Ketika Cerita Dalam Qur’an Berbeda

Beruntunglah kita yang hidup di era komputer dan internet, segala informasi hampir semuanya dapat dicari di internet atau diproses di komputer. Dengan komputer menelusuri dokumen yang dahulu mustahil bisa dilakukan dalam hitungan hari, bisa dilakukan. Bahkan lebih cepat.

Untuk Qur’an, ada Qur’an elektronik yang bagus dan saya suka karena kemudahannya yaitu Zekr dan yang penting adalah software ini gratis. Anda dapat mengunduhnya di http://zekr.org .

Banyak hal baru yang akan bisa anda peroleh dengan menggunakan Qur’an elektronik ini.

Salah satu temuan yang menarik yang saya bagikan adalah: coba anda lakukan pencarian terhadap frase “melihat api” di terjemahan Qur’an.

Mencari frasa "melihat api" di Qur'an dengan software Zekr
Mencari frasa “melihat api” di Qur’an dengan software Zekr

Ada tiga hasil yang akan keluar. Ketiganya bercerita tentang kisah Musa yang melihat api dan berdialog langsung dengan Allah. Kisah ini juga diceritakan di Injil dengan detil yang berbeda.

Lukisan Musa melihat api di Saint Isaac's Cathedral, Saint Petersburg
Lukisan Musa melihat api di Saint Isaac’s Cathedral, Saint Petersburg

Yang menarik dari cerita itu di Qur’an adalah, satu cerita yang sama diceritakan dalam tiga lokasi dengan detil yang berbeda.

Untuk lebih jelasnya ketiga cerita itu saya jajarkan dibawah, saya hanya tampilkan dialog yang terjadi antara Allah dan Musa. Detil lengkap penceritaan dapat anda lihat sendiri di Qur’an.

An-Naml ayat 7 dst. Al-Qasas ayat 29 dst. Taa-haa ayat 10 dst.
“Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”.”Hai Musa, sesungguhnya, Akulah Allah, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dan lemparkanlah tongkatmu” “Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam, dan lemparkanlah tongkatmu” “Hai Musa. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
Segungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa”.“Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? “”Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya”.”Lemparkanlah ia, hai Musa!”
Gereja St. Catherine's Monastery, Sinai, yang didirikan ditempat yang diyakini sebagai tempat Musa melihat api
Gereja St. Catherine’s Monastery, Sinai, yang didirikan ditempat yang diyakini sebagai tempat Musa melihat api

Apa yang dapat dilihat dari tiga penceritaan Qur’an diatas:

  1. Ketiga cerita mengisahkan peristiwa yang sama.
  2. Dialog yang terjadi berbeda di ketiga cerita tersebut walau mengisahkan peristiwa yang sama.
  3. Pada dialog 1 & 2, Allah memerintahkah Musa melemparkan tongkat setelah Allah memperkenalkan diri.
  4. Pada dialog 3, Allah memerintahkan Musa melepas terompahnya sebelum memperkenalkan diri. Setelahnya Allah bertanya tentang apa yang dipegang Musa, sesudah Musa menjelaskan bahwa itu adalah tongkat, Allah baru memerintahkan untuk melemparkannya.

Kesimpulannya apa?

Detil peristiwa dalam Qur’an tidaklah penting kesesuaiannya dengan peristiwa yang nyata, terbukti dengan tiga versi dialog untuk peristiwa yang sama dalam Qur’an. Bila semua detil Qur’an akurat, tentu hanya ada satu versi dialog ini, karena peristiwanya adalah satu

Kesimpulan ini berlawanan dengan anggapan umum yang dipahami oleh kaum Muslim yaitu Semua peristiwa yang diceritakan dalam Qur’an adalah nyata terjadi sampai ke detil-detilnya.

Atau… anda punya kesimpulan lain?

Baca Juga:


218 komentar

  1. Maaf, pemahaman anda sangat jauh dengan pemahaman para ulama yang saya mengerti, dan tak ada keraguan saya padanya akan penjelasan itu. Hanya jika anda mau untuk mencari tau dan belajar.

    1. Terima kasih, bila anda punya pemahaman berbeda. Yang mungkin lebih tepat.
      Mohon kerendahan hati untuk membagikannya melalui komentar di tulisan saya, agar saya dan pembaca lain bisa ikut tercerahkan.

        1. @arifkusmift: tercerahkan dan bertahan itu dua hal yang berbeda. Dengan pencerahan saya bisa mempunyai wawasan baru. Wawasan baru bisa memperkuat pendapat saya atau mengubah pendapat saya.

  2. Al Quran diturunkan oleh Allah tidak untuk mempersulit/atau membebani makhluknya, bahkan Al Quran di turunkan untuk mempermudah. Allah SWT berfirman:

    “Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah; melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), diturunkan dari (Allah) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.” (QS. Thaahaa: 2-4)

    Memang dalam Al Quran ditemukan banyak ayat/surat yang lafaz/maksudnya sama. Misalnya dalam surat Al Baqarah terdapat suatu peristiwa, nanti dalam surat Al A’raf akan ditemukan peristiwa yang sama. Kalau dalam ilmu tafsir dinamakan “Tafsir ayah bil ayah” menafsirkan AlQuran ayat satu dengan ayat yang lain.

    Bisa jadi dalam ayat lain terdapat penjelasan yang kurang detil, namun dalam ayat yang lain akan di temukan penjelasan yang lain, sehingga penafsir akan bisa menyimpulkan dari dua, tiga ayat atau lebih penjelsan yang sevenarnya mebicarakan satu pokok masalah.

    Misalnya, dalam ayat satu menjelaskan kejadian, sebab ddl, nanti pada ayat yang lain akan menjelaskan tentang jumlah/bilangan.. cukup sekilas

    semoga bermanfaat
    wassalam

    1. Terima kasih atas sumbangan komentarnya.

      Saya coba pelajari penjelasan anda sbb:
      Tafsir ayah bin ayah – menafsirkan ayat satu dengan ayat yang lain
      –> sepertinya tidak, ketiganya detil percakapan yang bukan multitafsir.
      Jika anda seorang penyidik yang hendak merekonstruksi suatu peristiwa, tiga detil cerita di atas adalah beda, tidak mungkin ketiganya terjadi bersamaan.
      Jika anda seorang sutradara hendak memfilmkan kisah ini, ketiganya adalah pilihan detil yang bisa dipilih dan tak mungkin ketiganya dipakai.
      Transkrip pembicaraan adalah detil, ia adalah potret kejadian sebenarnya, tidak bisa ditafsirkan lain. Pilihannya: transkrip itu terjadi atau tidak. Jika ada tiga transkrip, tidak mungkin ke-tiga-tiga-nya terjadi, karena ketiganya berbeda.

      Atau mungkin anda bisa menjelaskan, ayat mana ditafsirkan dan mana yang menafsirkan?
      Mohon pencerahannya…

  3. baguslah anda mulai mencari dan mempelajari ARTI al quran, teruskan untuk memahami seluruh arti al quran, jangan salah yaaa.
    beruntunglah kamu mau membacanya dan mencari tau artinya, karena sekarang sudah DIACUHKAN apalagi memahami artinya,
    bacaan shalat, kamu tau artinya ngga? Shalat adalah doa dan dzikir untuk menghadap sang Maha Pencipta secara langsung.

  4. Ketiga ayat diatas, hanya saling melengkapi. Itu saja, moment pasti pada saat yg sama, tempat yang sama dan dengan maksud yang sama pula. Logika apapun pasti dapat menerima bahwa ketiganya saling melengkapi. Tidak ada di antaranya yang bertentangan atau bertolak belakang. Inilah bahagian kekayaan khasanah Alquran.

    1. Tuah Rengat: Terima kasih untuk sumbangan komentarnya.

      Dari penjelasan anda:
      Saling melengkapi
      –> Mungkin akan lebih meyakinkan bila anda bisa menyusun ulang ketiga fragmen dialog tersebut dalam suatu percakapan yang utuh tanpa menghapus salah-satu bagiannya.
      Logika apapun pasti dapat menerima bahwa ketiganya saling melengkapi
      –> Adanya komentar-2 terhadap tulisan ini yang mencoba mancari penjelasan, membuktikan bahwa logika anda hanyalah salah satu dari usaha menjelaskann problem ini. Anda terlalu gampang menggeneralisir berdasarkan kacamata anda.

    1. Pakdhe: Terima kasih untuk mampir, berkomentar serta memberi saya do’a.
      Anda beropini tentang saya, meragukan saya ditempat seharusnya anda berkomentar tentang tulisan saya.
      Hal itu tidak adil, anda belum pernah bertemu saya, berdialog dengan saya tetapi sudah beropini tentang saya. itu prasangka yang belum anda cek ulang. Seharusnya, suatu argumen harus dihadapi dengan argumen. Saya rasa Pakdhe pasti lebih tua dari anak TK sehingga bisa mengemukakan pendapat dengan jernih.

      Karena anda mendo’akan saya. Saya juga berdo’a untuk anda.
      Semoga Allah menyadarkan anda untuk tidak mudah berprasangka.
      Semoga Allah memberi anda kecerdasan untuk mampu berargumen dengan jernih.

  5. Assalamualaikum wr wb
    Saya coba berbaiksangka (husnuzdhon) kepada Pak JUDHIANTO yang di rahmati Allah, bahwa Bpk berusaha mempelajari Al Quran.
    Namun untuk mempelajari sesuatu dibutuhkan Ilmu. Berikut beberapa :
    1. Ilmu Nahwu (Tata Bahasa)
    2. Ilmu Ushul Fikh
    3. Ilmu Asbabun Nuzul (Sebab2 turunnya suatu ayat)
    4. Ilmu Hadist (Hadis yg menjelaskan suatu ayat)
    5. Ilmu Qiraat
    6. Ilmu Luqhat
    dll
    Selanjutnya Bapak menyimpulkan dan dibenturkan dengan pemahaman mayoritas.
    Padahal kesimpulan yg Bapak ambil seolah-olah mengkritik atau mencari cacat Al Quran.(Menurut saya, karena tak tahu maksud sebenarnya dari tulisan/ artikel ini).
    Padahal Surah Thaahaa (20) Ayat 10, Surah An Naml (27) Ayat 7 dan Surah Al Qashash (28) Ayat 29 yang saya baca mempunyai terjemahan yg artinya sama dan sangat berbeda dengan terjemahan yg Bapak Judhianto punya.
    Mungkin Bapak Perlu mencari Kitab Terjemah Al Quran yang lain.
    Wallahu a’lam.
    Mohon Maaf
    Semoga kita senantiasa diberikan rahmat, petunjuk dan ridho Nya Amin.
    Assalamualaikum Wr Wb

    1. Afriza: Terima kasih untuk ikut berkomentar.
      Ada beda antara menjawab dan mengelak dari pertanyaan.
      Bila seorang ahli ditanya kenapa bom atom begitu dahsyat, ia akan menjawab bahwa bom itu memanfaatkan reaksi nuklir dengan rumus-rumus berikut, masalah yang bertanya paham atau tidak, itu masalah berikutnya.
      Kalau ia mengelak ia akan menjawab bahwa untuk mengerti bom atom, penanya harus mempelajari ilmu relativitas, ilmu kimia, ilmu matematika tingkat tinggi dan lain-lain, tanpa satu katapun menjelaskan mekanismenya.
      Saya mungkin tidak memiliki wawasan seluas anda, jadi mohon ditunjukkan to-the-point penjelasannya dari ilmu-ilmu di atas.

  6. Assalamualaikum wr wb

    Mengenai Ilmu2 di atas, saya juga tidak menguasainya. Namun sebagai tanggung jawab diskusi dan mudah2an menambah ilmu bagi saya dan sekalian pembaca, akan saya sampaikan, berikut dari berbagai sumber :

    1. Ilmu Tajwid

    Ilmu yg digunakan untuk membaca Al Quran dengan baik,diantaranya tempat keluar huruf, bunyi huruf, panjang pendek bacaan, tanda baca dll

    2. Ilmu Qiraat

    Ilmu tentang cara membaca Al Quran. Ilmu ini dipelajari oleh org2 yg sudah lancar membaca AL Quran dan mengenal Ilmu Tajwid.

    3. Ilmu Gharibil Quran/ lughat

    Ilmu yg memfokuskan untuk menerangkan kata perkata dalam Al Quran. Termasuk menjelaskan arti kata yang belum dikenal. Baik yang mempunyai arti tekstual maupun kontekstual.

    4. Ilmu Amsalul Quran

    Ilmu yg membahasa tentang perumpamaan, pepatah, hubungan bahasa arab dan bahasa Al Quran.

    5. Ilmu Bada'il Quran

    Ilmu yang mempelajari keindahan susunan AL Quran, memberikan uraian tentang kesusatraan, keindahan bahasa Al Quran dan yg berkaitan dengannya.

    6. Ilmu Ashbabun Nuzul

    Membahas sebab-sebab turunnya ayat AL Quran. Memberikan uraian bagaimana memahami dan tujuan suatu ayat.

    7. Ilmu Nasikh wal Mansukh

    Ilmu untuk membahas ayat-ayat yang hukumnya sudah dihapus oleh ayat-ayat lain, membandingan arti dan tujuan suatu ayat dengan ayat lain, mengartikan dan mencari tujuan dari setiap kata dan hubungannya dan aspek lain yg diperlukan dalam menafsirkan ayat tersebut.

    8. Ilmu Ma'rifatil Muhkam wal Mutasyabih

    Menerangkan kesesuaian suatu ayat dengan ayat lain, baik permulaan ayat atau akhir ayat.

    9. Ilmu Mawathinin Nuzul

    Mengkaji ditempat mana ayat itu turun, waktu turun, permulaan dan akhirnya.

    10.Ilmu Aqsamul Quran

    Mempelajari arti dan maksud sumpah-sumpah yang ada dalam Al Quran

    11.Ilmu Jidalil Quran

    Mempelajari sanggahan-sanggahan dalam Al Quran kepada kaum musyrikin, untuk mengetahui cara-cara dan sikap mereka dalam mennyerang AL Quran

    12.Ilmu Adabi Tilawatil Quran

    Menjelasan adab-adab dalam membaca Al Quran dan dilengkapi dengan hadist2 yang menceritakan keutamaan Al Quran

    13. Ilmu Ushul Fiqh

    Menjelaskan kaidah metodologis yg dipakai Mujtahid dalam mengambil hukum dari nash Al Quran.

    14. Ilmu Hadist

    Mempelajari Hadist-hadist yang menjelaskan ayat2 Al Quran

    15. Ilmu Isytiqaq

    Memmpelajari asal-usul kata. Ada beberapa kata yg berasal dari dua kata yang berbeda, sehingga berbeda makna.

    Alhamdulillah demikian yg dpt sy sampaikan.

    Mohon maaf apabila ada kekurangan

    Mohon Maaf Lahir dan Bathin jika ada kesalahan.

    Barakallahu Fikum

    Assalamualaikum Wr Wb.

    1. Afriza: Terima kasih untuk memberikan penjelasan yang cukup lengkap tentang ilmu-2 Qur’an, walaupun sama sekali tidak menjawab tentang ayat-2 yg tidak kompak di atas.

      Saya tertarik untuk mengomentari 7. Ilmu Nasikh wal Mansukh –> ada ayat di Qur’an yang dibatalkan dan diralat oleh ayat lain di Qur’an juga.
      Yang bisa diambil kesimpulan dari munculnya ilmu ini adalah:
      * Fakta: ada ayat2 yang bertentangan satu sama lain di Qur’an
      * Penjelasan (ngeles): ayat yang di Nasikh adalah ayat yang salah atau dibatalkan, ayat mansukh adalah koreksinya.
      –> pendapat saya tentang nasikh-mansukh saya singgung juga di tulisan ini : Agama, Demonstrasi Kredibilitas Para Nabi

      Saya ingin memberikan ilustrasi pembanding:
      Dalam mempelajari ilmu modern, kefasihan bahasa adalah urusan belakangan, logika di kepala adalah yg utama. Contoh yg bisa dipakai:
      ** Sekjen PBB Ban Kim Moon, berpidato dengan bahasa Inggris logat Korea –> Tajwid, Qiraat, adab bahasa Inggris beliau amburadul, tapi itu tidak utama. Yang utama adalah nalar logika yang disampaikannya.
      ** Bila ada orang asing dengan bahasa indonesia kacau balau mampu menerangkan candi borobudur, kita akan kagum dan menghargainya. Jauh diatas seorang asing yang fasih sekali berbicara hafalan bahasa Indonesia tapi sama sekali tidak tahu maksudnya.
      ** Sering sekali kita mendengar khatib Jum’atan yang sempurna tajwid, qiraat, adab bahasa arabnya, tapi ceramahnya kosong sama sekali tak bermutu. Orang semacam ini pantasnya ceramah di radio saja bukan di forum Jum’atan. Soalnya di radio kan ada tombol off-nya …

      1. Assalamualaikum Wr Wb.
        Maaf mau ikutan nimbrung,
        Saya ngk ahli dalam hal tafsir al qur'an, tapi karena sdr. Judhianto ahli dalam hal logika, saya mau komentar dari segi logika juga.
        Saya rasa ngk ada masalah dengan 3 isi alqur'an tsb, semuanya memang menceritakan 1 hal yang sama, tapi disampaikan (diwahyukan kepada rasul) dlm waktu yang berbeda dengan cara (panjang kalimat) yang berbeda
        Contoh : Ketika saya mau menceritakan anda tentang satu hal, dan saya bertemu anda 3 kali
        Hari ke 1 : Kamu ingat ngk cerita tentang kancil dan buaya, waktu itu kancil berhasil menipu buaya
        Hari ke 2 : Kamu ingat ngk cerita tentang kancil dan buaya, waktu itu dia hampir saja dimakan sama buaya, tapi berkat akal liciknya dia berhasil menipu buaya.
        Hari ke 3 : Kamu ingat ngk cerita tentang kancil dan buaya, ceritanya begini…pada suatu hari…dst.dst……..

        Semoga berkenan
        Wassalam

        1. Muslim biasa: Terima kasih untuk sumbangan komentarnya.
          Saya setuju bahwa suatu cerita bisa disampaikan dalam kalimat dan detil yang berbeda. Qur'an adalah kitab nasehat, kisah adalah media untuk menyampaikan nasihat, menyampaikan pesan. Akurasi suatu peristiwa tidaklah penting asalkan pesan yang diinginkan terkirim. Ini sama dengan cara kita mendongeng seperti yang anda contohkan.

          Sebagai contoh: untuk mengambarkan betapa hebat dan berkuasanya Nabi Sulaiman, Qur'an menceritakan Sulaiman dengan detil-detil berikut:
          ** Sulaiman mempunyai tentara dari golongan jin, burung dan manusia
          ** Ditundukkan angin untuk Sulaiman, sehingga perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan
          ** Sulaiman memerintah para jin
          ** Sulaiman berdialog dengan semut-semut dan burung hud-hud

          Apakah semua itu nyata? apakah semut jaman dulu mempunyai neocortex, yaitu bagian otak yang mampu memproses kemampuan bahasa dan kesadaran? yang tidak ada pada semut jaman sekarang dan hanya dapat diketemukan pada organisme sekelas mamalia?

          1. Pak Judhianto,..maaf sy jg bukan tafsir alquran tapi sepaham saya akal pikiran manusia biasa memiliki keterbatasan,ALLAH maha kuasa ..”kun fa yakun” apa yg terjadi terjadilah,jika ALLAH berkehendak maka terjadilah,..ALQURAN isinya adalah benar tdk ada keraguan padanya,….
            Semoga Allah mengampuni dosa hambanya yg meragukan NYA dan yang dengan sengaja mempengaruhi umum untuk menjauhi ajaranNYA.
            amin

          2. @Chusnul: benar akal manusia ada batasnya sebagaimana apapun didunia yang ada batasnya.
            Apakah akal bisa melampaui batasnya? tentu tidak.
            Jadi kenapa takut, selama bisa kita pikirkan, tentu itu masih dalam batas – buktinya bisa dipikir…

    1. hehehehe…………. sungguh menyedihkan menjelaskan sesuatu dengan sesuatu yang tak bisa dijelaskan lagi.
      dikasih bidadari dan minuman saat di surga ya.pembodohan dengan dongeng.
      serahkan aja semuanya pada tuhan.

  7. Ada baiknya kita pahami juga ayat berikut ini:

    Dialah yang menurunkan Kita(Al-Quran) kepadamu (Muhammad). Diantaranya ada ayat-ayat yang "muhkamat" itulah pokok-pokok Kitab (Al-Quran) dan yang lain "Mutasyabihat".Adapun orang-orang yang hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fintah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Alloh. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, "Kami beriman kepadanya (AL-Quran) semuanya dari sisi tuhan kami. Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal.(Q.S Ali Imron: 7)

    Sedikit penjelasan disini bahwa arti dari "muhkamat" adalah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya dan dapat dipahami dengan mudah. Sedangkan "mutsyabihat adalah ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian ,sulit dipahami atau hanya Alloh yang mengetahuinya.

    1. agusbobo: Saya tertarik dengan adanya ayat Mutasyabihat dalam Qur’an.
      Istilah “Hanya Alloh yang mengetahuinya” adalah padanan dari “Tidak dipahami logika manusia” dan kata lain dari “Tidak logis” .

      Hanya orang yang mau menggunakan akalnya yg sampai pada kesimpulan bahwa ayat ini ayat itu adalah tidak logis (Mutasyabihat), dan mau menerima fakta bahwa Qur’an tidak semuanya berisi hal yang logis dan faktual (Muhkamat), sebagaimana dikatakan dalam Q.S Ali-Imron 7.

      Hanya orang-2 yg cenderung kesesatan menolak adanya ayat Mutasyabihat, dan memaksakan pendapatnya bahwa semua ayat Qur’an adalah logis dan faktual (Muhkamat).

      Al-Qur’an adalah kitab tuntunan dengan format penulisan 1500 tahun yang lalu, ia kitab hebat. Jangan paksa ia akan sesuai dengan format penulisan karya ilmiah masa kini yang runtut, logis dan praktikal (bisa dipraktekkan apa adanya).

      Al-Qur’an hebat karena ia kitab yang mampu menggugah kita secara emosional diantaranya melalui misteri ayat2 Mutasyabihat (tidak logis/faktual) , dan membawa kedekatan dan kekaguman kita pada Allah

      1. Al Quran menurut saya isinya semuanya logika, kita diwajibkan mempelajari untuk tuntunan kita dalam mengkaji logika di dunia ini. Sudah 80 % ilmu pengetahuan di dunia telah dibuktikan di dalam Al Quran. Sebelum ada Einstien kebanyakan orang tidak percaya dengan time mechine ataupun time journey, jadi tidak ada seorangpun yang percaya dengan adanya Ira Miraj dan berpindahnya singgasana Ratu Bilqis pada jamannya. Karena Al Quran tidak akan ketinggalan jaman, pada waktu dulu (yang orang bilang belum ada tekhnologi) Al Quran sudah menjelaskan tentang Ira Miraj. Maaf, yang saya sampaikan terlalu panjang namun pada intinya Al Quran itu logika, namun mungkin saat ini belum ada ilmu yang ditemukan manusia untuk membuktikannya. Termasuk saudara Judhianto. Terima kasih.

        1. @Reaves: astaga hebat benar pendapat yg menyatakan 80% ilmu pengetahuan didunia telah dibuktikan di Qur'an. Jika satu-dua hal kebetulan cocok dengan fakta ilmiah, itu tidak membuktikan 80% pengetahuan dunia ada di Qur'an. Saya tidak percaya ada 80% mata kuliah di perguruan tinggi bisa kita peroleh ilmunya dari Qur'an.

          Qur'an turun di masyarakat Arab yg saat itu menilai tinggi puisi, syair dan kefasihan bahasa, sehingga Qur'an sendiri turun dalam bentuk syair-2 yg berirama indah dan menyentuh hati.
          Kenapa kita tidak bisa menerima pandangan bahwa Allah menampilkan diri sebagai pendongeng dan penyair yang hebat? Allah menyampaikan pesan-2 lewat cerita, syair dan perumpamaan yang kaya di Qur'an.
          Kenapa kita memaksakan pandangan bahwa Allah menampilkan dirinya sebagai ahli hukum, sehingga kita perlakukan Qur'an sebagai sebuah kitab hukum?
          Kenapa kita memaksakan pandangan bahwa Allah menampilkan dirinya sebagai dokter ahli, sehingga kita cari-2 ayat Qur'an untuk mengobati penyakit?
          Kenapa kita memaksakan pandangan bahwa Allah menampilkan dirinya sebagai profesor sains, sehingga kita cocok-2kan ayat Qur'an dengan teori fisika?

          Dari strukturnya sendiri Qur'an bukanlah tulisan dengan struktur ilmiah modern. Anda tidak dapat memperoleh gambaran isi Qur'an dgn membaca daftar isi atau judul-2 babnya, sebagaimana anda bisa melihat sepintas pada daftar isi buku modern. Anda tidak dapat mendapatkan maksud pasti suatu ayat dalam Qur'an, sebagaimana anda membaca kitab hukum modern yang menjelaskan tanpa ambigu suatu masalah.

          Memaksakan Qur'an dibaca dengan cara yg sama seperti kita membaca kitab hukum, sejarah, teori fisika, atau panduan kedokteran adalah hal yang menggelikan.
          Terima kasih untuk kunjungan dan komentarnya..

  8. Menurut saya mah sama
    yang 1 & 2 Menceritakan tongkat Yang Ada di Nabi Musa ( punya Nabi Musa ) untuk di lepas
    yang 3 Allah cerita dulu tentang dirinya dan menceritakan bahwa Tongkat Yang Nabi Musa punya sebenarnya Milik Allah ( Segala sesuatu di alam ini memang pada dasarnya milik Allah ) lalu Nabi Musa di perintahkan untuk melemparnya

    Kalo yg ke3 isi nya dialog panjang lebar Nabi Musa dengan Allah ( entah itu dalam hati atau dengan cara lain ) saat Allah menyuruh beliau melepas tongkatnya

    kalo yang 1 & 2 lebih ditekankan ke Intinya Nabi Musa as di suruh melemparkan tongkatnya

    Kalo di lihat dari tempat ayat 1 & 2 ga menceritakan tempat kalo yg ke 3 menceritakan tempat

    Tapi Pada Intinya sama (Allah memberi jaminan dengan menceritakan kebesaranNya agar nabi as segera untuk melempar tongkatnya

    dan semuanya gak bertentangan cuma saling melengkapi
    My recent post Nyanyi

    1. Adi El kapitano : Saya jadi teringat komik, kalau dialog langsung biasanya balon dialognya gambarnya tegas, sedangkan dialog dalam hati balon dialognya pake garis terputus-putus.
      Terima kasih komentarnya.

  9. coba google lagi isi ayat2nya udah benar apa belom pak judi, usahakan jangan setengah setengahlah ngupas tuntas isi ayat2 di al-Qur'an apalagi cuma bermodalkan search Software yg bapak rekomendasikan untuk di download itu -_-a

  10. intinya sama bro.. jd begini

    1. Allah memperkenalkan diri
    An Naml: Akulah Allah
    Qasas: Akulah Allah
    Thaha: Aku inilah Tuhanmu

    2.disuruh melempar tongkat nabi Musa dan berubah jd ular, tp Allah menyuruh agar jangan takut
    An Naml: lemparkanlah tongkatmu
    Qasas: lemparkanlah tongkatmu
    Thaha: tanggalkan terompahmu
    (tp di surat Thaha ini lebih panjang perkenalannya… setelah Allah berkata: Aku inilah Tuhanmu, lalu menjelaskan bahwa Musa
    diutus utk menjadi nabi dan mengemban misi yg diembankan pd Musa, spt: jangan menyekutukan Allah, mendirikan shalat),dst

    sebagaimana kita tahu bahwa nabi Musa ini dapat berdialog dgn Allah..

    saya tdk setuju pd butir (4) bahwa Anda mengatakan "Allah memerintahkan Musa melepas terompahnya sebelum memperkenalkan diri" , padahal Allah sudah memperkenalkan: Aku inilah Tuhanmu,, dan menyuruh Musa melempar terompahnya (surat Thaha) nah di sini baru Musa mengikuti perintah Allah untuk melempar terompah, trus Allah melanjutkan pembicaraan dg Musa: "sesungguhnya kamu berada di lembah yg suci, Thuwa.", dst

    1. kurniawan: Kalau tentang intinya, tidak ada persoalan. Masalahnya, yg diceritakan adalah detil pembicaraan yg ada 3 dan bila dijajarkan langsung akan menjadi aneh.
      Ini juga ada pada kisah Sulaiman. Intinya Sulaiman hebat, tetapi detilnya seperti pembicaraan Sulaiman dengan semut, dengan burung Hud-hud, tidak bisa kita anggap sesuai dengan realitas, karena secara sains: burung dan semut belum mempunyai kapasitas otak yg cukup untuk mengembangkan kemampuan bahasa yg kompleks.

      1. saya rasa dalam hal Nabi Sulaiman a.s yang bisa bercakap-cakap dengan binatang, tidak merepresentasi kemampuan verbal sebenarnya, layaknya manusia berbicara, walalupun binatang tdk bisa berbicara layaknya manusia, tapi mereka jg pnya cara tersendiri utk brkomunikasi sprti menyentuhkan antena nya pada semuat lain, dan saya rasa Nabi Sulaiman a.s punya talent khusus yang bisa mengerti isyarat yang dilakukan binatang, bukan ngobrol biasa seperti yg kita lakukan…

        1. @Lina Nur S: Itu harapan kita, Akan tetapi ada masalah dengan harapan ini.
          Di surat An-Naml ayat 16-28, kisah dialog Sulaiman dan semut ini digambarkan dengan sangat verbal.
          Jika yg dituliskan Qur’an aktual maka akan bertentangan dgn pendapat anda.
          Tetapi jika pendapat anda benar (Sulaiman punya talent khusus mengerti bahasa isyarat binatang), maka kita harus menganggap yg diceritakan Qur’an tidak semuanya sesuai dgn kenyataan, dan kisah Sulaiman adalah kisah yg diceritakan dengan gaya dongeng.
          Terima kasih masukannya…

  11. tidak peduli siapa yang bicara, tapi perhatikan apa yang hendak disampaikan. saya harap usaha yang judhianto sampaikan adalah usaha dalam rangka mencari kebenaran -sesuatu yang hendak dituju oleh hampir semua orang, apapun latar belakang agamanya.  
    berangkat dari tesis ini “semua peristiwa yang diceritakan dalam al-qur`an adalah nyata terjadi sampai ke detil detilnya”
    sejauh pemahaman saya melalui paradigma berfikir rasional (dan tidak irfani), justru memang kita tidak akan pernah tau semua peristiwa dalam al-qur`an adalah nyata atau tidak bahkan nyata sampai sedetil-detilnya atau tidak sama sekali. karena, nalar rasional manusia membutuhkan bukti ilmiah dan konkret untuk membuat kita meyakini kebenaran akan kenyataan yang sesungguhnya. karena menyadari hal ini, beberapa pakar mempunyai teori baru untuk menjelaskan beberapa hal dalam al-qur`an, yakni melalui pengungkapan simbol-simbol. Hal ini berangkat dari dugaan bahwa banyak sekali cerita atau sesuatu dalam al-qur`an yang merupakan simbol-simbol. sedangkan simbol itu sendiri jelas mengandung multitafsir, sehingga itu memberi peluang manusia menafsirkannya sesuai kehendak dirinya sendiri atau untuk kemaslahatan umat atau untuk yang lain2. lantas kalau demikian, penafsiran mana yang paling benar? penafsiran yang berasal dari kombinasi daya berfikir, merenung, menyadari dan daya hati yang bening dan bersih. “Look on your own
    heart… for the kingdom of God is within you” (lihatlah hatimu sendiri… kerajaan Tuhan
    sebenarnya ada di dalam hatimu). 
    Namun sepertinya PR terbesar kita adalah menemukan kembali keping-keping hati manusia yang murni yang tidak mengenal modernisasi.   

    pertanyaan selanjutnya adalah ??memang kenapa kalau al-qur`an tidak terlalu mementingkan kesesuaian persitiwa -yang ujung-ujung nya justru membuat orang bertanya ‘ini yang benar yang mana’ alias beritanya simpang siur. ??

    bukan… saya bukan bermaksud membuat daftar list kelebihan-kelebihan al-qur`an, dan meyakini kebenaran dengan melihat banyaknya kelebihan dengan mengesampingkan kelemahan. kebenaran itu bukan mayoritas. karena seseorang memang harus betul-betul memahami apa yang menjadi keyakinannya. Proses memahami, menyadari dan mencari hakikat makna  tentang segala sesuatu bahkan tentang dirinya sendiri, itu tidak akan pernah selesai sampai manusia itu menghembuskan nyawa terakhir. 

    nah, ketika cerita al-qur`an mengesankan perbedaan, yang membuat manusia berpendapat berbeda-beda pula, maka di sinilah manusia sebenarnya diuji. tentang amanat-amanatnya, tentang tujuan hidupnya, tentang alam yang mengiringinya, tentang hal-hal yang melingkupinya. 

    Apabila paradigma berfikir berdasarkan ‘keyakinan ‘ yang kemudian disandingkan dengan penyudutan itu digelar tanpa adanya saling memahami di antara dua kubu, maka yang terjadi hanya omong kosong belaka -mungkin termasuk omongan saya ini juga, meski saya juga berusaha dalam rangka memahami saudara dan memahami tentang saya.

    keyakinan buahnya adalah perasaan. seperti ketika saya merasakan asin, kamu tidak akan pernah tau rasa asin yang saya rasakan, bahkan  ketika kamu sampai merasakannya sendiri. analoginya adalah, kita tidak akan pernah tau kebenaran yang  mereka yakini, sampai kita meyakininya sendiri. dan ada kenyataan satu lagi yaitu: bahkan ketika bukti sudah jelas tapi kita tetap susah untuk meyakininya. 

    masih banyak pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang perlu dibahas, seperti.. 
    lalu bagaimana hati manusia yang murni yang tidak mengenal modernisasi?
    hati yang bersih dan bening??
    hati vs nafsu?
    hati vs akal?
    lalu apa hakikat perbedaan?
    bagaimana manusia memberi arti pada dirinya sendiri? 

    namun pertanyaan yang jauh lebih penting untuk forum ini adalah ….
    forum ini ditutup atau dilanjut diskusi ilmiah ??
    semoga kita semua selalu sehat, sehat pikir dan sehat hati… untuk melakukan lebih banyak lagi kebajikan.  

    1. @dewe: terima kasih pandangannya. Saya rasa hal yg penting dalam diskusi kita disini bukan siapa yg benar atau salah, akan tetapi mencoba membuka pikiran kita bahwa diluar apa yg biasa kita terima, ada pandangan lain yang berbeda dan mungkin berlawanan dgn yg kita yakini selama ini.
      Saya yakin kita semua mempunyai kemampuan untuk menyimpulkan dan dengan semakin luasnya wawasan kita, kesimpulan kita semakin berisi.

  12. tidak peduli siapa yang bicara, tapi perhatikan apa yang hendak disampaikan. saya harap usaha yang judhianto sampaikan adalah usaha dalam rangka mencari kebenaran -sesuatu yang hendak dituju oleh hampir semua orang, apapun latar belakang agamanya.
    berangkat dari tesis ini “semua peristiwa yang diceritakan dalam al-qur`an adalah nyata terjadi sampai ke detil detilnya”
    sejauh pemahaman saya melalui paradigma berfikir rasional (dan tidak irfani), justru memang kita tidak akan pernah tau semua peristiwa dalam al-qur`an adalah nyata atau tidak bahkan nyata sampai sedetil-detilnya atau tidak sama sekali. karena, nalar rasional manusia membutuhkan bukti ilmiah dan konkret untuk membuat kita meyakini kebenaran akan kenyataan yang sesungguhnya. karena menyadari hal ini, beberapa pakar mempunyai teori baru untuk menjelaskan beberapa hal dalam al-qur`an, yakni melalui pengungkapan simbol-simbol. Hal ini berangkat dari dugaan bahwa banyak sekali cerita atau sesuatu dalam al-qur`an yang merupakan simbol-simbol. sedangkan simbol itu sendiri jelas mengandung multitafsir, sehingga itu memberi peluang manusia menafsirkannya sesuai kehendak dirinya sendiri atau untuk kemaslahatan umat atau untuk yang lain2. lantas kalau demikian, penafsiran mana yang paling benar? penafsiran yang berasal dari kombinasi daya berfikir, merenung, menyadari dan daya hati yang bening dan bersih. “Look on your own heart… for the kingdom of God is within you” (lihatlah hatimu sendiri… kerajaan Tuhan sebenarnya ada di dalam hatimu).
    Namun sepertinya PR terbesar kita adalah menemukan kembali keping-keping hati manusia yang murni yang tidak mengenal modernisasi.

    pertanyaan selanjutnya adalah ??memang kenapa kalau al-qur`an tidak terlalu mementingkan kesesuaian persitiwa -yang ujung-ujung nya justru membuat orang bertanya ‘ini yang benar yang mana’ alias beritanya simpang siur. ??

    bukan… saya bukan bermaksud membuat daftar list kelebihan-kelebihan al-qur`an, dan meyakini kebenaran dengan melihat banyaknya kelebihan dengan mengesampingkan kelemahan. kebenaran itu bukan mayoritas. karena seseorang memang harus betul-betul memahami apa yang menjadi keyakinannya. Proses memahami, menyadari dan mencari hakikat makna tentang segala sesuatu bahkan tentang dirinya sendiri, itu tidak akan pernah selesai sampai manusia itu menghembuskan nyawa terakhir.

    nah, ketika cerita al-qur`an mengesankan perbedaan, yang membuat manusia berpendapat berbeda-beda pula, maka di sinilah manusia sebenarnya diuji. tentang amanat-amanatnya, tentang tujuan hidupnya, tentang alam yang mengiringinya, tentang hal-hal yang melingkupinya.

    Apabila paradigma berfikir berdasarkan ‘keyakinan ‘ yang kemudian disandingkan dengan penyudutan itu digelar tanpa adanya saling memahami di antara dua kubu, maka yang terjadi hanya omong kosong belaka -mungkin termasuk omongan saya ini juga, meski saya juga berusaha dalam rangka memahami saudara dan memahami tentang saya.

    keyakinan buahnya adalah perasaan. seperti ketika saya merasakan asin, kamu tidak akan pernah tau rasa asin yang saya rasakan, bahkan ketika kamu sampai merasakannya sendiri. analoginya adalah, kita tidak akan pernah tau kebenaran yang mereka yakini, sampai kita meyakininya sendiri. dan ada kenyataan satu lagi yaitu: bahkan ketika bukti sudah jelas tapi kita tetap susah untuk meyakininya.

    masih banyak pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang perlu dibahas, seperti..
    lalu bagaimana hati manusia yang murni yang tidak mengenal modernisasi?
    hati yang bersih dan bening??
    hati vs nafsu?
    hati vs akal?
    lalu apa hakikat perbedaan?
    bagaimana manusia memberi arti pada dirinya sendiri?

    namun pertanyaan yang jauh lebih penting untuk forum ini adalah ….
    forum ini ditutup atau dilanjut diskusi ilmiah ??
    semoga kita semua selalu sehat, sehat pikir dan sehat hati… untuk melakukan lebih banyak lagi kebajikan.

    1. @dewe: terima kasih pandangannya. Saya rasa hal yg penting dalam diskusi kita disini bukan siapa yg benar atau salah, akan tetapi mencoba membuka pikiran kita bahwa diluar apa yg biasa kita terima, ada pandangan lain yang berbeda dan mungkin berlawanan dgn yg kita yakini selama ini.
      Saya yakin kita semua mempunyai kemampuan untuk menyimpulkan dan dengan semakin luasnya wawasan kita, kesimpulan kita semakin berisi.

  13. Jud, gw kira lu gak punya hak bwt kesimpulan segampang itu, alasannya:
    1. gw kira kita liat dari teks aslinya (ini knapa alquran berbahasa arab n gak dirubah ke bahasa lain kek kitab lain cont: injil), bisa diliat dari awal kalimat sendiri terjemahan pun dah berbeda walaupun dalam bahasa arab sama (liat teks Asli, belajar tata bahasa arab dl deh;
    2. lu gak bisa buat kesimpulan kitab suci dengan analogi komik, ini pula knapa Al Quran gak boleh dipotong2 dalam membaca. Dalam hadist dapat ditafsirkan sesuai dengan Ijtihad ulama namun dalam Alquran hanya dapat ditafsirkan dengan ayat Alquran Lainnya, jadi dari ayat satu dengan yang lain adalah saling melengkapi ( Contoh: Allah yang maha perkasa, Bijaksana sekaligus Tuhan Semesta Alam……dst….)
    3. Kebenaran Milik Allah, dan gw mungkin bisa terbuka dalam hal lain tapi untuk agama, maaf tidak boleh tawar menawar.
    Yah, kalo gw Dien Islam Sempurna, jd bisa jawab masalah kita, petunjk dah lengkap, tergantung kita aja mau nerima ato malah cari2 kelemahan, bukanya mencari hikmahnya.

    1. @Hamba Allah: Terima kasih komennya, saya coba beri komen balik:

      1. Kalau problemnya di terjemahan, bisa minta bantu alternatif terjemahnya bagaimana?

      2. Qur'an gak boleh dipotong-potong.
      Ini jadi problem sendiri karena Qur'an bercerita dgn cara sepotong-potong dan terserak di banyak lokasi. Kalau anda jeli membaca Qur'an, gaya berceritanya memang sepotong sepotong. Anda tidak akan bisa menemukan satu bagian yang khusus bercerita tentang Nabi Ibrahim misalnya, yang diceritakan dgn kronologi urut dari awal sampai akhir. Yang ada adalah potongan kisah Ibrahim terserak di banyak lokasi. Jika kita terpaksa menangkap sepotong-sepotong, ya jangan salahkan pembacanya karena dari asalnya memang begitu.

      3. Kebenaran milik Allah, saya setuju. Tetapi masalahnya kita tidak tahu persis apa yang dikehendaki Allah, jadi gak salah kan kalau kita menafsirkan dgn kapasitas kita sendiri, lha wong kita gak bisa bertanya pada Allah…

  14. kutip : ” lha wong kita gak bisa bertanya pada Allah” kata julianto yg handal dlm berlogika…

    klo tak bisa bertanya pada Allah…coba bertanya pada Tuhan mu yg anda percaya..OK

    trimakasih

  15. logika dan kepintaran manusia punya keterbatasan nya..

    jadi gunakan cara yg halus dan terbaik untuk mencari kebenaran..

    semoga tuhan memberkati mu

    selalu rendah hati dan mawas diri.

    amin

    1. @Adiet Ibbrahem Noah: benar ada batas kemampuan logika & kepintaran manusia.
      Batas itu akan kita temukan kalau kita sudah menggunakan sepenuhnya otak kita.
      Jadi: jangan berkata otak "kita terbatas" sebagai alasan kita untuk berhenti berpikir dan menutupi ketakutan kita pada hal-hal baru yang bakal kita temukan dengan berpikir.
      Jangan batasi logika dan kepintaran kita untuk menjelajah, batas itu akan kita temui sendiri pada saatnya dan saat itu kita tidak rugi karena cakrawala baru yang telah kita temukan.

      1. Judhi selalu berkata cakrawala baru, padahal klo dilihat dari tulisan2nya saya yakin judhi hanya mencari “kelemahan” dari sudut pandangnya saja, dan sungguh sangat menggelikan karena dengan keterbatasan ilmu yang dimiliki dengan serta merta mengatakan “kelemahan” atau “cakrawala baru” yang dengan tulisannya sadar atau tidak akan menyeret umat islam untuk “mengakui” atau paling tidak membuat opini tentang “kelemahan” Al-Qur’an, padahal kalo mau jujur dengan “cakrawala baru” yang dianut oleh bung judhi sama sekali tidak akan ditemukan “kelemahan” dalam Al-Qur’an, terkait terjemahan yang ada dalam sofware tsb, bung judhi pun tidak mau ambil pusing yang penting menurutnya terjemahan tsb bertentangan, tanpa pernah mau memahami dan membaca utuh isi Al-Qur’an. Mengenai isi Al-Qur’an yang menurut judhi “berserakan” dan sepotong-sepotong itu dikarenakan Al-Qur’an bukan dongeng yang bercerita dari awal sampai akhir dalam satu rangkaian judul cerita. Al-Qur’an diturunkan berdasarkan peristiwa (asal-usul turunnya ayat) kemudian Allah, SWT yang mengatur letak,dan urutan ayatnya. Hal ini terus terjaga sejak pertama kali diturunkan, karena Al-Qur’an dihafal bukan hanya ditulis. Penulisan Al-Qur’an tidak dilakukan pada zaman Nabi Muhammad krn Allah,SWT berkehendak dan untuk membuktikan bahwa Al-Qur’an bukan buatan Muhammad. Masalah ketidak cocokan ayat yang diutarakan merupakan salah satu bukti “ketidaksanggupan” otak bung judhi dalam memahami ayat2 Al-Qur’an (demikian hal nya dengan saya).

        Untuk itu jika memang bung judhi ingin benar2 mencari “kelemahan/cakrawala baru” Al-Qur’an sebaiknya bung judhi pelajari Al-Qur’an dari bahasa aslinya bukan dari terjemahannya. Semoga semakin banyak kelemahan yang dapat bung judhi temukan.

        Karena kemampuan otak saya sangat terbatas (walaupun sudah digunakan dengan maksimal) saya lebih memilih untuk tidak mencari “kelemahan” ayat2 Al-Qur’an. Karena jauh sebelum saya lahir sudah banyak manusia2 yang mencoba membuat ayat2 seperti Al-Qur’an dan sudah banyak ahli-ahli kitab yang mencari dan terus mencari “kelemahan” Al-Qur’an. Dan biarlah saja mereka menemukan “kelemahan”, “ketidakcocokan”,”dongeng-dongeng”, “cakrawala baru”, “pandangan” “persepsi”, atau apapun namanya tetapi bagi saya dan do’a saya semoga Allah,SWT selalu memberikansaya hidayah, cahaya dan jalan untuk hidup dan untuk mati di dalam Islam.

        1. @Aan: pendapat anda:
          Karena kemampuan otak saya sangat terbatas (walaupun sudah digunakan dengan maksimal)
          Pikiran manusia memang terbatas, tetapi kita tidak tahu dimana batasnya. Sikap yang bijak adalah jangan takut menggunakan semaksimal mungkin untuk topik apa saja, toh kalau memang sampai dibatasnya kita akan terhenti dengan sendirinya.
          Itu berbeda dengan sikap banyak orang yg tidak mau (takut) berpikir karena katanya pikiran manusia ada batasnya.

          Saya pikir sikap anda bisa masuk kelompok kedua, daripada takut konsekuensi berpikir, anda tidak ikut dalam perdebatan, akan tetapi anda mengecam orang yang ikut berdebat.

          Selain komentar anda terhadap sikap orang lain, tentunya yang lebih berguna adalah bagaimana pendapat anda terhadap kisah di atas.

          Terima kasih komentarnya.

          1. sepertinya yang tidak mau menerima alasan adalah anda sendiri, karena sudah ada yang berkomentar bahwa pada pada ayat thaaha Allah sudah memperkenalkan diri ….” Hai Musa, Aku inilah Tuhanmu …..dst” lalu dimana ketidakcocokan yang menurut anda bertentangan, disini sudah sangat jelas dan gamblang bahwa pada
            A : ” …. Akulah Allah ..”
            B: ” …. Aku adalah Allah ….”
            C: ” … Aku inilah Tuhanmu …”
            pada ketiga ayat di atas Allah sudah memperkenalkan diri baru menyuruh Nabi Musa untuk melakukan sesuatu.
            Inkonsistensi???? bahwa pada C, kalimatnya lebih panjang itu hal yang sangat wajar, karena ayat tersebut bercerita lebih rinci dibanding A, dan B. apakab hal itu menurut otak bung judhi tidak dapat diterima oleh akal sehat???? sepertinya memang bung judhi hanya ingin mengatakan pada seluruh dunia bahwa “cakrawala baru” yang ditemukan oleh seorang “judhianto” lebih sempurna ketimbang ayat Al-Qur’an yang turun 1400 tahun yg lalu, dan merupakan dongeng, karena menceritakan sesuatu hal yang tidak dapat dibuktikan dengan ilmu pengetahuan dan dengan akal rasional. mungkin bung judhi juga menemukan “cakrawala baru” bagaimana mungkin Allah,SWT yang Maha Agung berbicara kepada Musa, bukankan hal itu tidak dapat dibuktikan dengan akal rasional bung judhi atau dengan ilmu pengetahuan yang paling canggih sekalipun. atau bahkan lebih mustahil lagi jika bung judhi berfikir (dgn akal sehat) pada agama tetangga Tuhan memiliki anak, tuhan menjadi tiga, dan tuhan masuk kedalam tubuh manusia, kemudian tuhan menjadi mati, lalu bangkit kembali. bukankah hal itu sangat bertentangan dengan akal rasional bung judhi dan bahkan ilmu pengetahuan manapun sampai detik ini tidak dapat membuktikan hal-hal tersebut.

            Tapi pastinya bung judhi tetap tidak akan menerima pendapat saya, karena menurut bung judhi “cakrawala baru” lebih utama dari pada hanya menerima apa yang sudah digariskan dalam Al-Qur’an. lebih baik kita menyibukkan diri dengan mencari “cakrawala baru” dari pada menerima hasil dongeng 1400 tahun yang lalu, bukankah itu yang dimaksud dengan semua tulisan bung judhi pada forum ini.

            uppss, maaf, komentar saya juga tidak bisa disamakan dengan “cakrawala baru” yang bung judhi anut, karena bung judhi sangat ingin menemukan “cakrawala baru” tetapi saya termasuk orang-orang yang tidak mau menerima dan memahami makna “cakrawala baru” milik bung judhi. so …
            selamat menemukan “cakrawala baru” yang lain dan semoga bermanfaat sehingga nantinya bung judhi bisa menyempurnakan dongeng yang ada pada kitab-kitab suci terutama pada Al-Qur’an yang sedang bung judhi pelajari.

          2. @Aan: mohon belajar fokus dalam membaca tulisan dan mengutarakan pendapat.
            Ayat Qur’an yang saya kutip tidak bermasalah dalam konsistensi cerita ataupun makna cerita.

            Problemnya adalah di detail.
            Jika peristiwa itu diceritakan dalam bentuk penceritaan tidak langsung (dalam pandangan pihak ketiga), tidak ada masalah mengenai perbedaan dialognya asal konsisten isinya. Masalahnya ayat Qur’an menceritakan dalam bentuk pandangan langsung pihak pertama (Allah) tentang dialog yang dilakukan-Nya.

            Untuk peristiwa yang sama, Allah melaporkan sbb:
            * Di ayat A — Allah berkata X
            * Di ayat B — Allah berkata Y
            * Di ayat C — Allah berkata Z
            X, Y dan Z kontennya sama dan konsisten, hanya redaksinya beda.
            Masalahnya Allah ini sebenarnya ngomong pakai redaksi yang mana? X, Y atau Z

            Untuk komentar yang lain saya tidak tanggapi, itu komentar pribadi dan anda bukan ibu saya.

            Terima kasih.

  16. yup anda benar soal keinginan manusia dalam mengolah akal pikirannya..

    tapi saya tetap yakin “keterbataan” otak manusia untuk memahami misteri allah..

    karena kita hanya mampu menterjemahakannya dalam batasan lingkup kecil pemikiran kita..

    karena DIA lebih mengetahui dari segala-galanya yang ada di bumi pada apa yang tersirat dan tersurat.

    mengagali logika dan kepintaran bukan dengan cara mendebatkan antara akal dan akal..

    akan tetapi lebih banyak cara menggali rahasia Tuhan dengan cara2 yang lebih pintar dan berestetika.

    semoga allah memberkahi mu saudara ku.

    amin.

    1. @Adiet Ibbrahem Noah: anda benar lagi, DIA lebih mengetahui segalanya.
      Akan tetapi, DIA tidak pernah memberi tahu kita batas mana kita harus berhenti berpikir.
      Jadi semestinya kita menggunakan semaksimal mungkin pikiran kita, bila sudah buntu barulah kita tahu mungkin kita sudah ada dibatasnya.

      Anda bicara tentang menggali rahasia Tuhan dengan pintar ber-estetika. Saya tidak tahu itu.
      Apakah dengan tidak berpikir dan menyerahkan tugas berpikir otak kita ke ulama itu berarti pintar dan ber-estetika? Saya pikir itu justru merendahkan Tuhan.

      Dia memberi kita pikiran untuk digunakan semaksimal mungkin, kok tidak kita pakai. Malah kita "outsource" ke ulama untuk berpikir, padahal mereka tidak pernah diberi Allah otorisasi untuk tidak bisa salah mewakili-Nya. Apakah anda yakin para ulama yang tidak pernah menjalani situasi hidup anda dengan segala kondisi dan tantangannya, lebih tahu dan bisa memberi nasehat kepada anda?
      Kalau anda yakin begitu — go ahead.
      Kalau saya sih tidak, hidup dan pikiran saya milik saya, saya yang mengaturnya sendiri.

      Terima kasih komennya.

  17. saudara ku judhianto…

    saya pahami maksud anda dari sudut pandang manusia yg selalu belajar dan terus belajar tentang ketuhanan yang akan di yakini nya.

    yang saya katakan disini bukan batas tapi “keterbatasan” akal dan pikiran manusia.

    tak ada kata buntu dalam hal menggali kebenaran..kecuali anda telah tiada di muka bumi ini..baru anda akan temukan kebenaran yang hakiki.

    ya! manusia di beri akal dan pikiran melebihi makhluk lain ciptaanNYA untuk bisa memahami dan mempelajari keagungannya.

    saya tidak pernah mengatakan bahwa pintar dan berestetika itu menyerahkan pada ulama.!

    yang saya maksud agar anda lebih bijaksana dan lebih mengenal norma dalam mengadu akal pikiran anda.

    sesungguhnya alam ini luas dan mengandung semua jawaban yang kita ingini selagi kita mau mecari dan menggalinya dengan niat ikhlas dan tulus..

    sabar saudara ku..

    saya tidak memaksa anda untuk begini begitu.anda punya sudut pandang sendiri yang anda yakini benar,alangkah baiknya akal dan kepintaran anda tidak menjadikan anda gegabah.

    semoga anda terus dilingdungi dalam dekapan kasih tuhan..

    amin.

    1. @Adiet Ibbrahem Noah: rasanya ini sudah menyimpang dari topik artikel ini, saya tidak akan menanggapi.
      Apakah ada komentar anda tentang materi artikel saya? saya akan senang membahasnya

  18. saya sebagai Islam abangan secara pribadi mengakui kerancuan itu. Tapi karena saya terlahir dari lingkungan keluarga dan masyarakat Islam, menjadikan Islam mendarah daging ditubuh saya. Dan saya akan tetap Islam walaupun secara rahasia punya konsep sendiri dalam otak saya. Saya pikir tidak hanya di Qur'an saja, mungkin semua kitab agama lain pun banyak kerancuan. Mungkin bagus kalau berbagai penganut agama berpikir secara obyektif mengakui kerancuannya masing-masing walaupun dalam hati sehingga antar penganut tidak saling…… dan manusia memandang manusia sebagai sesama manusia.
    Begitu pendapat dari yang naif ini.

  19. @Edi Susanto: pada akhirnya iman adalah sesuatu yang paling personal. Kita semua punya konsep pribadi mengenainya.
    Mengenai problem di kitab suci, dibandingkan kitab lainnya Qur'an tergolong paling sedikit mengandung kontroversi. Hal ini sedikit banyak karena Qur'an merupakan kitab dengan sumber tunggal yaitu Nabi Muhammad, sedangkan kitab suci lain merupakan kompilasi tulisan dari berbagai sumber dan masa.

  20. Apakah yang penulis maksud : ada perbedaan = ada pertentangan di Al Qur’an?
    kalau cerita yang berbeda saya pribadi setuju, tetapi bahkan dr contoh diatas tidak ada pertentangan, karena bila di analogikan:

    Cerita 1: A , E
    Cerita 2: A
    Cerita 3: A, B, C, D, E

    Apakah masing-masing cerita berbeda, IYA, bertentangan, TIDAK. Mohon artikel penulis diatas lebih diarahkan kemana?
    Bila mengenai perbedaan, saya kira tidak perlu dibahas lagi.

    1. @Endars: Saya bicara perbedaan bukan pertentangan.

      Tulisan saya bercerita tentang:
      # Ada satu momen terjadi
      # Qur’an menceritakan dalam 3 lokasi surat
      # Qur’an menceritakan sampai ke detil percakapan
      problemnya
      # 3 detil tersebut berbeda
      # pasti ada yg tidak sesuai dgn realitas, karena momennya satu berarti detilnya pasti hanya satu.
      kesimpulannya —-
      a. Hanya salah satu detil percakapan tersebut akurat (yg mana?), dua lainnya tidak akurat.
      b. Qur’an mementingkan inti cerita, akurasi detil tidak penting. Dalam penceritaan, detil disesuaikan irama syair gaya sastra Qur’an.
      c. bisa jadi Qur’an hanya menggunakan kisah tersebut sebagai sarana penyampai pesan moral. Mengenai kisah itu nyata atau hanya dongeng, itu tidak penting.

      Terima kasih untuk komentarnya.

      1. assalamualaikum wr.wb..
        izinkan saya ikut berkomentar di forum yang menurut saya menrik untuk di ikuti dan untguk menambah wawasan selkuas-luasnya.
        saya sudah membaca dan menyimak artikel beserta komentar-komentarnya.
        dari inti topik pembicaraan artikel di atas, Bapak judhi menanyakan kesimpulan artikel tersebut.
        yang jawabannya sudah di komentar terhadap Bapak Endars. adapun soal mana yang akurat ataw tidak dari detil percakapan antara nabi Musa dengan Alloh swt< saya pikir itu mungkin jangan terlalu dipertanyakan… karena tidak ada orang pun yang menjadi saksi hidupnya..
        soal kebenaran hakiki hanya milik Alloh sang maha sempurna. karena kalo ada persoalan yang tidak bisa dijawab dengan jawaban yang pasti akibatnya bisa menimbulkan keragu-raguan, yang dampak lebih parah bisa menimbulkan hal-hal negatif baik untuk persoal maupun untuk global.
        Sekian komentar dari saya, semoga ada hikmahnya…
        semoga semua makhluk ciptaan Alloh swt sllu dalam petunjuk dan limpahan kasih sayang-Nya…
        aammminn….
        wassalam wr.wb

        1. @Supriadi: terima kasih, untuk tambahannya.
          Qur’an memang dituliskan dengan gaya bahasa yang mirip prosa dan puisi yang mementingkan rasa dan penghayatan, jadi kalau kita membacanya sebagaimana kitab undang-undang atau buku sejarah modern yang mementingkan akurasi, maka kita bisa kehilangan pesan penting dari Qur’an.

  21. assalaamu’alaikum
    anda adalah seorang pencari kebenaran, sy yaqin akan hal itu. tetapi mslhnya adalah, ketika qt mencari cari kebenaran akan suatu berita, qt harus mempunyai “alat” untuk menemukan kebenaran berita itu,, analoginya : anda di beri tahu bahwa garam itu rasanya asin,, bagaimana mungkin anda tahu akan kebenaran bahwa garam itu asin jika tidak ada garam didepan anda yg bisa anda cicipi,,kaki yang anda pakai untuk melangkah mengambil garam,,mata anda untuk melihat bahwa itu garam,,tangan yg anda pakai untuk menjumput garam,,lidah yg anda pakai untuk merasa,,semua itu adalah alat,, bahwa dalam hal ini anda mencari kebenaran tentang “cerita” dalam 3 ayat dalam 3 surat berbeda pada Qur,an yg menurut anda ada perbedaan,,maka anda harus punya alat untuk mengetahui perbedaan(atw mgkin persamaan?) yg anda mksud,,,,Qur’an diturunkan dlm bhs arab, alat yg wajib anda punya adalah bhs arab,,anda harus kuasai dulu bhs arab scr menyeluruh(sblum tanya sama saya dimana hrs belajar bhs arab,,boleh anda keliling kota tmpat tgal anda,,mgkin di kota anda ada pesantren?),,setelah itu baru anda boleh berkesimpulan bahwa ada beberapa(ataw banyak???) ayat dalam Qur’an yg tidak sesuai antara satu dan lainnya,,,semoga saran saya berguna,,

    1. @Atmo: pendapat anda mirip pendapat Afriza. Silakan membaca ulang jawaban saya sebelumnya.
      Terima kasih komentarnya

  22. Alahamdulilah diforum ini aku bisa belajar dan menilai suatu perdebatan dalam mempersoalkan Al Qur’an, yang ternyata sangat menarik.
    Semua perdebatan itu didasarkan pada Qur’an yang sama terbitan Mesir tahun 1924.
    Bagaimana kalau kita bicara/berdebat tentang Qur’an saat nabi Muhammad masih hidup, dan selanjutnya saat terkumpul dan diberikan kepada putrinya Umar, dan ternyata katanya beda juga dengan yang diedit oleh Usthman yang katanya berbeda dengan yang ada di tante Hafsa. Sayangnya yang lain disuruh dibakar.
    Nah dari cerita itu, aku jadi bingung, kita berdiskusi sesuatu yang tidak boleh didiskusikan, dan dilain pihak ingin dipakai rasio. Pastilah tidak nyambung karena kita tidak memakai “bilangan i’ hehhheeee
    yang lain memakai keyakinan bahwa Al Qur’an ada disurga dengan terbuat dari lempengan emas. Itulah yang diberikan pada nabi sepotong sepotong.
    Jadi gimana yahhh huhhuuuuuu
    Wassalam

    H. Bebey

    1. @H. Bebey: dari diskusi yang ada paling tidak kita dapat wawasan bahwa kitab suci atau ajaran agama hanyalah sarana untuk menjadikan kita sebagai rahmatin-lil-alamin sebagai tujuan hidup kita.
      Kita tak boleh terpaku pada yg tersurat dan melupakan yg tersirat.

      1. Secara bahasa jadal berasal dari kata جَدَلَ-يَجْدُلُ – جُدُوْلًا yang artinya صَلُبَ وَ قَوِيَ atau dalam arti lain الحَبًّ : قَوِيَ فِى سنبله[8]
        ……
        [komentar asli sepanjang lebih 3x panjang tulisan saya, saya potong untuk memudahkan pembaca yang lain]

        1. @AbdulSomad: mohon maaf saya memotong komentar anda. Panjangnya 3x panjang tulisan saya, dengan kutipan-kutipan yang tidak terlalu fokus pada pokok bahasan tulisan ini.
          Silakan berkomentar lagi dengan poin-poin yang jelas dan mudah dimengerti.
          Terima kasih untuk berkomentar di sini.

  23. an naml:7..artinya bukan itu
    Thaha: 10..artinya bukan itu
    al qashash:29..artinya juga bukan itu
    katanya sdh download softwarenya…kok masih salah.
    salah pa ngawur copy paste punyanya orang lain..??

    1. @arifkusmift: benar bunyi ayat yg disebut bukan itu, akan tetapi rangkaian ceritanya bermula di an-Naml 7 , Thaha 10, dan al-Qashash 29.

      Saya ambil hanya bagian yang mengisahkan momen yang sama, kalimat-2 pembuka dan keterangan yang tidak terkait langsung saya skip. Ini semata-mata untuk ringkasnya tulisan.

      Kalau ada Qur’an atau software Qur’an bisa dilihat sendiri lengkapnya.

  24. saya tertarik juga untuk ikut berdiskusi.
    Terus terang,bagi saya yang ngga begitu paham agama,saya cukup percaya dan mengimani isi Alqur’an.kalo menurut saya,kesimpulan 3 ayat tadi sama saja intinya.jadi,kalo saya ngga akan mempermasalahkan masalah detail seperti itu,karena toh intinya sama.

    1. @Zhiigo: memang tidak ada problem di inti cerita, tidak akan mempengaruhi cerita secara umum.

      Masalahnya di detil, ada 1 peristiwa yg dijabarkan dgn 3 detil yg sbb:
      1 – Allah berkata A ke Musa, sebelum suruh lempar tongkat
      2 – Allah berkata B ke Musa, sebelum suruh lempar tongkat
      3 – Allah berkata C ke Musa, sebelum suruh lempar tongkat
      kalau sesuai realitas perkataan Allah tentunya hanya 1 macam, yang benar terjadi mana dari A, B atau C?

      Terima kasih untuk ikut komen.

  25. Alhamdulillah,
    mujur ada web perbincangan semacam ini.
    td br saja sya mau menjawab pertanyaan seseorang yg mempersoal ayat yg sama dgn ayat persoalan anda. sekarang saya jadi faham selumat2nya, insyaallah.
    moga Iman saya ini bertambah kuatnya. terima kasih Judhianto.

  26. Alasannya kenapa kata-kata dalam 3 ayat itu berbeda-beda tapi maksudnya sama, karena di situ menceritakan Allah sedang berbicara langsung dengan Musa, sedang “ucapan/perkataan” Allah (menurut keyakinan muslim) berbeda dengan ucapan makhluk yg misalnya bisa direkam, disuarakan dan sebagainya. Intinya ucapan dari dzat sang khalik berbeda dengan makhluk. Jangan bayangkan kalam Allah seperti suara SBY sedang berpidato. Hehe

    1. @Bram: kalau dihadapan hakim bila saksi bercerita satu kejadian dgn 3 detil beda bisa dituduh bohong. Tapi karena menurut anda Allah sang khalik berbeda dgn mahluk, maka itu tidak disebut bohong.

      Hmm… Saya tidak setuju, tapi okelah kalau itu pendapat anda.

  27. Dan satu lagi soal sulaiman berbicara dengan semut. Dalam ranah mukjizat memang tidak bisa dilogika. Hewannya yg diberi kemampuan oleh Tuhan untuk bisa berbicara dengan sulaiman, begitu sebaliknya, sulaiman bisa berbicara dengan semut yg sudah diberi kemampuan oleh Tuhan. Hal ini cuma dalam ranah mukjizat. Karena tidak bisa dilogika/bertentangan dengan hukum alam (pada umumnya) makanya disebut mukjizat

    1. @Bram: anda kompak dengan saya saat mengatakan kalau semut bisa bicara tidak bisa diterima logika.

      Tapi kita berbeda untuk memberi istilah fenomena itu.

      Anda sebut: Mukjizat.
      Saya sebut: Dongeng.

      Terima kasih untuk komentarnya.

  28. Maksud sy, ucapan/perkataan Tuhan itu berbeda dgn ucapan/perkataan manusia. Ucapan/perkataan manusia ada suaranya, lafal/huruf dll seperti yg kita dengar/lihat. Sedang perkataan Tuhan konon “pada dasarnya” tidak bisa dilafalkan, tapi bisa dimengerti bagi yg dikehendakiNya. Maka, bisa jadi Tuhan memang benar2 mengucapkan apa yg ada dalam 3 ayat yg berbeda-beda itu dengan berbeda2 dlm satu waktu dan satu ucapan (karena Tuhan maha kuasa dan tidak terbatasi ruang dan waktu)

    1. @Bram: kan perkataan Allah diucapkan kepada manusia (Musa)?

      Apa Musa saat itu secara pararel mendengar 3 ucapan berbeda (seperti paduan suara dari Allah) ?
      Atau itu terjadi dalam 3 dunia pararel yg berbeda (semacam di film scifi) ?

      Aneh, tapi silakan saja kalau itu yang anda percaya. Kan tak ada yang tak mungkin bagi Allah?

      Kalau saya sih sederhana saja: gak usah memaksa Qur’an jadi buku sejarah, apa salahnya Allah bercerita dengan gaya dongeng? Dia kan Maha Kuasa, apa hak kita membatasinya?

  29. Maaf, untuk ukuran orang sekaliber anda patutnya sudah cukup paham akan tauhid (sifat2 Tuhan) jika basic anda seorang muslim, tp saya lihat dari komentar2 dan beberapa artikel yg anda posting banyak yg konyol di mata saya sbg muslim. Saya sudah berusaha menjelaskan ttg “kalamUllah” tetapi anda sepertinya gagal menangkap penjelasan saya sesuai yg saya maksud, hehe.
    Setelah tadi saya membaca artikel anda ttg Nuh juga aneh, karena di quran, adzab hanya utk umat Nuh (bukan seluruh dunia), artinya itu cuma banjir lokal, dan di quran jg tidak menyebutkan semua spesies di dunia ikut di bawa (diyakini cuma binatang ternak). Yg anda tulis terlihat referensinya merujuk pada bible yg menganggap itu banjir global.

    1. @Bram: saya hanya merespon pernyataan dalam komentar anda.

      Mengenai ternyata bahwa pernyataan anda dalam 3 komentar terdahulu itu adalah penjelasan anda tentang “KalamUllah”, ya mohon maaf, itu tidak cukup meyakinkan bagi saya.

      Banjir Nuh cuma banjir lokal? ya silakan…., kan tidak ada paksaan untuk setuju dan tidak setuju dengan saya.

  30. Ok. Saya jelaskan lagi, KalamUllah/perkataan Allah itu pada dasarnya tidak memerlukan lafadz/huruf/abjad/kata layaknya ucapan manusia. Misal seperi transfer data infra merah/bleutooth dari hp ke hp atau pc ke hp. Jadi satu ucapan/transferan bisa mengucapkan kandungan arti yg banyak… Makanya Nabi Musa dijuluki KalimUllah (nabi yg bicara langsung dgn Allah)

    1. @Bram: yang dibahas di artikel ini kan yang tertulis dan terbaca dengan bahasa manusia (Qur’an)?.

      Anda salah komentar bila yang ingin anda komentari adalah perkataan yang tidak butuh huruf/kata/ucapan semacam komunikasi bluetooth, inframerah atau telepati…

  31. KalamUllah yg diberikan ke Musa kalau ditranskip/ditekskan ya isinya yg di Alquran itu. Anda juga bisa mentransfer 3 ayat itu bersamaan dari PC ke HP dlm satu waktu dan tempat dengan kecanggihan teknologi skrg, misalnya, apalagi Tuhan yg menciptakan Musa, tentu tahu cara mentransfer kalamNya, misalnya.
    Intinya, yg perlu anda ketahui adalah kepercayaan muslim tentang bagaimana ciri/sifat KalamUllah. Bahwa kalamUllah pada dasarnya tidak ada lafalnya/huruf/abjad. Soal anda percaya kalamUllah itu ada/tidak dan quran itu benar/salah itu soal lain, yg penting anda tahu dan faham dulu bagaimana ciri/sifat kalamUllah menurut muslim yg alim (berilmu)

    1. @Bram: saya coba simpulkan pendapat anda dengan poin-poin berikut:
      * Allah memberikan KalamUllah kepada Musa
      * KalamUllah itu tidak dapat dideskripsikan dalam huruf/teks/ucapan
      * Al-Qur’an mencatat peristiwa itu dalam 3 lokasi berbeda
      * Karena KalamUllah tidak terdiskripsikan, maka wajar bila ada 3 deskripsi yang beda dalam Al-Qur’an. Yang tidak terdiskripsikan dalam huruf/teks/ucapan pasti tidak bisa tepat benar kalau terpaksa dituliskan sebagai huruf/teks/ucapan dalam Al-Qur’an

      Alhamdulillah, akhirnya walau dengan cara berputar-putar anda sependapat dengan salah satu kesimpulan yang saya tulis di bagian akhir tulisan saya:

      Detil peristiwa dalam Qur’an tidaklah penting kesesuaiannya dengan peristiwa yang nyata, terbukti dengan tiga versi dialog untuk peristiwa yang sama dalam Qur’an.

  32. Hehe.. Maksud saya bukan begitu, tapi hampir nyambung lah..
    Detilnya kejadian Tuhan berbicara dengan Musa ya seperti yang ada dalam quran dalam tiga ayat itu lengkapnya. Jadi tiga ayat itu benar-benar menyatakan/mendeskripsikan/mentranskipkan dari KalamUllah itu. Misalnya teksnya: Saya Allah Tuhan semesta alam. Saya Allah yg esa. Saya Allah yg kuasa. Ketiga teks saling melengkapi dalam surat yg berbeda utk mendiskripsikan KalamUllah yg diterima Musa. Perlu digaris bawahi, yg bisa begini cuma KalamUllah. Kalau ada cerita pembicaraan manusia dgn manusia dalam quran kok berbeda2 (padahal ucapan manusia ada lafalnya/huruf/abjad), itu jelas masalah, yaitu alquran salah dari segi teks/pencatatan atau memang autentiknya sebagai kitab wahyu dipertanyakan, menurut saya. Kejadian detailnya dalam quran adalah penting (dengan alasan2 tertentu)

  33. Hehe.. Btw sepertinya saya sudah follow akun twitter anda lho pak. Hehe
    Oya, saya mau komen komentar di atas (bukan dari anda) ttg ilmu tafsir dimana ayat yg satu bisa menggugurkan ayat yg satunya, hal itu benar tapi cuma dalam ranah implementasi hukum, bukan soal cerita maupun tauhid. Karena syasriah/hukum dari Tuhan setiap waktu bisa berubah-ubah menyesuaikan perkembangan peradaban manusia, sedangkan tauhid harus tetap dan sama dari Adam sampai Muhammad. Cerita juga demikian (harus sama) karena tuhan gak mungkin/mustahil mencla-mencle. Hehe

    1. @Bram: terima kasih untuk follownya.

      Jika harus ada yang abadi tentunya hanya Allah. Selain Allah tidak ada yang abadi, semuanya terikat ruang dan waktu.

      Peradaban manusia, hukum, agama dan bahkan gambaran manusia tentang Allah (misalnya Tauhid) bukanlah Allah itu sendiri, jadi pasti terikat ruang dan waktu. Tidak abadi dan bisa berubah. Abadi itu hanya untuk Allah.

  34. Ok. Dengan membantah komentar saya, saya anggap anda kurang memahami Tauhid (sesuai keyakinan muslim). Karena apa yg saya katakan sama dengan yg anda katakan barusan sebenarnya, hehe..
    Hasil penelitian saya (meski tdk menggunakan metode ilmiah): 90% muslim sangat tidak memahami tauhid, 9% agak faham, 0,9% cukup faham, dan 0,1% faham.
    Saya berharap anda lebih mendalami tauhid islam, mendalami bukan mengimani, soal anda mengimani atau tidak itu tidak penting. Harapan saya agar ada tulisan2 yg jauh lebih kritis dari ini dan yg telah anda tulis.
    Saya tunggu artikel berikutnya. Salam

    1. @Bram: terima kasih untuk penilaiannya pada saya.
      Saya sendiri belum sampai kepada maqom untuk berani menilai seseorang, apalah saya ini yang belum sampai pada tahap kebenaran sehingga berani menilai orang lain. Saya cuma pencari kebenaran..

  35. Maaf, saya tidak pakai bahasa tawadzuk ataupun pencitraan dlm mencari kebenaran di sini, karena bukan pilgub DKI yg semua ingin cari kemenangan.
    Saya tidak menilai kesalehan maupun akhlak seseorang, tapi tingkat pengetahuan ilmu tertentu, yaitu ilmu tauhid. Misal: ketika saya bilang “asas legalitas” seseorang tidak paham hingga saya perlu menerangkan dgn susah payah, dengan jujur saya anggap orang itu tidak faham hukum positif, meski secara umum keilmuan orang itu bisa saja jauh di atas saya. Makanya di atas saya bilang “untuk ukuran orang sekaliber anda…”
    Begitu juga ketika membahas “Perkataan Tuhan” yg di sini dlm ranah islam karena yg dikaji al quran, yaitu disebut “KalamUllah” yg mempunyai ciri dan sifat tertentu sesuai ilmu tauhid.
    Kita lihat semua komentar orang2 di atas, apakah ada yang nyambung?
    Silahkan nilai sendiri, hehe

    1. @Bram: okelah, memang ada yang untuk menilai butuh bantuan orang lain yang tentunya berterima kasih pada anda, walau ada yang cukup dewasa untuk bisa menilai tanpa bantuan orang lain.
      Terima kasih.

    1. @Ale: rasanya tidak ada hubungannya dengan ditulis ulang atau tidak.
      Sebagian kisah-kisah tersebut memang pernah dituliskan di Perjanjian Lama, Perjanjian Baru dan kemudian di Al-Qur`an,

  36. Kalo begitu ternyata sebagian ayat-ayat al-quran diambil dari Bible, perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, bukan Muhammad memperoleh langsung dari Tuhan

    1. @Geloaku: dalam tradisi agama-agama rumpun Ibrahim, suatu wahyu mempunyai kesinambungan dengan wahyu sebelumnya. Kisah yang ada dalam wahyu sebelumnya disajikan ulang dengan racikan dan penekanan-penekanan baru.

      Sebagai contoh alkitab yang dipakai pemeluk kristen terdiri dari Perjanjian Lama yang merupakan peninggalan Yahudi dan Perjanjian Baru yang berasal dari era Yesus. Kisah yang ada di Perjanjian Lama dikutip di perjanjian baru untuk menguatkan pesan-pesan baru di Perjanjian Baru. Karena berupa cuplikan, kisah itu tidak lengkap, kalau mau lengkapnya ya baca di Perjanjian Lama.

      Hal yang sama terjadi juga di al-Qur’an. Kisan di Qur’an hanya berupa potongan-potongan yang jauh dari lengkap untuk menyampaikan pesan-pesan baru. Di Perjanjian Baru dan Qur’an, anda tidak akan melihat kisah Nabi-2 terdahulu secara utuh dari awal sampai akhir seperti di Perjanjian Lama. Untuk mencari kisah lengkap para nabi, umat Islam biasanya merujuk ke kisah-kisah israiliyat yang dituturkan para sahabat, yang notabene sumber-sumbernya ya berasal dari sumber Yahudi dan Kristen yaitu Perjanjian Lama dan Baru.

      Bila memakai cara penyusunan Alkitab umat Kristen, seharusnya mushaf al-Qur’an sangat tebal dan terdiri dari tiga bagian yaitu: Perjanjian Lama (Yahudi), Perjanjian Baru (Kristen) dan Al-Qur’an.

      Terima kasih.

  37. saya heran kenapa Pak Judianto baru tau akan hal ini. jarang ngaji ya pak? 🙂

    ayat2 beginian banyak sekali di al-Qur’an, kisah yg secara detail diceritakan berbeda, namun esensinya sama.
    perlu dipahami, Qur’an bukan semata2 kumpulan kisah, bukan pula semata2 kumpulan pengetahuan. jangan heran kalo di Qur’an kisah2 terdahulu tidak diceritakan dengan lengkap dan urut, karena memang Qur’an bukan kumpulan dongeng.

    Qur’an adalah kitab suci dimana manusia yg berakal bisa mengambil faedah berupa petunjuk hidup.

    apakah Anda yakin bahwa kisah percakapan Allah dengan Musa AS dilakukan dalam bahasa Arab?

    Anda berniat menghakimi Allah karena gaya cerita yang berbeda2? 🙂

    1. @Aziz: saya heran kenapa anda masih bertanya tentang hal ini. Gak baca komentar-komentar sebelumnya ya?
      Anda berniat menghakimi sebelum memahami? Silakan baca komentar terdahulu sebelum berkomentar.

      Terima kasih.

  38. bung Judhi..
    ketiga ayat tersebut berbeda detailnya tapi ingat bahwa ketiganya tidak berlawanan makna.

    ingat dalam Al-Quran tidak ada kisah yang bertentangan satu sama lain.

    penggalan ayat di atas lebih mengarah pada perbedaan detail.

    dan satu lagi yang perlu bbung judhi catat, pertanyaan dalam kepala bung judhi “mengapa Alloh membuat 3 versi detail cerita yang berbeda?”

    saran saya bacalah “Matematika Alam Semesta dan kodetifikasi bilangan prima dalam al-quran” bung Judhi akan lebih memahami alasan nya..ok ?

    jangan dibalas komentar saya jika bung judhi belum pernah membaca “Matematika Alam Semesta dan kodetifikasi bilangan prima dalam al-quran”

    1. @Ikhwanasli: saran saya: baca dulu komentar sebelumnya sebelum memberi saran.

      Saya tidak pernah mengatakan ada perbedaan esensi di ketiga penceritaan tersebut, yang beda adalah detilnya.

      Ini seperti seorang yang 3 kali melaporkan bahwa si A memakai topi, akan tetapi dilaporan pertama topinya merah, laporan kedua topinya biru dan terakhir hijau.

      Jika berpegang pada esensi, ketiganya sama, yaitu melaporkan si A pakai topi.

      Masalahnya pelapor ini pikun atau buta warna? kok laporan warnanya ngaco. OK!

  39. Quran itu adalah “petunjuk”. Ibarat petunjuk rambu lalu lintas, sama-sama bertanda dilarang belok kanan tetapi antara rambu yg satu dengan yg lainnya berbeda detail gambarnya. Yang satu tanda panahnya runcing, yang kedua warna hitamnya melebar dan yg ketiga ukurannya berbeda. Apapun bentuknya sebuah petunjuk, yg perlu kita mengerti adalah “hal yg ditunjuk” dan bukan alat penunjuknya. Akan sangat melenceng dari maksud pencipta petunjuk apabila kita harus berpegang kuat2 dengan pendapat bahwa buku petunjuk tsb adalah benar hingga sedetail-detailnya…

  40. hehehe..
    lucunya,
    apabila sesorang membandingkan antara “percakapan” yang ada di Komik dengan Al Qur’an.. maka mereka akan menuntut sama agar Al Qur’an pun memiliki konteks dan Format yang sama dengan Komik.. bahkan jika boleh, mereka pun ingin agar Al Qur’an punya cerita ber-Gambar, agar otak mereka tidak perlu lagi bekerja keras menerjemahkan makna tersirat dan tersurat dalam Al Qur’an..

    bagi beberapa orang yang kebanyakan membaca Komik, alur kisah yang diceritakan dalam sebuah Komik mutlak harus sama dengan isi kepala mereka, sehingga mereka bukan lagi bertindak sebagai “pembaca” tetapi sudah menjadi “pengarang” Komik.. okelah karena Komik memang Fiksi buatan manusia.
    dan ini lah yang ingin diterapkan dalam Al Qur’an.. sehingga mereka ingin berkata: mengapa nama “Yesus” di dalam Bible berubah menjadi “Isa” dll??
    Apakah Allah benar-benar berfirman menyebut nama nabi “Isa” kepada kaum Yahudi yang berbahasa Hebrew/Ibrani dan Aram? – atau “Isa” dalam Al Qur’an adalah panggilan seorang Nabi Allah dari bangsa Israei yang disebut dalam Firman Allah ber-“Bahasa Arab” ??

    Memang, memotong-motong ayat dan menjadikannya sebagai referensi perbandingan antar ayat adalah hal mudah, tetapi yang sulit adalah menemukan rantai kisah yang ingin disampaikan dalam AL Qur’an.

    dan dari Ayat yang berisikan percakapan yang ada dalam AL Qur’an.. konteksnya bukanlah pada percakapan itu sendiri, tetapi NILAI AQIDAH yang ingin disampaikan dalam percakapan tersebut.

    di Dunia nyata, suatu percakapan yang berlangsung 2 jam secara REALTIME, bisa saja di fokuskan pada sebuah “kalimat implisit” sebagai sebuah Inti Percakan yang benar-benar mengandung sebuah Nilai.. karena tidak perlu sebuah berita ikut menuliskan kalimat “Ha Ha He He” (dari mulut sebuah Narasumber) .-walau kalimat tersebut benar benar nyata.

    – Dan itu dalam konteks Berita dan Fiksi…. bukan dalam konteks tafsir WAHYUH ALLAH.

    koq bisa”WAHYU ALLAH” tidak sama dengan isi kepala saya??

    ya yang salah bukan Wahyunya..tapi kepala yang menerimanya.. 🙂

    1. @Adi: terima kasih untuk ikut berkomentar.
      Saya tertarik dengan pernyataan terakhir anda:
      koq bisa”WAHYU ALLAH” tidak sama dengan isi kepala saya??
      –> ya yang salah bukan Wahyunya..tapi kepala yang menerimanya..

      Kalau pernyataannya:
      koq bisa ”WAHYU ALLAH” di satu ayat di Qur’an tidak sama dengan ”WAHYU ALLAH” di dua ayat lainnya dalam Qur’an??
      yang disalahkan siapa?

      1. WAHYU ALLAH? atau “Kutipan Teks Percakapan dalam Wahyu Allah?

        ya jelas tidak harus sama…
        sama dalam hal apa? ajarannya.. nilainya.. atau hanya kutipan dialognya? yang tadi yang pakai “hahahehe” dan ayat lainnya hanya kalimat lugas yang mewakili segala percakapannya sejak awal hingga akhir?

        Definisi SAMA-TIDAK SAMA-SAMA PERSIS-NYONTEK pada Wahyu Allah, jelas tidak bisa dihakimi dan dianalogikan dengan parameter seperti Kaset Rekaman pada suatu Dialog.

        ..karena Al Qur’an adalah wahyu Tuhan, dan bukan BIOGRAFI subyek manusia di dalamnya,.. maka definisi “Kesamaan” Kisah bukan ditentukan dari TEKS KUTIPAN PERCAKAPANNYA…

        Suatu percakapan di DUNIA NYATA pun yang dikutip, pun tidak harus sama persisss… Perbincangan anda hari ini DIREKAM.. untuk keesokan hari anda diminta mengulangi lagi “perkataan anda sendiri ” belum tentu sama “PERSIS” dengan hasil REKAMAN KEMAREN- walau yang berbicara dari mulut anda sendiri..

        apalagi jika yang ingin disampaikan hanya “INTI” dari percakapannya tanpa “HahaHehe” tadi..

        well.. dari sini, kita menggunakan parameter “kesamaan Teks” yang ada dalam kepala kita untuk menilai Keabsahan suatu Wahyu dari Allah.. yang diulang-ulang.

        Tidak ada Kontradiksi cerita dalam Kisah Musa, hanya ada perbedaan kutipan kalimat wahyu yang ingin disampaikan untuk mewakili semua “Teks Percakapan” secara Utuh- dan bagi saya, cuma yang empunya “Mulut” yang berhak mengatakan itu (BENAR-TIDAKNYA) suatu kalimat memang yang berasal dari Mulutnya sendiri…

        LUCU kan kalau ucapan yang keluar dari mulut kita (dan kita yakin memang menyampaikannya), disanggah dan didikte oleh mereka yang justru tidak pernah mendengar “ucapan Aslinya” ???

        1. @Adi: saya sarankan anda membaca dengan teliti (dan tentunya dengan kepala dingin) tulisan saya dan komentar yang lainnya.
          Bila anda membaca semua tulisan dan komentar, maka poin yang ada adalah:
          * Tidak ada kontradiksi dalam makna kisah Musa dalam 3 posisi ayat dalam Qur’an, beda di detil
          * 3 ayat tersebut menampilkan detil pembicaraan yang berbeda dalam satu momen peristiwa
          * Dari komentar anda:

          Suatu percakapan di DUNIA NYATA pun yang dikutip, pun tidak harus sama persisss…

          apa bedanya dengan kesimpulan dalam tulisan saya:

          Detil peristiwa dalam Qur’an tidaklah penting kesesuaiannya dengan peristiwa yang nyata, terbukti dengan tiga versi dialog untuk peristiwa yang sama dalam Qur’an. Bila semua detil Qur’an akurat, tentu hanya ada satu versi dialog ini, karena peristiwanya adalah satu.

          1. Hihihi..

            ya ya ya saya mengerti.. saya ketawa, karena statemen ini: —“bila semua detil Al Qur’an akurat, tentu hanya ada satu versi dialog ini, karena peristiwanya adalah satu.”

            BETUL !

            tapi darimana anda tahu DETIL APA SAJA yang terdapat dalam “DIALOG” antara Allah dan Musa- SEBENARNYA ?

            bukankah dialog tersebut adalah “KUTIPAN” dari semua Detail dialog antara Allah dan Musa (yang mungkin bila dituliskan semua terdapat HahaHehe tadi?)

            anda tahu arti “KUTIPAN” percakapan???

            seseorang yang diwawancarai selama 30 menit oleh wartawan, lalu hanya diambil “1 baris kalimat” yang dianggap mewakili keseluruhan Inti Dialog, menurut saya Sah-Sah saja… apalagi jika anda tidak tahu “BARIS MANA” dalam dialog yang dijadikan KUTIPAN” dalam ayat tersebut ????

            Sebagai contoh: dalam 1 paragraf percakapan, tidak salah anda mengambil KUTIPAN pada kalimat yang ada di AWAL PARAGRAPH-TENGAH- atau AKHIR PARAGRAPH…. karena memang semuanya BENAR !!

            kecuali antar kalimat tersebut – SALING BERLAWANAN (KONTRADIKSI)

            jadi apa yang disampaikan sebagai Kutipan percapan Allah-Musa tersebut, adalah saling melengkapi sebagai rangkaian Dialog yang UTUH.

            Bagi saya, tidak susah mencernanya… kecuali bila memang kita (tanpa sadar) telah memposisikan diri kita sebagai “PENGARANG” wahyu tersebut.

            jadi, boleh donk saya tertawa sekali lagi 🙂

          2. @Adi: jadi sepertinya kita sepakat bahwa kita tidak bisa berharap apa yang diceritakan dalam Qur’an adalah seperti rekaman video atau tape recorder yang sama persis dengan kejadian yang terjadi.
            Itu seperti saat kita mendongeng cerita kancil kepada anak kita. Jika diulang lagi esok harinya, tentu kalimat si kancil tidak akan sama persis dengan yang kita ceritakan hari sebelumnya.

  41. Sdr. Judhianto.. siapapun anda, anda sdh terlalu jauh/sesat bermain – main dengan logika yang anda anggap benar menurut anda, tanpa anda sadari anda telah dipengaruhi iblis laknatullah. Semoga Allah mengampuni ammiin…

    1. @Gulman saja: setiap orang boleh berpendapat, dan tak ada paksaan untuk setuju dengan pendapat orang.
      Kalau tidak setuju, kalahkan pendapat itu dengan argumen yang lebih baik.
      Bila tak mampu berargumen ya abaikan saja, gak usah sebut orang lain sesat.
      Terima kasih.

  42. Saya senang dengan pandangan pak judi (bukan berarti sepaham) saya menghormati tulisan2 yang lain. Setidaknya menambah wawasan. Jadi ingat almarhum ayah saya yang 10 kali qatam, bahkan mengartikam dalam bahasa jawa dan indonesia (kebetulan bpk saya juga ada darah arabnya setidaknya faham). Pada akhirnya beliau cuma berpesan. Le quran itu tidak bisa diartikan dalam bhs manapun nanti palah menjadi sebuah kesalahan yg selama ini diyakini umat muslim. Tapi hanya bisa didengar dan dirasakan alunannya kalau dalam bahasa jawa tembang atau sastra jiwa susah untuk diterjemahkan tapi diraskan saja alunannya nanti palah mengena dan tepat sasrannya.

    1. Qur’an dapat dilihat lewat 2 jalan, yaitu jalan logis dan jalan emosi.

      Jalan logis berarti Qur’an adalah bacaan yang dibaca karena berisi kumpulan aturan, cerita, nasehat. Untuk bisa dimengerti, mau tidak mau Qur’an harus diterjemahkan dalam kerangka pikiran dan bahasa yang bisa dimengerti, yaitu kerangka pikiran manusia masa kini dan bahasa sehari-hari pembacanya.

      Jalan emosi berarti Qur’an adalah bacaan yang sakral, dibaca karena berpahala, dibaca karena berirama seperti puisi. Di jalan ini tidak diperlukan pengertian tentang isinya, tentang bahasanya. Menerjemahkan bahasanya hanya akan merusak rasa khusyuk yang dihasilkannya. Persis seperti lagu romantis yang seringkali kita senang bukan karena tahu artinya, melainkan iramanya yang menghanyutkan.

      Dua jalan ini saling melengkapi, tapi di masa kini atau masa depan, jalan logis Qur’an yang menampilkan cara pandang masyarakat Arab 1500 tahun yang lalu, semakin tidak relevan bagi kehidupan sehari-hari.

      Akhirnya hanya jalan emosi yang akan membuat Qur’an tetap relevan sampai kapanpun.

  43. kesimpulan saya ttg cerita diatas adalah
    walaupun cerita nya berbeda-beda tapi dia tak bertentangan dengan ayat yg lain
    dan itu harus digaris bawahi
    jadi surat at-thahaa 10 itu sendiri adalah penekanan penjelasan ALLAH,
    karena yg seharusnya anda urutkan adalah:
    surat at-thaha
    an-naml
    lalu al-qhasas
    sbgmn yg diurut dlm Al-quran
    kalau cara membaca anda seperti ini sangat berbeda, sebab ALLAH pada awalnya menjelaskan secara rinci bagaimana ALLAH pada saat itu berkata-kata kepada nabi Musa tentang misinya sebagai nabi sampai kpd perintah melempar tongkat
    lalu dilanjutkan dgn an-naml dan qhasas yg menjelaskan ttg inti dari misi tanpa ada penjelasan apapun sampai kpd perintah melempar tongkat
    tidak ada yg dipermasalhkan bukan ……?

    1. @Salomon: anda tidak membaca komentar sebelumnya.

      Bila anda membaca semua tulisan dan komentar, maka poin yang ada adalah:
      * Tidak ada kontradiksi dalam makna kisah Musa dalam 3 posisi ayat dalam Qur’an, beda di detil
      * 3 ayat tersebut menampilkan detil pembicaraan yang berbeda dalam satu momen peristiwa

      Kesimpulan tulisan saya jelas:

      Detil peristiwa dalam Qur’an tidaklah penting kesesuaiannya dengan peristiwa yang nyata, terbukti dengan tiga versi dialog untuk peristiwa yang sama dalam Qur’an. Bila semua detil Qur’an akurat, tentu hanya ada satu versi dialog ini, karena peristiwanya adalah satu

  44. Segala ayat itu tidak melulu harus mendetail tanpa mengubah isinya,
    dan memang kita temukan detail cerita yg berbeda, dan ini lumrah
    tp saya ingin meralat permislan yg anda buat
    seperti orang yg melihat topi, berbeda warna
    permisalan yg anda buat tidak harus nya seperti itu dalam membandingkan versi ayat tsb
    carilah permisalan yg sepadan agar pembaca mengerti.

    1. @Salomon: anda bilang detail cerita yg berbeda itu lumrah –> kan sudah cocok dgn kesimpulan saya bahwa detil cerita Qur’an tidak selalu menggambarkan kenyataan, karena kenyataan itu satu.

      Anda punya permisalan lain? Silakan…

  45. Kenapa ketiga ayat itu dilihat sebagai cerita yang berbeda? Saya melihatnya yang satu lebih detil ketimbang yang lain, dan tidak ada yang aneh dengan itu. Analoginya seperti kita mengutip suatu kutipan, kan bisa begini, “lorem ipsum… sil amet”

    Begitu pula jika kita menceritakan peristiwa yang sama di waktu yang berlainan, mungkin di cerita yang pertama kita cerita detil A, B, C, D; berikutnya kita hanya cerita A, B, dan D, dan mungkin kita tambahkan E.

    Yang saya lihat dair pemaparan ayat di atas adalah Allah memperkenalkan diri-Nya dan menyuruh Musa melemparkan tongkatnya. Perbedaan detil yang Anda maksudkan itu nampaknya hanya sebatas ‘anak kalimat’, yang sebenarnya bahkan tidak mengubah kronologis kejadian.

    1. @Harun_Bey: cerita memang sama tapi detilnya beda.

      Kalau anda merancang pertunjukan untuk adegan ini dan berusaha seakurat mungkin dengan dialognya, maka menggabungkan ketiga dialog tersebut dalam momen yang sama adalah aneh.

      1. Saya tidak paham kenapa Anda menggunakan pengandaian ‘merancang pertunjukan’.

        Juga, kenapa Anda gunakan ‘anggapan umum’ dan mempelakukannya seolah-olah dia adalah kaidah tafsir yang tak boleh dilanggar? Saya sendiri tak paham kaidah tafsir Al-Quran, tapi akan lebih fair kalau anda berikan referensi atas ‘anggapan umum’ itu.

        1. @Harun_Bey: yang saya maksud adalah pertunjukan drama, misalkan dalam acara sekolah. Kalau kurang sreg ya bisa pakai rekonstruksi di kantor polisi.

          Ketiga potongan percakapan dalam 3 posisi Qur’an itu kutipan langsung pembicaraan, jadi bukan memakai penuturan pihak ketiga. Jika menurut anda itu saling melengkapi, tentunya ketiganya bisa langsung dijajarkan begitu saja, tanpa melalui tafsiran. Dan itulah problemnya, ketiganya tidak sama.

Perkaya Tulisan Ini Dengan Pendapat Anda