagungkan kemanusiaan dan berpandangan bahwa manusia dapat dengan sendirinya mengetahui segala kebutuhan hidupnya.
            • 3. Sumber kebenaran dalam Islam adalah wahyu, bukan akal manusia yang terbatas dalam mengetahui kebenaran. Dengan demikian, menerima liberalisme berarti menolak Islam, dan tunduk kepada Islam berkonsekwensi menanggalkan faham liberal.

            Saya yakin beberapa pembaca jadi bingung melihat hubungan terorisme dan main hakim sendiri dengan liberalisme.

            Bukankah main hakim sendiri atau terorisme adalah cermin ketidak adanya penghargaan terhadap kebebasan individu dan menolak menghormati kemerdekaan orang lain?

            Orang yang main hakim berarti meyakini bahwa pandangannya adalah yang paling benar, dan tak menghiraukan alasan atau pendapat orang lain. Orang lain tidak diteror dan tidak dihakimi hanya bila orang lain setuju dengan pandangan dia. Seorang liberal akan menghormati kemerdekaan orang lain untuk punya pendapat berbeda se-ekstrim apapun selama mereka tidak melanggar hak orang lain sesuai dengan hukum yang telah disepakati bersama.

            Sebagai contoh:
            Seorang liberal tak ambil pusing dengan kepercayaan orang lain. Kalau orang lain mau menyembah kuda, kelinci atau bahkan tak bertuhan, ya silakan saja, itu urusan mereka. Namun kalau orang lain mengancam atau berbuat kekerasan terhadap yang lain, mereka akan meminta otoritas untuk menindak orang tersebut.

            Seorang liberal tidak akan main hakim sendiri, karena ia sadar belum tentu pendapatnya yang paling benar, ia akan berargumen dengan orang yang pendapatnya berbeda untuk mencari titik temu atau memilih pendapat yang terbaik. Untuk keperluan itu dibutuhkan akal dan pemahaman. Dengan memerhatikan pendapat orang lain, seorang liberal hampir tidak mungkin meneror orang lain agar ikut pendapatnya.

            Jika anda berpendapat bahwa liberalisme bertentangan dengan Islam, maka jika dihubungkan dengan prinsip-prinsip liberalisme, maka:

            • 1. Liberalisme memberi kebebasan individu –> maka Islam berarti mengekang kebebasan individu.
            • 2. Liberalisme menghormati kemerdekaan tiap orang –> maka Islam berarti tidak menghiraukan kemerdekaan tiap orang
            • 3. Liberailsme menugaskan negara untuk melindungi hak warganya untuk bebas berpikir dan berekspresi –> maka Islam berarti menugaskan negara untuk membatasi warganya dalam berpikir dan berekspresi.

            Sepertinya Islam dalam pandangan anda sudah sangat cocok digambarkan dengan tindakan ISIS, Boko Haram, dan Taliban yang memberangus kebebasan warganya untuk berpikir sendiri, berkeyakinan sendiri. Segala macam urusan pribadi dicampuri dan diatur negara, mulai dari aturan berpakaian, apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan, dibaca, didengarkan atau dilihat. Dan bila warganya menolak, akan siap meneror mereka dengan hukuman-hukuman sadis, sampai mereka tunduk. Ini juga dapat dilihat di negara Arab Saudi dan berbagai negara dengan basis hukum syariah. Di kalangan swasta kita juga bisa melihat FPI dan FUI yang ringan tangan meneror siapapun yang dianggap tidak sesuai dengan Islam mereka.

            Jika kita mencari negara-negara dimana agama sudah diminggirkan sama sekali dan digantikan oleh liberalisme-demokrasi, kita bisa menemukan negara-negara Skandinavia seperti Swiss, Finlandia dan sekitarnya yang mayoritas warganya atheis. Di sana tidak ada teror negara untuk memaksakan pandangan-pandangan tertentu.

            Jadi sepertinya jika bagi anda ajaran Islam itu antitesa dari liberalisme, maka terorisme dan main hakim sendiri itu bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam.

            Terorisme dan main hakim sendiri bukan ajaran Islam?
            ah kok mirip bualannya tukang obat
            🙂

        2. Dibutuhkan proses, setelah 30 th dikuasai soeharto dan kroni2nya masrakat khususnya penjabat pada saat itu berfoya2 alias korup pada zamannya setiap orang yang memberitakan kebenaran langsung di PKI kan, Kuasa dipegang penuh dan informasi ditutup rapat, masyarakat dicekoki berita tidak obyektif. Dan ini sudah menjadi penyakit dan membutuhkan proses, oleh karena itu dengan membaiknya sistym pemerintahan kita borok2 lama mulai kelihatan di era terbuka ini. Siapa saja berani komen, coba zaman soeharto, kita kritik pejabat sedikit aja, bakal buih kalau tidak hilang nyawa, butuh waktu untuk menghilangkan penyakit tersebut, sampai orang2 lama atau orba punah.

      2. Utsman bin Affan, salah satu shahabat Nabi Muhammad dan dikenal sebagai khalifah Rasulullah yang ketiga. Pada masa Rasulullah masih hidup, Utsman terpilih sebagi salah satu sekretaris Rasulullah sekaligus masuk dalam Tim penulis wahyu yang turun dan pada masa Kekhalifahannya Al Quran dibukukan secara tertib. Utsman juga merupakan salah satu shahabat yang mendapatkan jaminan Nabi Muhammad sebagai ahlul jannah. Kekerabatan Utsman dengan Muhammad Rasulullah bertemu pada urutan silsilah ‘Abdu Manaf. Rasulullah berasal dari Bani Hasyim sedangkan Utsman dari kalangan Bani Ummayah. Antara Bani Hasyim dan Bani Ummayah sejak jauh sebelum masa kenabian Muhammad, dikenal sebagai dua suku yang saling bermusuhan dan terlibat dalam persaingan sengit dalam setiap aspek kehidupan. Maka tidak heran jika proses masuk Islamnya Utsman bin Affan dianggap merupakan hal yang luar biasa, populis, dan sekaligus heroik. Hal ini mengingat kebanyakan kaum Bani Ummayah, pada masa masuk Islamnya Utsman, bersikap memusuhi Nabi dan agama Islam.

        Utsman Bin Affan terpilih menjadi khalifah ketiga berdasarkan suara mayoritas dalam musyawarah tim formatur yang anggotanya dipilih oleh Khalifah Umar Bin Khaththab menjelang wafatnya. Saat menduduki amanah sebagai khalifah beliau berusia sekitar 70 tahun. Pada masa pemerintahan beliau, bangsa Arab berada pada posisi permulaan zaman perubahan. Hal ini ditandai dengan perputaran dan percepatan pertumbuhan ekonomi disebabkan aliran kekayaan negeri-negeri Islam ke tanah Arab seiring dengan semakin meluasnya wilayah yang tersentuh syiar agama. Faktor-faktor ekonomi semakin mudah didapatkan. Sedangkan masyarakat telah mengalami proses transformasi dari kehidupan bersahaja menuju pola hidup masyarakat perkotaan.

        Dalam manajemen pemerintahannya Utsman menempatkan beberapa anggota keluarga dekatnya menduduki jabatan publik strategis. Hal ini memicu penilaian ahli sejarah untuk menekankan telah terjadinya proses dan motif nepotisme dalam tindakan Utsman tersebut. Adapun daftar keluarga Utsman dalam pemerintahan yang dimaksud sebagi alasan motif nepotisme tersebut adalah sebagai berikut :

        Muawiyah Bin Abu Sufyan yang menjabat sebagi gubernur Syam, Beliau termasuk Shahabat Nabi, keluarga dekat dan satu suku dengan Utsman.

        Pimpinan Basyrah, Abu Musa Al Asy’ari, diganti oleh Utsman dengan Abdullah bin Amir, sepupu Utsman.

        Pimpinan Kuffah, Sa’ad Bin Abu Waqqash, diganti dengan Walid Bin ‘Uqbah, saudara tiri Utsman. Lantas Walid ternyata kurang mampu menjalankan syariat Islam dengan baik akibat minum-minuman keras, maka diganti oleh Sa’id Bin ‘Ash. Sa’id sendiri merupakan saudara sepupu Utsman.

        Pemimpin Mesir, Amr Bin ‘Ash, diganti dengan Abdullah Bin Sa’ad Bin Abu Sarah, yang masih merupakan saudara seangkat ( dalam sumber lain saudara sepersusuan, atau bahkan saudara sepupu) Utsman.

        Marwan Bin Hakam, sepupu sekaligus ipar Utsman, diangkat menjadi sekretaris Negara.

        Khalifah dituduh sebagai koruptor dan nepotis dalam kasus pemberian dana khumus (seperlima harta dari rampasan perang) kepada Abdullah Bin Sa’ad Bin Abu Sarah, kepada Mirwan bin Al Hakkam, dan kepada Al Harits Bin Al Hakam.

        Beberapa penulis Muslim mencoba melakukan rasionalisasi bahwa tindakan Utsman tersebut bukan tanpa alasan. Hal ini merupakan sebuah upaya pembelaan terhadap tindakan Utsman tidak atau bahkan sama sekali jauh dari motif nepotisme. Sebagai contoh salah satu bentk rasionalisasi menyebutkan bahwa Utsman mengangkat wali-wali negeri dari pihak keluarga beralasan untuk memperkuat wilayah kekuasaannya melalui personal yang telah jelas dikenal baik karakteristiknya.[9] Hal ini mengingat wilayah kekhilafahan pada masa Utsman semakin meluas. Demikian juga tanggungjawab dakwah dimasing-masing wilayah tersebut.

        PERMASALAHAN

        Dalam Manajemen, mengangkat pekerja berdasarkan kekerabatan bukan hal yang salah. Kemungkinan pengenalan karakteristik anggota keluarga jelas lebih baik dibandingkan melalui seleksi dari luar keluarga. Jika hal tersebut menyangkut kinerja dan harapan ketercapaian tujuan dimasa mendatang jelas pemilihan bawahan dari pihak keluarga tidak bertentangan dengan sebuah aturan apa pun. Artinya secara mendasar nepotisme sendiri bukan merupakan sebuah dosa. Namun demikian kata “nepotisme’ dewasa ini telah mengalami perubahan makna substansial menjadi bermuatan negative. Bukan hanya bagi Indonesia, namun bagi sejumlah negara “pendekatan kekeluargaan” tersebut telah menempati urutan teratas bagi kategorisasi “dosa-dosa politis” sebuah rezim kekuasaan.

        Oleh karena itu maka penjelasan bahwa pemilihan anggota keluarga untuk menempati struktur kepemimpinan dalam kasus khalifah Utsman dengan rasionalisasi pengenalan karakteristik, jelas kurang relevan diterapkan pada masa ini, walaupun bukan berarti tidak benar. Maka salah satu jalan yang harus dilakukan guna membedah isu seputar nepotisme ini adalah melalui cross check sejarah terhadap masing-masing anggota keluarga Utsman yang terlibat dalam kekuasaan. Disadari proses ini tidaklah mudah. Maka perlu dibatasi permasalahan kajian ini dengan menfokuskan pembahasan guna menjawab pertanyaan : Mengapa Khalifah Utsman mengangkat beberapa keluarga dekatnya dalam struktur jabatan publik strategis ?

        KRONOLOGI PEJABAT NEGARA ‘KELUARGA’ KHALIFAH UTSMAN

        Mengetengahkan kembali kronologi seputar pemerintahan Utsman Bin Affan, bukanlah pekerjaan yang mudah dilakukan. Terutama apabila dikaitkan dengan ketersediaan data dengan kualitas dan kuantitas yang memadai. Upaya memojokkan pemerintahan Utsman sebagai rezim nepotis sendiri hanya berangkat dari satu sudut pandang dengan argumentasi mengungkap motif social-politik belaka. Lebih dari itu lebih banyak berkutat dalam dugaan dan produk kreatif imajinatif. Sumber data yang tersedia kebanyakan didominasi oleh naskah yang ditulis pada masa dinasti Abbasiyah, yang secara politis telah menjadi rival bagi Muawiyah, keluarga, dan sukunya, tidak terkecuali khalifah Utsman Bin Affan. Oleh karena itu kesulitan pertama yang harus dihadapi adalah menyaring data-data valid diantara rasionalisasi kebencian dan permusuhan yang menyelusup di antara input data yang tersedia.

        Dakwah Islam pada masa awal kekhilafahan Utsman Bin Affan menunjukkan kemajuan dan perkembangan signifikan melanjutkan estafeta dakwah pada masa khalifah sebelumnya. Wilayah dakwah Islam menjangkau perbatasan Aljazair (Barqah dan Tripoli sampai Tunisia), di sebelah utara meliputi Allepo dan sebagian Asia Kecil. Di timur laut sampai Transoxiana dan seluruh Persia serta Balucistan (Pakistan sekarang), serta Kabul dan Ghazni. Utsman juga berhasil membentuk armada dan angkatan laut yang kuat sehingga berhasil menghalau serangan tentara Byzantium di Laut Tengah. Peristiwa ini merupakan kemenangan pertama tentara Islam dalam pertempuran dilautan.

        Sebagaimana telah dijelaskan bahwa di atas, Utsman mengangkat anggota keluarganya sebagi pejabat public. Di antaranya adalah Muawiyah Bin Abu Sufyan. Sosok Muawiyah dikenal sebagai politisi piawai dan tokoh berpengaruh bagi bangsa Arab yang telah diangkat sebagai kepala daerah (Gubernur) Syam sejak masa khalifah Umar Bin Khaththab. Muawiyyah tercatat menunjukkan prestasi dan keberhasilan dalam berbagi pertempuran menghadapi tentara Byzantium di front utara. Muawiyah adalah sosok negarawan ulung sekaligus pahlawan Islam pilih tanding pada masa khalifah Umar maupun Utsman. Dengan demikian tuduhan nepotisme Utsman jelas tidak bisa masuk melalui celah Muawiyah tersebut. Sebab beliau telah diangkat sebagai gubernur sejak masa Umar. Belum lagi prestasinya bukannya mudah dianggap ringan.

        Selanjutnya penggantian Gubernur Basyrah Abu Musa al Asyari dengan Abdullah Bin Amir, sepupu Utsman juga sulit dibuktikan sebagi tindakan nepotisme. Proses pergantian pimpinan tersebut didasarkan atas aspirasi dan kehendak rakyat Basyrah yang menuntut Abu Musa al Asyari meletakkan jabatan. Oleh rakyat Basyrah, Abu Musa dianggap terlalu hemat dalam membelanjakan keuangan Negara bagi kepentingan rakyat dan bersikap mengutamakan orang Quraisy dibandingkan penduduk pribumi. Pasca menurunkan jabatan Abu Musa, khalifah Utsman menyerahkan sepenuhnya urusan pemilihan pimpinan baru kepada rakyat Basyrah. Rakyat Basyrah kemudian memilih pimpinan dari golongan mereka sendiri. Namun pilihan rakyat tersebut justru dianggap gagal menjalankan roda pemerintahan dan dinilai tidak cakap oleh rakyat Basyrah yang memilihnya sendiri. Maka kemudian secara aklamasi rakyat menyerahkan urusan pemerintahan kepada khalifah dan meminta beliau menunjuk pimpinan baru bagi wilayah Basyrah. Maka kemudian khalifah Utsman menunjuk Abdullah Bin Amir sebagai pimpinan Basyrah dan rakyat setempat menerima pimpinan dari khalifah tersebut. Abdullah Bin Amir sendiri telah menunjukkan reputasi cukup baik dalam penaklukan beberapa daerah Persia.Dengan demikian nepotisme kembali belum terbukti melalui penunjukan Abdullah Bin Amir tersebut.

        Sementara itu di Kuffah, terjadi pemecatan atas Mughirah Bin Syu’bah karena beberapa kasus yang dilakukannya. Pemecatan ini sebenarnya atas perintah khalifah Umar Bin Khaththab namun baru terealisasi pada masa khalifah Utsman. Penggantinya, Sa’ad Bin Abu Waqqash, juga diberhentikan oleh khalifah Utsman akibat penyalah gunaan jabatan dan kurang transparansinya urusan keuangan daerah. Salah satu kasusnya, Sa’ad meminjam uang dari kas propinsi tanpa melaprkannya kepada pemerintah pusat. Pada masa pemerintahan khulafaur Rasyidun, setiap daerah menikmati otonomi penuh, kecuali dalam permasalah keuangan tetap terkait dan berada dibawah koordinasi Bendahara pemerintah Pusat. ‘Amil (pengepul zakat, semacam bendahara) Kuffah saat itu, Abdullah Bin Mas’ud, dipanggil sebagai saksi dalam pengadilan atas peristiwa tersebut. Abdullah Bin Mas’ud sendiri akhirnya juga dipecat akibat peristiwa tersebut. Perlu diketahui, Abdullah Bin mas’ud termasuk keluarga dekat dan sesuku dengan Khalifah Utsman. Pengganti Sa’ad Bin Abu Waqqash adalah Walid Bin Uqbah, saudara sepersusuan atau dalam sumber lain saudara tiri khalifah Utsman. Namun karena Walid memiliki tabiat buruk (suka minum khamr dan berkelakuan kasar), maka khalifah Utsman memecatnya dan menyerahkan pemilihan pimpinan baru kepada kehendak rakyat Kuffah. Sebagaimana kasus di Basyrah, gubernur pilihan rakyat Kuffah tersebut terbukti kurang cakap menjalankan pemerintahan dan hanya bertahan selama beberapa bulan. Atas permintaan rakyat, pemilihan gubernur kembali diserahkan kepada khalifah. Ustman Bin Affan kemudian mengangkat Sa’id Bin ‘Ash, kemenakan Khalid Bin Walid dan saudara sepupu Utsman, sebagai gubernur Kuffah, karena dianggap cakap dan berprestasi dalam penaklukan front utara, Azarbaijan. Namun terjadi konflik antara Sa’id dengan masyarakat setempat sehingga khalifah Utsman berfikir ulang terhadap penempatan sepupunya tersebut. Maka kemudian Sa’ad digantikan kedudukannya oleh Abu Musa Al Asy’ari, mantan gubernur Basyrah. Namun stabilitas Kuffah sukar dikembalikan seperti semula sampai peristiwa tewasnya sang khalifah. Meskipun demikian nepotisme dalam frame makna negative kembali sukar dibuktikan.

        Sedangkan di Mesir, Ustman meminta laporan keuangan daerah kepada Amr Bin Ash selaku gubernur dan Abdullah Bin Sa’ah Bin Abu Sarah selaku ‘Amil. Laporan Amil dinilai timpang sedangkan Amr dianggap telah gagal melakukan pemungutan Pajak. Padahal negara sedang membutuhkan pendanaan bagi pembangunan armada laut guna menghadapi serangan Byzantium. Khalifah Utsman tetap menghendaki Amr Bin Ash menjadi gubernur Mesir sekaligus diberi jabatan baru sebagai panglima perang. Namun Amr menolak perintah khalifah tersebut dengan kata-kata yang kurang berkenan di hati sang khalifah (perkataan kasar). Maka kemudian Amr Bin Ash dipecat dari jabatannya. Sedangkan Abdullah Bin Sa’ah Bin abu sarah diangkat menggantikannya sebagai gubernur. Namun kebijakan gubernur baru tersebut dalam bidang agraria kurang disukai rakyat sehingga menuai protes terhadap khalifah Utsman. Dari peristiwa inilah akhirnya muncul isu nepotisme dalam pemerintahan Utsman. Isu yang beredar dari Mesir ini pada akhirnya menyebabkan khalifah terbunuh.

        Salah satu bukti penguat isu nepotisme yang digulirkan adalah diangkatnya Marwan Bin Hakam, sepupu sekaligus ipar Utsman, sebagai sekretaris Negara. Namun tuduhan ini pada dasarnya hanya sekedar luapan gejolak emosional dan alasan yang dicari-cari. Marwan Bin Hakam sendiri adalah tokoh yang memiliki integritas sebagai pejabat Negara disamping dia sendiri adalah ahli tata negara yang cukup disegani, bijaksana, ahli bacaan Al Quran, periwayat hadits, dan diakui kepiawaiannya dalam banyak hal serta berjasa menetapkan alat takaran atau timbangan. Di samping itu Utsman dan Marwan dikenal sebagai sosok yang hidup bersahaja dan jauh dari kemewahan serta tidak memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadi. Dengan demikian pemilihan Marwan Bin Hakam adalah keharusan dan kebutuhan negara yang memang harus terjadi serta bukan semata-mata atas motif nepotisme dalam kerangka makna negative.

        Selain itu tuduhan penggelapan uang negara dan nepotisme dalam pemberian dana al khumus yang diperleh dari kemenangan perang di Laut Tengah kepada Abdullah Bin Sa’ad Bin Abu Sarah, saudara sepersusuan Utsman (sumber lain saudara angkat), dapat dibuktikan telah sesuai dengan koridor yang seharusnya dan diindikasikan tidak ditemukan penyelewengan apa pun. Al Khumus yang dimaksud berasal dari rampasan perang di Afrika Utara. Isu yang berkembang terkait al khumus tersebut adalah Khalifah Utsman telah menjualnya kepada Marwan Bin Al Hakkam dengan harga yang tidak layak. Duduk persoalan sebenarnya adalah khalifah Utsman tidak pernah memberikan al kumus kepada Abdullah Bin sa’ad Bin Abu Sarah. Sebagaimana telah diketahui ghanimah (rampasan perang) dalam Islam 4/5-nya akan menjadi bagian dari tentara perang sedangkan 1/5-nya atau yang dikenal sebagi al-khumus akan masuk ke Baitul Mal.Perlu diketahui jumlah ghanimah dari Afrika Utara yang terdiri dari berbagai benda yang terbuat dari emas, perak, serta mata uang senilai dengan 500.000 dinar. Abdullah Bin sa’ad kemudian mengambil alkhumus dari harta tersebut yaitu senilai 100.000 dinar dan langsung dikirimkan kepada khalifah Utsman di ibu kota. Namun masih ada benda ghanimah lain yang berupa peralatan, perkakas, dan hewan ternak yang cukup banyak. Al khumus (20 % dari ghanimah) dari ghanimah yang terakhir tersebut itulah yang kemudian dijual kepada Mirwan Bin Hakkam dengan harga 100.000 dirham. Penjualan ganimah dengan wujud barang dan hewan ternak tersbut dengan mempertimbangkan efektifitas dan efisiensi. Al khumus berupa barang dan ternak tersebut sulit diangkut ke ibu kota yang cukup jauh jaraknya. Belum lagi jika harus mempertimbangkan factor keamanan dan kenyamanan proses pengangkutannya. Kemudian hasil penjualan al kmuus berupa barang dan ternak tersebut juga dikirimkan ke baitul mal di ibu kota. Di sisi lain Abdullah bin Sa’ad bin Abu Sarah mendapatkan sebagian dari pembagian 4/5 hasil rampasan perang sebab dia telah memimpin penakhlukan afrika Utara tersebut. Sebagaimana telah dijelaskan diatas bahwa 4/5 (atau 80 %) dari ghanimah adalah hak bagi tentara yang mengikuti perang, termasuk diantaranya adalah Abdullah Bin Sa’ad Bin Abu Sarah. Dengan demikian sebenarnya tidak ada masalah karena telah sesuai dengan koridor aturan yang berlaku.

        Kemudian khalifah Utsman juga diisukan telah menyerahkan masing-masing 100.000 dirham dari Baitul Mal kepada Al Harits Bin Al Hakkam dan Marwan Bin Al Hakkam. Desas-desus tersebut pada dasarnya merupakan fitnah belaka. Duduk persoalan sebenarnya adalah khalifah Utsman mengawinkan seorang puteranya dengan puteri Al Harits Bin Al Hakkam dengan menyerahkan 100.000 dirham yang berasal dari harta pribadinya sebagai bantuan. Demikian juga khalifah Utsman telah menikahkan puterinya yang bernama Ummu Ibban dengan putera Marwan Bin al Hakkam disertai bantuan dari harta miliknya sejumlah 100.000 dirham.

        Dengan demikian terbukti bahwa Khalifah Utsman Bin Affan tidak melalukan nepotisme dan praktek korupsi selama masa kepemimpinannya. Hal ini sesuai dengan pengakuan khalifah Utsman sendiri dalam salah satu khotbahnya yang menyatakan, “ Mereka menuduhku terlalu mencintai keluargaku. Tetapi kecintaanku tidak membuatku berbuat sewenang-wenang. Bahkan aku mengambil tindakan-tindakan (kepada keluargaku) jikalau perlu. Aku tidak mengambil sedikit pun dari harta yang merupakan hak kaum muslimin. Bahkan pada masa Nabi Muhammad pun aku memberikan sumbangan-sumbangan yang besar, begitu pula pada masa khalifah Abu Bakar dan pada masa khalifah Umar ….”.

        Dalam khotbahnya tersebut khalifah Utsman juga menyatakan sebuah bukti kuat tentang kekayaan yang masih dimilikinya guna membantah isu korupsi sebagai berikut, “ Sewaktu aku diangkat menjabat khilafah, aku terpandang seorang yang paling kaya di Arabia, memiliki ribuan domba dan ribuan onta. Dan sekarang ini (setelah 12 tahun menjabat khilafah), manakah kekayaanku itu ? Hanya tinggal ratusan domba dan dua ekor unta yang aku pergunakan untuk kendaraan pada setiap musim haji”.

        PENUTUP

        Berdasarkan kajian di atas telah diketahui bahwa isu nepotisme dalam pemerintahan Utsman terbukti tidak benar. Sebab masing-masing tindakan Utsman telah memiliki rasionalisasi berdasarkan kebutuhan zaman yang terjadi serta mewakili kebijakan yang seharusnya diambil. Sementara itu kegagalan pemerintahan Utsman lebih banyak disebabkan factor stamina dan kondisi kesehatan beliau. Pada saat diangkat Utsman telah berusia 70 tahun sehingga kurang leluasa memerintah mengingat kondisi tubuhnya tersebut sehingga pada masa akhir pemerintahannya beberapa hal kurang dapat diatasi secara memuaskan. Namun Utsman adalah sosok pemimpin yang luar biasa terkait dengan jasanya terhadap Islam. Semasa Rasulullah masih menunggui umat, beliau adalah salah satu donator tetap bagi dakwah. Dan pada masa setelahnya beliau tetaplah seorang pejuang muslim yang teguh kepada pendirian dan keislamannya.

        Selain itu secara kuantitas jumlah pejabat negara keluarga Utsman dibandingkan dengan yang bukan familinya jelas bukan mayoritas. Tuduhan nepotisme tersebut setidaknya hanya di dasarkan kepada 6 perkara di atas. Sementara jumlah pejabat publik diluar anggota keluarga tersebut adalah mayoritas. Lantas mengapa kita harus mempercayai isu nepotisme tersebut ?

        1. @Tri Mulat: suatu pembelaan yang panjang lebar untuk Usman bi Affan, saya coba singkatkan pembelaan anda untuk pembaca yang lain.

          • 1. Benar, Usman bin Affan mengangkat banyak kerabatnya dalam jabatan penting di pemerintahannya.
          • 2. Menurut anda itu bukan nepotisme, karena kerabat-kerabat Usman tersebut orang-orang yang kompeten dan sahabat Nabi.

          Saya sih tidak tertarik mendebat alasan anda. Saya hanya ingin mengungkapkan fakta-fakta berikut:

          • 1. Baru di jaman Usman ada pemberontakan skala besar (hingga menewaskan Usman) dari rakyat untuk kebencian pada pemimpinnya (Usman).
            Di pemerintahan khalifah sebelumnya memang juga ada pemberontakan, namun dengan alasan yang berbeda.
            Abu Bakar memerangi kelompok-2 yang menolak kewajiban zakat serta separatisme, Umar dibunuh oleh orang dari wilayah non-muslim yang ditaklukkan oleh Umar.
            Sedangkan Usman, diperangi justru oleh rakyat muslim yang tahu persis kedudukan Usman sebagai salah seorang sahabat Nabi yang dijamin masuk surga. Musuh Usman bukan orang asing, melainkan umat muslim sendiri yang kenal betul dengan Usman tapi menjadi sangat benci padanya.
          • 2. Muawiyah dan orang-orang yang anda sebut kompeten tersebut adalah orang-orang yang dengan terang-terangan mengubah negara egaliter Islam yang dirintis nabi, menjadi negara kerajaan milik keluarga Umayyah (Usman dan Muawiyah adalah klan Umayah).
            Jika di era Khulafaur Rasyidin, Amirul Mukminin bisa dipilih dari keturunan siapa saja asalkan beriman, berintegritas dan kompeten, maka negara bentukan Muawiyah menjadikan Khalifah adalah jabatan turun temurun klan Umayah. Di kerajaan Bani Umayah ini, bahkan seorang pemabuk dan gila seks seperti Yazid bisa menjadi Khalifah karena ia anak Muawiyah.

          Jadi apakah kita harus percaya bahwa Usman dan keluarganya adalah orang-orang luhur dan kompeten? sehingga tak mungkin menjalankan nepotisme?
          Kekhalifahan bani Umayah adalah bentuk lain melembagakan nepotisme mereka dalam negara Islam yang awalnya egaliter. Kerajaan adalah bentuk lain dari nepotisme.

          🙂

          1. Pemberontakan besar-besaran yang di lakukan oleh umat islam yang dihasut oleh rabbi Yahudi yang pura-pura masuk islam, yaitu Abdullah bin Saba. Ia melakukan gerakan fitnah dan mengadudomba umat islam selama 5 tahun. Ia banyak mengunjungi negeri Muslim. Abdullah bin Saba adalah seorang Yahudi dari Shan’a, Yaman, yang berpura-pura masuk Islam dan menampakkan rasa cinta kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Rencana besarnya menghancurkan Islam dari dalam, karena muslim semakin banyak dan tidak bisa dilawan dengan senjata. Dialah yang menjadi penyebab utama terbunuhnya Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu.

            Di antara bukti riwayat yang menetapkan adanya Abdullah bin Saba’ adalah riwayat Syiah dari Abu Ja’far bahwa Abdullah bin Saba’ mengaku sebagai nabi dan meyakini bahwa Amirul Mukminin Ali radhiallahu ‘anhu adalah Allah‘azza wa jalla. Berita itu sampai kepada Amirul Mukminin radhiallahu ‘anhu. Beliau radhiallahu ‘anhu memanggilnya dan bertanya kepadanya. Abdullah bin Saba mengakuinya dan berkata, “Ya, engkaulah Dia. Telah dibisikkan ke dalam sanubariku bahwa engkau adalah Allah ‘azza wa jalla, sedangkan aku adalah seorang nabi.”
            Amirul Mukminin berkata radhiallahu ‘anhu, “Celaka kamu, sungguh setan telah menguasaimu. Tarik ucapanmu ini dan bertobatlah.”
            Dia enggan bertobat sehingga Ali radhiallahu ‘anhu menahannya selama tiga hari dan menyuruhnya bertobat. Namun, dia enggan bertobat sehingga beliau membakarnya dengan api dan berkata, “Sesungguhnya setan menguasainya, datang kepadanya, dan membisikkan hal itu ke dalam hatinya.”
            Diriwayatkan oleh Syiah dari Abu Abdillah bahwa ia berkata, “Semoga Allah ‘azza wa jalla melaknat Abdullah bin Saba. Sesungguhnya dia menganggap diri Amirul Mukminin radhiallahu ‘anhu sebagai Rabb, padahal Amirul Mukminin adalah seorang hamba yang taat kepada Allah ‘azza wa jalla. Celaka bagi orang yang dusta atas nama kami. Sesungguhnya ada sebagian kaum yang berkata tentang kami yang kami sendiri tidak mengucapkan hal itu tentang diri kami. Kami berlepas diri kepada Allah ‘azza wa jalla dari mereka; kami berlepas diri kepada Allah ‘azza wa jalla dari mereka.” (Ma’rifat Akhbar ar-Rijal, karya al-Kisysyi, hlm. 70—71)
            Al-Mamaqani berkata, “Abdullah bin Saba’ kembali kafir dan menampakkan sikap berlebih-lebihan.” Ia juga berkata, “Dia seorang yang ekstrem, terlaknat, dan dibakar oleh Amirul Mukminin dengan api. Dia menyangka bahwa Aliradhiallahu ‘anhu adalah ilah, sedangkan dirinya seorang nabi.” (Tanqihul Maqal fi Ma’rifat ar-Rijal, 2/183—184)
            Dalam riwayat Syiah dari Ibnu Abil Hadid berkata, “Orang pertama yang menampakkan sikap ekstrem pada masa pemerintahannya (yaitu Ali radhiallahu ‘anhu -pen.) adalah Abdullah bin Saba’. Sambil berdiri tatkala Ali radhiallahu ‘anhu sedang berkhutbah, Ibnu Saba berkata, ‘Engkaulah, engkaulah…’ Dia terus mengulangnya.
            Ali radhiallahu ‘anhu bertanya kepadanya, ‘Celaka kamu, siapa aku?’
            Ibnu Saba’ menjawab, ‘Engkaulah Allah.’
            Ali radhiallahu ‘anhu kemudian memerintahkan untuk menangkapnya, sedangkan sebagian kaum ada yang sejalan dengan pendapatnya .” (Syarah Nahjul Balaghah, 2/234)
            Dari Ni’matullah al-Jazairi, Abdulah bin Saba berkata kepada Ali radhiallahu ‘anhu, “Engkaulah ilah yang sebenarnya.”
            Ali radhiallahu ‘anhu kemudian mengucilkannya ke daerah Madain. Ada yang mengatakan bahwa dia adalah seorang Yahudi lalu masuk Islam.
            Adapun dari kalangan Ahlus Sunnah, seluruh ulama sunnah menetapkan adanya Abdullah bin Saba’ sebagai salah satu tokoh fitnah dalam sejarah Islam. Di antara yang menetapkan adanya Ibnu Saba’ adalah Ibnu Jarir at-Thabari dalam Tarikhnya, Ibnu Abdi Rabbihi dalam al-‘Aqdul Farid, Ibnu Hibban dalam al-Majruhin, al-Baghdadi dalam al-Farqu Bainal Firaq, Ibnu Hazm al-Andalusi dalam al-Fashl fil Milal, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, as-Sam’ani dalam al-Ansab, dan yang lainnya.

            Abdullah bin Saba’, Pencetus Pemikiran Rafidhah
            Telah masyhur bahwa Abdullah bin Saba’ adalah orang yang mencetuskan pemikiran Rafidhah, dan asal pemikiran Rafidhah ialah dari Yahudi.
            Para ulama telah menyebutkan bahwa asal mula pemikiran Rafidhah berasal dari seorang zindiq/rabbi (Abdullah bin Saba’). Dia menampakkan diri sebagai muslim dan menyembunyikan pemikiran Yahudinya. Dia berkeinginan untuk merusak Islam seperti yang telah dilakukan oleh Paulus Si Nasrani yang sebelumnya adalah seorang Yahudi untuk merusak agama Nasrani.”
            Beliau juga berkata, “Asal pemikiran Rafidhah dari kaum munafik zindiq yang dimunculkan oleh Ibnu Saba’ az-Zindiq. Dia menampakkan sikap ekstrem terhadap Ali radhiallahu ‘anhu dengan alasan bahwa beliaulah yang berhak menjadi imam dan telah disebutkan nash tentang hal tersebut. Bahkan, ia menganggap Ali radhiallahu ‘anhu sebagai orang yang maksum. Karena asal mula pemikiran ini dari kemunafikan, sebagian salaf berkata, ‘Mencintai Abu Bakr dan Umar merupakan iman, sedangkan membenci keduanya merupakan kemunafikan. Cinta Bani Hasyim merupakan keimanan, sedangkan membenci mereka adalah kemunafikan’.”
            Demikian pula yang diterangkan oleh Ibnu Abil ‘Izzi rahimahullah, “Sesungguhnya asal Rafidhah dimunculkan oleh munafik zindiq yang bertujuan membatalkan agama Islam dan mencerca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; sebagaimana yang telah diterangkan oleh para ulama. Tatkala Abdullah bin Saba’ menampakkan keislaman, dia ingin merusak agama Islam dengan makar dan kejahatannya, sebagaimana halnya Paulus yang berpura-pura sebagai ahli ibadah dalam agama Nasrani. Dia menyebabkan munculnya fitnah terhadap Utsman radhiallahu ‘anhu dan terbunuhnya beliau.”

            Keterlibatan Abdullah bin Saba dalam Peristiwa Terbunuhnya Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu
            Abdullah bin Saba’ berpura-pura masuk Islam pada masa pemerintahan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Dia mengelilingi berbagai negeri untuk menyesatkan umat. Dimulai dari Hijaz, Kufah, lalu ke Syam.
            Akan tetapi, dia tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Dia pun menuju Mesir dan menanamkan beberapa keyakinan Saba’iyah kepada penduduk Mesir.
            Di antaranya adalah keyakinan alwashiyah. Ia berkata, “Sesungguhnya, dahulu ada seribu nabi dan setiap nabi memiliki washi (yang diserahi wasiat). Ali radhiallahu ‘anhu adalah penerima wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lalu dia berkata bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi, sedangkan Ali radhiallahu ‘anhu adalah penutup para penerima wasiat. Siapakah yang paling zalim dari orang yang tidak menjalankan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, melangkahi Ali radhiallahu ‘anhu yang diangkat sebagai penerima wasiat, dan mengambil alih kekuasaan?
            Selanjutnya dia berkata, “Sesungguhnya Utsman radhiallahu ‘anhu telah mengambil kekuasaan tanpa hak, sementara Ali radhiallahu ‘anhu adalah penerima wasiat Nabi. Bangkitlah kalian, lakukanlah gerakan, dan mulailah celaan terhadap penguasa kalian. Tampakkan diri sebagai orang yang menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar agar kalian dapat menarik hati manusia. Ajaklah mereka melakukan hal ini.”
            Akhirnya, dia berhasil menyebarkan berita ini di tengah-tengah umat Islam. Sekelompok orang yang berasal dari Basrah, Kufah, dan Mesir terhasut. Mereka berangkat menuju Madinah pada 35 H, seolah-olah pergi untuk menunaikan ibadah haji. Mereka merahasiakan tujuan sebenarnya untuk memberontak terhadap Utsman radhiallahu ‘anhu. Jumlah mereka diperselisihkan. Ada yang mengatakan 2.000 orang dari Basrah, 2.000 orang dari Kufah, dan 2.000 orang dari Mesir. Adapula yang mengatakan bahwa seluruhnya berjumlah 2.000 orang.
            Mereka memasuki Madinah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mengepung rumah Utsman radhiallahu ‘anhu pada akhir Dzulqa’dah dan memerintahkan agar Utsman radhiallahu ‘anhu lengser dari jabatan khalifah. Pengepungan tersebut dimulai dari akhir Dzulqa’dah hingga hari Jum’at 18 Dzulhijjah yang merupakan hari terbunuhnya Utsman.
            Sebagian ahli sejarah menyebutkan bahwa pengepungan itu berlangsung selama empat puluh hari, sementara Utsman radhiallahu ‘anhu hanya berada di rumahnya, bahkan dilarang untuk mengambil air. Sementara itu, yang memimpin shalat jamaah adalah seseorang yang terlibat dalam fitnah.
            Ubaidullah bin Adi bin al-Khiyar kemudian mendatangi Utsman radhiallahu ‘anhu dan bertanya, “Yang memimpin shalat kami adalah seorang imam fitnah. Apa yang engkau perintahkan kepada kami?”
            Utsman radhiallahu ‘anhu menjawab, “Shalat adalah amalan terbaik yang diamalkan oleh manusia. Jika manusia berbuat baik, berbuat baiklah bersama mereka. Jika mereka berbuat keburukan, jauhilah kejelekan mereka.”
            Sebagian sahabat mengutarakan keinginan mereka kepada Utsman radhiallahu ‘anhu untuk membela beliau. Di antara mereka adalah Abu Hurairah, al-Hasan bin Ali, al-Husain bin Ali, Abdullah bin Umar, Zaid bin Tsabit, dan Abdullah bin Zubair.
            Namun, Utsman radhiallahu ‘anhu memerintah mereka agar tidak melakukan perlawanan yang dapat menyebabkan terjadinya pertumpahan darah. Sebab lainnya, beliau bermimpi yang menunjukkan telah dekatnya ajal beliau. Beliau radhiallahu ‘anhu berserah diri menerima keputusan Allah ‘azza wa jalla.
            Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu mendatangi Utsman radhiallahu ‘anhu dan berkata, “Para penolongmu telah ada di dekat pintu ini. Mereka berkata, ‘Jika engkau mau, kami akan menjadi ansharullah sebagaimana kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami akan melakukan perlawanan bersamamu’.”
            Utsman radhiallahu ‘anhu menjawab, “Jika peperangan, tidak.”
            Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma mendatangi Utsman radhiallahu ‘anhu. Lalu Utsman radhiallahu ‘anhu berkata, “Wahai Ibnu Umar, perhatikanlah apa yang mereka ucapkan. Mereka berkata, ‘Tinggalkan kekuasaan itu dan jangan engkau membunuh dirimu’.”
            Ibnu Umar berkata, “Jika engkau melepaskannya, apakah engkau akan dikekalkan hidup di dunia?”
            Utsman menjawab, “Tidak.”
            Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata, “Aku sarankan agar engkau tidak melepaskan sebuah pakaian yang telah Allah ‘azza wa jalla pakaikan kepadamu sehingga nantinya akan menjadi contoh. Setiap kali ada kaum yang membenci khalifah atau imamnya, mereka segera mencopot penguasanya dari jabatannya.”
            Setelah sekian lama mengepung rumah Utsman radhiallahu ‘anhu, mereka masuk dan membunuh Utsman radhiallahu ‘anhu dalam keadaan beliau meletakkan mushaf di hadapannya. Tetesan darah Utsman radhiallahu ‘anhu tepat mengenai firman Allah ‘azza wa jalla,
            “Jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan . Maka dari itu, Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 137)
            Mereka yang diketahui sebagai tokoh pergerakan yang menyebabkan terbunuhnya Utsman radhiallahu ‘anhu adalah Ruman al-Yamani, Kinanah bin Bisyr, Sudan bin Hamran, dan Malik bin al-Asytar an-Nakha’i. Adapun yang terlibat langsung dalam pembunuhan Utsman radhiallahu ‘anhu adalah seseorang yang berasal dari Mesir yang bernama Jabalah.
            Demikianlah akhir dari makar dan tipu daya Yahudi ini: terbunuhnya Utsman radhiallahu ‘anhu, khalifah rasyid yang ketiga, dengan cara yang zalim melalui tangan seorang Yahudi. Pembuat makar yang masuk Islam dalam rangka melakukan tipu daya terhadap kaum muslimin dan menghancurkan persatuan mereka.

          2. @Tri Mulat: menyalahkan orang lain? yaitu orang Yahudi?

            Jadi menurut anda, intinya ada seorang Yahudi (Abdullah bin Saba’) yang menghasut umat Islam agar memusuhi Usman (yang tak mempunyai salah) dan akhirnya umat Islam tersebut memberontak kepada Usman?

            Kalau menurut logika anda, berarti >> Umat Islam saat itu bodohnya minta ampun, sehingga lebih percaya orang Yahudi dibandingkan dengan Usman dan semua sahabat Nabi yang masih hidup dan tidak memusuhi Usman.

            Lalu bagaimana dengan Muawiyah yang akhirnya melembagakan nepotisme dalam bentuk negara kerajaan untuk keluarga mereka (Bani Umayyah)? salah Yahudi juga?

            Pantesan umat Islam saat ini melaju kencang mundur kebelakang. Lha wong setiap ada masalah hobinya menyalahkan orang lain dan tak mau meneliti apa yang salah dan kurang dari dirinya sendiri agar bisa melakukan perbaikan.

Perkaya Tulisan Ini Dengan Pendapat Anda